Wester terpaksa meminta pada Ruben untuk menotok Bennet hingga pingsan. Ron membopong tubuh Bennet dengan hati yang sedih.
Remaja yang dulu dengan mudah ia gendong, kini sudah tampak besar dan butuh ekstra tenaga untuk membawanya.
Ron meletakkan dengan hati-hati dan berpesan pada Ed, Reese juga Flint untuk memasang mantra pelindung.
“Usahakan jangan sampai dia terbangun sebelum salah satu dari kami datang,” pinta Ron pada ketiga muridnya.
“Jangan khawatir, Mr. Baker. Kami akan menjaga Bennet sepenuhnya!” sahut Ed dengan tegas.
Ron mengangguk dan meninggalkan mereka.
Langkahnya terlihat sangat cepat menuju ke arah kantor Wester, di mana mereka berkumpul. Ketika masuk, Wester sedang memberikan keterangan pada polisi. Usai mendapatkan semua informasi yang mereka butuhkan, kepala polisi minta diri dan Wester mengantar hingga ke pintu.
“Aku akan datang kembali besok, Tuan Wester. Semoga detektif kami mendapatkan kemajuan yang menguntungkan kita semua.” Inspektur Bronson menyalami Wester dengan erat.
Wester mengucapkan terima kasih dan melambaikan tangan dengan hangat.
“Sejauh ini, mereka menduga semua adalah kecelakaan lab. Tidak ada rangkaian bom yang mereka temukan sedikit pun. Aku tidak percaya sedikit pun!” cibir Wester sinis.
Bayangan Hugo yang bersimbah darah kembali membayang di benak mereka semua.
“Siapa pun yang melakukan itu, aku yakin seseorang yang mengerti mengenai ilmu kimia dan memahami dengan sebaik-baiknya bagaimana mencampur semua unsur hingga bisa meledakkan lab!” timpal Ruben terlihat geram.
“Hugo tidak memiliki kepentingan di labku, Ruben! Itu yang harus kita pikirkan! Kenapa dia ada di sana, tanpa sepengetahuan kita dan bersama dengan murid lagi!” sambar Ron yang terlihat paling gusar dan merasa bersalah.
“Terakhir kali dia menemuiku dan mengatakan ingin mengambil sampel darah di lab,” cetus Wolf terbata-bata.
“Dan kau mengetahui itu?” tanya Wester dengan pandangan menyelidik.
“Aku tahu, tapi apa ada kecurigaan tentang Hugo yang ingin mengunjungi lab milik Ron kemudian menemui ajal? Tidak pernah terpikir!” tukas Wolf sedikit kesal karena nada Wester terkesan menyalahkan dirinya.
Semua yang ada di ruangan itu buntu dan tidak menemukan celah yang bisa memberi petunjuk pada oknum yang mencelakai sahabat mereka.
“Kesimpulan sejauh ini adalah Shield yang telah memasukkan penyusup di sekolah kita. Tapi siapa dan mengapa, kita tidak pernah tahu. Hugo bukan manusia yang tepat untuk dimusnahkan begitu saja. Kecuali …,” Wester menoleh dan memandang semua yang ada di kantornya dengan mata melotot. “Dia mengetahui siapa oknum tersebut!”
Semua terhenyak dan saling berpandangan.
“Aku patut mencurigai kalian satu persatu. Jadi, sejak saat ini, pembicaraan akan kututup dan tidak ada lagi diskusi terbuka!” putus Wester dengan wajah garang.
Ruben meremas rambutnya dengan gelisah.
“Aku akan mengirim Bennet ke Faroe. Di luar sudah mulai turun salju dan ini tidak bagus bagi semuanya,” keluh Ruben pada semuanya.
“Tunggu dulu, kita tunggu sampai kondisi Bennet kuat!” tahan Wester buru-buru.
“Bagaimana pun, Bennet butuh waktu untuk menyadari kepahitannya saat ini.” Wester terilhat setengah bergumam dan memikirkan bagaimana nasib Bennet selanjutnya.
“Jika Hugo saja bisa dengan mudah mereka bunuh, apalagi satu persatu dari kita.” Kali ini Ron yang menunjukkan sikap gelisah.
“Ada saran lebih baik? Sampaikan padaku melalui telepati!” pinta Wester dengan suara tajam.
Ron seketika membungkam mulutnya dan mengangguk.
***
Wester membubarkan pertemuan tersebut dan tidak berniat membuka diskusi terbuka lagi. ia perlu menyelidiki siapa yang ada dibalik ini semua. Kematian Hugo sangat misterius dan Wester yakin jika Hugo membawa rahasia terbesar dalam kematiannya.
Bukan hanya sakit karena kehilangan, Wester merasa jika Shield telah mencengkeram Les Chester lebih dalam dari yang ia pikir. Entah siapa yang telah berhasil dimasukkan ke dalam sekolah yang dipimpinnya, namun Wester kini mulai waspada sepenuhnya.
Shield sendiri adalah seorang filsafat sejati, sekaligus nahkoda kapal yang berpengalaman. Sedikit yang mengetahui jika Shield juga percaya akan ilmu sihir dari kegelapan dan bukan karena bakat.
Wester mengetahui dari mendiang Rupert yang memamerkan tentang kemampuan Shield yang bisa menahan semua serangan ketika mereka menghadapi Osirus dulu.
Haruskah dia mencari Shield dan menghadapi secara langsung?
Tapi Wester juga tahu, pria itu sangat arogan dan tidak menemui orang sembarangan.
“Hugo …,” bisik Wester seraya mengusap pena, hadiah dari Hugo yang terakhir, dengan mata merebak. Hatinya berdesir sakit dan Wester merasakan kehilangan yang teramat besar. Di antara semua manusia yang saat ini bersamanya, Hugo adalah orang yang seumuran dengannya dan paling mengerti semua yang ia pikirkan.
Ketika menyadari bahwa kepergian Hugo kali ini tidak untuk kembali, Wester merasakan lunglai dan semangatnya menipis.
Bagaimana dia bisa terus bertahan dalam semua kekalutan mereka yang bertubi-tubi menghadapi semua ini? Dari ancaman Osirus, kemudian Shield yang ternyata ingin membelokkan Fratrem mereka untuk berkoalisi dengan Osirus. Pagan beraliran gelap itu sudah hampir menguasai dunia dengan tatanan yang mereka atur sedemikian rupa.
Tidak menutup kemungkinan, perang juga akan tercetus jika Pagan Osirus menginginkan hal ini!
“Bagaimana mengatasi dukaku, Hugo? Tidak ada yang bisa mengusir kesedihan karena kehilangan manusia yang paling berharga saat ini. Kenapa mereka memilih sosok yang paling berarti bukan hanya untuk Bennet, tapi juga buatku?” rintih Wester dalam kesendiriannya.
Dengan tubuh yang merapuh, Wester menghempaskan diri dan menutup wajah dengan kedua tangannya.
“Oh Tuhan, tolonglah kami. Kenapa sekarang kami mirip dengan mangsa yang siap untuk diburu satu persatu? Siapakah serigala yang berbulu domba dan begitu k**i menyamar di antara kami saat ini?” ratap Wester kembali.
Malam semakin larut. Sementara Wester meratap di kantornya, Ruben dan Ron juga termenung tanpa semangat di kamar masing-masing.
Albert menunggu jenazah Hugo selesai dirapikan oleh dokter otopsi rumah sakit. Hanya Albert yang paling tegar dan sanggup menemani semua proses tersebut hingga selesai.
Akuntan itu bahkan memilih peti dan menyiapkan semua penguburan dengan baik dan tanpa cela. Cedric memang membantunya, tapi sebagian besar Albert yang melakukan.
“Semua hampir selesai dan aku sudah meminta salah satu pendeta untuk memimpin upacara penguburan besok siang,” bisik Albert pada Cedric.
“Aku akan mengabari semua pihak Les Chester besok pagi. Malam ini, biarlah mereka mengatasi semua duka masing-masing.”
Albert mengangguk dan menyilangkan kedua tangan di d**a.
“Tidak kusangka, Hugo akan berakhir seperti ini.” Albert membiarkan ujung kelopaknya basah dan mengalirkan air mata dukanya.