AIDA membutuhkan enam jam untuk menyelesaikan pencocokan. Enam jam yang dihabiskan Arka tanpa tidur, melayang di pusat komunikasi, menyeruput minuman elektrolit yang sudah hambar, dan memutar rekaman mayday itu berulang-ulang hingga setiap derak statisnya terhafal.
Ketika AIDA akhirnya bicara, nada suaranya membuat Arka langsung tegak.
"Aku sudah mencocokkan tanda tangan sinyal, pola modulasi, dan kode pengenal lambung yang tersembunyi di lapisan terdalam transmisi," kata AIDA. "Tingkat kecocokan sembilan puluh empat persen. Arka, kapal yang memancarkan suar ini bernama Wirayudha."
Nama itu tidak berarti apa-apa bagi Arka. Tapi cara AIDA mengucapkannya—pelan, hampir hormat—membuatnya menunggu.
"Aku tidak mengenal nama itu," kata Arka.
"Kau tidak akan mengenalnya. Kau masih anak-anak ketika ia hilang." Layar di depan Arka berubah, menampilkan arsip lama: foto sebuah kapal penjelajah yang anggun dan besar, perak keemasan, dengan lambang Persemakmuran Orbit di lambungnya. "Wirayudha adalah kapal penelitian kelas berat. Kapal kebanggaan armada. Dua puluh tahun lalu, ia diberangkatkan dalam misi yang catatannya, anehnya, sebagian besar terhapus dari arsip publik. Yang tercatat hanya ini: kapal Wirayudha mengalami kegagalan katastrofik di orbit tinggi dan dinyatakan hancur total dengan seluruh awaknya—tiga puluh delapan orang. Tidak ada yang selamat. Tidak ada puing yang dipulihkan. Berkabung resmi diumumkan, lalu kasus ditutup."
Arka menatap wajah-wajah awak yang muncul di layar, deretan potret resmi orang-orang yang sudah dua puluh tahun dianggap mati. "Tapi suarnya masih memancar."
"Itulah yang mengganggu logika," kata AIDA. "Sebuah kapal yang hancur total tidak meninggalkan suar yang utuh. Suar darurat dirancang untuk bertahan, ya, tapi memancar terus-menerus selama dua dekade membutuhkan sumber daya. Membutuhkan lambung yang masih utuh. Membutuhkan reaktor yang masih, setidaknya, sebagian hidup." AIDA berhenti. "Kapal yang dinyatakan hancur ini, Arka, sebagian besarnya masih ada di luar sana. Dan ia masih bernyawa, dalam arti tertentu."
Arka merasakan dingin merayap di tengkuknya. "Kau bilang catatan misinya terhapus. Kenapa?"
"Aku tidak tahu. Tapi aku tahu kapan ia terhapus." AIDA menampilkan garis waktu. "Penghapusan dilakukan tiga minggu setelah kapal dinyatakan hilang. Diperintahkan dari otoritas yang lebih tinggi dari komando armada biasa. Dan hanya beberapa bulan setelah itu..." Garis waktu bergerak maju. "...kanal komunikasi global mulai meredup. Satu per satu. Sampai akhirnya, keheningan."
Arka menahan napas. "Maksudmu kapal ini ada hubungannya dengan—dengan senyapnya Bumi?"
"Aku tidak mengatakan itu," AIDA berkata hati-hati. "Aku menunjukkan urutan waktu. Korelasi bukan sebab. Tapi aku berbohong jika kubilang urutan ini tidak membuatku—gelisah, jika sebuah AI boleh menggunakan kata itu."
Arka mengambang diam, menatap potret Wirayudha. Selama bertahun-tahun ia mengira keheningan Bumi adalah misteri tanpa pintu, tembok tanpa retak. Kini, untuk pertama kalinya, ada retak. Sebuah suar tua memancar dari kapal mati yang ternyata tidak benar-benar mati, dari misi yang catatannya sengaja dikubur, tepat sebelum dunia kehilangan suaranya.
"Mereka menyembunyikan sesuatu," kata Arka pelan. "Seseorang menyembunyikan apa yang sebenarnya terjadi pada kapal ini. Dan mungkin apa yang sebenarnya terjadi pada—semuanya."
"Itu satu kemungkinan," kata AIDA. "Ada kemungkinan lain yang lebih membosankan: kebetulan, kerusakan teknis, birokrasi yang menutup berkas demi efisiensi. Aku tidak ingin kau membangun cerita yang lebih besar dari datanya."
"Tapi kau merasakannya juga, kan?" Arka menatap kamera AIDA yang berkedip pelan di langit-langit. "Bahwa ini bukan kebetulan."
Hening panjang. Lalu, dengan kejujuran yang jarang ia tunjukkan, AIDA menjawab, "Ya. Aku merasakannya juga."
Arka melayang ke jendela observasi. Di luar, di antara taburan bintang yang dingin, di suatu tempat dalam lintasan yang lambat membusuk, sebuah kapal hantu sedang memanggil. Kapal yang menyimpan jawaban dari pertanyaan yang menghantuinya sejak Bumi membisu.
"Berapa jauh ia dari kita?" tanya Arka.
"Dalam jangkauan pod transit," jawab AIDA. Lalu, dengan nada yang nyaris seperti permohonan, "Tapi sebelum kau menanyakan hal yang sedang kau pikirkan—biarkan aku mengatakan ini. Apa yang kau pikirkan itu berbahaya. Mungkin yang paling berbahaya yang pernah kau lakukan."
Arka tidak menjawab. Tapi keduanya tahu pertanyaan itu sudah terucap, bahkan tanpa kata.