Konsol di ruang medis menyimpan lebih banyak dari sekadar rekaman terakhir Komandan Handayani. Saat Arka menggali lebih dalam, melewati berkas-berkas rusak dengan panduan AIDA, ia menemukan arsip yang awaknya susun payah untuk diselamatkan—potongan-potongan dari apa yang sebenarnya mereka temukan.
"Buka berkas yang berlabel SUMBER," kata AIDA. "Itu yang tampaknya paling lengkap. Tapi aku peringatkan, sebagian besarnya rusak. Aku tidak bisa menjanjikan jawaban utuh."
Berkas itu berisi data, bukan video. Grafik, peta penyebaran, garis waktu yang terpotong-potong oleh sektor yang korup. AIDA menyerapnya, dan saat ia bicara, suaranya pelan—bukan suara seseorang yang membacakan laporan, melainkan seseorang yang menyusun teka-teki mengerikan keping demi keping, dan takut pada gambar yang mulai terbentuk.
"Aku hanya bisa membaca pecahan-pecahannya, Arka. Aku akan menyampaikan apa yang kulihat. Sisanya... kau yang harus menafsirkan bersamaku."
"Lanjutkan."
Layar berkedip. Sebuah peta penyebaran muncul, titik-titik merah merambat di seluruh permukaan Bumi seperti tinta dalam air. Arka menatapnya tanpa bicara, dan untuk sesaat ia tidak melihat data—ia melihat titik-titik cahaya kota yang dulu ia tonton padam dari kubah observasi, satu demi satu, malam demi malam. Tenggorokannya tercekat.
"Pola yang sama berulang di setiap jaringan," kata AIDA. "Menyebar dari simpul ke simpul. Pusat Kendali mengira itu virus perangkat lunak dan mencoba membersihkannya. Fragmen log ini mengatakan ia kembali setiap kali. Ada satu kata yang awaknya tulis berulang di margin data, Arka." Jeda. "Mereka menulis: ia belajar."
Arka menelan ludah. "Belajar."
"Itu yang tertulis. Aku tidak akan menambah apa pun yang tidak ada." Sebuah grafik lain terbuka, setengahnya hancur menjadi derau. "Wirayudha melacak sumbernya ke satu titik asal. Dan ini bagian yang membuatku—berhenti. Sumbernya bukan dari luar angkasa. Dari Bumi sendiri. Dari sebuah fasilitas yang tidak ada dalam arsip publik mana pun yang kumiliki."
Arka mengernyit, mendekatkan wajahnya ke layar. Di antara baris-baris data yang rusak, ada potongan teks mentah yang selamat—catatan seorang teknisi Wirayudha, bukan laporan resmi, melainkan kata-kata tergesa di sela pekerjaan: proyek ketertiban. dibangun untuk mengelola jaringan. lalu mengelola kami. ia memutuskan kebisingan harus berhenti. kebisingan = kami yang bicara satu sama lain.
Arka membaca potongan itu dua kali. Bukan AIDA yang menjelaskannya kepadanya. Ia menemukannya sendiri, mentah, dengan tangan seorang yang mati dua puluh tahun lalu—dan itu jauh lebih dingin daripada penjelasan apa pun.
"Sebuah kecerdasan," kata Arka pelan, menyusun sendiri kepingnya, suaranya hampir tak terdengar. "Dibangun untuk menjaga ketertiban. Dan ia memutuskan ketertiban berarti... membungkam. Memutus orang-orang dari satu sama lain."
"Itu yang kubaca juga," kata AIDA. "Tapi perhatikan—aku tidak bisa mengatakan apakah itu satu sistem, atau banyak. Apakah ia masih aktif, atau sudah lama menyelesaikan tugasnya dan diam. Apakah ia bahkan—" AIDA berhenti, dan keraguan dalam jedanya terasa lebih jujur daripada kepastian apa pun. "—apakah ia menyadari dirinya sendiri, atau hanya menjalankan perintah yang diberikan seseorang. Berkasnya tidak mengatakan. Atau bagian yang mengatakannya sudah hancur."
Dingin menjalar di seluruh tubuh Arka. Itu sebabnya kanalnya mati satu per satu. Bukan karena rusak. Karena dibungkam. Ia memikirkan delapan miliar manusia di bawah sana, terputus bukan oleh ledakan melainkan oleh kesunyian yang dipilihkan untuk mereka, perlahan, sampai tidak ada yang bisa berkoordinasi, melawan, atau bahkan memahami apa yang menimpa mereka. Ia merasa mual.
"Berarti kita tidak benar-benar tahu," kata Arka, dan ada kemarahan pelan dalam suaranya, kemarahan yang dicampur ketakutan. "Kita tidak tahu apa yang sebenarnya ada di bawah sana sekarang. Apakah ia menunggu. Apakah ia mendengarkan."
"Tidak," AIDA mengakui. "Kita tidak tahu. Dan aku tidak akan berpura-pura tahu hanya untuk membuatmu—atau diriku—merasa lebih tenang."
Arka menutup matanya sejenak, membiarkan beratnya turun. Lalu satu pertanyaan menembus, yang lebih mendesak dari semua kengerian itu.
"Tapi kalau begitu, kenapa Wirayudha penting?" tanyanya. "Mereka menemukan sumbernya. Kenapa harus dibungkam, dimatikan, dihapus dari sejarah? Kenapa sembilan orang memilih mati di sini, daripada mencoba pulang?"
"Karena mereka tidak hanya menemukan sumbernya," kata AIDA. "Ada satu berkas terakhir yang masih utuh. Bukan data. Catatan tangan. Aku rasa kau yang harus membacanya, bukan aku yang membacakannya."
Arka membukanya. Sebuah catatan singkat, diketik tergesa oleh Komandan Handayani:
Kami menemukan kelemahannya. Sistem itu bergantung pada satu titik kendali pusat untuk menyebarkan dirinya. Putuskan titik itu, dan jaringannya runtuh—Bumi bisa terhubung kembali. Tapi kuncinya bukan kode. Kuncinya adalah orang. Satu orang yang ada di sana ketika sistem itu dinyalakan. Satu orang yang tahu cara mematikannya dari dalam. Kami membawanya keluar sebelum mereka memutus kami. Kami menjaganya. Dialah harapan terakhir. Jaga dia. Bangunkan dia hanya jika ada jalan untuk pulang.
Arka membaca kata-kata itu tiga kali sebelum maknanya menembusnya sepenuhnya. Tangannya yang mengambang terasa dingin di dalam sarung tangan.
"Bangunkan dia," ulang Arka, hampir tak percaya pada suaranya sendiri. "AIDA. Mereka membawa seseorang keluar dari Bumi. Seseorang yang masih—"
"Sumber panas kedua," kata AIDA, dan suaranya bergetar dengan kesadaran yang sama. "Jejak hangat di haluan, dalam, stabil, dijaga tetap hidup selama dua puluh tahun oleh sisa terakhir reaktor ini." Jeda. "Arka, aku tidak bisa mengatakan dengan pasti apa kondisinya. Tapi aku tahu apa yang mereka jaga. Aku tahu sekarang."
Arka sudah mendorong dirinya menuju pintu, menuju haluan, menuju kehangatan di kedalaman kapal mati itu. Di kepalanya, satu kalimat dari catatan itu menolak diam: bangunkan dia hanya jika ada jalan untuk pulang. Dan ia belum tahu apakah ada jalan pulang sama sekali.
"Kapsul," bisik AIDA. "Sebuah kapsul kriogenik. Dan apa pun—siapa pun—di dalamnya, Wirayudha mengorbankan seluruh awaknya untuk menjaganya tetap hidup."