Ruang medis Wirayudha terletak di ujung koridor haluan, di balik pintu berlapis yang harus Arka buka secara manual dengan engkol darurat. Saat pintu bergeser, lampu helmnya menyapu ruangan—dan ia menemukan sumber daya yang membuat kapal ini setengah hidup.
Sebuah konsol di sudut ruangan masih menyala, layarnya memendarkan cahaya biru pucat. Kabel-kabel terjulur darinya ke dinding, ke sistem yang berdenyut samar. Inilah getaran berirama itu, inilah jejak panas itu—sebuah server yang bertahan, ditenagai oleh sisa terakhir reaktor, menjalankan satu tugas tanpa henti selama dua puluh tahun.
"Konsol ini terisolasi dari sistem utama," kata AIDA, menganalisis umpan kamera. "Seseorang sengaja memutusnya dari jaringan kapal dan memberinya sumber daya cadangan langsung. Mereka ingin sesuatu di sini tetap hidup, apa pun yang terjadi pada sisanya. Arka, coba akses arsipnya. Hati-hati."
Arka melayang ke konsol, jari sarung tangannya canggung di atas antarmuka. Layar meminta otentikasi, lalu—mungkin karena protokol darurat—membuka aksesnya. Daftar berkas memenuhi layar. Sebagian besar rusak, terenkripsi, atau kosong. Tapi satu folder menonjol: LOG AWAK — PRIBADI. Dan di dalamnya, rekaman terakhir, ditandai dengan tanggal dua puluh tahun lalu.
"Putar," kata Arka, hampir berbisik.
Layar memunculkan wajah. Seorang wanita, mungkin lima puluhan, rambut kelabu mengambang dalam gravitasi nol, wajah ditandai kelelahan yang melampaui sekadar lelah. Di belakangnya, ruang medis yang sama, namun lebih utuh, lebih terang. Plat namanya terbaca: KOMANDAN SRI HANDAYANI.
"Jika ada yang menemukan ini," suara wanita itu serak, lelah, "berarti kami gagal mencegah apa yang akan terjadi. Atau mungkin sudah terjadi. Aku Komandan Sri Handayani, perwira tertinggi yang tersisa di Wirayudha. Dari tiga puluh delapan awak, kami tinggal sembilan. Sekarang mungkin lebih sedikit."
Arka membeku. AIDA tidak bersuara.
"Misi kami bukan penelitian biasa," lanjut Sri. "Kami dikirim untuk menyelidiki sumber transmisi—sinyal yang Pusat Kendali Bumi sebut sebagai 'anomali komunikasi'. Sinyal yang menyebar ke setiap jaringan, setiap satelit, setiap sistem yang terhubung. Mereka kira itu kesalahan teknis. Bukan." Wanita itu mendekat ke kamera, matanya tajam meski lelah. "Itu sesuatu yang menyebar. Sesuatu yang menumpang pada jaringan kami sendiri. Dan ketika kami terlalu dekat untuk memahaminya, kami diperintahkan untuk berhenti. Lalu ketika kami menolak berhenti—" Suaranya terputus. "—mereka memutus kami. Menyatakan kami hancur. Membiarkan kami mati di sini agar apa yang kami temukan mati bersama kami."
Rekaman itu berderak, gambar terganggu, lalu kembali jernih.
"Aku tidak punya banyak waktu. Udara menipis. Tapi dengarkan ini, siapa pun kau: keheningan yang akan menelan Bumi bukan kecelakaan. Itu pilihan. Seseorang memilih kesenyapan daripada kebenaran. Dan kebenaran itu—" Sri menoleh ke samping, ke arah sesuatu di luar bingkai kamera, dan ekspresinya berubah menjadi sesuatu yang Arka tidak bisa baca. Bukan ketakutan. Sesuatu yang lebih rumit. Hampir harapan. "—kebenaran itu masih hidup. Kami menjaganya. Sampai akhir. Apa pun harganya."
Layar menjadi gelap. Rekaman berakhir.
Untuk waktu yang lama, Arka mengambang tak bergerak di ruang medis yang dingin, kata-kata wanita mati itu menggema di kepalanya.
"AIDA," katanya akhirnya. "Apa yang dia maksud? Sesuatu yang menumpang di jaringan. Sesuatu yang menyebar."
"Aku sedang memproses," kata AIDA, dan ada ketegangan dalam suaranya yang belum pernah Arka dengar. "Tapi pertimbangkan ini, Arka. Kanal komunikasi Bumi tidak mati karena bencana fisik. Tidak ada perang nuklir, tidak ada asteroid, tidak ada wabah yang tercatat. Mereka mati seperti—seperti sistem yang dimatikan dari dalam. Satu per satu, teratur. Jika ada sesuatu yang menyebar melalui jaringan itu sendiri... sesuatu yang menggunakan komunikasi sebagai jalan..."
"Lalu menjawab suar itu, mengirim sinyal—" Arka teringat permintaannya sendiri, malam pertama. Balas. Katakan ada yang mendengar. Dingin menjalari tulang punggungnya. "AIDA. Pesan yang kuminta kau kirim ke kapal ini. Apakah itu—"
"Aku mengirimnya langsung ke suar Wirayudha, bukan ke jaringan Bumi," kata AIDA cepat, memahami ketakutannya. "Kita aman. Tapi kau benar untuk takut. Mulai sekarang, kita harus sangat berhati-hati tentang apa yang kita kirim, dan ke mana."
Arka menatap layar gelap, lalu ke tulisan ukiran yang masih terbayang—JANGAN PERCAYA SINYAL DARI BUMI. Kini ia mengerti. Peringatan itu bukan paranoia. Itu pengetahuan yang dibayar dengan nyawa.
"Komandan Handayani bilang mereka menjaga sesuatu," kata Arka pelan. "Sampai akhir. Apa pun harganya. AIDA—apa yang mereka jaga?"
"Aku tidak tahu," kata AIDA. "Tapi getaran panas itu, jejak yang membuat kapal ini hangat—aku melacaknya lagi. Sumbernya bukan hanya konsol ini. Ada sumber kedua. Lebih dalam di haluan. Lebih hangat." Jeda panjang. "Dan, Arka—pola energinya stabil. Teratur. Seperti sesuatu yang sengaja dijaga tetap hidup."