Mereka bergerak di kabut, empat orang menyusuri tepi sungai, tubuh menempel di lumpur dan akar. Garis tipis musuh di sisi timur baru saja ditinggalkan untuk memperkuat tengah, dan celah-celah dalam barisan itu cukup lebar untuk seorang yang nekat menyelinap. Arga memimpin, pisau di tangan, melumpuhkan dua penjaga mengantuk tanpa suara di sepanjang jalan. Hendra dan dua milisi mengikuti, napas ditahan, jantung di tenggorokan.
Pos mortir muncul dari kabut seperti yang dijanjikan peta debu Wira: tiga mortir berat di balik tanggul, peti-peti amunisi ditumpuk, segelintir awak yang menghadap ke selatan, ke balai, menunggu perintah menembak. Punggung mereka terbuka. Tak seorang pun menengok ke timur, karena di timur seharusnya tak ada apa-apa kecuali kemenangan mereka sendiri.
"Pasang muatan di tumpukan amunisi," bisik Arga. "Satu di tiap mortir, satu di peti. Saat aku beri aba-aba, kita ledakkan dan lari ke garis pepohonan. Jangan tunggu untuk berkelahi."
Mereka merangkak masuk. Hendra dan milisi mengikat muatan di mortir, jari-jari cepat dan tenang, pelajaran yang dulu nyaris menewaskan Jaka kini menyelamatkan mereka. Arga sendiri menyelinap ke tumpukan peti amunisi, menanam muatan terbesar di antara peti-peti mortir, menarik sumbu mundur.
Di kejauhan, ke arah balai, terdengar gemuruh — dorongan besar Rastaka dimulai. Gelombang infanteri terbesar menyerbu balai dari tengah, mortir di sini akan ikut menggempur sebentar lagi. Mereka kehabisan waktu.
Seorang awak mortir menengok. Melihat bayangan asing. Membuka mulut untuk berteriak.
"Sekarang!" Arga menembaknya, lalu menekan detonator.
Dunia menjadi cahaya dan suara.
Tumpukan amunisi mortir meledak dalam rantai yang memuntahkan api ke langit kelabu subuh, ledakan susulan menghantam ledakan susulan, mortir-mortir terlempar seperti mainan, tanggul rata. Gelombang panas melemparkan Arga ke belakang, telinganya berdenging, dunia hening dan terang dan kacau. Ia bangkit, menyeret Hendra yang tersungkur, dan mereka berlari — empat bayangan kabur ke garis pepohonan saat di belakang mereka pos mortir musuh menjadi neraka.
Di balai, di seberang lembah, Wira mendengar ledakan itu. Dari lumbung padi, ia melihat bola api membubung di punggung musuh, dan ia tahu Arga berhasil.
"SEKARANG!" teriaknya turun ke pembela balai. "Mereka kehilangan mortir! Mereka tidak tahu siapa di belakang mereka! Dorong ke depan! DORONG!"
Dan terjadilah sesuatu yang tak terhitung dalam taktik mana pun: pasukan musuh yang menyerbu balai mendengar ledakan di punggung mereka sendiri, melihat api di tempat yang seharusnya aman, dan rasa takut yang lebih cepat dari peluru menjalar di barisan mereka. Mereka dikepung — itu yang mereka kira. Mereka diserang dari dua arah oleh musuh yang lebih besar dari yang mereka lihat.
Pembela balai, yang sedetik lalu bersiap mati, kini melihat musuh di depan mereka goyah, menengok ke belakang, mulai panik. Pak Karto, dengan senapan terlalu berat untuk tangan tuanya, melangkah keluar pintu dan menembak. Dua milisi remaja mengikutinya, berteriak. Warga-warga di jendela bergabung. Dan dari lumbung, senapan Wira menyalak dengan ketenangan yang dingin, menjatuhkan tiap perwira yang mencoba menenangkan barisan.
Tanpa pemimpin, tanpa mortir, terjepit antara balai yang melawan balik dan api misterius di punggung mereka, gelombang besar Rastaka — pukulan terakhir yang seharusnya menghancurkan pertahanan — pecah. Pertama satu prajurit berbalik dan lari. Lalu sepuluh. Lalu seluruh sayap, mengalir mundur ke utara dalam kekacauan, menginjak senjata yang mereka jatuhkan.
Arga, dari garis pepohonan timur, melihat momentum berbalik seperti air bah yang berbalik arah. Ia mengangkat senapannya dan menembak ke punggung yang melarikan diri, memperdalam kepanikan. Hendra di sampingnya tertawa — tawa gila, lelah, tak percaya — sambil menembak.
"Mereka lari!" teriak Hendra. "Demi Tuhan, mereka benar-benar lari!"
Arga tidak tertawa. Ia menatap kekacauan itu dengan kepala yang masih dingin, karena ia tahu pasukan yang panik bisa berbalik lagi kalau pemimpinnya menemukan mereka. Ia mencari di antara barisan yang mundur, di belakang, ke gundukan tempat ia pernah berdiri.
Dan di sana, di tengah pasukannya yang runtuh, ia melihat Rastaka — masih berdiri, masih mencoba menahan barisannya yang pecah, berteriak perintah yang tak ada lagi yang dengar.
Arga menurunkan senapannya. "Hendra, kumpulkan yang lain. Susul mundur mereka, jaga jarak, jangan biarkan mereka berkumpul ulang." Ia mulai bergerak ke arah gundukan. "Komandan mereka masih di sini. Selama dia berdiri, mereka bisa dikumpulkan lagi."
"Mau ke mana kau?"
Arga sudah berjalan, menembus kabut dan asap menuju sosok yang berdiri sendirian di tengah pasukan yang lari. "Menumbangkan yang terakhir berdiri."