Mayor Rastaka. Nama yang sudah Arga kenal sejak musim itu di pos kecil — perwira dari utara, otak yang merancang serangan pertama ke Talun Sengit tiga musim lalu, dan kini kembali memimpin gelombang besar yang menggebrak seluruh garis perbatasan. Arga sudah mempelajari pola pikirnya dari peta-peta bekas pertempuran, dari cara serangan datang, dari ritme jeda yang ia sukai. Mengenal musuh seperti mengenal lawan catur yang tak pernah ia tatap mukanya.
Sampai hari ini.
Penyeberangan baru ditemukan musuh dua hari setelah jembatan diledakkan — sebuah arungan dangkal di hulu, tempat sungai melebar dan melandai. Pertempuran di sana berlangsung sehari penuh, dan saat senja, di tengah ladang jagung yang terinjak-injak menjadi rata, Arga melihatnya untuk pertama kali.
Rastaka berdiri di gundukan kecil, jauh di belakang barisan loreng, mengamati lewat teropong. Sosoknya tegap, rambut kelabu di pelipis, mantel basah menempel di bahu. Ia tidak bersembunyi seperti perwira pengecut. Ia berdiri agar pasukannya melihat ia berdiri.
"Dia ingin terlihat," kata Wira, di sisi Arga di balik tanggul. "Pemimpin macam itu menjaga keberanian orang-orangnya dengan tubuhnya sendiri. Berbahaya. Pasukan mereka akan bertarung lebih keras karena dia menonton."
Arga menatap sosok jauh itu lama sekali. Ada sesuatu yang ganjil — bukan kebencian murni yang ia harapkan. Orang itu, dengan caranya, melakukan persis seperti yang dilakukan Dirga. Berdiri agar yang lain berani berdiri. Hanya saja Dirga mati untuk melindungi desa, dan Rastaka datang untuk menghancurkannya.
"Aku ingin bicara dengannya," kata Arga tiba-tiba.
Wira menoleh tajam. "Apa?"
"Bukan menyerah. Bukan apa-apa." Arga menggeleng pelan. "Aku hanya... ingin dia melihat siapa yang menahan posnya. Bukan satu kompi. Bukan benteng. Hanya orang-orang yang menolak pergi."
Kesempatan datang lebih cepat dari dugaan. Saat malam, sebuah bendera putih kecil terangkat di garis musuh — bukan untuk menyerah, tapi untuk gencatan sesaat, mengambil yang terluka dari ladang di antara dua garis. Aturan lama perang yang bahkan kebencian pun masih menghormatinya. Dan di bawah bendera itu, Rastaka sendiri yang melangkah maju, hanya ditemani seorang penerjemah, berhenti di tengah ladang jagung yang rata.
Arga keluar menemuinya, menyerahkan senapannya pada Jaka, membawa hanya pistol di sarung yang ia janjikan tak akan ia sentuh. Wira menutupinya dari kejauhan lewat teropong runduk, jari di pelatuk. "Kalau dia bergerak salah," kata Wira tadi, "dia mati sebelum sempat menyesalinya."
Mereka berdiri berhadapan di tanah tak bertuan, dua komandan, di antara mayat-mayat yang belum diambil. Rastaka lebih tua dari dugaan Arga. Wajahnya lelah, mata cekung, garis-garis dalam menorehkan tahun-tahun perang.
"Kau yang memimpin pos kecil itu," kata Rastaka lewat penerjemah. Suaranya serak. "Aku menyangka komandanmu lebih tua."
"Komandanku sudah mati," jawab Arga. "Kau yang membunuhnya. Sersan Dirga. Bayu. Tomas. Mereka menahan satu kompimu semalaman dengan empat orang."
Penerjemah menyampaikan. Rastaka diam sejenak, menatap Arga, lalu mengangguk pelan — bukan persetujuan, tapi pengakuan. "Aku tahu pos itu jatuh mahal. Aku kehilangan banyak orang baik di bukit itu." Ia memandang ke arah pos yang kini berdiri lagi di kejauhan, samar di gelap. "Mereka bertarung seperti singa, prajuritmu."
"Lalu kenapa kau kembali?" tanya Arga. Suaranya tidak meninggi. "Perjanjian damai sudah ada delapan tahun. Desa itu cuma petani dan kambing. Apa yang kau cari di lembah yang dilupakan semua orang?"
Rastaka menatapnya lama. Untuk sekejap, sesuatu yang menyerupai keletihan melintas di wajahnya. "Kau pikir aku memilih ini, Nak? Aku diberi peta dan diberi perintah. Sama sepertimu." Ia memandang ke utara, ke pegunungan biru yang hitam di malam hari. "Ada orang-orang di balik gunung yang menggambar garis di atas kertas dan menyebutnya kemenangan. Mereka tidak pernah mencium bau ladang ini. Tapi aku, dan kau, kita yang berdiri di sini."
Arga merasakan sesuatu yang dingin di perutnya. Ia datang membawa kebencian dan menemukan cermin.
"Maka berhenti," kata Arga. "Tarik pasukanmu. Tidak ada kemenangan di lembah ini. Hanya pusara."
Rastaka tersenyum kecil, getir. "Kalau aku berhenti, mereka akan mengirim orang lain. Orang yang tak akan repot-repot mengambil yang terluka di bawah bendera putih." Ia berbalik, lalu menengok sekali lagi. "Bawa rakyatmu pergi, Komandan muda. Besok aku tidak akan selembut malam ini. Aku punya perintah untuk meratakan lembah ini sampai ke akar. Aku akan menjalankannya. Bukan karena aku ingin. Karena aku harus."
Ia melangkah kembali ke garisnya, dan bendera putih turun.
Arga berdiri sendirian di ladang mayat, hujan kembali turun. Di telinganya terngiang suara Wira dari teropong, lembut lewat radio kecil di sakunya. "Kau mendengarnya. Besok dia datang dengan segalanya."
"Aku mendengarnya," kata Arga. Ia menatap pegunungan biru, ke arah orang-orang yang menggambar garis di atas kertas. "Maka kita harus membuat besok jadi hari dia menyesal pernah menerima peta itu."