Subuh menggantung kelabu di atas lembah Talun Sengit ketika Arga pertama kali mendengarnya. Bukan tembakan. Bukan dentum mortir yang sudah ia hafal sampai ke tulang sumsum selama tiga hari tiga malam terakhir. Ini suara lain — berat, bergetar, datang dari selatan, menjalar di tanah lewat telapak kakinya sebelum sampai ke telinganya.
"Mesin," kata Wira pelan di sampingnya, bersandar pada karung pasir dengan senapan runduk di pangkuan. Tangan kirinya yang cacat menahan laras, jemarinya yang tak lagi lengkap melengkung kaku. "Banyak mesin."
Arga mengangkat kepala dari balik tembok balai desa yang separuh runtuh. Asap mesiu masih menggantung di antara rumah-rumah yang hangus. Di sisi barat, garis pertahanan yang nyaris jebol semalam masih dipegang oleh segelintir orang yang lebih mirip mayat berjalan ketimbang prajurit. Jaka di antaranya, pipinya hitam oleh jelaga, parang di satu tangan dan senapan rampasan di tangan lain.
"Jangan-jangan musuh datang lagi," bisik seorang prajurit muda pengganti di sebelah Arga, suaranya pecah.
"Bukan." Arga sudah berdiri. Ia tahu suara itu. Ia pernah mendengarnya persis seperti ini, dulu, saat fajar menyelamatkan desa untuk pertama kalinya. "Itu truk kita."
Dari tikungan jalan tanah selatan, debu naik seperti dinding. Lalu muncul yang pertama: truk militer berwarna loreng hijau lumut, bendera kecil berkibar di kapnya. Lalu yang kedua. Yang ketiga. Iring-iringan itu tak berujung, membelah lembah, lampu sorotnya menembus kabut subuh.
Di seberang, di lereng utara tempat musuh telah menggali diri selama berhari-hari, terdengar teriakan dalam bahasa tetangga. Teriakan yang berbeda dari biasanya. Bukan perintah menyerang. Ini perintah mundur.
"Mereka lihat," kata Wira, dan untuk pertama kalinya dalam tiga hari, sudut bibirnya yang retak terangkat sedikit. "Mereka tahu sudah selesai."
Arga memanjat reruntuhan, mengangkat tangan tinggi-tinggi ke arah truk pertama. Pintu kabin terbuka sebelum truk sepenuhnya berhenti. Seorang perwira melompat turun, helm masih terpasang, matanya menyapu medan — tembok roboh, karung pasir berlubang, tubuh-tubuh yang ditutup terpal, dan orang-orang yang masih berdiri di antaranya.
"Siapa yang memimpin di sini?" perwira itu berteriak.
"Saya, Pak." Suara Arga lebih serak dari yang ia kira. "Prajurit Satu Arga. Pos Talun Sengit."
Perwira itu menatapnya lama. Menatap pangkat di kerah Arga yang sudah robek, lalu menatap apa yang tersisa dari pasukan dan penduduk yang bertahan di belakangnya. Sesuatu di wajahnya berubah, seakan ia baru saja menyadari apa yang sebenarnya ia datangi.
"Berapa lama kalian bertahan?"
"Tiga hari, Pak. Sejak gelombang pertama."
Di utara, suara mesin musuh kini menjauh — kendaraan mereka berbalik menyusuri punggung gunung, infanteri mereka menarik diri ke garis pepohonan, lalu lebih jauh lagi ke balik pegunungan biru yang sama, tempat semuanya bermula. Beberapa prajurit di garis barat mulai menembak ke arah mereka yang mundur, tapi Arga mengangkat tangan.
"Hentikan tembakan." Suaranya tegas sekarang. "Hemat peluru. Biarkan mereka pergi."
Truk-truk terus berdatangan. Prajurit-prajurit segar melompat turun, menyebar ke posisi, menggotong yang terluka, membagikan air. Seorang medis berlari ke arah Wira, tapi kopral tua itu menepisnya dengan tangan kanannya.
"Yang muda dulu," katanya, menunjuk prajurit pengganti yang mengaduh di sudut. "Aku sudah lama berteman dengan sakit."
Arga turun dari reruntuhan. Kakinya nyaris tak menahannya. Pak Karto mendekat, tongkatnya bergetar, wajah tuanya basah oleh sesuatu yang bukan keringat.
"Mereka datang, Nak," kata kepala desa itu. "Mereka datang."
"Ya, Pak." Arga menelan sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya. "Kali ini kita yang masih berdiri saat mereka tiba."
Ia menoleh ke arah pos di puncak bukit. Di atas sana, di antara puing menara yang runtuh dan beton yang menghitam, bendera pudar itu masih ada. Robek di ujung, kotor oleh asap, tapi masih terikat di tiangnya. Masih berkibar pelan tertiup angin subuh.
Musuh sudah mundur dari garis perbatasan. Tapi Arga tahu, memandang truk-truk yang terus berdatangan dan tubuh-tubuh berterpal di kakinya, bahwa kemenangan dan kehilangan datang dalam satu napas yang sama. Asap belum mereda. Dan ketika nanti mereda, ia harus menghitung — siapa yang tinggal, dan siapa yang tidak.