Berempat remaja tersebut duduk di meja dalam kamar dan Bennet mulai membuka jurnal, sementara Flint menyantap makan malam.
Bennet membacakan satu persatu taktik yang sangat menarik untuk diterapkan dalam mengintimidasi osirus sementara waktu. Ketiganya mendengarkan dengan sebaik-baiknya.
“Jadi menurutmu, kita akan menyebarkan rumor mengenai kekuatanmu hanya untuk memancing osirus keluar dan berusaha meringkusmu?” tanya Reese. Bennet mengangguk dengan cepat.
“Untuk apa?” timpal Ed.
“Supaya bisa mengakhiri satu persatu terror yang tidak berkesudahan ini dan menjadi bebas,” cetus Bennet dengan sungguh-sungguh.
Flint menghabiskan makanannya dan bersendawa keras.
“Tidak sopan!” gerutu Reese.
“Banyak gas dalam makanan itu,” protes Flint membantah.
“Dengar. Aku tahu, semua spekulasiku terdengar mentah dan tidak matang. Tapi percayalah. Aku bisa membuat ini berhasil!” buju Bennet dengan penuh harap mendapatkan dukungan.
“Dengan taktik Macbeth? Ini terdengar menggelikan, Bennet! Macbeth adalah rekayasa dan sebuah karya sastra saja! Tidak ada unsur politik sedikit pun!” Ed mencoba meyakinkan dan akhirnya aku menghela napas panjang.
“Lupakan. Aku juga tidak serius. Kita harus berhenti berpikir berpikir dan bersantai sejenak. Aku butuh itu!”
***
Kepulangan mereka di akhir pekan tersebut dijemput oleh Larry, ayah Flint, sendiri.
Seijin Wester sebagai kepala sekolah, keempat remaja tersebut menikmati waktu istirahat selama seminggu penuh bersama keluarga sembari memulihkan diri.
Eliza menyambut mereka dengan pelukan erat sementara tangisnya pecah. Margie dan Geoff, orang tua Reese, juga tidak hentin-hentinya bersyukur. Hanya Tom saja, ayah Ed, yang jauh lebih tenang dan menguasai diri.
Larry terlebih dahulu menumpahkan kekhawatirannya sewaktu bertemu pertama.
Setelah dalam situasi yang jauh lebih santai, Ed mulai bercerita tentang perjalanan mereka dengan detail.
Setiap petualangan terdengar menegangkan dan Margie juga Eliza sesekali menyusut air matanya.
“Aku mengundang seseorang yang kalian mungkin sudah tidak temui lagi sejak kembali ke Les Chester!” cetus Larry begitu Ed usai menuturkan kisah petualangan mereka.
Sementara kami duduk di ruang keluarga, seorang pelayan membawa seseorang yang mereka kenal dengan baik. Chen!
Sontak mereka berhamburan mendekat dan memeluknya satu persatu.
“Astaga, Chen! Kau tampak tampan tanpa baju biksumu!” puji Reese dengan gembira.
Chen tertawa geli dan mengucapkan terima kasih.
“Chen akan bekerja untuk Geoff di kantor pengacaranya. Sementara itu, ada lagi yang mungkin Bennet akan sampaikan sendiri. Aku sudah mendengar berita itu sebelumnya dari Parlemen ketahanan minggu lalu.” Larry mempersilahkan pada Bennet untuk mengatakan tentang surat pembebasan Cedric dari tuduhan.
Wajah Tom barulah kini terkesiap. Matanya merebak dan bibirnya gemetar, bergerak-gerak namun tidak ada kata yang keluar.
“A-aku tidak menyangka,” desisnya dengan terkejut.
“Ya. Ini merupakan berita yang kita tunggu. Akhirnya, pamanku bisa menghirup udara sebagai orang bebas dan bukan buron.” Bennet membenarkan dengan lirih.
“Ya, selama empat belas tahun lebih terkungkung dan hidup dalam bayangan,” gumam Margie terlihat getir dan masih menyisakan kekecewaan atas perlakuan yang Cedric terima.
“Bagaimana rasanya mendapat kekuatan seperti sekarang ini? Apakah kau mengalami kesulitan?” tanya Tom akhirnya berhasil menguasai kegembiraan, sekaligus kebahagiaannya.
“Sepertinya tidak ada beda yang begitu jauh. Aku hanya lebih sensitive terhadap beberapa hal seperti kemampuan memprediksi satu dua kejadian, termasuk perang!”
Jawaban Bennet membuat orang dewasa yang ada di tempat itu terhenyak.
“Tapi, tentu saja tidak bisa mempergunakan hal tersebut untuk menyampaikan dan memperingatkan bukan? Kita akan ditangkap dan dianggap makar!” tanya Bennet kembali dengan kritis.
“Kau benar. Kita hanya bisa menyimpan ini semua sendiri,” sahut Geoff prihatin.
“Apa rencanamu bersama kelima pelindung, Bennet?” Kali ini Margie bertanya seperti orang dewasa.
“Belum ada selain membentengi diri. Yang pasti, aku sudah mengusir secara langsung, semua orang munafik yang ada di dalam Les Chester untuk pergi. Anehnya, Wilson masih ada. Hanya Tracy Hensey saja dan dua guru yang tidak sempat aku kenal, keluar.”
Sahabat-sahabat ibunya mengangguk puas dan tidak ada lagi yang bisa mereka tanyakan lagi.
“Tahukah kamu jika Dalai Lama berhasil selamat?” cetus Chen sementara Eliza berpamitan memeriksa makan malam.
“Biarlah Chen. Aku sudah mengunci dan memastikan dia tidak akan pergi kemana-mana!” jawab Bennet dengan yakin dan wajah geram. Kilasan tentang Leane dibunuh k**i kembali melintas.
“Ayolah! Kita makan, semua sudah siap!” seru Eliza mengajak semua tamunya ke ruangan sebelah.
Dengan riang mereka segera berpindah tempat.
Hidangan menu yang tampak mewah dan mengugah selera itu tidak lagi menunggu lama untuk disantap. Setelah memimpin doa, Larry memotong kalkun dan membiarkan semua mengambil bagian kesukaan masing-masing.
Makan malam dengan suasana hangat dan penuh kekeluargaan memang sangat terasa dan menyenangkan.
***
"Aku ingin memberinya nama Pentagram. Itu nama yang Osiris inginkan."
Siapa itu? Suara wanita? Di mana dia? Kenapa aku mendapatkan mimpi ini lagi?
"Pentagram Bennet. Nama yang sangat indah."
Aku tidak pernah mengenal suara berat dan terdengar sangat lembut. Mirip Hugo namun jauh lebih dalam. Kemudian aku mendengar suara isak tangis perempuan itu, tapi dalam situasi yang telah berbeda.
"Seharusnya aku bisa mendampingi dan membesarkannya. Tapi kenapa aku harus mati, Ruben?" suara wanita itu terdengar sangat memilukan dan setengah meratap. Selanjutnya aku mendengar wanita itu berdoa dalam untaian bahasa latin yang baru aku dengar di mimpi kali ini.
"Esther, aku berjanji akan merawatnya. Jangan pernah ragu." Ruben terdengar sengau dan menangis.
Apa yang terjadi padaku? Kenapa suara-suara itu datang? Dari mana asalnya?
"Esther, jangan tinggalkan Kakek, Nak. Bangun Esther, bangun!!!" Suara pria yang berat dan dalam kembali terdengar dan meraung pilu memanggil wanita yang kutahu bernama Esther, ibuku.
"Siapa kamu? Berani masuk ke rumahku! Tunggu kau adalah ... Cedric! Biadab kau ... Arrghh ....!"
Suara tembakan terdengar dan jeritan pria itu mengakhiri semuanya.
***
Flint menguncang tubuh Bennet dengan keras karena mengigau. Sahabatnya terbangun dengan peluh bercucuran dan muka pias.
“Aku kembali bermimpi yang sama!” ucap Bennet dengan pelan dan lirih.
Baik Flint maupun Ed tidak mengerti yang dimaksud. Bennet akhirnya menceritakan apa yang baru saja ia alami.
Begitu selesai, ketiga duduk dengan wajah terpekur.
“Sepertinya akan ada sesuatu, tapi aku tidak tahu apa. Mungkinkah itu adalah firasat? Pertanda?” tanya Bennet. Tidak ada yang bisa menjawab. Ramalan yang akan terjadi nanti pun akan berakhir seperti apa, tidak ada yang mampu memprediksi, termasuk Bennet sendiri