Wira yang menemukannya, dari lumbung padi, lewat teropong runduk, di pagi keempat pertempuran.
"Kemari," panggilnya pada Arga, suaranya tajam dengan sesuatu yang sudah lama tak terdengar — harapan. "Lihat ke garis tengah mereka. Di belakang ladang jagung. Apa yang kau lihat?"
Arga memanjat ke lumbung, mengambil teropong, dan mengamati. Lama. Lalu ia mulai melihat apa yang dilihat Wira.
"Mereka berpindah," kata Arga pelan. "Pasukan dari sisi timur ditarik ke tengah."
"Lebih dari itu." Wira mengambil ranting, menggambar di debu lantai lumbung — peta kasar lembah. "Selama empat hari mereka menyerang merata. Tiap sisi sekaligus, menekan kita dari segala arah. Tapi pagi ini, lihat — sisi timur mereka tinggal selapis tipis. Mereka memindahkan kekuatan ke tengah untuk satu dorongan besar terakhir ke balai." Ia menusukkan ranting ke titik tengah. "Rastaka kehabisan kesabaran. Atau kehabisan waktu — mungkin dia juga mendengar bantuan kita mungkin datang. Jadi dia bertaruh semuanya pada satu pukulan ke jantung."
Arga menatap peta debu itu, dan otaknya — otak yang sudah belajar membaca medan dari Dirga, dari Wira, dari berbulan-bulan perang — mulai bergerak.
"Kalau mereka menumpuk di tengah," katanya pelan, "maka sisi timur mereka terbuka. Dan di belakang sisi timur..." Ia menelusuri garis di debu. "Di belakang sisi timur mereka adalah pos artileri mortir. Tempat mereka mengisi mortir. Sumber semua hujan besi yang menghantam kita empat hari ini."
"Tidak dijaga banyak," kata Wira. "Mereka tidak mengira ada yang punya tenaga untuk menyerang. Mereka pikir kita sudah terkurung mati di balai, menunggu pukulan terakhir."
Arga menurunkan teropong. Untuk pertama kali dalam berhari-hari, sesuatu selain bertahan terbentuk di kepalanya. "Kalau kita ambil pos mortir mereka — kalau kita hancurkan mortirnya — mereka kehilangan tangan terbesar mereka. Tidak ada lagi mortir yang menggetarkan balai. Dan kalau kita lakukan saat mereka semua menumpuk di tengah untuk dorongan besar..."
"...kita pukul punggung mereka saat mereka menghadap kita," Wira menyelesaikan, mata tuanya berkilat. "Mereka akan terjepit antara balai di depan dan kita di belakang. Panik. Pasukan yang dipukul dari dua arah selalu mengira mereka dikepung lebih besar daripada nyatanya."
Arga turun dari lumbung, mengumpulkan yang masih bisa bergerak. Mereka sedikit — terlalu sedikit untuk serangan apa pun. Tapi serangan ini tidak butuh banyak. Ia butuh sedikit orang yang bisa bergerak cepat, diam, dan nekat.
"Aku ambil tim kecil," katanya pada Wira. "Hendra, dua milisi, aku. Kita susuri tepi sungai ke timur, lewati garis tipis mereka, sampai ke pos mortir dari belakang. Bahan peledak yang tersisa dari jembatan — masih ada empat muatan. Cukup untuk menghancurkan mortir."
"Dan balai?" tanya Hendra. "Kalau kita pergi, siapa yang menahan balai saat dorongan besar datang?"
Arga menatap orang-orang yang tersisa. Pak Karto. Warga tua. Sari dan yang terluka. Dan Wira.
"Aku," kata Wira pelan, mengangkat senapan runduknya. "Dari lumbung, aku bisa menjatuhkan pemimpin tiap gelombang, seperti semalam. Itu memperlambat mereka. Pak Karto dan yang lain menahan pintu." Ia menatap Arga, dan ada keberatan yang tak terucap — keberatan seorang mentor mengirim muridnya ke bahaya — lalu ia menelannya. "Tahan mereka selama mungkin di tengah. Beri kami sasaran yang berkumpul rapat. Kau punya waktu sampai dorongan besar mereka pecah masuk. Setelah itu..."
"Setelah itu sudah terlambat," kata Arga. "Aku tahu. Maka kami harus cepat."
Ia melengkapi tim kecil itu — peledak, dua magasin tersisa per orang, pisau. Saat ia mengikat tali ransel, Sari mendekat, tangannya masih merah, wajahnya pucat tapi mantap.
"Pulang," katanya. Hanya satu kata. Bukan permohonan, perintah.
Arga menatapnya. Di malam pertama, dulu sekali, ia membalut luka Arga dengan harapan di matanya. Sekarang matanya keras, ditempa perang, tapi harapan itu masih di sana, di dasar.
"Aku selalu pulang," kata Arga. Ia tak yakin itu janji yang bisa ia tepati. Tapi ia mengatakannya, karena kadang sebuah janji adalah satu-satunya peluru yang tersisa.
Lalu ia memimpin empat bayangan keluar dari balai, menyusuri tepi sungai yang berkabut, menuju punggung musuh yang menghadap ke arah lain.