Pagi itu berlangsung seperti biasa. Tidak ada yang istimewa.
Flint seperti biasa hanya mandi dengan tempo cepat dan mengganti baju tanpa menyisir rambutnya. Bennet dan Ed sudah lebih dulu rapi dan bersiap menuju aula bersantap.
Reese menyambut mereka dan mengatakan jika hari ini sebaiknya mereka membantu Ms. Anna mengarahkan pada anak-anak yang baru masuk untuk mengenal lingkungan Les Chester.
“Kita bisa mendaftarkan diri pada Elizabeth dan kemudian akan mendapat kelompok anak junior untuk kita bimbing,” terang Reese. Flint dan Ed terlihat bersemangat, tapi tidak dengan Bennet.
“Aku ingin menyelesaikan urusan dengan pamanku terlebih dahulu,” cetus Bennet memberikan alasan kenapa dia tidak bisa bergabung dengan mereka.
Flint terlihat kecewa dan mengatakan jika sebaiknya Bennet menyusul mereka begitu semua sudah selesai.
Usai makan pagi, mereka menuju tempat yang berbeda. Reese dengan kelompok juniornya, Ed dan Flint menemui Elizabeth dan Bennet ke ruangan Wester.
“Bennet! Pagi-pagi begini sudah ada keperluan?” sapa Wester terlihat sibuk mengumpulkan dokumen di mejanya.
“Aku ingin meminta ijin untuk menemui Uncle Cedric, Wester,” sahut Bennet dengan sopan.
Wester berhenti dan memandang muridnya dengan seksama.
“Ada hal yang penting?” tanya Wester.
“Tidak! Hanya urusan seorang keponakan dengan pamannya saja,” tukas Bennet dengan ringan.
“Ah, baiklah! Pergilah dan kembali sebelum makan malam. Aku ingin kita bertemu dengan Ruben malam ini!” sahut Wester terlihat lega.
Setelah mengucapkan terima kasih, Bennet pamit.
Tidak butuh waktu lama untuk Bennet mendapatkan lokasi kastilnya. Melalui bantuan Albert, Bennet mendapatkan gambaran di mana kastilnya berada.
Dalam sekejap, remaja itu sudah mendarat di halaman kastil yang terdapat semak hijau. Tukang kebun mereka membentuk semak itu seperti labirin kotak maze.
Bennet menyesal karena liburan tempo hari mereka tidak sempat mengunjungi kastilnya karena situasi keamanan yang tidak memungkinkan. Bangunan megah yang terawat tersebut adalah kediaman keluarganya dulu hingga sekarang.
Seorang pelayan menyambut Bennet dengan senyum ceria. Pipinya yang merah dan bulat terlihat cembung dan menambah keramahannya.
“Ya Tuhan! Tuan Muda Bennet!” pekiknya dengan suara melengking.
Sontak semua pelayan segera menuju ke lobi dan berbaris rapi untuk menyapa Pentagram Bennet dengan ramah. Remaja itu tidak menyangka akan mendapat sambutan yang demikian antusias.
“Ap-apa kabar semua?” sapanya dengan anggukan yang kaku.
“Kami dalam keadaan baik, Tuan Muda Bennet!” sahut mereka serentak.
Cedric yang mendengar ada suara serentak menyapa seseorang yang bernama Bennet, segera keluar ruangan dan terkejut melihat keponakannya.
“Pentagram!” serunya dengan binar bahagia. Setengah berlari dia menghampiri dan memeluk keponakannya dengan erat.
“Astaga! Kau tidak memberi kabar sedikit pun!” sesal Cedric pada Pentagram Bennet sembari menguncang pundaknya.
“Ini ide yang begitu saja muncul, Uncle,” sahut Bennet dengan meringis sungkan padanya.
Pria yang mirip dengan Bennet segera mengajaknya menuju ke ruang tengah.
“Luas sekali kastil yang ini,” puji Bennet dengan takjub. Lukisan yang ada pun sangat lengkap.
“Ini adalah kastil utama kita, Pentagram,” sahut Cedric seraya menuang wine ke dua gelas kristal.
“Dan Itu adalah lukisan Esther, ibumu!” tunjuk Cedric pada lukisan besar di atas perapian.
Bennet membuka mulutnya dengan takjub. Seorang wanita dengan gaun bangsawan lengkap sedang duduk dengan senyum menawan.
“Aku tidak pernah melihatnya sejelas ini,” gumam Bennet dengan pelan.
Cedric mengulurkan segelas wine dan ia menerima dengan ucapan terima kasih.
“Dia adalah wanita yang sangat cerdas dan baik.”
“Ya, sangat baik,” gumam Bennet seraya memandang lukisan ibunya.
“Kini tinggal kita berdua saja, Penta. Semoga ini tidak akan menguncang keluarga Bennet menjadi lemah. Kita berdua harus kuat dan kokoh,” bisik Cedric dengan nada lirih.
“Selama kau ada, keluarga Bennet tidak akan goyah, Uncle,” tukas Bennet dengan yakin. Cedric tertawa ringan.
“Yang lebih tepat lagi, selama kau ada, Pentagram Bennet. Aku ini bukan pewaris sah keluarga Bennet, dirimulah yang menjadi Bennet berikutnya,” cetusnya dengan senyum hangat.
“Itu tidak penting!” tangkis Bennet dengan senyum kecut.
Cedric menggelengkan kepala.
“Tidak ada satu pun dari kita yang peduli akan kekayaan keluarga ini bukan? Untung saja Albert dan Ruben ada. Jika tidak, semua sudah berhamburan entah kemana,” kekeh Cedric dengan tawa masih berderai.
“Apa yang membuatmu datang?” tanya Cedric kemudian mengajaknya duduk santai.
Bennet menceritakan dengan singkat mengenai permintaan Wester padanya untuk waspada. Cedric mendengarkan dengan seksama dan mengangguk.
“Ada baiknya kau mendengarkan pria tua itu. Dia memang kadang menjengkelkan, tapi hanya dia yang bisa kupercaya saat ini.” Cedric sepertinya mendukung untuk mengikuti perkataan Wester tanpa membantah.
“Apakah ini berarti Uncle juga tidak percaya pada kelima guruku?”
Cedric menghela napas pendek dan melirik keponakannya dengan ragu.
“Bisa dibilang begitu,” sahut Cedric akhirnya.
“Bagaimana mungkin aku bisa tidak mempercayai mereka? Hidupku selama empat belas tahun bersama kelima orang tersebut, Uncle!”
Cedric tersenyum kecut.
“Ya, aku tahu. Tapi Pentagram, tanpa dirimu ketahui juga, banyak informasi yang keluar dan hingga detik ini kita tidak bisa menangkap siapa yang membocorkannya.”
Bennet terkesiap dan tidak menyangka akan mendengar hal yang mendukung Wester akan kecurigaannya.
“Bagaimana dengan Wilson?” Bennet masih mencoba untuk berkelit.
“Wilson tidak tahu hal mendalam tentangmu,” bantah Cedric.
“Satu hal lagi, bersabarlah, karena Edmund, sahabatmu, telah ditunjuk oleh kerajaan untuk turut serta dalam peperangan dan kita tidak bisa berbuat lebih untuk menahan hal tersebut.”
Bennet hampir menjatuhkan gelas di lantai.
“Ed??”
Cedric mengangguk lemah.
“Entah apa tujuannya, mungkin untuk melemahkan kalian. Berhati-hatilah dan jangan sampai lengah, Pentagram,” pinta Cedric dengan serius.
“Aku tidak bisa membiarkan Ed pergi berperang tanpa kami,” desis Bennet masih terlihat syok.
“Dengar baik-baik!” Cedric meminta keponakannya memusatkan perhatian pada perkataan berikut.
“Ikuti saja permainan mereka. Setelah ini bisa kita ungkap, barulah kita bergerak. Mengerti?”
Bennet menghela napas berat dan mengangguk dengan susah payah.
“Edmund akan baik-baik saja. Aku tahu pemuda itu seperti ayahnya, Tom!” Cedric terlihat mempercayai sahabatnya seratus persen.
“Aku akan gila jika ada sesuatu terjadi pada Ed,” cetus Bennet dengan cemas.
Pamannya tersenyum hangat.
“Dia adalah pejuang sejati. Berdoalah untuknya selalu.”
Bennet menunduk dan menatap ujung sepatu bootnya dengan hati tidak menentu. Apakah Ed sudah tahu mengenai hal ini?