Funeral
Langit terlihat sangat mendung dan tidak bersahabat. Penguburan Hugo dihadiri oleh banyak manusia yang mengenal dan menghormati beliau semasa hidup.
Saat peti siap diberkati oleh pendeta, Reese meminta ijin pada Ruben untuk membebaskan Bennet.
"Ini akan menjadi perpisahan terakhir, Mr. Watts," ujar Reese dengan mata yang masih bengkak.
Ruben menghela napas berat dan akhirnya mengangguk.
"Aku akan mendampingi kalian," balas Ruben.
Ketika masuk kamar, Ed dan Flint sedang menjaga Bennet.
"Kita sebaiknya membangunkan Bennet sekarang. Pemakaman akan dimulai sebentar lagi," kata Reese memberitahu Ed dan Flint.
"Kita sudah bisa membangunkan sekarang?" Flint ingin meyakinkan sekali lagi.
Ruben mengiyakan dengan mantap. Ed terlihat mulai mengalirkan tenaga dalam, kemudian menotok beberapa tempat vital sahabatnya.
Tidak berapa lama, Bennet seperti terlonjak dan tergagap bangun.
"A-aku di mana?" tanya Pentagram Bennet dengan ekspresi bingung.
Reese menjelaskan dengan perlahan dan kata-kata yang terpilih. Pentagram Bennet mendengarkan dengan wajah tegang. Begitu usai, Reese bersiap pada reaksi terburuknya.
"Kapan pemakamannya?" Bennet menanyakan dengan suara seperti orang kekurangan minum. Kering dan serak.
"Lima menit dari sekarang," sahut Flint.
Bennet berdiri serta berusaha menguasai keseimbangan tubuhnya.
"Aku akan bersiap."
Ruben dan Reese terlihat lega. Ed segera memberitahu jika jas hitamnya sudah Cedric siapkan untuknya dan ada di ujung ruangan.
"Aku dan Reese akan menunggu di luar," pamit Ruben.
Tidak makan waktu lama, ketiga remaja pria keluar kamar dan siap untuk mengunjungi lokasi penguburan Hugo. Langkah mereka terlihat ringan. Saat kelimanya memasuki areal pemakaman yang ada tak jauh dari Les Chester, semua mata memandang dan untuk sebagian manusia yang mengetahui kekuatan Bennet mulai berjaga.
Cedric menyambut keponakannya dan memberi tempat di depan pendeta yang memberi tanda akan memulai.
Seluruh pelayat khusyuk mengikuti acara yang pendeta pimpin hingga usai.
Bennet memejamkan mata serta berusaha menahan diri untuk tidak menangis.
"Hugo Morrison, dalam kenanganmu yang terbaik, kami merasa sangat kehilangan. John Wester, akan mewakili pihak Les Chester, memberikan kalimat terakhir."
Pendeta mempersilahkan kepala sekolah untuk menyampaikan perpisahannya.
John Wester berdehem, terlihat bibir dan jarinya gemetar.
"Hugo Morrison. Seorang pria yang kukenal empat puluh tahun lalu. Dokter hebat yang mendedikasikan hidupnya untuk orang lain. Aku sangat menghargai beliau. Dalam setiap sumbangan karyanya, Hugo akhirnya memilih untuk menghabiskan hidup membesarkan seorang anak, Pentagram Bennet." Wester mengambil jeda sejenak.
"Seorang sahabat yang setia dan selalu mengutamakan kejujuran. Tidak ada kata yang lebih baik selain mengucapkan terima kasih atas semua sumbangan yang telah beliau berikan. Selamat jalan, Sahabatku. Sampai berjumpa di kehidupan berikutnya."
Wester mengakhiri pidatonya dan matanya mulai berkaca-kaca.
Pendeta itu mengucapkan terima kasih dan mempersilahkan pada pihak sahabat dan teman untuk menyampaikan kata-kata terakhirnya.
Ruben menoleh pada Bennet dan mengangguk. Ada keraguan yang sempat terlintas, tapi Reese mendorongnya untuk segera mengiyakan.
Dengan langkah gamang, Bennet maju menuju ke podium.
Semua menunggu dengan penasaran akan apa yang Bennet ucapkan.
Remaja itu berdiri dengan kikuk. Tangannya membetulkan microfon sedikit lebih tinggi.
"Aku mengenal Dokter Hugo Morrison hampir seumur hidupku." Bennet menelan cairan mulut dan mencoba menahan desakan haru yang menyeruak.
"Pertama kali aku tanggal gigi, atau saat mulai memahami arti sakit saat mengalami jahitan pertama di dagu." Bennet mengusap bekas jahitan yang masih terasa.
"Semua kulewatkan bersamanya dan keempat guruku yang lain. Aku telah melihat bagaimana kecelakaan ini akan terjadi, sayangnya terlambat untuk menghentikan!" Bennet mulai terlihat emosi, sementara semua yang hadir terlihat terkejut.
"Jadi, jika kematian ini memang hasil dari pengkhianatan, aku tidak akan tinggal diam. Aku akan mencari tahu dan membalas ini. Karena kalian, siapa pun di antara kita yang ada saat ini, telah merenggut manusia yang telah menjadi orang tuaku selama empat belas tahun!"
Tanah bergetar dan salju mulai turun seperti serpihan putih melayang makin deras.
"Bennet!" Ed memperingatkan sahabatnya untuk mengendalikan diri.
"Akan kutimpakan hukuman musim dingin, supaya kalian tahu, aku tidak pernah main-main terhadap perkataanku!" Seiring Bennet selesai menyampaikan kalimatnya, remaja itu melentingkan tubuh ke belakang, lalu lenyap!
Semua yang belum mengetahui siapa Pentagram Bennet sesungguhnya memekik dengan sekuatnya.
Reese, Flint dan Ed mencoba mengejar, tapi sia-sia.
Bennet hilang melalui lompatan dan entah kemana. Cedric yang tahu, menahan mereka untuk mencari dan meminta untuk melanjutkan.
"Dia pergi melompati waktu!" cetus Cedric dengan nada tertahan.
Ruben dan Ron mengumpat kesal karena terlambat menyadari. Bennet yang telah mendapat kekuatan dari Thema tentang masa depan, mengetahui pembunuhan tersebut!
Itulah sebabnya, Pentagram Bennet terlihat sangat menyesal!
***
Bennet memang mencoba melompat ke tahun di mana Eleanor Roosevelt berada.
Berharap mendapat jawaban akan masa depannya, Bennet mengunjungi gedung putih yang menjulang dengan gagah di hadapannya.
Anna Eleanor Roosevelt (lahir di New York City, Amerika Serikat, 11 Oktober 1884 – meninggal di New York, Amerika Serikat, 6 November 1962 pada umur 78 tahun) merupakan Ibu Negara Amerika Serikat dari tahun 1933 sampai tahun 1945.
Eleanor lahir dari keluarga yang berekonomi cukup, tetapi banyak mengalami masalah. Ayahnya, Elliot Roosevelt, adalah adik dari Theodore Roosevelt. Eleanor menikah dengan Franklin Delano Roosevelt, presiden terpilih Amerika tahun 1932 yang juga saudara sepupunya, pada bulan Maret 1905. Eleanor adalah pendukung kebijakan New Deal suaminya serta berperan sebagai pejuang hak sipil. Setelah kematian suaminya pada tahun 1945, Eleanor tetap menjadi penulis dan pembicara penting untuk koalisi New Deal. Ia juga berusaha menaikan derajat wanita pekerja.
Tujuan Bennet mengunjunginya karena wanita tersebut adalah sahabat ibunya, Esther, yang mengetahui seluk beluk pemikiran ibunya.
Dua penjaga mencekal Bennet dan menahannya untuk memasuki wilayah kepresidenan.
Logat asing Bennet yang terdengar kental menggunakan aksen Inggris, mengundang kecurigaan.
"Aku ingin bertemu dengan Eleanor Roosevelt!" teriak Bennet.
"Biarkan dia di ruanganku!" seru kepala keamanan pada penjaganya. Bennet yang tidak memiliki pengalaman mengunjungi masa depan hampir memberontak.
"Hentikan, Traveler! Aku akan menjelaskan peraturannya padamu!" teriak kepala keamanan tersebut dengan lantang.
Bennet terkesiap. Tidak menyangka akan ada yang mengenali jati dirinya!
Dengan gugup dan sedikit waspada, remaja itu masuk ke dalam ruangan yang memiliki layar monitor televisi canggih!
Bennet terkagum-kagum dan melupakan tujuannya datang.
"Dari raut wajahmu, sepertinya kau ada hubungannya dengan Nona Esther Bennet!" cetus kepala keamanan yang bermata hijau itu.
'K-kau mengenal ibuku?" tanya Bennet kaget.
Max, nama penjaga itu, tersenyum tipis dan mengangguk.
"Dia baru datang sebulan yang lalu," sahut Max.
Bennet tertegun.
"Aku Pentagram Bennet, putra Esther, keturunan Dewa Osiris." Bennet mengungkap jati dirinya dan Max menghela napas panjang. Tangannya menekan tombol di bawah meja kerjanya, seketika dinding yang tadinya diam mulai bergeser dan muncul pintu yang terdapat lorong.
"Untuk keturunan seorang dewa dan penyeimbang dunia, kau sangat ceroboh! Akan kuantar kau pada Mrs. Roosevelt!" ucap Max seraya memberi isyarat pada Bennet supaya bergegas masuk ke pintu.
"Bagaimana kau tahu semuanya?" tanya Bennet terkejut.
"Karena aku aku adalah putra dari Reese dan Ed, sahabatmu! Dan aku adalah seorang traveler!"
Bennet membeku dan tidak tahu harus bereaksi apa?