Maya mulai menggali ingatan kalung keesokan harinya, di lubuk yang sunyi, dengan Penjaga sebagai saksi dan Kaba sebagai penambat. Ia tidak tahu cara melakukannya dengan benar. Sejauh ini, kalung selalu menunjukkan ingatannya sendiri—wajah, peta, nama—tanpa diminta. Sekarang ia harus mencari sesuatu yang sengaja tersembunyi, terkubur di bawah lapisan-lapisan tujuh generasi.
*Untuk mengingat yang sangat tua,* getar Penjaga lemah, *kau harus membiarkan kalung mengingat melaluimu. Itu artinya kau harus membuka dirimu padanya. Dan apa pun yang terbuka, bisa diambil.*
"Diambil oleh apa?" tanya Kaba dari sisi lubuk, suaranya tegang.
*Oleh ingatan itu sendiri,* jawab Penjaga. *Yang sangat tua menuntut tempat untuk tinggal. Setiap pecahan nyanyian yang Maya tarik dari kalung akan menempati sebagian dari dirinya. Dan apa yang ditempati, harus dikosongkan lebih dulu.*
Maya mengerti maksudnya sebelum Penjaga selesai. Harga. Selalu ada harga. Ia menatap tangannya yang terbalut kain, tangan yang ujung jarinya sudah berkelip kabut. "Sepotong tubuh untuk setiap pecahan nyanyian," katanya pelan.
*Begitulah hukum tanah,* getar Penjaga, dan dalam getaran itu ada kepedihan. *Tak ada yang gratis. Bahkan ingatan.*
Kaba bangkit, melangkah ke dekat Maya, dan berlutut di hadapannya. Ia menggenggam pergelangan tangan Maya, yang kelip-kelipnya tak lagi ia sembunyikan dari Kaba. "Kalau kau harus membayar," kata pemuda itu, suaranya rendah dan keras, "biarkan aku menahanmu. Seperti latihan dulu. Kau bilang kehadiran orang yang kaupercaya memperlambat peluruhan. Maka aku di sini. Selama aku memegangmu, kau tidak akan luruh terlalu jauh."
Maya menatap matanya. Ada sesuatu yang ia ingin katakan, sesuatu tentang betapa ia tidak sanggup membayangkan melakukan ini tanpa Kaba, tetapi kata-kata itu terlalu besar untuk diucapkan. Maka ia hanya mengangguk, dan menutup matanya, dan membuka dirinya pada kalung.
Dunia luruh. Maya tidak lagi merasakan lubuk, tidak lagi merasakan tangan Kaba—atau merasakannya hanya seperti tali tipis yang mengikatnya ke suatu tempat yang jauh. Ia jatuh ke dalam batu hijau, ke dalam lautan ingatan yang gelap dan dalam. Wajah-wajah melintas, suara-suara, tangan-tangan yang pernah memegang kalung ini. Ia melewati ibunya—sekejap, hanya sekejap, sebuah wajah muda yang penuh harapan—dan dadanya nyaris meledak oleh kerinduan, tetapi ia memaksa diri terus turun, lebih dalam, ke masa yang lebih tua.
Lalu ia mendengarnya. Sebuah nada. Lemah, jauh, seperti suara yang datang dari dasar sumur. Sebait lagu, dinyanyikan oleh suara perempuan yang sudah berabad-abad mati. Maya tak mengerti kata-katanya—bahasa itu lebih tua daripada bahasa desa, lebih tua daripada nama-nama di tugu—tetapi ia merasakan maknanya: sebuah lagu untuk menidurkan. Sebuah lagu untuk menenangkan yang lapar. *Tidurlah, tidurlah, yang berakar di bawah napas...*
Maya berenang ke arah nada itu, melewati lapis demi lapis ingatan yang lebih muda. Setiap lapis menariknya untuk berhenti—wajah seorang penjaga yang menangis, sebuah tangan tua yang menggenggam kalung saat sekarat, sekilas lubuk yang dulu hijau dan ramai. Tetapi ia memaksa diri terus, menuju suara perempuan yang bersenandung di kedalaman, sampai akhirnya nada itu cukup dekat untuk disentuh.
Saat jarinya menyentuhnya, ia merasakan pecahan nyanyian itu masuk ke dalam dirinya, menempati ruang di dadanya—dan pada saat yang sama, ia merasakan harganya dibayar. Sebagian dari telapak tangan kirinya menghangat, lalu mendingin, lalu menghilang menjadi kabut yang terurai di udara ingatan. Sakit. Tidak seperti luka pisau, melainkan seperti kehilangan—seperti melupakan nama seseorang yang kaucintai, lalu menyadari kau telah melupakannya. Untuk sesaat ia hampir kehilangan dirinya di dalam ingatan itu, hampir lupa jalan pulang—lalu tali tipis yang mengikatnya menarik kencang, dan ia mendengar suara Kaba memanggil namanya dari dunia yang jauh, dan ia mengikuti suara itu kembali ke permukaan.
Maya tersentak kembali ke lubuk, terengah-engah. Kaba masih memegang pergelangan tangannya, wajahnya pucat. Maya menatap tangan kirinya. Tiga jari terakhir kini setengah tembus pandang, berkelip kabut kelabu, ujung-ujungnya menghilang ke udara seperti asap.
"Apa kau mendapatkannya?" bisik Kaba.
Maya mengangguk pelan. Di dalam dadanya, pecahan nyanyian itu berdenyut, hidup, sebait kecil dari sesuatu yang jauh lebih besar. Ia bisa menyanyikannya sekarang, jika ia mau—nada-nada itu menempel di lidahnya seperti ingatan yang baru lahir.
"Satu pecahan," katanya, suaranya bergetar. Ia memandang tangannya yang luruh, lalu memandang kalung yang masih menyimpan begitu banyak ruang gelap di dalamnya, begitu banyak bait yang belum ia gali. "Dan aku tidak tahu berapa banyak lagi yang harus kukumpulkan. Atau berapa banyak dari diriku yang masih tersisa ketika nyanyian itu utuh."
Penjaga bergetar lemah dari batangnya, dan getarannya kini lebih pelan dari sebelumnya, seakan menyaksikan Maya menggali ingatan telah ikut menguras sisa hidupnya. *Berhati-hatilah, anak,* bisiknya. *Aku menyaksikanmu hampir tersesat di dalam sana. Setiap pecahan akan menyeretmu lebih dalam ke masa lalu kalung. Suatu saat, masa lalu itu akan terasa lebih nyata daripada masa kini. Saat itu tiba, hanya jangkarmu yang bisa menarikmu kembali. Jangan pernah menggali tanpa Kaba di sisimu.*
Maya mengangguk, terlalu lelah untuk bicara, dan menatap tangannya yang luruh.
Kaba menggenggam tangan itu, tidak menarik diri meski jari-jari Maya kini terasa seperti memegang kabut. "Maka kita kumpulkan bersama," katanya. "Dan kita hitung harganya bersama. Kau tidak akan membayarnya sendiri."
Di atas mereka, daun-daun Pohon Raksasa bergemerisik, dan Maya bersumpah ia mendengar lubuk itu ikut bersenandung, sangat pelan, seakan tanah sendiri sudah lama menunggu seseorang mulai menyanyi lagi.