Rastaka berdiri di gundukan di tengah pasukannya yang runtuh, seperti tiang yang menolak roboh meski rumahnya sudah terbakar di sekelilingnya. Ia masih berteriak perintah, masih mencoba menarik barisan yang pecah kembali ke bentuk, tapi suaranya tenggelam dalam derap orang-orang yang lari. Mortirnya hancur. Sayapnya berbalik. Dan dari segala arah, ia mendengar ledakan dan tembakan yang membuat pasukannya yakin mereka dikepung tentara yang jauh lebih besar.
Arga mendaki gundukan itu dari sisi yang menghadap timur, di mana asap pos mortir masih membubung. Ia datang sendiri, senapan terangkat, melangkah lewat tubuh-tubuh yang berjatuhan. Rastaka mendengarnya, berbalik, dan untuk sesaat dua komandan itu berhadapan lagi — kali ini tanpa bendera putih, tanpa penerjemah, di tengah pertempuran yang sedang ia kalah.
Rastaka punya pistol di tangan. Ia mengangkatnya.
"Jangan," kata Arga, senapannya sudah terbidik lebih dulu. "Sudah selesai. Lihat sekelilingmu. Pasukanmu lari. Mortirmu hancur. Tidak ada lagi yang bisa kau menangkan hari ini."
Penerjemah tak ada, tapi Rastaka mengerti nada itu, atau cukup banyak bahasa untuk menangkap arti. Ia tidak menurunkan pistol. Wajahnya, di bawah jelaga dan kelelahan, menampakkan sesuatu yang Arga kenali — bukan kemarahan, tapi keletihan seorang lelaki yang sudah terlalu lama menjalankan perintah orang lain.
"Kalau aku menyerah," kata Rastaka, lambat, dalam bahasa Indonesia yang patah-patah — kata-kata yang ternyata bisa ia susun, yang ia simpan sampai saat ini — "mereka bunuh keluargaku. Di balik gunung. Itu cara mereka. Perwira yang gagal... keluarganya yang membayar."
Arga tidak menurunkan senapan, tapi sesuatu di dadanya mengencang. "Maka berhenti melawan untuk mereka. Berhentilah jadi tangan orang-orang yang menggambar garis di atas kertas." Ia menatap mata lelaki tua itu. "Kau bilang kau tidak memilih ini. Sekarang pilih. Letakkan pistolnya. Hidup. Bicara. Beri tahu negaraku siapa yang mengirimmu, siapa yang mengkhianati perdamaian, siapa yang menyembunyikan ini selama bertahun-tahun. Itu lebih merusak mereka daripada satu pelurumu padaku."
Rastaka menatapnya lama. Di sekeliling mereka, suara pertempuran surut menjadi suara pengejaran — pasukannya sudah lari terlalu jauh untuk dikumpulkan. Ia tahu itu. Ia komandan yang cukup lama berperang untuk membaca medan, dan medan ini sudah hilang.
Tangannya, yang memegang pistol, gemetar.
"Anak muda," katanya pelan. "Kau mengingatkanku pada diriku, dulu sekali. Sebelum aku tahu garis di atas kertas tidak berarti apa-apa bagi orang yang menggambarnya." Ia menatap pegunungan biru di utara, ke arah orang-orang yang mengirimnya. Lalu, perlahan, jari demi jari, ia melepaskan pistol. Senjata itu jatuh ke lumpur.
"Aku menyerah," kata Rastaka. "Pada komandan yang menahan posku dengan petani dan orang tua." Sudut bibirnya bergerak, hampir senyum, getir dan lelah. "Mereka tidak akan pernah percaya itu di balik gunung."
Arga melangkah maju, menendang pistol menjauh, lalu — alih-alih kekerasan yang mungkin diharapkan — ia mengulurkan tangan, membantu lelaki tua itu turun dari gundukan. Hendra dan milisi tiba berlari, senjata terangkat, tapi Arga mengangkat tangan menahan mereka.
"Dia tahanan," kata Arga. "Dia menyerah. Perlakukan dia seperti tahanan, bukan binatang. Kita bukan mereka."
Kabar jatuhnya Rastaka menyebar lewat lembah lebih cepat dari kuda. Pasukan musuh yang tersisa, mendengar komandan mereka tertangkap, kehilangan tulang punggung terakhir mereka. Yang masih bertahan di kantong-kantong meletakkan senjata atau melarikan diri ke utara, ke pegunungan, ke arah orang-orang yang mengirim mereka dan tak akan pernah berterima kasih.
Saat matahari naik penuh di atas lembah Talun Sengit, gelombang besar yang seharusnya menghancurkan pertahanan — pukulan terakhir Rastaka — telah pecah total. Bukan oleh batalion. Bukan oleh artileri. Tapi oleh selusin orang lelah yang menolak pergi, dan oleh seorang komandan muda yang belajar bahwa kadang cara mengalahkan musuh adalah membuatnya mengingat ia juga manusia.
Wira turun dari lumbung, melangkah melintasi ladang penuh asap, dan berhenti di samping Arga, menatap Rastaka yang kini duduk di lumpur, dijaga, tahanan.
"Tulang punggung serangan mereka," kata Wira pelan. "Patah."
"Patah," ulang Arga. Ia menatap utara, ke pegunungan biru. "Tapi mereka yang menggambar garis masih di balik gunung. Ini belum benar-benar selesai."
"Tidak," kata Wira. "Tapi untuk hari ini..." Ia menengadah ke langit yang membersih. "Untuk hari ini, lembah ini masih milik kita."