Semua yang ada dalam pertemuan rahasia tersebut masih memikirkan masak-masak, apa yang akan mereka ambil sebagai keputusan nanti. Yang pasti, harus menghindari hal yang mungkin mengundang kontroversial.
“Aku berani menjamin pemerintah tidak akan menuntut, jika memang kalian akan menetapkan untuk para siswa tidak akan mengikuti wajib militer nanti!” seru Lewis dengan lantang.
“Sepertinya kita mendapat dukungan tersebut,” balas Cedric senang dengan antusias Lewis malam itu.
“Bagaimana dengan keluarga yang memiliki jiwa patriot yang cukup tinggi dan meminta putranya untuk berjuang?” tanya Ruben.
Sayangnya, kemungkinan yang Ruben ungkapkan memang bisa saja terjadi.
“Entahlah, aku hanya bisa mengatakan kita antisipasi sebaik mungkin.” Ron memberikan suara sebagai tanggapan terakhir.
Wester mengetuk meja batu dan wajahnya berpikir keras.
“Bagaimana jika Shield datang dan meminta kesetiaan untuk mendukungnya dalam peperangan?” tanya Albert tiba-tiba.
“Dalam kondisi dia sudah menyatakan diri, tentunya, sebagai pemihak yang mana,” sambung Albert.
Kali ini Wester terdiam. Inilah dilemanya.
“Aku masih belum bisa mengundurkan diri sebagai dewan Fratrem. Maafkan, tapi mungkin terpaksa akan kupilih beberapa orang yang mampu dan bisa diandalkan saja,” putus Wester dengan berat.
Semua memahami posisi Wester yang sulit untuk bergerak.
Di satu sisi, Wester memiliki tanggung jawab sebagai anggota dewan Fratrem. Namun di sisi lain, Wester juga ingin melepaskan diri karena ideologi Shield mulai bertentangan dengan apa yang Fratrem ingin capai dulu.
“Ya. Aku setuju.” Ruben menyukai ide tersebut.
“Kau yakin anak-anak itu bisa?” Hugo terlihat keberatan.
“Jika yang kita bicarakan adalah putra dari Tom dan sahabat Bennet yang lainnya, maka ya, aku yakin!” jawab Wester.
Hugo masih belum gembira dengan keputusan tersebut.
“Berhentilah khawatir, Hugo! Bennet dan sahabatnya sudah menghadapi pertempuran yang mungkin bagi kita orang dewasa saja mustahil untuk bisa melewati dengan baik!” hibur Ruben. Hugo melirik dengan gusar ke arah Ruben.
“Aku yang melihat dan merawatnya dari bayi, Ruben! Mustahil aku menghilangkan rasa cemas dengan sepenuhnya!” gerutu Hugo menyanggah semua kalimat Ruben yang menganggap dirinya cemas berlebihan.
“Mungkin akan lebih baik, jika kita menanyakan kesanggupan mereka. Hanya sebagai jaga-jaga saja!” Ms. Anna memberikan usulan lain.
“Belum tentu mereka mau maju dan membela Inggris yang aku yakin dalam kacamata mereka adalah tidak penting!” sambung Ms. Anna.
“Kurasa begitu! Mereka adalah para pemikir cerdas dan kritis! Semua tindakan harus masuk akal dan logikanya ada! Bukan seperti kita yang mengutamakan jiwa patriotisme di atas segalanya dulu!” sambut Lewis menyetujui Anna.
“Aku tidak masalah memberikan pada negara, putra tunggalku,” tutur Tom dengan tulus.
“Aku yakin, Ed adalah petarung sejati!” sambut Wester yang memiliki rencana tersendiri untuk Edmund, putra dari Tom tersebut.
“Baiklah! Kurasa kita sepakat akan hal melindungi para siswa dari wajib militer dengan kelonggaran bagi orang tua yang masih ingin anaknya maju perang, tetap diperbolehkan. Bukan begitu?”
Semua mengangguk.
“Kedua, Les Chester, akan membuka pendaftaran siswa perempuan yang dimulai musim panas ini dengan beasiswa penuh dari Les Chester.”
Masing-masing menyetujui kembali.
“Sebagai tambahan, jika ada permintaan dari Shield yang secara resmi masih menjadi pemimpin Fratrem, maka kita akan memilih beberapa kandidat tersebut!”
Wester merangkum dengan baik dan tidak ada yang terluput sedikit pun malam itu.
“Untuk beberapa hal, aku akan membahas sendiri dengan Bennet langsung. Terima kasih dan selamat malam, semoga kita selalu sehat dan panjang umur. Tuhan memberkati kita semua!”
Pertemuan ditutup dan mereka meninggalkan tempat dengan langkah panjang.
***
Pertemuan rahasia tersebut meninggalkan kesan yang begitu mendalam dalam diri Tom. Pria yang selama hidupnya berjuang untuk mencapai kebenaran bagi masyarakat untuk hidup tenang dan sejahtera, kini mengetahui bahwa ada andil dari beberapa orang hebat yang membantu perjuangan kecilnya.
Sebagai pria dari kalangan rakyat jelata, Tom hanyalah seorang keturunan penyihir yang tidak memiliki status tinggi.
Menjadi teman Esther dan akhirnya dekat dengan Cedric, memberinya berbagai keuntungan yang memang tidak pernah ia minta sedikit pun.
Tom selalu berusaha sendiri dan tidak mengantungkan hidup pada siapa pun.
Namun semenjak keluarganya diburu oleh beberapa oknum pemerintahan, Tom harus meninggalkan kehidupannya sebagai petani dan hidup berkelana dengan keluarganya.
Beruntung Ed menjadi tanggung jawab Cedric dan secara tulus, paman Bennet tersebut meminta Tom untuk tetap menyekolahkan Ed di Les Chester dengan diam-diam.
Malam itu, setelah usai Cedric segera mengajak Tom untuk mengikutinya kembali ke kastilnya yang ada di London bersama Ruben dan Albert. Ron, Wolf dan Hugo tidak bisa mengikuti karena Wester membutuhkan mereka untuk mengatur anak-anak yang akan menerima siswa baru besok.
Ron dan Wolf bertugas membagi siswa senior untuk menyambut para calon siswa yang akan diseleksi dengan ujian tertulis terlebih dahulu. Mereka membutuhkan beberapa bantuan untuk itu.
Ms. Anna sudah menyiapkan beberapa kertas berisi soal sejumlah beberapa ratus lembar. Malam itu, ruang utama sekolah penuh dengan kegiatan pembagian tugas dan para siswa yang ditunjuk, menyiapkan dengan semangat dan antusias yang tinggi.
Lagu yang diputar dari piringan hitam mengalun dengan riang, memenuhi aula sekolah dan memberikan semangat yang mereka butuhkan.
Ms. Anna mengatur dengan rapi semua jajaran meja, untuk para calon murid melewati satu persatu tes besok pagi dan seterusnya.
“Kuharap keputusan untuk menerima murid baru adalah tepat,” cetus Elizabeth. Wanita yang bertugas menjadi administrasi sekaligus bagian keuangan sekolah.
Ms. Anna menoleh sementara masih memeriksa kertas di tiap jajaran meja.
“Kenapa begitu, Liz? Bukankah bagus para perempuan mendapatkan porsi yang lebih baik lagi?” tanya Ms. Anna tidak mengerti kekhawatiran yang terdengar dari komentar barusan.
“Untuk saat ini. Tapi bayangkan jika perempuan ini lulus pada waktu bersamaan, sementara para pemuda mati dalam berperang? Bukankah kita akan berubah menjadi tulang punggung negara?” jawab Elizabeth rupanya bergurau atas selorohnya tadi.
Ms. Anna tertawa.
“Aku berharap, kita akan bisa berdiri dan menjadi pencetus para wanita di Eropa untuk bangkit dan mendapat kesejajaran hak dalam hal apa pun. Termasuk berpolitik nantinya,” timpal Ms. Anna dengan lembut.
Elizabeth yang hanya dua muda lebih darinya tersenyum dan mengangguk.
“Termasuk bebas untuk tidak menikah dan menempuh hidup sebagai wanita mandiri, bukan?”
“Ya, termasuk itu!” Ms. Anna membenarkan sekali lagi.
“Aku tahu tentang pertemuan rahasia kalian. Bukan bermaksud lancang, tapi kuharap hasilnya akan membawa perubahan yang lebih baik secara bertahap,” harap Elizabeth.
Ms. Anna terkejut namun segera menguasai keadaan dengan mengedipkan mata padanya.
“Let’s hope for the best!”