Tom tidak membuang waktu lagi. Ayah Ed itu segera memacu kereta kudanya menuju ke Les Chester yang berjarak lima jam dari kediaman Larry.
Begitu tiba di Les Chester, Tom meminta pada Wester untuk bertemu. Kepala sekolah yang saat ini masih dalam dilemma yang berat untuk melepas diri dari Shield segera mengeraskan rahangnya dengan geram
“Kau membahayakan diriku juga yang lain, Tom!” umpat Wester segera meminta pria itu masuk kantornya.
Tom masuk dan mengibaskan serpihan debu yang menempel di jubahnya.
“Maaf, Wester. Tapi Larry mengatakan sesuatu yang begitu menyeramkan. Aku tidak bisa menunggu lagi! karena kau tahu? Di antara kalian semua, hanya aku yang benar-benar peduli akan nyawa Bennet untuk tetap ada dalam tubuhnya!” Tom tampak emosional.
“Jangan menilai diri terlalu tinggi, Tom!” teriak Wester kesal. “Aku adalah ayah baptis Esther dan menjaga keturunannya adalah kewajiban utamaku yang tidak pernah aku umbar seperti kalian!” bentak Wester tajam.
Tom membuang muka dan membenarkan dalam hati.
“Shield terlihat mendekati dua kubu yang saat ini dalam situasi konflik dunia. Jika Shield sudah memutuskan pada siapa akan memihak, maka perang itu akan dimenangkan oleh pihak yang menjadi pilihannya. Sejauh ini, itu asumsiku!”
Wester melirik Tom dengan berpikir keras.
“Adakah pertanda dari pria itu untuk datang dan mengunjungi Les Chester? Aku ingin sekali mengakhiri pria itu dengan segera! Baru menghadapi pemimpin Osirus berikutnya!” Tom tampak berapi-api dan emosional.
“Tom, kau masih dangkal memahami semuanya. Akan kujelaskan semua nanti! Kita akan berkumpul dengan formasi lengkap. Cedric akan ada besok malam!”
Tom terhenyak dan mengangguk cepat-cepat.
Ternyata di balik otak tua Wester, tersimpan rahasia yang selalu ia simpan rapat-rapat.
***
Tom memasuki labirin yang ada di bawah Les Chester dengan langkah hati-hati. Banyak sekali sarang laba-laba yang bergantung dan menghalangi jalan mereka. Wester memimpin langkah di depan. Setelah menempuh lorong panjang dan gelap, akhirnya obor yang dibawa Wester menunjukkan keberadaan yang lain di dalam labirin paling ujung.
Dinding gua yang licin dan berlumut tersebut tampak mengkilat oleh rembesan air yang mengalir perlahan di sela-sela batu. Di meja batu yang ada di tengah itulah. Empat sahabat Bennet menemukan kekuatannya.
Cedric hadir malam itu bersama kelima guru Bennet yang mendampinginya selama belasan tahun. Wester juga ternyata mengundang Ms. Anna dan juga anggota kerajaan yang Tom kenal sebagai bagian dari perlemen ketahanan kerajaan, Sir Lewis Barnes Williams.
“Sir Williams,” sapa Tom kikuk. Pria dengan tubuh jangkung dan wajah sedikit angkuh tersebut memang terkenal dengan keputusannya yang tegas dan frontal. Tapi tidak pernah Tom sangka jika dia menjadi sekutu Wester saat ini.
Larry pernah menceritakan jika berselisih paham dengan Lewis karena pria itu tidak setuju akan kebijakan yang Larry ajukan dalam hal penurunan pajak. Menurut Lewis, ini hanya akan menguntungkan pihak orang kaya yang bisa membayar dengan harga murah dan tidak memenuhi kewajiban semestinya.
Namun akhirnya mereka berdamai, karena Lewis akhirnya justru menghapus pajak untuk beberapa pengusaha kecil yang tidak memenuhi penghasilan minimum tertentu.
“Kurasa kita semua tahu, apa yang akan kita bicarakan malam ini,” ucap Wester membuka pertemuan mereka.
Semua mendengarkan dengan seksama.
“Pertama, aku tidak akan mengungkap semuanya karena rasa tidak percayaku pada kalian semua sebagai sekutu, walau kupilih sendiri.”
Semua tidak menunjukkan wajah tersinggung sedikit pun.
“Jadi malam ini, hanya ada dua hal yang akan kita bahas dan putuskan. Selebihnya, aku akan memutuskan sendiri bersama Bennet, Pentagram Bennet maksudku.”
Tidak ada keberatan dan semua mengangguk dengan ikhlas.
“Pertama, Bennet akan mendapatkan kekuasaan penuh dalam menentukan arah Les Chester, termasuk menerima siswa perempuan dan memberikan beasiswa sepenuhnya dari kita. Bagaimana, Albert dan yang lain?”
Albert melirik pada Cedric sebagai wali sah utama Bennet dalam hal akses kekayaan keluarganya.
“Tidak ada masalah untukku. Keponakanku cukup cerdas mengambil keputusan tersebut dan aku yakin itu cara dia membangun massa yang akan kita butuhkan nanti.” Cedric mengucapkan dengan nada bangga.
“Ya, aku tahu. Tidak pernah terbersit jika taktik yang Bennet ambil pada hari pertama pun, ternyata cukup menimbulkan efek yang luar biasa. Dia mengusir semua kelompok Fratrem yang ada di bawah komando Shield. Sungguh tindakan yang sangat berani!” timpal Ron.
“Aku masih khawatir,” balas Hugo dengan wajah termenung. Semua mata menoleh padanya dengan pandangan menyelidik dan menunggu.
“Maaf, jika aku harus mengungkapkan ini, Wolf. Tapi supaya menghilangkan keraguan yang selama ini mengisi hatiku, bisakah kau menjawab pertanyaanku?”
Semua memandang Hugo dan Wolf bergantian, tidak mengerti apa yang terjadi sebenarnya.
“Apa yang kalian sembunyikan? Bukankah kalian selalu bersama?” tanya Ruben mulai tidak menyukai tuduhan Hugo yang sepertinya akan memecahkan kekompakan mereka selama ini.
Dokter itu menghela napas dan memandang Wolf yang menunduk dan masih menunjukkan sikap tenang.
“Kenapa kau menghilang saat malam p*********n dulu, Wolf? Satu jam kau tidak kutemukan! Mungkin satu-satunya yang menyadari adalah aku, tapi semoga ada alasan masuk akal yang menyingkirkan semua curigaku,” tutur Hugo dengan suara berat.
Wolf mengangguk dan menelan ludah dengan wajah prihatin.
“Aku tahu, lambat laun kau akan mengatakannya padaku.” Wolf mengangkat wajah dan menatap semuanya, kemudian berakhir di Hugo.
“Aku membuka jalan ke gorong-gorong untuk menyelamatkan para murid semua, hingga menemukan Ms. Anna. Dia yang akan menjadi saksi bagaimana aku menuntun mereka hingga ujung gorong-gorong.”
Ms. Anna mengangguk dan membenarkan semua pernyataan tersebut.
Hugo tersenyum lega dan wajahnya menjadi sangat lega.
“Hal yang paling tidak aku inginkan adalah menemukan pengkhianat dari manusia yang aku bernapas bersamanya selama puluhan tahun,” sesal Hugo.
Wolf merangkul pundak seniornya dengan erat.
“Kupikir kita saling memahami, Hugo! Kenapa kau harus menggunakan kesempatan ini hanya untuk bertanya?” timpal Wolf dengan wajah bersedih.
“Aku terlalu takut mendengar jawabannya, Wolf,” balas Hugo.
“Sekarang sudah jelas semua bukan?” Wester memastikan semua pihak tidak ada pertanyaan yang mengganjal lagi.
“Baiklah, terakhir adalah kita harus menentukan, apakah kebijakan mengenai siswa yang akan mengikuti wajib militer perang!”
Kali ini semua mulai berpikir sedikit lebih lama. Melindungi murid-murid mereka dari tuntutan kerajaan yang pasti akan segera diumumkan adalah hal yang harus dipikirkan dari sekarang