Pintu pod menutup dengan desis pneumatik, lalu klik tegas yang terasa final. Arka duduk di kursi sempit, terikat oleh sabuk silang, dikelilingi panel-panel kecil yang menyala redup. Di luar jendela mungil pod, ia bisa melihat lambung Stasiun Nawasena membentang, raksasa logam yang telah menjadi seluruh dunianya.
"Sistem pod nominal," suara AIDA mengalir lewat radio di helmnya, kini terdengar lebih dekat, lebih intim. "Tekanan kabin stabil. Oksigen penuh. Kau mendengarku dengan jelas?"
"Jelas," kata Arka. Napasnya sendiri terdengar keras di dalam helm.
"Pelepasan dalam sepuluh detik. Aku akan menghitung. Saat aku bilang nol, penjepit akan melepasmu dan pendorong akan memberi dorongan pertama. Setelah itu kau melayang bebas. Aku memandu lintasanmu dari sini."
Hitungan dimulai. Pada setiap angka, Arka merasakan tali yang mengikatnya pada satu-satunya hal yang aman dalam hidupnya merenggang. Tiga. Dua. Satu.
"Nol."
Sebuah getaran, lalu sentakan halus. Penjepit terlepas. Stasiun bergerak menjauh di jendela—atau, lebih tepatnya, Arka yang bergerak menjauh darinya. Pendorong mendesis pendek, dan pod meluncur ke dalam kekosongan.
Untuk beberapa saat, Arka tidak bisa bernapas. Bukan karena masalah teknis. Karena pemandangan.
Tanpa dinding stasiun yang membatasi, alam semesta membuka diri di sekelilingnya, total dan tak berbelas kasih. Di satu sisi, Bumi membentang raksasa, biru dan diam, busur cahaya fajar merayap di tepinya. Di sisi lain, kegelapan mutlak, ditaburi bintang yang begitu banyak hingga terasa seperti debu cahaya. Tidak ada atas, tidak ada bawah. Hanya ada keberadaan kecilnya yang melayang di antara segala kemegahan.
"Kau diam," kata AIDA pelan.
"Aku—" Arka menelan ludah. "AIDA, ini... aku lupa. Aku lupa seperti apa rasanya. Melihatnya tanpa kaca tebal. Begitu besar."
"Sembilan tahun di balik dinding," kata AIDA. "Wajar jika kau lupa. Tarik napas. Nikmati sebentar. Lalu kembali fokus, karena di depan kita ada pekerjaan."
Arka menarik napas dalam, membiarkan keajaiban itu mengisinya, lalu menghembuskannya bersama rasa takut. Ia mengalihkan pandangan ke layar navigasi. Sebuah titik berkedip di kejauhan—target.
"Lintasan terkunci," lapor AIDA. "Perjalanan akan memakan waktu sekitar lima puluh menit. Aku akan menyalakan pendorong dalam beberapa semburan pendek untuk menyesuaikan jalur. Kau hanya perlu menjaga pernapasan tetap teratur dan memberitahuku jika ada yang terasa salah."
Menit-menit berlalu dalam keheningan yang aneh. Pod melayang sunyi, hanya suara napas Arka dan sesekali desis pendorong yang memecah hening. AIDA mengisi keheningan dengan suaranya—membacakan parameter, sesekali melontarkan komentar kecil yang dimaksudkan menenangkan.
"Detak jantungmu seratus dua," kata AIDA. "Coba turunkan. Bayangkan kau sedang membersihkan filter di Modul C. Hal paling membosankan di alam semesta."
Arka tertawa pendek. "Sekarang aku malah merindukan filter itu."
"Kau akan punya banyak waktu untuk membersihkannya saat kita pulang."
Saat. Bukan jika. Arka memperhatikan pilihan kata itu, dan ia tahu AIDA memilihnya dengan sengaja.
Pada menit ketiga puluh, sesuatu mulai tampak di kejauhan. Mula-mula hanya bayangan yang menutupi bintang-bintang—siluet gelap yang lebih kelam dari kekosongan di sekitarnya. Lalu, saat busur fajar Bumi menyapunya, bentuk itu tertangkap cahaya.
Wirayudha.
Arka menahan napas. Kapal itu jauh lebih besar dari yang ia bayangkan, lambung perak keemasan yang dulu anggun kini gelap dan diam, sebagian tertutup bekas hangus dan goresan dalam. Ia berputar perlahan, sangat perlahan, seperti bangkai raksasa yang mengambang. Satu sisinya rusak parah, logamnya melengkung keluar seperti kelopak bunga logam yang mekar dari ledakan. Tapi sebagian besarnya—mengejutkan—masih utuh.
"Itu dia," bisik Arka.
"Itu dia," AIDA mengulang. Lalu, lebih pelan, "Arka, aku mendeteksi sesuatu. Suar masih memancar, seperti dugaan. Tapi ada juga jejak panas yang sangat lemah di dalam lambung. Sangat samar. Aku tidak bisa memastikan sumbernya dari sini."
Jejak panas. Sesuatu yang menghasilkan kehangatan. Sesuatu yang, mungkin, hidup.
"Bawa aku mendekat," kata Arka, dan untuk pertama kalinya, suaranya tidak lagi gemetar.