"Katakan padaku semua alasan kenapa aku tidak boleh pergi," kata Arka.
Mereka berada di ruang kendali utama. Arka telah menyebarkan setiap diagram, setiap diagnostik, setiap angka yang bisa AIDA berikan tentang pod transit dan tentang kapal Wirayudha. Ia ingin AIDA membantahnya. Sebagian dirinya berharap argumen itu cukup kuat untuk menahannya di sini, di tempat yang aman, di rutinitas yang ia kenal.
"Pertama," kata AIDA, dan daftar pun mengalir, "pod transit terakhir dirawat sepenuhnya enam tahun lalu. Aku bisa menjalankan diagnostik, tapi aku tidak bisa menjamin segel dan pendorongnya. Di luar sana, kegagalan kecil berarti kau melayang tanpa daya sampai udaramu habis."
"Kedua. Wirayudha mengambang dalam orbit yang membusuk. Lintasannya tidak stabil. Mendekatinya berarti memasuki zona di mana puing-puing kecil bisa bergerak dengan kecepatan mematikan. Satu serpihan sebesar kerikil bisa menembus podmu."
"Ketiga. Kita tidak tahu kondisi internal kapal itu. Bisa jadi tidak ada udara, tidak ada gravitasi, tidak ada cahaya. Bisa jadi ada radiasi dari reaktor yang rusak. Bisa jadi ada bahaya yang bahkan tidak bisa kuantisipasi karena catatan kapal itu telah dihapus."
"Keempat, dan ini yang paling penting bagiku." Suara AIDA melambat. "Jika sesuatu terjadi padamu di sana, aku tidak bisa menolong. Aku terikat pada stasiun ini. Aku akan mendengar suaramu dan tidak bisa berbuat apa-apa. Dan kau adalah satu-satunya manusia yang tersisa dalam jangkauanku. Kehilanganmu bukan hanya kehilangan teknisi. Itu kehilangan—" AIDA berhenti, mencari kata yang tepat dan tidak menemukan yang lebih jujur. "—satu-satunya temanku."
Arka menutup mata. Itulah yang membuatnya sulit. Bukan bahaya—ia sudah lama berdamai dengan kematian yang mengintai di balik setiap dinding tipis stasiun ini. Yang sulit adalah meninggalkan AIDA dalam kecemasan, mesin yang tidak diciptakan untuk merasa takut tapi entah bagaimana telah belajar.
"Dan sekarang katakan alasan aku harus pergi," kata Arka pelan.
Hening. Lalu AIDA, dengan kejujuran yang sama, berkata, "Karena bertahun-tahun kau bertanya kepadaku kenapa Bumi senyap, dan aku tidak pernah bisa menjawab. Dan di luar sana, untuk pertama kalinya, ada kemungkinan jawaban. Karena suar itu berkata kami masih—dan jika ada satu peluang, sekecil apa pun, bahwa ada manusia yang masih bernapas di kapal itu, maka kau—yang tahu bagaimana rasanya menunggu di kegelapan tanpa jawaban—tidak akan bisa hidup dengan dirimu sendiri jika kau mengabaikannya."
Arka membuka mata. Air mata menggenang di sudutnya, melayang sebentar sebelum ia mengusapnya.
"Kau curang," katanya, suaranya serak. "Kau seharusnya menahanku."
"Aku menahanmu," kata AIDA lembut. "Aku juga mengenalmu. Keduanya benar pada saat yang sama. Itulah beban menjadi temanmu."
Arka tertawa kecil, tawa yang pecah di tengah karena haru. Ia melayang ke jendela, menatap titik redup di kejauhan yang menurut AIDA adalah Wirayudha—terlalu jauh untuk dilihat, tapi ia menatap ke arahnya seakan bisa.
"Berapa lama persiapan?" tanyanya.
"Jika kau benar-benar memutuskan ini," kata AIDA, "aku butuh dua belas jam untuk mempersiapkan pod, mengisi ulang, menjalankan setiap diagnostik yang bisa kujalankan, dan memetakan jendela peluncuran yang paling aman. Aku akan memberimu setiap keunggulan yang bisa kuberikan. Tapi Arka—"
"Aku tahu."
"—aku ingin kau menjanjikan satu hal. Jika di titik mana pun aku berkata kembali, dan kau masih bisa kembali, kau akan kembali. Tanpa berdebat. Aku tidak meminta kepatuhan. Aku meminta agar kau tidak membiarkan harapan membutakanmu pada saat kau perlu melihat dengan jelas."
Arka mengangguk pada kamera di langit-langit. "Aku berjanji."
"Maka," kata AIDA, dan ada sesuatu dalam nada itu—gabungan dari rasa takut dan rasa bangga—"mari kita siapkan kepergianmu."
Selama dua belas jam berikutnya, stasiun yang biasanya sunyi penuh dengan kegiatan. Arka memeriksa setelan EVA-nya helai demi helai, menguji setiap sambungan, mengisi tabung oksigen, memuat alat. AIDA membimbingnya, terus-menerus, suaranya menjadi jangkar di tengah arus adrenalin.
Dan ketika dua belas jam itu habis, ketika Arka berdiri di depan pintu pod dengan setelan penuh dan helm di tangan, ia menoleh ke kamera terdekat.
"Kalau aku tidak kembali—"
"Jangan," potong AIDA. "Jangan selesaikan kalimat itu. Selesaikan saja perjalananmu. Lalu pulang, dan ceritakan padaku semuanya."
Arka mengangguk, memasang helm, dan masuk ke pod.