Ed memanggul senapan laras panjang di pundaknya dan berlari di antara desingan peluru yang melewati atas kepala.
Begitu intensnya rentetan peluru tersebut terus terlontar, Ed kemudian memutuskan untuk merunduk dan merayap, melewati tanah berlumpur di mana mayat bergelimpangan di sepanjang medan peperangan tersebut.
Dengan gugup remaja itu membetulkan helm perangnya dan mengisi kembali pelurunya. Setelah mendapatkan posisi yang cukup strategis, Ed mulai melihat ke mana ia semestinya mengarahkan tembakannya.
Sangat sulit mendapatkan lokasi musuh mereka dengan tepat. Semua seperti tersamar oleh banyaknya lontaran peluru yang berasal dari berbagai arah. Ed kelimpungan dan mulai gugup.
“Ed, mulai tembakkan pelurumu!” teriak komandan pasukannya dengan suara keras, mencoba mengalahkan dentuman granat yang sesekali terdengar.
Kondisi medan perang sangat kacau dan tidak lagi bisa dibedakan mana kawan dan lawan.
Ketika Ed memberanikan diri mengarahkan senjatanya ke depan, mendadak letusan terdengar dan tubuh komandan yang tadi berteriak padanya terlempar dan jatuh tepat di sebelah Ed. Pria itu sudah tidak bernyawa!
Ed mulai panik dan menjerit sejadi-jadinya. Sekelilingnya tidak lagi ada keberadaan pasukan yang pergi bersamanya sejak awal.
Wajah Ed penuh dengan percikan lumpur bercampur darah dan tidak lagi bisa dikenali. Dengan kemarahan bercampur panik, remaja tersebut mulai menembakkan ke segala arah senapannya.
Melihat masih ada musuh yang hidup setelah lemparan bom, mereka mulai memberondong Ed tanpa ampun lagi.
Ed terhempas ke belakang saat puluhan peluru menghantam dadanya!
**
Bennet berteriak dan memanggil nama Edmund sekuatnya sementara masih terbaring di atas kasurnya.
“Bennet! Bennet, bangun!” Flint menguncang tubuh Bennet dengan kencang dan berusaha membangunkan sahabatnya.
Bennet terjaga dengan keringat membanjiri tubuh.
“Kau membuatku takut!” keluh Flint tidak kalah pucat.
“Ak-aku bermimpi Ed,” sahut Bennet lirih dan hampir tidak terdengar. Suaranya mirip dengan orang yang sedang tercekik.
“Dirimu meneriakkan nama Ed dengan sangat keras dan seperti orang gila yang kehilangan,” timpal Flint seraya mengusap wajahnya.
Dengan tertatih, Bennet beringsut turun dari pembaringan dan mengambil air minum di meja.
“Aku melihatnya sedang berperang dan peluru dalam jumlah banyak memberondongnya, Flint. Itu seperti nyata dan aku tidak sanggup membayangkan yang terjadi sesudahnya.”
Flint memeluk lutut sementara mendengarkan Bennet bercerita.
“Perang belum dimulai. Mereka sedang bersiap dan berlatih.” Flint berusaha menghibur dirinya sendiri dengan penyataan tersebut.
“Aku tahu. Mimpiku sangat bodoh dan tidak mungkin menjadi nyata bukan?” tanya Bennet dengan cemas.
Flint mendadak turut haus dan turun serta meraih gelas lalu meneguk air sebanyak mungkin.
Keduanya diam sejenak dan kamar mereka hening.
“Aku akan mencari dia, Flint. Aku akan mencari tahu di mana latihan tersebut berada.”
Raut wajah Flint tampak lega dan mengangguk.
“Aku akan pergi sendiri dan memberi kabar pada kalian,” lanjut Bennet.
“Kami akan menunggu kabar baik darimu, Bennet.”
Kedua remaja tersebut akhirnya duduk dan tampak tidak bisa lagi kembali tertidur.
“Kenapa kita terpisah dengan cara ini? Bukankah semua berjalan dengan baik dulu?” Flint terlihat masih memikirkan tentang hal yang berjalan tidak sesuai dengan keinginan dan rencana mereka.
“Kali ini, aku akan membawa Ed kembali dan tidak peduli resikonya nanti.” Bennet juga menyesal tidak menyelamatkan Ed sedari awal kemarin.
“Aku yakin Shield sedang berusaha membuat perang tercetus, Bennet. Entah kenapa firasatku sangat kuat sekali.” Flint kembali mencari simpanan minuman alkoholnya di laci.
Bennet menjentikkan jari dan di atas meja muncul sebotol anggur merah. Flint tersenyum dan meraih botol tersebut.
“Kekuatanmu makin membaik.” Puji sahabatnya dengan gembira.
“Aku mulai bisa mengendalikan banyak hal, Flint. Tapi menurut Wester belum saatnya aku menggantikan Shield. Dia tidak mungkin mau mundur tanpa perlawanan kali ini. Ambisinya terlalu besar dalam menjadi yang terkuat dan berkuasa di dunia.”
“Wester saja mulai ketakutan, apalagi kita semua?”
“Dia berhasil mendapatkan suara tujuh dewan untuk mendukung aku menjadi pemimpin Fratrem. Sayangnya, ternyata menurut uncle Cedric tidak akan berjalan semudah itu.”
“Kapan terakhir kali kau bicara dengan Ruben?” Flint mulai menuang wine ke dalam gelas.
“Entah, sudah lama sekali.”
Kedua remaja itu meneguk dan terlihat menikmati rasa wine yang mereka butuhkan pada malam itu. Pikiran mereka sangat rumit dan kalut akan nasib Ed dan juga masa depan yang tidak jelas nanti.
“Walaupun kau harus waspada terhadap semua orang, tapi sebaiknya Ruben adalah pengecualian. Dia sudah membuktikan banyak hal. Termasuk Albert dan Dokter Hugo.” Saran dari Flint memang sempat terlintas dalam pertimbangan Bennet.
“Tapi tidak dengan Ron dan Wolf?” tanya Bennet ingin mendapatkan dukungan akan pemikirannya.
Flint menyesap sedikit wine dan mengecap puas.
“Bukan mencurigai mereka, tapi ada baiknya dirimu sedikit melihat gerak gerik keduanya. Kau tahu kenapa?”
Bennet menggelengkan kepala dan memang tidak menemukan alasan yang kuat.
“Ron adalah pria bebas yang tidak suka diatur. Dia adalah alkemis sejati yang memiliki pemikiran sendiri. Untuk Wolf, dia adalah filsafat yang mungkin, ini baru mungkin, menyimpan ideologi yang kemudian tidak sejalan dengan kita atau Fratrem, tepatnya.”
Bennet selalu mengagumi Paparan rangkuman Flint yang menyatakan pemikirannya dengan fakta yang masuk akal. Flint memang berbakat menjadi detektif karena kejeliannya.
“Wolf bukan filsafat yang memilih aliran kiri, Flint. Sedangkan Ron memang agak sedikit tidak suka dengan aturan Wester, bahkan sering bertentangan dengan Ruben, namun selama ini dia adalah pria yang mendukungku untuk menentang Fratrem. Tapi akan kupertimbangkan semua saran dan kesimpulanmu.”
Flint menambahkan kembali wine yang telah habis di gelas Bennet.
“Apakah menurutmu kita perlu mencurigai orang di luar itu?” tanya Bennet dengan hati-hati.
Flint mengernyit dan tidak menangkap siapa yang Bennet maksud.
“Orang yang kau maksud adalah?”
“Semua anggota kerajaan dan beberapa yang mungkin mengulik informasi dari keluarga kita.”
Flint mengibaskan tangan dengan cepat.
“Jangan khawatir, Bennet. Ayahku dan pamanmu sudah mengambil alih semua itu dengan baik. Tidak ada yang akan lolos jika memang mereka menjadi mata-mata Shield. Dan aku yakin, merek tidak akan berani, kau tahu kenapa?”
Bennet menggelengkan kepala kembali.
“Karena tanpa kau ketahui, Ratu mendukungmu sepenuhnya.”
Bennet terkesima dan baru mengetahui fakta tersebut dengan ekspresi tercenggang.
“Aku tidak tahu jika mereka mengenalku,” desis Bennet.
Flint tersenyum dan membenarkan dengan kalimat yang cukup membuat Bennet makin bersemangat dia tidak sendiri.
“Tanpa kau ketahui, Ruben dan Cedric juga ayahku beserta uncle Geoff dan aunt Margie berusaha mendapatkan dukungan dari kerajaan Britania sejak dulu. Jadi, jika Shield akan mengorbankan dirimu menjadi tumbal Osirus, maka ia harus menghadapi mereka semua termasuk aku, Reese dan Ed!”