Arka menemukan pintu masuk awak di sisi kapal yang masih utuh—palka airlock yang, ajaibnya, masih merespons. AIDA membimbingnya menyandarkan pod, mengaitkan tali jangkar, lalu menyeberang dalam beberapa dorongan yang diperhitungkan hingga ia mencengkeram pegangan di lambung Wirayudha.
Logam itu dingin bahkan melalui sarung tangan setelannya, dingin yang terasa lebih dalam dari sekadar suhu. Arka membuka panel manual airlock dan memutar tuas daruratnya. Dengan rintihan logam yang ia rasakan lebih daripada ia dengar, palka terbuka.
"Aku masuk," katanya.
"Aku bersamamu," jawab AIDA. "Aku menerima umpan kamera helmmu dengan jeda kecil. Jaga lampumu tetap menyala dan jangan bergerak lebih cepat dari yang bisa kuproses."
Di dalam, kegelapan menelannya bulat-bulat. Lampu helm Arka memotong satu kerucut cahaya, dan di luar kerucut itu, kehampaan total. Airlock dalam kosong, panelnya mati. Ia menutup palka luar, lalu mencoba menekan kontrol—dan ke takjubannya, ada respons. Lampu indikator kecil menyala merah, lalu kuning, lalu hijau.
"Ada daya," kata AIDA, suaranya tajam karena terkejut. "Tipis sekali, tapi ada. Airlock ini mengisi tekanan. Wirayudha masih punya udara, Arka. Setidaknya di sebagian dirinya."
Indikator menunjukkan tekanan naik perlahan. Arka memeriksa pembacaan di setelannya. "Udara di sini—bisa dihirup?"
"Komposisinya buruk. Kadar karbon dioksida tinggi, oksigen rendah. Bertahan, jangan lepas helm. Tapi fakta bahwa ada atmosfer sama sekali berarti lambung dalam masih tersegel. Itu berarti reaktor masih menghangatkan sebagian sistem. Itu berarti..." AIDA tidak menyelesaikannya.
Palka dalam terbuka. Arka melayang masuk ke koridor utama Wirayudha.
Pemandangan itu membuat dadanya sesak. Koridor itu—dulu pasti megah—kini menjadi lorong hantu. Lampu darurat sesekali berkedip lemah di sepanjang dinding, menyala beberapa detik lalu padam, memberi denyut cahaya yang membuat bayangan menari. Benda-benda melayang dalam gravitasi nol: tablet data, cangkir, secarik kain, sebuah sepatu. Artefak kehidupan yang ditinggalkan tergesa-gesa, kini mengambang abadi seperti dalam mimpi beku.
"Tidak ada gravitasi di sini," kata Arka, mendorong dirinya pelan menyusuri koridor. "Tapi ada tanda... mereka pernah di sini. Mereka meninggalkan ini begitu saja."
"Seakan pergi terburu-buru," kata AIDA. "Atau seakan tidak punya waktu untuk merapikan."
Arka melewati sebuah jendela koridor. Di baliknya, Bumi mengisi seluruh bingkai, biru dan diam, mengawasi seperti mata raksasa. Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan.
Semakin jauh ia masuk, semakin kuat perasaan ganjil itu—perasaan bahwa kapal ini tidak benar-benar mati. Lampu yang berkedip. Dengung samar di balik dinding. Dan di satu titik, ketika ia berhenti dan diam total, ia merasa—bukan mendengar, merasa—getaran berirama yang lemah. Seperti detak.
"AIDA, kau merasakan itu?"
"Aku mendeteksinya. Getaran periodik dari arah haluan kapal. Frekuensinya... teratur. Mekanis, kemungkinan besar. Sistem yang masih berjalan." Jeda. "Jejak panas yang kudeteksi sebelumnya—sumbernya searah dengan getaran itu. Di haluan. Di area yang, menurut tata letak kapal kelas ini, adalah laboratorium dan ruang medis."
Arka mengarahkan dirinya ke haluan. Setiap dorongan membawanya lebih dalam ke dalam perut kapal, melewati pintu-pintu yang sebagian rusak, ruang-ruang yang gelap dan kosong. Di sebuah persimpangan, lampu helmnya menyapu dinding—dan ia membeku.
Di dinding, tergores kasar, bukan dicetak melainkan diukir dengan tergesa oleh tangan manusia, ada tulisan:
JANGAN PERCAYA SINYAL DARI BUMI.
Arka menatap kata-kata itu lama. Goresannya dalam, dibuat dengan keputusasaan. Di bawahnya, garis-garis tak beraturan, seperti penulisnya tidak sempat menyelesaikan kalimat berikutnya.
"AIDA," katanya pelan, "kau lihat ini?"
"Aku melihatnya." Suara AIDA, untuk pertama kalinya sejak Arka mengenalnya, terdengar benar-benar gentar. "Arka. Apa pun yang terjadi di kapal ini, awaknya tahu sesuatu. Sesuatu tentang Bumi. Sesuatu yang cukup penting untuk diukir di dinding dengan tangan kosong dalam saat-saat terakhir mereka."
Detak mekanis itu berdenyut lagi, dari haluan, memanggil. Dan Arka, dengan jantung berdebar dan tulisan peringatan terbakar di matanya, mendorong dirinya maju ke dalam kegelapan.