Sosok si rakus muncul lagi malam berikutnya, dan malam sesudahnya. Maya datang ke tepi cahaya setiap kali kabut cukup tebal untuk membawanya kembali, dan setiap kali ia datang dengan pertanyaan yang lebih tajam. Kaba selalu menemaninya, duduk di batas lumut dengan tombak di pangkuan, menjadi penambat yang menahan Maya tetap di dunia sementara ia berbicara dengan yang sudah lama mati.
"Kau bilang bukan kekuatan yang menidurkannya pertama kali," kata Maya pada malam ketiga. Ia berlutut di lumut bercahaya, telapak tangan menempel di tanah. "Tapi kau tidak ingat apa. Kalau begitu, ceritakan apa yang kau lihat. Ceritakan saat sebelum kau menggali. Saat Yang Tertidur masih tidur dengan tenang. Bagaimana keadaannya saat itu?"
Sosok bungkuk itu bergetar di antara kabut. Kenangan tampak menyakitkan baginya, tetapi penyesalan membuatnya patuh. *Saat itu,* bisiknya, *hutan tidak sunyi seperti sekarang. Selalu ada suara. Pelan, terus-menerus, seperti detak. Aku dulu mengira itu suara angin di antara daun. Tetapi bukan.* Bayangan itu menunduk. *Itu adalah suara para penjaga. Mereka selalu bersenandung. Siang dan malam, turun-temurun, mereka menjaga sebuah nyanyian tetap mengalir ke jantung hutan.*
Maya menahan napas. "Nyanyian." Kata itu terasa asing dan akrab sekaligus di lidahnya, seperti nama yang pernah ia ketahui di masa kecil lalu lupa. Di telapak tangannya, kalung batu hijau berdenyut sekali, hangat, seakan kata itu membangunkan sesuatu yang tidur di dalamnya.
*Aku dulu menganggapnya kebiasaan tua,* lanjut si rakus, suaranya penuh sesal. *Aku pikir itu hanya ritual, takhayul, lagu yang dinyanyikan karena leluhur juga menyanyikannya. Aku tidak mengerti bahwa nyanyian itulah segelnya. Bukan tubuh para penjaga—itu datang kemudian, setelah aku merusak segala sesuatu. Pada mulanya, yang menidurkan Yang Tertidur hanyalah nyanyian. Sebuah lagu yang dinyanyikan tanpa putus, dari mulut ke mulut, dari ibu ke anak.*
"Lalu kau menghentikannya," kata Maya, mulai mengerti.
*Aku menggali,* bisik si rakus. *Dan dalam keserakahanku, aku memutus nyanyian itu. Aku menyuruh para penjaga berhenti, karena aku ingin mendengar suara tanah tanpa gangguan. Aku ingin kuasanya untuk diriku sendiri.* Bayangan itu bergetar hebat. *Saat nyanyian berhenti, Yang Tertidur mulai mengaduk. Saat ia mulai mengaduk, aku panik. Aku mencoba mengikatnya dengan paksa, dengan kekuatan tanah, dengan segala yang kuketahui. Tapi paksaan hanya membuatnya lebih lapar. Pada akhirnya, para penjaga yang tersisa harus mengorbankan tubuh mereka untuk menambal apa yang nyanyian dulu lakukan dengan lembut. Sejak itulah harga segel menjadi nyawa. Sejak itulah darah penjaga menjadi kutukan. Karena aku.*
Maya duduk diam, mencerna. Kabut bergerak pelan di antara mereka, dan dari batas lumut Kaba menatapnya, menunggu. Pemuda itu tidak bisa mendengar suara si rakus—hanya Maya yang bisa—tetapi ia membaca wajah Maya seperti orang membaca langit sebelum hujan, dan apa yang ia baca di sana membuatnya mencondongkan tubuh.
"Apa katanya?" bisik Kaba.
"Ia bilang segel yang sebenarnya bukan tubuh penjaga," kata Maya pelan, tanpa mengalihkan tatapannya dari sosok yang memudar di kabut. "Dulu, sebelum semua kekacauan ini, yang menidurkan Yang Tertidur hanyalah sebuah lagu. Para penjaga menyanyikannya tanpa henti, turun-temurun. Pengorbanan tubuh baru datang belakangan—setelah ia memutus lagu itu, dan para penjaga harus menambal kerusakan dengan nyawa mereka."
Mata Kaba melebar. "Maksudmu, kalau lagu itu ada lagi—"
"Mungkin tidak ada yang harus mati," Maya menyelesaikan untuknya. Kata-kata itu menggantung di udara dingin di antara mereka, terlalu besar untuk dipercaya, terlalu manis untuk tidak diharapkan. Akhirnya Maya berpaling kembali ke si rakus, dan bicara pelan, seakan menata kepingan-kepingan yang baru ia temukan.
"Jadi jalan pertama—mengorbankan tubuh menjadi segel—itu bukan cara yang asli. Itu hanya tambalan. Cara darurat yang dipakai para penjaga setelah kau memutus nyanyian." Ia menatap si rakus. "Cara yang asli, cara yang lembut, adalah menyanyikan nyanyian. Tanpa pengorbanan nyawa."
Mata si rakus berkilau dengan sesuatu yang mirip harapan dan rasa malu sekaligus. *Begitulah aku menyimpulkannya, terlambat. Tapi nyanyian itu hilang, anak. Aku yang menghilangkannya. Aku menyuruh orang berhenti menyanyi, dan dalam beberapa generasi, tak seorang pun ingat liriknya. Bahkan aku tidak. Aku hanya ingat bahwa nyanyian itu pernah ada.* Sosok itu mulai memudar lagi, seperti biasa, tak sanggup bertahan lama di tepi cahaya. *Itulah dosaku yang sebenarnya. Bukan hanya membangunkan Yang Tertidur. Tetapi menghapus satu-satunya cara untuk menidurkannya tanpa membunuh.*
"Tunggu," kata Maya cepat, mengejar bayangan yang menghilang. "Kalau nyanyian itu hilang, ke mana ia pergi? Sesuatu yang dinyanyikan turun-temurun tidak hilang begitu saja. Pasti ada bekasnya. Di suatu tempat."
Si rakus berhenti memudar. Untuk sesaat, matanya yang penuh penyesalan menatap Maya dengan intensitas baru. *Kalung,* bisiknya. *Kalung yang kaupegang itu dibuat oleh penjaga pertama, sebelum aku. Ia menyaksikan nyanyian itu utuh. Ia mengingat setiap tangan, setiap suara.* Bayangan itu hampir lenyap. *Jika nyanyian masih ada di mana pun di dunia ini, ia ada di sana, anak. Terkubur di antara ingatan kalung. Tapi gali dengan hati-hati. Ingatan yang sangat tua tidak diserahkan dengan cuma-cuma.*
Lalu ia hilang sepenuhnya. Maya menatap kalung di telapak tangannya. Batu hijau berurat keemasan itu terasa lebih berat dari sebelumnya, seakan baru saja diberitahu beban yang ia simpan. Di kejauhan, daun-daun hutan bergemerisik, dan Maya bersumpah, untuk pertama kalinya, ia mendengar di balik gemerisik itu sebuah nada. Samar. Putus-putus. Seperti potongan lagu yang separuh diingat oleh seseorang yang sedang bermimpi.