Bennet duduk bersama dengan ketiga sahabatnya di teras samping rumah sementara Tom dan Eliza ada di seberang.
“Kami kami berdua yang bisa mendampingin kalian kali ini. Uncle Larry, Uncle Geoff dan Aunt Margie sedang sibuk menyikapi tentang isu perang yang katanya akan tercetus. Apa yang kamu alami tadi malam, Bennet? Mimpi apa?” tanya Tom memimpin pertemuan mereka pagi itu.
Pentagram Bennet menceritakan semua sama persis seperti yang Tom dengar dari Ruben dulu.
“Namun kali ini, ada kalimat latin. Ibu mengucapkan doa dalam kalimat latin yang aku tidak pahami karena terlalu pelan. Tapi seperti sebuah doa yang tidak asing,” pungkas Bennet. Remaja yang kini terlihat makin jangkung dan tampan tersebut mulai menunjukkan sikap tenang dan tidak lagi gugup seperti dulu.
Petualangan menghadapi Dalai Lama memberikan tingkat kematangan yang instan.
“Apakah itu sebuah firasat?” tanya Reese.
Tom menggelengkan kepala dengan ragu.
“Bennet bukanlah penyihir necromancer. Tidak ada firasat dari mimpi. Dia hanya seorang penyihir yang bisa melampaui jarak dan waktu.” Penjelasan Tom membuat Flint berpikir lain.
“Mungkin memang bukan firasat. Tapi kenapa aku memiliki ide gila yang rumit?” cetus Fint dengan terbata-bata.
“Katakan saja, Flint. Kita harus mencoba berbagai kemungkinan bukan?” tanya ibunya.
“Ini hanya mungkin. Tapi bisakah ibu Bennet, Aunt Esther, mengirimkan mimpi itu saat ini untuk mengingatkan Bennet akan sesuatu? Aku tahu ini rumit. Tapi hanya spekulasi gila saja.”
“Mungkin saja. Kita tidak tahu.” Tom terlihat memikirkan lontaran kalimat Flint.
“Sepertinya aku mulai memahami apa yang Flint maksud!” Tiba-tiba Ed berseru dari balik tubuh Reese.
“Kenapa hanya aku yang tidak mengerti?” keluh Reese mulai kesal karena terlambat paham.
“Esther adalah traveler yang bisa melompati waktu untuk melihat apakah semua berjalan dengan baik. Aku tahu, tidak mungkin ia mengubah sejarah. Tapi satu hal yang pasti, mimpi Bennet kembali muncul saat ia mendapatkan kekuatannya dulu bukan tanpa alasan.” Ed mencoba menjelaskan pada Reese. Gadis berambut merah itu pun mengangguk-angguk.
“Dari sekian hal yang terjadi, apa yang masih menganjal di hatimu, Bennet? Jelas urusan mengambil kekuatan dua pentagram lainnya selesai. Tapi apa yang akan terjadi selanjutnya?” tanya Tom.
Bennet menggelengkan kepala lemah.
“A-aku masih belum bisa berpikir. Entah bagaimana dengan yang lain, tapi kematian Leane sangat membuatku tidak ingin melakukan rencana apa pun. Termasuk membiarkan Ed pergi berperang. Aku akan membayar kewajibannya!” sahut Bennet sedikit dengan napas memburu dan gugup.
Tom dan Eliza saling berpandangan. Bennet terlihat sangat tertekan.
Reese mulai memerah matanya, begitu juga Ed. Flint jauh lebih bisa menguasai diri dan menunduk dalam-dalam.
“Dia mati di depanku, Tom. Aku ini sangat bodoh dan ceroboh. Melindungi satu manusia saja tidak becus, bagaimana dengan sejuta lainnya?” Bennet terdengar gemetar dan emosional.
“Hei! Tenang! Tidak perlu menyalahkan diri seperti itu, Bennet! Setiap peperangan selalu ada celah yang kita tidak bisa ketahui semuanya!” sergah Tom dengan tegas. “Setiap pengalaman ada pelajaran berharga yang akan membentuk diri kita, Nak. Suka atau tidak, pengalaman buruk pun memiliki peran yang penting,” sambung Tom lembut.
Suasana hening dan Eliza menghela napas panjang.
“Mari jangan membebani diri jangan terlalu berat saat ini, Anak-anak. Fokus pada pemulihan mental juga melepas semua hal yang masih menjadi ganjalan selama perjalanan kalian kemarin.” Eliza menengahi dengan suara keibuan dan menenangkan.
Ed, Flint dan Reese mengiyakan dan merasa lebih baik, tapi tidak dengan Bennet.
***
Makan malam berlangsung cukup singkat dan mereka melewatkan makanan penutup. Masing-masing memilih untuk segera masuk kamar dan menghabiskan waktu untuk hal lain.
Larry mengajak Tom bicara di ruang kerja dan menutup pintu tersebut rapat-rapat.
“Kami melewatkan rapat yang sangat panjang hari ini, Tom,” keluh Larry seraya menuang whiskey ke dalam gelas kristal dan memberikan pada Tom salah satu gelasnya.
Tom menerima dan meneguk sedikit. Minum alkohol bukanlah hal yang ia sukai.
“Parlemen tidak ingin membuat kebijakan lain demi menghindari peperangan. Inggris mungkin terlibat dalam ini,” ucap Larry. “Mereka telah melontarkan untuk mendukung Rusia.” Larry meneguk minuman tersebut dengan sekali telan.
“Apa status politik dunia saat ini, Larry? Aku jauh tertinggal.” Tom ingin mengetahui dan mengejar ketertinggalan selama ini.
“Ada dua kubu. Blok Sentral yang mendukung Jerman dan Blok Sekutu yang mendukung Rusia. Jelas, Inggris mendukung Rusia saat ini termasuk Amerika Serikat. Entahlah, apa bijak mengelontorkan dana ratusan juta poundsterling untuk perang yang akan menyengsarakan rakyat saja. Aku tidak begitu memiliki kuasa untuk merebut simpati para negarawan saat ini. Mereka ingin membela Rusia yang merasa ada di pihak yang benar.” Larry menerawang ke depan dan akhirnya kembali tersadar dan segera bangkit, menuju meja bar kecil untuk menuang minuman berikutnya.
“Apa tujuanmu mengajakku bicara? Hanya untuk melepas beban atau hal lain?” tanya Tom.
Larry menoleh dan kali ini menambahkan dua kotak es ke dalam minumannya.
“Aku menduga Shield juga andil dalam kisruhnya ini, Tom. Entah hanya firasat saja, tapi Shield ingin membuat dunia kacau supaya dia bisa menawarkan hal untuk menjadi pelindung mereka. Melebarkan jangkauan Osirus!”
“Dari mana dugaanmu itu, Larry? Sekedar asumsi saja bukan?” tanya Tom mulai khawatir.
“Sayangnya tidak,” ucap Larry kecut. Pria itu mendekat dan duduk kembali di sofa dengan sandaran tinggi tersebut.
“Larry, kau membuatku takut,” desis Tom dengan gugup.
Sahabatnya menatap dengan lekat.
“Ada double agen kami yang berhasil membocorkan jangkauan Shield yang sudah menjalin hubungan baik dengan kedua kubu. Tinggal memilih, Shield bisa saja menjadi musuh kita atau sekutu, Tom. Tidak ada yang tahu saat ini!”
“Manusia itu jauh lebih mengerikan dari Rupert,” gumam Tom dengan ekspresi ngeri.
“Kau benar. Kenyataan lain yang lebih mengerikan adalah, Shield tidak pernah menunjukkan wajah pada siapa pun. Topeng separuh emas yang selalu ia pakai menjadi penutup identitasnya selama ini. Menurut agen doubleku, logat Shield sedikit banyak mirip seperti dari Romania, tapi tidak ada yang bisa menjamin dia berbohong dan hanya menampilkan identitas palsu bukan?”
“Larry, apakah Shield benar-benar mendapatkan akses pada kekayaan Rupert?” tanya Tom.
“Kurasa tidak semuanya. Jika kekayaan Fratrem, mungkin iya. Tapi Wester bersama sebelas dewan Fratrem lainnya juga. Sedangkan untuk kekayaan pribadi Rupert, hanya Cedric dan Albert yang memiliki akses tersebut. Bersama dengan Bennet setelah tujuh belas tahun nanti tentunya,” sahut Larry.
Tom mengangguk dan menghela napas lega.
“Mungkin dana perang akan mereka ambil untuk menjadi pendukung salah satu. Aku akan mencari tahu dari Wester!” pungkas Tom tidak sabar.
“Tom!” panggil Larry sebelum sahabatnya berjalan keluar. “Kita patut takut pada sosok Shield. Manusia itu bergerak seperti bayangan yang tidak terdeteksi!” sarannya dengan wajah cemas. Tom mengangguk dan tersenyum getir.