Bennet membereskan semua buku-buku yang sudah tidak ia perlukan dan ingin memberikan pada siswa yang membutuhkan. Flint sudah selesai lebih dulu dan mengangkat kardus berisi buku ke luar kamar.
Ed masih memilih dengan seksama sementara sesekali melempar kertas yang tidak terpakai di kotak sampah. Ketiga terlihat sibuk pagi itu.
“Pagi!” Reese masuk tanpa mengetuk pintu terlebih.
Rambutnya yang dikepang ke samping bergoyang seiring gerakan tubuhnya.
“Kalian melewatkan sarapan pagi ini!” cetusnya.
Bennet menunjuk ke arah meja mereka yang penuh dengan sajian makan pagi yang masih ada. Reese melotot pada mereka.
“Kalian menggunakan akses istimewa? Itu tidak adil!” protes Reese dengan jengkel.
“Siapa bilang, Reese? Ed yang mendatangkan semua itu!” tangkis Flint dengan cepat membela diri.
“Tetap saja! Itu tidak boleh!” gerutunya dengan bibir maju.
“Kita harus memberikan buku-buku ini, tapi aku ragu. Apakah menurutmu semua mata pelajaran tidak ada perubahan?” tanya Ed.
“Kenapa harus berubah?” tanya Bennet.
“Aku dengar Wester menambah guru untuk menggantikan Tracy. Dia adalah wanita dari Amerika yang memiliki metode lain dalam mengajar. Ms. Mia Riddick namanya.” Ed terlihat mendapatkan informasi lebih cepat dari mereka.
“Dari Amerika? Seperti Shield?” tanya Flint dengan cepat menangkap hal yang menurutnya mencurigakan.
“Perlukah kita mulai mencurigainya?” tanya Ed.
Bennet menghentikan penyortiran bukunya dan mendekat pada sahabatnya.
“Dari mana kau dapat informasi itu, Ed? Wester tidak mengatakan apa pun mengenai tambahan guru tadi malam,” tanya Bennet.
“Aku mencuri dengar dari Elizabeth dan Ms. Anna tadi malam sewaktu membantu mereka mengumpulkan hasil ujian.” Jawaban dari Ed menjelaskan bahwa ini mungkin baru isu belum tentu benar.
“Aku akan menanyakan pada Wester nanti,” timpal Bennet.
Reese melirik padanya dan seperti menahan sesuatu dalam benaknya.
“Katakan saja, Reese! Kau tidak perlu menyimpan seperti itu!” seru Bennet seraya melanjutkan menyortir buku-bukunya.
Remaja wanita itu duduk dan mencomot salah satu sosis dan melahapnya.
“Kupikir, tidak perlu menanyakan pada Wester. Buat apa? Kamu tidak bisa kemudian mengontrol semua yang ingin kamu ketahui, Bennet. Bagaimana pun itu terdengar bukan hal tepat yang harus kamu ketahui.” Pendapat Reese mengundang kerutan di dahi Bennet.
“Aku pemilik Les Chester, Reese! Aku wajib tahu itu!” balas Bennet.
Reese menatap Bennet dengan tajam.
“Kau tidak perlu sombong dan merasa memiliki tempat ini, Bennet! Semua dunia tahu jika kau adalah pewaris tunggal multi milioner keluarga Bennet!” sahut Reese dengan sedikit keras.
Flint dan Ed saling berpandangan dan menghela napas melihat keduanya mulai bertengkar. Tapi Reese benar, Bennet mulai melangkah ke hal yang bukan ranahnya.
Bennet baru menyadari dan akhirnya duduk. Remaja itu menggigit bibirnya dengan keras dan menyesal telah melontarkan kalimat arogan tadi.
“Maaf. Aku lepas kendali.” Dengan malu, Bennet mengatakan penyesalannya.
“Ada apa, Bennet? Sombong dan arogan bukan karaktermu. Kau pasti menyimpan sesuatu dari kami,” tuntut Flint segera mengenali ada yang lain dari Bennet saat ini.
Hening sesaat.
“Aku terlalu banyak berpikir dan tidak menyadari jika kalian akan selalu ada untukku dan aku tidak sendiri.”
Reese tidak percaya begitu saja pada penjelasan Bennet.
“Bagaimana dengan aku? Ayahku sudah berusaha untuk menghindariku dari berbagai hal yang berbau tugas negara, tapi wajib militer itu sepertinya tidak bisa aku hindari,” ucap Ed dengan ringisan yang menunjukkan dia juga cemas.
“Tapi semua siswa Les Chester mendapat perlindungan dari sekolah, Ed!” bantah Flint.
“Tidak, Flint! Kaumku sudah digariskan menjadi prajurit utama di kerajaan kita selama berabad-abad tahun yang lalu. Jadi, semua penyihir dari garis keturunan Dawson tidak bisa menghindar,” sahut Ed dengan getir.
“Kerajaan tahu jika kalian adalah penyihir?” tanya Bennet terkejut.
“Tentu saja. Ratu kita dengan baik mengetahui semua rakyatnya, Bennet.”
“Mungkin termasuk Fratrem milik keluargamu,” imbuh Flint.
“Semoga wajib militer itu tidak akan pernah terjadi padamu,” harap Reese mulai tidak nyaman dengan berita itu.
“Mungkin karena kaumku sulit mati makanya dipilih menjadi prajurit utama,” gumam Ed sambil berpikir.
“Bisakah kita mengubah topik? Aku tidak ingin seharian ini memikirkan hal yang berbau kematian,” pinta Flint.
“Ayo, kita bisa mulai menyumbangkan buku sekarang! Aku tidak sabar melihat wanita-wanita cantik yang menjadi murid baru!” seru Ed kemudian berusaha mengalihkan.
Reese tersenyum melihat kejahilan Ed dan Flint yang segera berdiri dengan semangat. Bennet menggelengkan kepala dan akhirnya terpaksa mengikuti mereka.
Keempatnya keluar menyusuri lorong menuju ke aula utama sekolah. Saat menuruni tangga, semua mata siswa memandang mereka. Tiga remaja tampan dengan tubuh tegap dan seorang perempuan cantik dengan wajah tegas berjalan menuruni anak tangga.
Tidak ada yang melewatkan kesempatan itu.
Siapa pun tahu, keempat s*****n itu memang mencuri perhatian mereka. Para siswa wanita yang sudah lama menyimpan hati pada Bennet terlihat mulai salah tingkah dan menyapa dengan ramah.
Flint yang terlihat gagah dengan sikapnya yang tengil menebar pesona. Ed mengikuti dengan gaya yang sedikit lebih ramah.
Ms. Anna menyapa keempatnya dan mempersilahkan untuk meletakkan buku di barisan ujung.
“Tidak terasa kalian sudah ada di tahun senior ya?!” tutur Ms. Anna seperti baru sadar mereka telah tumbuh menjadi remaja yang akan beranjak ke dewasa.
“Ini tahun terkahir kami, Ms. Ann,” sahut Flint dengan sopan.
“Oh Reese, aku harap dirimu bisa melanjutkan ke jenjang yang akan membuat kami bangga! Bakatmu sebagai ahli fisika mungkin bisa kolaborasi dengan Pentagram Bennet untuk menjadi saintis kita!” harap Ms. Anna.
Mereka berdua tersenyum dan mengucapkan terima kasih.
“Apa rencana kalian nanti?” tanya Ms. Anna kemudian.
“Entahlah. Mungkin melanjutkan untuk mendampingi Bennet menjalankan tugasnya sebagai Pentagram,” tutur Reese segera meralat harapan guru mereka. Bagi keempat remaja yang berdiri di depannya sekarang, tidak ada masa depan dan cita-cita.
“Astaga! Betul itu! Aku lupa akan tugas kalian yang lebih penting,” sesalnya.
“Sepertinya itu akan menjadi tugas selama beberapa waktu, Ms. Ann,” timpal Ed pada gurunya.
“Semoga apa pun yang akan kalian hadapi nanti selalu berhasil dan dijauhkan dari kegagalan!” dukungnya.
“Apakah itu berarti mereka tidak ada masa depan seperti menikah?” Elizabeth yang sedari tadi mendengar, mendadak menyeruak dan mengajukan pertanyaan yang cukup menohok.
“Entahlah, Liz. Sebaiknya tidak usah mengajukan pertanyaan seperti itu. Mungkin para pahlawan kita belum memikirkan itu sedikit pun,” sergah Ms. Anna dengan cepat.
“Ya! Kami ingin menikmati tahun senior ini dengan lebih santai dan semaksimal mungkin!” sambut Ed dengan ceria. Flint tertawa geli penuh arti, sementara Reese dan Bennet tersenyum samar.