Butuh sehari penuh sebelum asap benar-benar mereda dari lembah Talun Sengit.
Mereka mulai menghitung saat matahari sudah tinggi. Bukan menghitung musuh kali ini — musuh sudah lenyap di balik pegunungan, meninggalkan kendaraan rusak dan parit-parit kosong. Yang mereka hitung adalah milik sendiri.
Arga berjalan menyusuri garis pertahanan barat dengan buku jaga yang basah dan robek di tangannya, mencatat nama satu per satu. Kebiasaan lama dari pos — Wira yang mengajarinya, dulu, bahwa setiap orang harus tercatat, karena nama yang tak tercatat adalah nama yang dilupakan, dan tak ada penjaga perbatasan yang pantas dilupakan.
Empat prajurit pengganti gugur. Mereka anak-anak muda yang baru tiba beberapa bulan lalu, yang belum sempat Arga kenal nama panggilannya, yang sekarang berbaring di bawah terpal dengan wajah yang tenang dengan cara yang mengerikan. Ia menulis nama mereka dengan tangan yang berusaha tidak gemetar.
Dari milisi desa, dua orang tewas. Bukan Jaka — Jaka selamat, pincang dengan serpihan di betis, tapi hidup. Dua yang lain adalah pemuda yang dulu Arga latih sendiri memegang senapan, yang dulu canggung menarik pelatuk dan akhirnya bisa menembak lurus. Salah satunya bahkan tersenyum padanya tiga hari lalu, berkata bahwa ia ingin jadi tentara sungguhan setelah perang usai.
"Tujuh belas terluka," lapor perwira bantuan, namanya Mayor Wibawa, berdiri di samping Arga di depan balai desa yang setengah runtuh. "Lima di antaranya berat. Sudah kami berangkatkan ke kecamatan."
Arga mengangguk, menutup buku jaga. "Pihak musuh?"
"Kami belum hitung tuntas. Tapi lebih dari seratus tubuh di lereng dan parit. Mereka membayar mahal untuk lembah ini." Wibawa menatapnya. "Pertanyaannya, kenapa lembah ini? Tak ada apa-apa di sini. Pos terpencil, desa kecil. Kenapa mereka kerahkan kekuatan sebesar ini ke titik yang tak ada nilainya?"
Arga memandang ke utara, ke pegunungan biru. "Karena dulu juga di sini mereka mulai, Pak. Mungkin mereka pikir kalau bisa patah di tempat ini, garis seluruhnya akan ikut patah."
"Dan mereka salah."
"Mereka salah."
Penduduk mulai keluar dari balai dan dari rumah-rumah yang masih utuh. Para perempuan dan anak-anak yang sempat disembunyikan di ruang dalam selama pertempuran kini muncul, pucat dan berdebu. Sari di antara mereka, rambutnya kusut, lengannya berbalut perban kotor dari merawat yang terluka semalaman. Matanya mencari, dan ketika menemukan Arga masih berdiri, bahunya turun seakan beban berhari-hari baru saja dilepas.
Ia tidak berlari ke arahnya. Mereka tak punya kemewahan itu di tengah orang-orang dan mayat-mayat. Tapi ia berjalan mendekat, berhenti satu langkah di depannya, dan untuk sesaat tak ada yang berbicara.
"Kau hidup," kata Sari akhirnya, suaranya hampir tak terdengar.
"Kita hidup," kata Arga.
Wira datang terseok dari arah lumbung, ditopang seorang prajurit muda. Wajahnya abu-abu karena letih, tapi matanya jeli seperti biasa, menyapu lembah, menghitung dengan caranya sendiri.
"Empat orang menahan satu kompi semalaman, dulu," gumamnya, berhenti di samping Arga. "Sekarang seisi lembah menahan satu batalion tiga malam. Bedanya, kali ini kita tak sendirian saat fajar."
"Kita kehilangan enam orang kita, Pak," kata Arga. "Dan dua warga."
"Aku tahu." Wira menatap deretan terpal. "Aku selalu menghitungnya juga. Setiap kali. Itu beban yang tak boleh kau letakkan, Arga. Kalau kau letakkan, kau lupa kenapa kau berdiri di sini sejak awal."
Mereka berdiri bersama, ketiganya, memandang lembah yang asapnya perlahan terhempas angin. Di puncak bukit, tim dari truk sudah mulai menggali pertahanan baru di sekitar reruntuhan pos. Hidup, dengan kebandelannya yang aneh, sudah mulai merangkak kembali ke Talun Sengit.
Wibawa menghampiri lagi, kali ini dengan kabar lain. "Prajurit Arga. Markas memerintahkanmu turun ke kecamatan besok. Bukan untuk istirahat." Ia ragu sejenak. "Untuk memberi keterangan. Dan ada hal lain yang harus kau dengar langsung dari atas. Soal bagaimana semua ini bisa terjadi."
Arga menatap mayor itu. Sesuatu dalam nada suaranya membuat bulu kuduk Arga berdiri, lebih dari peluru mana pun yang pernah lewat di dekat kepalanya.
"Soal pengkhianatan," kata Wibawa pelan, "yang membuat seluruh garis ini hampir jatuh."