Bennet tidak mampu menyingkirkan keresahan hatinya. Apa yang Cedric ungkapkan padanya tentang Ed yang harus pergi berperang membuatnya resah dan memikirkan nasib sahabatnya nanti.
Tampangnya terlihat kusut saat kembali ke Les Chester dan Reese yang telah tahu mengenai keputusan dari pemerintah memahami sumber akar permasalahannya.
“Apakah Flint dan Ed sendiri sudah tahu?” tanya Reese menjajari langkah Bennet dengan tempo yang cepat.
“Aku tidak tahu. Berita ini baru saja diputuskan tadi malam. Dewan perlemen meminta semua keturunan sorcerer harus maju bertempur, itu berarti Tom juga pergi berperang!” cetus Bennet dengan wajah geram.
Reese mengumpat dan Bennet menoleh padanya sementara mereka mencari kedua sahabat mereka di ruang aula utama.
“Kau semakin sering mengumpat, Reese! Emosimu jauh lebih buruk dariku!”
Reese tersenyum kecut dan melemparkan lirikan kesal.
“Bagaimana aku bisa menahan diri? Semua yang kita alami selalu di luar rencana!”
Bennet mendahului masuk ke dalam aula dan melihat Flint juga Ed sedang sibuk dengan para siswa baru.
“Edmund Junior Dawson, bisakah kau menemui Kepala Sekolah Wester?” teriak Wilson dari pintu yang sebelah lagi.
Bennet dan Reese saling bertukar pandangan. Dengan raut wajah heran, Ed segera mengiyakan dan meninggalkan kelompoknya.
“Kalian bisa mendampingi grupku? Aku harus menemui Wester!” seru Ed tanpa curiga berteriak pada Bennet dan Reese.
Bennet juga Reese tidak menjawab. Keduanya menatap Ed dengan pandangan sendu. Mereka tahu apa yang akan disampaikan oleh kepala sekolah mereka nanti.
Tanpa mencoba mengungkapkan pada Ed, Reese dan Bennet segera mendampingi grup siswa baru dan menggantikan tugas.
***
“Kalian sudah tahu dan tidak ada yang memberi tahu aku?!” pekik Flint tidak senang dengan kepergian Ed yang tanpa berpamitan pada mereka.
“Kami tidak tahu jika Ed harus segera pergi!” kelit Reese dengan jengkel karena dituduh oleh Flint.
Bennet hanya duduk dengan sikap serba salah dan mencoba mengirimkan telepati pada Ed berkali-kali.
“Dia tidak membalas telepatiku,” keluh Bennet putus asa.
“Elizabeth mengatakan Ed pergi satu jam yang lalu, mustahil dia sudah jauh. Pasti baru sampai di sekitar perkebunan gandum!” cetus Reese masih ingin mengucapkan salam perpisahan dengan Ed.
“Aku tidak bisa menggapainya, Reese!” teriak Bennet.
Ketiganya kemudian terdiam dan tidak tahu harus bagaimana lagi. Ed pergi tanpa mereka ketahui dan ini sangat menyakitkan. Kehilangan Leane adalah pukulan yang telak bagi mereka. Kini setelah Ed juga harus pergi berperang, situasi ini menjadi momok yang membuat ketiganya jauh lebih waspada lagi.
“Aku tidak akan memaafkan diriku jika sesuatu terjadi dengannya,” gumam Bennet.
***
Malam semakin larut. Bennet berdiri di atas lantai paling tinggi Les Chester dan menatap ke sekeliling.
Tidak lama kemudian Flint dan Reese menyusulnya dengan lompatan tubuh yang ringan.
Di atas atap tersebut, ketiganya duduk dengan wajah termenung.
“Aku akan menyusul Ed jika perang tercetus dan dia belum menghubungi kita,” ucap Bennet lirih.
“Haruskah dia pergi? Maksudku kenapa kaum penyihir selalu mendapat tugas yang berat? Ketika masyarakat menolak keberadaan mereka, pemerintah juga tidak berbuat banyak!” timpal Flint dengan getir.
Remaja itu berteman dengan Ed sudah cukup lama. Tidak mudah kehilangan Ed dan mungkin ini akan membebani dirinya paling parah.
“Aku mengenal Ed dari sejak kami masih bocah lelaki yang norak,” kenang Flint. “Aku selalu sebal dengan rambut merah dan bintik wajahnya. Tapi setelah berteman dengan Ed, dia bisa sangat menjengkelkan saat jauh dari kita. Aku merindukan dirinya dan sangat tergantung pada dia,” akunya Flint dengan suara sengau.
Reese menghela napas berat dan menunduk seraya memeluk lututnya.
“Ada yang belum aku ungkapkan pada kalian,” akunya Bennet tiba-tiba.
Reese dan Flint menoleh pada Bennet yang duduk di tempat yang lebih tinggi dari keduanya.
“Wester memintaku untuk menyelidiki kelima guruku. Aku sempat menolak karena merasa itu tidak pantas. Apalagi menceritakan pada kalian, rasanya sama saja mengungkap bahwa aku juga seharusnya tidak mempercayai satu pun manusia di sini.”
Reese terkejut dan tidak menyangka akan tugas dari Wester.
“Apa alasan Wester?” tanya Flint yang tidak begitu syok terhadap pengakuan Bennet. Remaja itu menggelengkan kepala.
“Sebenarnya tidak ada yang signifikan. Menurutku karena semua bisa saja terjadi dan dilakukan oleh salah satu pelayan kami dulu, laporan mengenai aku selalu bocor ke luar.” Bennet menengadahkan wajah ke atas, menatap bintang di angkasa.
“Apa yang kau lakukan, Bennet? Kau memata-matai kami juga?” tanya Reese sinis.
“Aku tidak akan sanggup melakukan itu, Reese. Ini juga berat untukku. Melihat Ed pergi dan kita terpukul seperti ini, menyadarkan akan satu hal dalam diriku!” elak Bennet dengan nada tertekan. “Kalian mungkin sahabat yang baru aku kenal satu tahun lebih, tapi ikatan kita sudah begitu mendalam dan rasanya salah tidak mengatakan ini dengan terus terang.”
Flint menunduk dan manggut-manggut.
“Di antara jutaan manusia yang mendedikasikan hidupnya padaku, mungkin hanya kalian bertiga yang benar-benar menjadi bagian dari hidupku yang tidak memiliki kepentingan pribadi. Maafkan aku yang tidak mengungkapkan dari awal,” sesal Bennet dengan lemah.
Reese menutup wajah dengan kedua tangannya dan mulai terisak.
“Aku tidak pernah merasa secemas ini, Bennet! Jika kau masih saja merasa ikatan persahabatan kita adalah dangkal, apakah Leane mati untuk satu hal sia-sia?!” pekik Reese terdengar emosional.
Flint membuang pandangannya ke samping dan menghapus ujung kelopaknya yang mulai merebak.
“Jangan pernah pertanyakan kesetiaan kami! Kekuatan yang kami dapatkan muncul karena sebagian dari serpihan jiwa kami terikat denganmu! Jadi hidup atau mati, kami akan tetap terikat padamu!” Reese terlihat sangat tersinggung dan tidak menerima keraguan Bennet yang masih saja terlontar.
“Maafkan aku, Reese, Flint. Aku tidak terbiasa menerima kesetiaan yang begitu besar.” Bennet mengenggam tangan Reese yang masih terlihat meluapkan amarahnya.
Gadis itu terisak dan mengangguk.
“Aku tidak tahu kenapa begitu semarah ini! Kepergian Leane, kemudian Ed yang pergi berperang, benar-benar melemahkan pertahananku! Apa yang salah? Kenapa semua berjalan tanpa kendali kita?” Sedu sedan Reese semakin menjadi. Bennet bergeser ke belakang dengan susah payah dan merengkuh pundaknya.
“Aku berjanji pada kalian. Jika Ed tidak bisa aku jangkau, aku akan mencarinya!”
Kalimat yang terlontar dari Bennet membuat Reese sedikit lega. Flint tidak mengatakan apa pun. Wajahnya masih ditekuk dan benaknya terus memikirkan Edmund.