Bennet mendarat dengan selamat bersama Tom dan Ed di belakang gedung kesenian. Ruben dan Flint yang menunggu dengan setia segera memeluk dan terlihat berkaca-kaca begitu ketiganya tiba dengan selamat.
“Aku tidak menyangka bisa melihatmu, Tom!” sambut Ruben dengan suara bergetar.
Tampak dengan jelas bagaimana mereka berdua sangat dekat dan bersahabat selama ini. Flint memeluk Ed dan mengusap rambut Ed sembari membersihkan pasir yang menempel.
“Aku kembali, Flint,” cetus Ed dengan ringisan khasnya. Flint mengangguk dengan ayunan cepat. Bibir Flint terkunci karena rasa lega sekaligus haru dalam dirinya.
“Astaga, seragam yang kalian pakai sangat menakutkan!” pekik Reese yang muncul di ujung lorong.
Mereka serentak menoleh dan Reese berlari mendekati Ed lalu memeluk disertai isak tangis kebahagiaan.
“Jangan pergi lagi, Ed! Aku tidak bisa kehilangan kalian lagi!” Reese begitu trauma atas kehilangan Leane yang tidak pernah terbayang akan terjadi pada mereka.
Dalai Lama memang akhirnya dikurung dan hidup dalam kondisi cacat. Namun yang menimpa Leane tidak mampu diubah dan itu sangat menyakitkan untuk mereka.
“Kita harus segera menemui Wester. Keberadaan mereka tidak mungkin kita sembunyikan, tapi aku pasti menjamin apa pun resikonya!” ajak Ruben mengajak mereka segera bergegas.
Tom menepuk pundak Ruben dengan senyum percaya.
“Aku tidak menyangka kau begitu peduli pada kami,” cetus Tom belum bisa menyingkirkan rasa harunya.
“Sudah semestinya, Tom. Sudah semestinya!” balas Ruben ringan.
Belum sempat mereka mereka berjalan lebih dari tiga langkah, mendadak terdengar ledakan yang sangat keras. Tanah yang mereka berpijak bergetar sementara telinga menjadi berdengung dan pekak.
Gumpalan asap hitam membumbung dari arah lantai dua gedung sekolah utama.
Bennet masih mencoba menguasai diri dan berdiri tegak.
“Ruang penelitian!” teriak Reese mendadak panik.
Ruben dan Tom melesat mendahului mereka dan keempat muridnya menyusul.
Suara jerit tangis dan teriakan panik bercampur ketakutan terdengar di seluruh tempat. Wester berlari menaiki anak tangga sembari membawa tongkat sihirnya, hal yang tidak pernah ia lakukan selama ini.
Semua guru dan manusia dewasa segera menuju ke lantai dua untuk memeriksa ruang penelitian seperti yang Reese duga sebelumnya.
Bennet berhasil menyusul dan berlari di belakang Ruben juga Tom.
“Jangan ada yang mendekat! Evakuasi semua murid ke halaman depan!” teriak Wester dengan lantang.
Ms. Anna dan dua guru lainnya segera melakukan perintah kepala sekolah mereka.
“Kenapa Tom ada di sini?!” tanya Wester sementara mengayunkan tongkat sihirnya dan menyingkirkan puing-puing yang menutupi akses masuk.
“Akan aku jelaskan nanti!” sahut Ruben sembari membantu Wester.
Bennet tidak sabar, remaja itu segera mengibaskan tangan dan dalam sekejap reruntuhan tersebut tersingkir dalam satu gerakan.
“Terima kasih, Bennet!” ucap Wester seraya melesak masuk diikuti Ruben.
“Kau tidak bisa masuk ke sana, Bennet!” tahan Tom mencoba memperingatkan Bennet yang ingin turut masuk.
“Tom benar, kau tunggu di luar!” Ron baru tiba dan segera masuk dengan wajah tegang.
Bennet menghentakkan kaki jengkel karena tidak bisa mengetahui apa yang terjadi di dalam sana.
Flint dan Reese menenangkan Bennet yang terlihat gelisah.
“Kita harus menunggu, Bennet. Mereka benar,” bisik Reese lirih.
Akhirnya dengan terpaksa Bennet menuruti permintaan sahabatnya. Tiga menit berlalu dan itu seperti menunggu terlalu lama.
Ada suara teriakan tertahan dari dalam dan mendadak Bennet merasa tidak lagi tenang. Wolf tergopoh-gopoh datang dan menanyakan situasi saat itu.
“Entah, Mr. Hamilton. Kami juga masih menunggu,” sahut Flint sopan.
Ruben muncul dengan tangan membawa sesuatu yang terlihat seperti orang.
Bennet merasakan tubuhnya membeku dan seketika bayangan ngeri menyelimutinya dirinya dan juga semua manusia yang ada di depan ruang penelitian.
“Di-dia ada di dalam ketika ledakan,” ucap Ruben terbata-bata.
Hugo bersimbah darah dan dalam dekapan Ruben yang menggendong dengan gemetar.
Ron dan Wester muncul di belakang Ruben seraya membopong dua orang lainnya yang sepertinya siswa. Suasana seketika hiruk pikuk dan Wolf, sembari melolong dengan tangis yang menyayat, meminta mereka memberi jalan.
Pentagram Bennet tidak percaya bahwa hari bahagia di mana dia bisa membawa pulang Tom dan Ed dengan selamat, ternyata harus kehilangan Hugo Morrison.
Dokter yang merawat dan membesarkan dirinya sejak kecil, telah menjadi korban dari ledakan yang entah siapa yang meletakkan di sana.
Pria tua yang telah mendampingi Bennet dalam berbagai situasi, kini pergi tanpa berpamitan dan bahkan tidak ada tanda-tanda sedikit pun. Reese memeluk Bennet yang masih membeku dan tertegun.
Wester yang sadar akan kemungkinan buruk akibat reaksi muridnya tersebut segera meminta Wolf dan Wilson mengambil alih korban darinya dan segera mendatangi Bennet.
“Bennet, dengarkan aku!” Wester menakupkan kedua telapak tangan pada wajah Bennet. “Semua terjadi di luar kehendak kita dan jangan terpaku atau merasa bersalah!” Wester kemudian menguncang pundak Bennet dengan keras.
“Siapa yang mencelakakan Hugo?” desis Bennet dengan mata berkaca-kaca dan tangan terkepal.
“Tidak tahu, Bennet! Ini mungkin hanya kecelakaan yang tidak bisa dihindari!” tukas Wester mencoba untuk menenangkan Bennet.
Flint merasakan lantai yang mereka pijak bergetar dan petir menyambar dari langit. Gemuruh terdengar dari langit yang mendadak gelap juga mendung seperti akan terjadi badai besar.
“Bennet! Kuasai dirimu!” teriak Wester.
Remaja itu mulai berlinang dan buliran bening jatuh satu persatu menuruni pipinya.
Rasanya memang sangat menyakitkan. Kehilangan pria yang menjadi pelindung, pengasuh dan juga sahabat selama ini. Bennet tidak mampu menahan emosi kecewa yang mengelegak memporak porandakan jiwa remajanya.
“Gempa bumi!” pekik Reese yang mulai merasakan goyangan di lantai semakin kencang!
Angin menderu dan para penghuni Les Chester makin terlihat panik.
“Bennet, dengar! Kau akan membuat celaka seluruh warga dan orang tidak bersalah akan menjadi korban berikutnya!” teriak Wester dengan lantang.
Bennet tergugu dan matanya yang bersinar aneh kemudian meredup dan remaja itu jatuh bersimpuh. Bahunya terguncang keras, tangisnya meledak.
“Jangan tinggalkan aku, Hugo!” teriak Bennet dengan teriakan yang membuat semua kaca yang ada di gedung tersebut pecah berantakan!
Wester turut bersimpuh dan memeluk Bennet dengan erat.
“Tugasnya sudah usai,” bisik Wester dengan mata memerah.
Hugo tidak mungkin diselamatkan. Kondisi sangat parah dengan bagian perut hancur terkena ledakan. Bennet kehilangan manusia yang paling berarti dalam hidupnya untuk kesekian kali!