Arka belum sampai sepuluh meter ke koridor haluan ketika kapal berubah pikiran tentang dirinya.
Lampu darurat yang tadinya berkedip lemah tiba-tiba padam total. Dengung samar yang menemani perjalanannya berhenti. Dan dalam keheningan baru yang mencekam itu, Arka mendengar—lewat getaran di pegangan tangannya—suara logam yang merintih, jauh dan dalam, seperti raksasa tua yang akhirnya menyerah.
"Arka, berhenti," suara AIDA tajam di telinganya. "Pembacaan kapal berubah. Reaktor—sisa reaktor itu—baru saja mengalami lonjakan." Jeda sepersekian detik, secepat AIDA menyatukan datanya. "Aku mengerti sekarang. Saat kau mengaktifkan konsol arsip dan kita memutar berkas-berkas itu, kita memaksa server lama menarik daya lebih banyak dari biasanya. Selama dua puluh tahun reaktor itu hanya menahan satu beban yang stabil: kapsul. Beban tambahan kita mengganggu keseimbangan rapuh yang sudah dijaga selama dua dekade—regulator yang sudah lapuk gagal menahan lonjakan, dan reaktor melewati ambang yang tidak bisa lagi ia tahan. Pendinginnya tidak sanggup mengejar. Panasnya merambat ke struktur haluan yang sudah retak halus oleh ledakan dua puluh tahun lalu. Tekanan di koridor depan turun. Lambung di haluan kehilangan integritas. Kita yang memicunya, Arka—tanpa sengaja, tapi kita."
"Kapsulnya di depan," kata Arka, mendorong dirinya maju. "Aku harus—"
"Kau harus berpikir," potong AIDA, kerasnya hampir membentak. "Jika lambung haluan pecah saat kau di sana, kau akan tersedot ke luar. Setelanmu tidak akan bertahan dari dekompresi mendadak ditambah serpihan. Berhenti dan biarkan aku memetakan ulang."
Arka berhenti, jantungnya menggedor. Di depan, pintu sekat darurat mulai menutup otomatis—respons kapal terhadap kehilangan tekanan, menyegel area yang bocor. Pintu logam tebal itu turun perlahan dari langit-langit koridor, dan di baliknya, di sisi yang akan tersegel, terletak haluan. Terletak kapsul.
"Pintu sekat itu akan menutup," kata Arka cepat. "Kalau tertutup, aku tidak akan bisa mencapai kapsul. Mungkin tidak akan pernah."
"Dan kalau kau lewat, kau mungkin tidak akan bisa kembali," balas AIDA. "Arka. Ingat janjimu. Aku berkata kembali."
Arka menatap pintu yang turun. Setengah meter tersisa. Di otaknya, dua suara bertarung: yang satu, suara AIDA, suara akal, suara janji. Yang lain, suara Komandan Handayani—dialah harapan terakhir, jaga dia—dan suara bertahun-tahun keheningan yang ingin sekali ia akhiri.
"AIDA," katanya, sudah bergerak, "kalau aku lewat, bisa kau buka pintu ini lagi dari sini?"
Hening sepersekian detik yang terasa abadi. "Mungkin. Jika sistem sekat masih merespons perintah jarak jauh. Aku tidak bisa menjamin. Arka, jangan—"
Tapi Arka sudah melesat. Ia menukik di bawah pintu yang menutup, merasakan tepi logamnya menyerempet tabung oksigen di punggungnya dengan benturan keras—lalu ia di sisi lain, dan pintu menutup rapat di belakangnya dengan dentaman yang ia rasakan di seluruh tubuhnya.
"Aku lewat," napasnya tersengal. "Aku di sisi haluan."
"Kau gila," kata AIDA, dan di balik kemarahannya ada ketakutan murni. "Tekanan di situ turun. Reaktor masih melonjak, dan setiap detik panasnya melemahkan lambung lebih jauh. Kau punya mungkin enam menit sebelum lambung benar-benar gagal. Bergerak cepat. Kapsul harusnya di ruang tepat di depanmu."
Arka mendorong dirinya maju dalam kegelapan total, hanya lampu helmnya yang memandu. Koridor di sini lebih rusak—dinding penyok, kabel menjuntai, dan di satu titik, bintang-bintang terlihat melalui retakan tipis di lambung, di mana ruang hampa di luar menatap masuk. Ia bisa merasakan tarikan halus, udara tipis kapal merembes keluar lewat retakan itu, mencoba menyeretnya bersamanya.
"Empat menit," kata AIDA. "Pintu di ujung. Kau melihatnya?"
Arka melihatnya. Sebuah pintu lengkung, dan di baliknya, cahaya. Bukan kedipan lemah lampu darurat. Cahaya yang stabil, biru dingin, mantap—cahaya sesuatu yang sengaja dijaga tetap menyala.
Ia mencapai pintu, mencengkeram engkolnya, dan memutar dengan seluruh tenaga yang tersisa. Pintu bergeser terbuka.
Dan Arka berhenti bernapas.
"Tiga menit, Arka," desak AIDA. "Apa yang kau lihat? Bicara padaku. Apa yang—"
Tapi Arka tidak bisa bicara. Ia hanya mengambang di ambang pintu, lampu helmnya jatuh ke atas pemandangan di dalam, dan untuk kali pertama dalam hidupnya, ia merasa berada di hadapan sesuatu yang lebih besar dari keheningan, lebih besar dari kesendirian, lebih besar dari ketakutannya.
"AIDA," akhirnya ia berhasil berkata, suaranya nyaris tak terdengar. "Aku menemukannya."