Bennet masih belum mampu mengatasi rasa terkejut ketika mendengar kalimat Max yang mengatakan jika dia adalah putra dari kedua sahabatnya!
"Jadi Reese dan Ed menikah?!" tanya Bennet dengan tergagap.
"Ya! Mama, Reese, memilih hijrah ke Amerika setelah pernikahan mereka." Max menjawab sembari mengajak untuk terus menelusuri lorong.
Bennet tiba-tiba tersenyum bahagia. Harapannya terwujud untuk kedua sahabatnya.
"Oh Tuhan, Max! Aku tidak pernah sebahagia ini dalam hidupku!" pekik Bennet dengan senyum terkembang.
Max tertawa kecil. Pemuda yang kisaran usia dua puluh dua tahun itu memgangguk.
"Ini adalah tahun terakhir Eleanor menjabat sebagai ibu negara. Kau datang di waktu yang tepat, Paman Bennet!" sahut Max menggodanya.
Tidak lama, Max berhenti dan mengetuk tembok sebanyak tiga kali. Setelah beberapa detik kemudian, tembok bergeser dan di baliknya terdapat ruang kantor mewah dengan wanita anggun tersenyum menatap keduanya.
"Akhirnya, Tuan Pentagram Bennet mengunjungiku!" sambutnya dengan senyum melebar.
Bennet terkejut ketika wanita itu memeluk dengan dekapan erat. Ada rasa hangat yang menjalar dalam hatinya.
"Ayo, duduk dan kita harus mengejar banyak hal!" Eleanor mempersilahkan mereka untuk segera duduk.
Max mengambil tempat paling ujung dan menyilangkan kakinya dengan santai. Eleanor menawarkan teh dan Bennet mengiyakan dengan gugup.
"Santai dan tenangkan pikiranmu, Tuan Bennet!" cetus Eleanor dengan suara lembut.
"Ini masih harus kucerna baik-baik. Terlalu banyak informasi yang terjejal dalam otakku. Nalar dan logika masih belum bisa menerima karena berhasil menempuh perjalanan ini saja cukup mengejutkan!" Bennet mengucapkan kalimatnya dengan tempo cepat.
"Aku minta maaf karena tidak menghubungi dirimu karena banyak hal yang harus kuurus saat ini." Max memberikan suaranya.
"Bukan salah kalian. Aku juga harus belajar sendiri, bukan?" sahut Bennet.
"Nah, apa yang ingin kau ketahui hingga jauh-jauh ke sini? Sebelum kita membicarakan tentang hal yang akan kusampaikan," tanya Eleanor seraya memberikan teh untuk mereka.
Bennet berpikir cepat tentang berbagai hal yang kini menumpuk di kepalanya.
"Terlalu banyak hal yang ingin aku tanyakan." Bennet menyesap teh dan merasakan ketenangan.
"Kenapa ibuku mengunjungimu? Aku ingin bertemu dengannya," tanya Bennet dengan terbata-bata.
"Tidakkah Cedric menceritakan padamu?" Eleanor balik bertanya.
Bennet menggelengkan kepala.
"Waktuku dengan Uncle Cedric tidak banyak. Lagipula, dia memilih untukku menemukan sendiri semuanya."
Eleanor meletakkan cangkir tehnya dengan anggun.
"Kami adalah kumpulan Time Traveler yang tergabung dalam komunitas BEYOND. Ibumu adalah time traveler terkuat yang menjadi pencetus komunitas ini. Kami terkadang membetulkan beberapa kejadian untuk menghindari sejarah yang buruk dan menganggu peradaban dunia."
Eleanor mengambil jeda sejenak.
"Nona Bennet mulai mengumpulkan semua travelers satu persatu dan membuat kami menemukan satu sama lain. Aku bergabung sejak usia remaja. Tujuh belas tahun tepatnya. Nona Bennet diprediksikan menjadi wanita hebat, hingga akhirnya aku menyaksikan hal yang mengerikan. Sayangnya, ibumu tidak lama memiliki usia tersebut." Eleanor menunduk dan mengambil sapu tangan dari saku blusnya.
Wanita tersebut menyeka ujung kelopak matanya dengan pelan, kemudian menyusut hidung perlahan.
"Bukan hanya kau yang berduka, Tuan Muda Bennet. Kami juga kehilangan dirinya." Eleanor tidak sanggup menahan rasa perih yang menghunjam hatinya.
"Nona Bennet adalah wanita yang sangat baik, cerdas, berwawasan luas, serta manusia dengan visi terbaik. Dia menyelamatkan hidup para travelers dengan menjadi pembimbing mereka. Kegilaan yang para travelers rasakan tidak lagi mengukung mereka. Nona Bennet membuka jendela baru juga mengukuhkan mental masing-masing pribadi. Kami tidak gila! Kami adalah manusia istimewa!"
Emosi Eleanor teraduk dan bahunya terguncang perlahan.
"Jadi, kalian adalah travelers juga?" tanya Pentagram Bennet dengan ekspresi terpana.
"Ya. Aku menjadi traveler dari darah penyihir ayahku, Edmund Junior Dawson." Max memberikan suaranya.
"Jadi, siapa saja para traveler ini?" Bennet penasaran dan ingin mengetahui semuanya.
"Cedric Millenia Bennet, Max Jean Dawson, Ratu Victoria dari Britania, Thomas Alfa Edison dan masih banyak lagi, termasuk diriku dan kamu."
Bennet terkesima dan tidak menyangka banyak orang hebat yang tersebut.
"Kalian mengatakan ingin menyampaikan sesuatu?" tanya Bennet kemudian.
Eleanor melirik Max. Pria itu mengubah posisi duduk menjadi tegak.
"Kami membutuhkan pemimpin. Terakhir kali Esther mengatakan untuk menemukan dirimu dan menjadikan anak yang sedang dikandungnya menjadi pemimpin kami."
Lontaran kalimat Max ditanggapi Bennet dengan pekikan kecil.
"Pemimpin?!" tanyanya. "Aku bahkan tidak tahu apa-apa! Bagaimana aku mengumpulkan dan memimpin kalian?" sergahnya cepat-cepat.
"Karena kau yang terkuat, Tuan Bennet. Kami butuh seseorang yang bisa memastikan semua berjalan dengan baik dan sesuai tatanan yang semestinya." Eleanor memberi alasan yang tepat.
"Ibuku pasti salah!" keluh Bennet dengan panik.
Remaja itu tidak siap menerima tugas berikutnya yang terlalu berat!
"Bennet, tahukah kamu? Takdirmu adalah sebagai Pentagram penyeimbang dunia. Hal yang kami minta, akan menjadi tugas utamamu sebagai pentagram. Kau tidak bisa menghindar," bantah Eleanor dengan hati-hati.
Bennet meremas tangannya sendiri dan terlihat makin gugup.
"Aku diburu oleh pagan Osirus pada masaku untuk menjadi tumbal mereka. Sementara pagan buyutku, Fratrem, membutuhkan pemimpin baru. Shield yang kini menjadi pemimpin 'sementara', disinyalir menjadi agen ganda yang juga memihak Osirus!" Bennet menaikkan kedua telunjuknya saat menyebut kata sementara.
"Kacau. Itulah kata yang paling tepat untuk menggambarkan situasi yang kutinggalkan dibelakang, tahun 1914. Ditambah lagi, aku kehilangan Hugo, dokter yang mengasuhku sejak bayi. Apa lagi yang bisa aku lakukan? Memperbaiki keadaan yang ada pada masaku saja, aku payah!"
Eleanor dan Max tertawa kecil.
"Apa yang lucu?" tanya Bennet.
"Payah?" ulang Max.
"Kamu benar-benar tidak menyadari potensimu?" sambung Max.
"Maksudnya?" Bennet masih bingung.
Eleanor menarik napas dan tersenyum.
"Osirus tidak akan bisa menyentuhmu. Tumbal yang mereka rencanakan akan bisa ditanggulangi dengan mudah. Hanya saja, dirimu harus menjalani proses tersebut untuk mengetahui sekaligus menghentikan pagan itu tidak menguasai dunia. Tugas pertamamu adalah memberikan diri sebagai tumbal."
"Aku tidak tahu maksud dari kalimat itu, Mrs. Roosevelt. Merelakan diri menjadi tumbal? Untuk mati?"
"Bukan! Intinya, kamu harus mengikuti permainan mereka! Kuak dan cari tahu siapa sosok Shield. Barulah selanjutnya kau akan mengetahui hal berikutnya!"
Bennet akhirnya memahami arti dari semua paparan mereka.
"Aku harus menemukan siapa sosok Shield, dengan menyerah kalah, lalu menjadi tumbal dan hidup. Kisah berikutnya, aku harus mencari tahu?" rangkum Bennet.
"That's it! Clever!" seru Max tidak sabar.
"Tugas ini sangat rumit," keluh Bennet.
"But fun!" Eleanor terkekeh geli dan untuk wanita seusianya, dia menunjukkan keceriaan seperti seorang remaja.
"Ada lagi yang harus kuketahui?" tanya Bennet dengan mimik pasrah.
"Cari petunjuk pada Wester! John Wester tahu banyak hal mengenai ibumu!" ucap Eleanor dengan senyum tak lekang dari bibirnya.