Ketika berita koran pagi mencetuskan mengenai isu perang yang semakin memanas, Reese tidak mampu menahan diri lagi untuk tidak menuntut Pentagram Bennet mencari Ed.
“Kau harus mencari tahu keberadaan Ed, Bennet. Setelah mengalami mimpi yang buruk itu, bagaimana kau bisa tidur nyenyak? Tidak bisa aku percaya!” gerutu Reese terlihat tidak sabar lagi menunggu kemajuan berikutnya.
“Aku ingin menjemput Ed dan menyelamatkannya. Tapi bagaimana dengan reaksi Tom dan keluarga lainnya?” kelit Bennet masih ragu melakukan hal tersebut.
“Kau sudah berjanji, Bennet!” pekik Reese mulai berkaca-kaca.
“Baiklah! Aku akan melakukannya!” bujuk Bennet dengan segera. Reese mengusap air mata di ujung kelopaknya.
“Rasanya tidak nyaman dan selalu gelisah tiap memikirkan dia. Aku merasa bersalah karena membiarkan Ed pergi.” Reese menunduk dan terlihat tidak bersemangat menghabiskan sarapannya.
Dari jauh Ruben menatap ke arah mereka dan mulai mencurigai sesuatu. Terutama ketika memergoki Reese yang menangis dan mengusap air matanya.
Usai makan pagi, para siswa senior tidak banyak melakukan kegiatan belajar mengajar. Mereka hanya perlu melengkapi beberapa tugas yang belum dipenuhi dan membantu guru lainnya membimbing siswa baru.
Bennet mengatakan pada Flint tentang rencananya akan mencari jejak Ed hari ini.
“Hai semuanya!” sapa Ruben tiba-tiba sudah muncul di belakang kedua remaja lelaki tersebut.
“Hai, Mr Watts!” sambut Flint dengan ramah. Bennet tersenyum samar dan mengangguk padanya.
“Ada yang bisa aku bantu?” Ruben tidak membuang waktu dengan berbasa basi dan langsung mengatakan tentang dugaannya yang ternyata tepat.
Bennet menatap Ruben kemudian Flint yang tampak gugup.
“Aku akan menyelamatkan Ed dari tugas negara, Ruben,” cetus Bennet pelan.
Ruben tersenyum dan mengangguk lalu meminta dua remaja pria itu mengikutinya.
Ketiganya terus melewati lorong dan menuju ke gedung paling belakang, dekat gedung kesenian yang terbengkalai.
Setelah memastikan tidak ada yang memperhatikan mereka, Ruben menghadap pada Bennet sepenuhnya.
“Aku pikir kalian tidak ingin mengambil tindakan ini. Tom sudah sangat khawatir akan masa depan Ed di sana. Tapi apa daya, dia tidak bisa melanggar sumpahnya pada Ratu untuk berbakti. Kalian adalah harapan satu-satunya untuk menyelamatkan Ed.” Ruben mengeluarkan secarik guntingan koran dari sakunya dan memberikan pada Bennet.
“Ada sekitar 14 divisi infanteri dan 14 brigade berkuda Pasukan Teritorial yang sebagian besar dialokasikan untuk Pasukan Lokal. Mereka ditempatkan di dekat pantai dan ditugaskan untuk mengganggu invasi di titik pendaratan musuh sebagai Pasukan Pusat. Tugas utama mereka untuk mengalahkan pasukan penyerang saat berbaris di London. Ed mungkin ada di sana dan cobalah untuk tidak terlihat saat mencarinya.”
Bennet mendengarkan dengan seksama semua informasi yang Ruben katakan padanya.
“Aku harus mencari di garis pantai,” ulang Bennet dengan hati-hati. Ruben membenarkan dan menepuk bahunya seraya menguncang perlahan.
“Ini tidak akan mudah, Penta. Kau akan mudah dikenali oleh mata-mata Shield. Percayalah, isu mengenai Shield yang memicu perang adalah benar dan bukan gossip murahan lagi.” Ruben menuturkan bagaimana Shield mencoba meyakinkan pihak Rusia untuk mengarahkan sekutunya mengobarkan bendera perang.
“Prediksi kami, perang akan dimulai bulan Juli depan ini. Bersiaplah, akan banyak kematian yang nantinya. Kita harus menyelamatkan sebanyak mungkin jiwa.”
Bennet mengangguk lalu segera berpamitan pada Ruben dan Flint.
“Pergilah, aku akan menutupi jejaknmu dari Wester!” dukung Ruben.
Bennet mengangguk dan bersiap mengambil ancang-ancang untuk melakukan lompatan. Dalam hitungan detik, Bennet memejamkan mata, kemudian secara ajaib, tubuhnya lenyap dalam pandangan.
***
Tubuh Bennet terhuyung karena mendarat di tanah berpasir dan kehilangan keseimbangan.
Dengan cekatan ia segera bersembunyi di balik batu karang besar untuk menghindari ketahuan pasukan infateri.
Matanya mengamati setiap manusia yang lewat. Dari tempat persembunyian, Bennet memperhatikan dengan cermat. Tidak ada Edmund ataupun Tom.
Bennet mengendap ke arah karang yang mendekati tempat barisan beberapa batalyon yang sedang berlatih baris berbaris. Semua manusia berseragam itu tampak sama. Bennet tidak mampu membedakan satu dengan lainnya.
Akhirnya, Bennet memberanikan diri untuk melakukan telepati dan berharap tidak akan ketahuan melakukan sihir di tempat yang penuh dengan penyihir sorcerer.
‘Ed, kau dengar aku?’
Bennet melemparkan pertanyaan yang tidak akan menimbulkan kecurigaan. Mereka, para sorcerer lainnya, akan menganggap ini hanya komunikasi biasa antar teman yang sedang menghadapi situasi perang.
‘Bennet?’
Remaja itu hampir melonjak kegirangan dan memekik gembira. Namun, dengan cepat mengamankan situasinya saat ini dan menutup akses telepati hanya pada Ed saja.
“Di mana posisimu?’ tanya Bennet setelah mengunci frekuensi telepati tersebut.
‘Pantai. Aku ada di-.”
‘Aku ada di pantai, Ed!’ Bennet memotong perkataan Ed dengan buru-buru untuk menghemat waktu.
‘Apa yang kau lakukan? Di sini sangat berbahaya!’
‘Aku akan menyelamatkanmu dan Tom!’
‘Kau gila!’ Ed terdengar sangat terkejut dan tidak menyangka Bennet mampu melakukan hal senekat itu tanpa takut sedikit pun.
‘Aku tahu. Tapi kami tidak bisa membiarkan kau dan ayahmu mati konyol!’
Ed terdengar tertawa kecil.
‘Aku akan mendekat ke tempat kau bersembunyi, tapi aku tidak bersama Papa. Entah dia ada di mana.’
Bennet berpikir mungkin mencari Tom bisa dilakukan kemudian.
Setelah menunggu selama hampir lima menit penuh dengan hati berdebar, Bennet melihat seorang pemuda dengan kulit wajah terbakar mendekat. Edmund!
Bennet menarik dan mereka bersembunyi di balik karang besar dengan posisi berjongkok. Ed mengendong senapan laras panjang mirip dalam mimpinya.
“Singkirkan senapan k*****t itu, Ed. Aku melihatmu dalam impi dan itu tidak menyenangkan sedikit pun!” keluh Bennet dengan wajah cemas. Ed tersenyum kecut dan meletakkan senapan begitu saja di pasir.
“Aku tidak tahu di mana Papa. Kita harus menemukan dia terlebih dahulu,” cetusnya seraya membuka helm yang melindungi kepalanya.
“Bisakah kita melakukan telepati?” tanya Bennet.
Ed mengangguk dan mulai memanggil ayahnya dengan sembunyi-sembunyi.
Tidak lama, ayahnya merespon dan mengatakan ada di ujung pesisir, sedang membersihkan canon. Tanpa membuang waktu lagi, Bennet mengajak Ed segera menuju ke sana.
Kedua remaja merunduk dan berjalan mengendap di belakang pesisir pantai dengan hati-hati.
“Jangan khawatir, kaumku tidak akan menghambat kita!” cetus Ed dengan suara tertahan dan pelan.
Setelah berjalan sekitar sepuluh menit, akhirnya tiba di ujung pesisir yang penuh dengan kelapa. Bennet bisa melihat Tom sedang membersihkan Canon dengan kain.
Ketika mendengar anaknya sedang mengajaknya untuk segera meninggalkan tempat tersebut, Tom terkesiap.
“Ruben yang mengutusku,” ucap Bennet pada Tom.
Ayah Ed mengangguk dan akhirnya melompat turun dan melempar lap sembarangan.
Begitu berhasil mencapai anaknya dan Bennet, Tom memeluk keduanya dengan erat.
“Kupikir hidupku akan berakhir di sini,” keluhnya sementara raut penuh syukur terukir di wajah Tom.
“Kita tinggalkan tempat k*****t ini, Tom!”
Bennet mengulurkan tangannya dan disambut oleh Ed juga Tom, lalu menarik keduanya ke dalam lompatan mudah.