"Kau jangan mengada-ada, Kia. Bagaimana mungkin wanita itu...?"
Kiara menarik nafasnya dalam. "Aku nggak mengada-ada, Jo. Aku sendiri yang melayani mereka kemarin. Hanya saja aku nggak punya kamera buat fotoin mereka. Pokoknya kau bujuk papamu biar nggak nikah sama dia, semua demi keselamatanmu, Jo. Wanita itu jauh lebih buruk dari bayangan ibu tiri yang paling buruk sekalipun yang pernah ada di dongeng dan kehidupan nyata. Aku nggak mau kau kenapa-napa, Jo."
"Kau tau dari awal juga aku memang menolak mereka, Kia. Tapi sepertinya mereka tidak mendengarku."
"Lakukan apapun, Jo. Cara paling buruk juga menurutku tidak apa."
Joanna mengangguk pasrah. Bagaimana mungkin wanita yang akan dinikahi papanya itu adalah ibu tiri Kiara. Rasanya seperti mimpi. Dunia ini sangat sempit ternyata. Jika sampai itu terjadi, maka secara tidak langsung mereka akan jadi saudara tiri walau Kiara tak pernah dianggap anak oleh wanita itu. Tapi bukan itu yang mereka takutkan. Yang paling ditakutkan adalah Joanna mengalami hal buruk sama seperti Kiara. Ya, mereka tidak bisa sih memperkirakan apa yang akan terjadi ke depannya. Tapi lebih baik mencegah saja.
"Bagaimana dengan temanmu itu? Kau sudah memberitaunya?" tanya Evans saat Kiara tiba sore hari di cafe.
Kiara mengangguk. "Ya, aku sudah kasih tau dan meminta Joanna untuk membujuk papanya lagi. Aku benar-benar tidak ingin Joanna mengalami hal yang sama denganku."
"Yang penting kau sudah berusaha membantunya. Dengan memberitaunya hal itu, sudah sangat membantu. Mungkin temanmu itu bisa menceritakan tentangmu untuk mengubah keputusan papanya. Entahlah, kakak juga tidak tau apa yang akan terjadi nanti." Evans bangkit dari duduknya. "Kau masih ingin kerja?"
Kiara menatap Evans, dan bangkit dengan cepat. Matanya menatap tanpa berkedip. Kaget sekaligus takut. Kalimat itu terdengar seperti Evans sedang memecatnya. Memangnya kesalahan apa yang sudah dia perbuat hingga dia dipecat?
Evans tertawa kecil dan mengacak rambut Kiara. "Maksud kakak, kau masih ingin di cafe malam ini atau mau istirahat saja?" Tatapannya sangat lembut pada Kiara.
Kiara menarik nafas lega, kemudian mengangguk. Hampir saja dia ingin berteriak kalau Evans tidak menjelaskan maksud kalimat ambigunya itu. "Iya kak. Masih mau bantuin. Siapa tau aja mendatangkan rezeki yang banyak," goda Kiara.
"Ya sudah, kakak mau ke atas dulu." Evans berlalu dari hadapan Kiara. Ditatapnya punggung pria tampan itu. Dari belakang saja pria itu sangat mempesona. Apalagi dari depan. Benar kata Joanna, jangan sampai dia menyesal nanti telah menolak pria itu. Tapi dalam hatinya masih kekeuh ingin menghindari hubungan asmara. Bukan hanya karena Evans bosnya, tapi dengan siapa saja, Kiara masih belum ingin.
***
"Yang menjadi tugas paling penting saat ini adalah merayu Rusdin sampai menikah dengan mama. Mama sudah tau dimana Kiara bekerja, jadi nanti kita tinggal laksanakan rencana untuk membuatnya musnah saja. Tidak perlu susah-susah mencarinya dan membuang-buang waktu juga uang." Salsa tersenyum pada kedua putrinya.
"Lalu kapan mama akan menikah dengan pria itu?" tanya Lala.
"Tapi ma, bukannya pria itu punya tiga anak ya? Nanti bagaimana kalau saat dia meninggal, dia nggak ngasih warisan sama kita? Percuma dong mama susah-susah menikahinya." Kali ini Luna, si sulung yang bertanya.
"Itu makanya nanti setelah menikah, mama akan merayunya selalu. Bila penting, kita cari cara lain yang akan membuatnya patuh pada kita." Pandangan Salsa berpindah ke objek lain, memikirkan cara apa yang bisa dia lakukan nanti jika sudah menikah dengan Rusdin.
"Ma, ada telepon tuh," kata Lala. Ponsel Salsa berdering menandakan ada panggilan masuk.
Salsa berjalan cepat meraih ponselnya dan tersenyum sumringah saat menyadari siapa yang meneleponnya.
"Hallo, sayang," sapanya manja.
"..............."
"Apa?"
"..............."
"Loh, kok gitu sih, sayang? Kan kamu yang udah janji mau nikahin aku secepatnya. Nggak bisa gitu dong, kamu mutusin sesuka kamu. Aku juga punya perasaan, sayang. Hiks hiks hiks." Salsa mengeluarkan jurus andalan kebanyakan wanita. Menangis. "Kamu tega banget sih? Memangnya aku salah apa sampai kamu mutusin gitu? Aku kan nggak berbuat hal yang macam-macam."
"..............."
"Kamu bujuk dong anak-anak kamu, masa tidak mau sih ayahnya bahagia, setidaknya di usia tua seperti ini kan kamu bisa menikmati hidup kamu."
"..............."
"Ya sudah, aku tunggu kabar baiknya ya. Bye, sayang." Salsa melemparkan ponselnya ke sofa saat panggilan itu terputus. Menghempaskan tubuhnya dengan kasar, membuat kedua putrinya cepat-cepat duduk di sebelahnya.
"Berani sekali dia mutusin mama. Katanya anaknya tidak setuju. Bukannya kemarin-kemarin sudah pada setuju yah. Huh, cari-cari alasan saja dia."
"Yah, gimana kalau beneran batal ma?" tanya Lala.
Salsa tersenyum licik. "Tidak akan mama biarkan, sayang. Bagaimanapun caranya, akan mama paksa dia kembali dengan mama. Membunuh anaknya juga tidak apa."
"Mama tidak punya cadangan lain gitu, ma? Gimana kalau dia benar-benar mutusin mama? Hm, anak cowoknya udah menikah belum ma?" cecar Luna.
"Sayangnya anak cowoknya udah nikah, sayang. Sepertinya kalian berdua juga harus secepatnya mencari pria kaya. Berjaga-jaga kalau Rusdin tetap membatalkan pernikahan." Kedua putrinya berpikir sejenak, lalu mengangguk.
***
"Hm, Kia. Kakak punya sesuatu buatmu."
"Apaan kak?" tanya Kiara sambil mendekati Evans yang berdiri di depan pintu kamarnya. Kedua tangannya bersembunyi di belakang punggungnya. Pasti sesuatu yang dia maksudkan ada di sana.
Kiara memiringkan tubuhnya mencoba mengintip apa yang ada di balik punggung itu. Dia tidak bisa melihatnya karena Evans selalu menghindar dan menggagalkan aksinya.
"Tada!" sebuah kotak yang dari luar saja sudah bisa menebak apa isinya. Suatu benda bermerek yang banyak dipakai orang jaman sekarang ini. "Ini buat kamu, biar kakak nggak bingung mau hubungin kamu gimana. Kamu bahkan tidak memperbaiki ponselmu sama sekali," jelas Evans.
"Ya ampun kak. Tapi, tapi ini berlebihan, kak."
"Cukup perasaan kakak aja yang kamu tolak, Kia. Jangan menolak hadiah dari kakak juga. Kakak anggap ini kado ulang tahun kamu saja. Kakak tarik apa yang kakak lakuin dulu juga omongan kakak. Hadiah kamu adalah ini."
Kiara mendadak kaku. Kepalanya menunduk bahkan belum menerima hadiah mahal itu. Pria ini berhenti mencintainya? Itu membuat hatinya terasa nyeri. Teringat akan kata-kata sahabatnya, ia akan menyesal telah menolak Evans. Bukan karena Evans memilih gadis lain atau diembat gadis lain, tapi malah pria ini memilih menarik kembali pernyataan cintanya. Dia berhenti. Tapi, apakah Kiara mencintainya? Lalu bagaimana dengan nasibnya nanti? Ah, Kiara bingung. Berbagai macam pertanyaan muncul di benaknya. Belum lagi rasa sakit akan kenyataan.
"Kenapa? Kamu nggak suka?" tanya Evans membawa Kiara kembali ke alam nyata.
"Bukan tidak suka, kak." Kiara meremas jemarinya. Bingung harus mengatakan apa.
"Tidak ada penolakan, Kia. Kakak senang kalau kamu menerimanya." Evans menarik satu tangan Kiara lalu meletakkan kotak itu di sana. "Jangan lupa menyimpan nomor kakak di dalam," lanjutnya dan berbalik meninggalkan Kiara yang mematung. Hatinya sendiri juga tertohok saat mengucapkan kata-katanya tadi. Menarik kembali pernyataan cintanya? Kalimat macam apa itu? Dia bahkan sudah jatuh terlalu dalam pada pesona Kiara yang polos.
Kiara memutar tubuhnya, berjalan gontai menuju kasur queen size berlapis bed cover coklat itu. Meletakkan kotak yang diterimanya di nakas dan membaringkan tubuhnya.
Kiara memikirkan dirinya sendiri. Mengapa hatinya bisa sesakit ini? Dia mengakui kalau dia memang menyukai Evans, tapi tidak bisa menyimpulkan apakah itu cinta atau tidak. Dia sendiri belum pernah mengalaminya sebelumnya. Dia teringat bagaimana manisnya saat bibir Evans dengan lembutnya membelai bibirnya. Oh, tidak. Aku pasti sudah gila, batin Kiara.
Menarik nafas panjang, mencoba memejamkan matanya. Tidak ada niat sama sekali mengeluarkan isi kotak itu. Kalau harus menggunakannya, dia pasti akan teringat dengan pernyataan cinta Evans.
"Pagi, Kia. Tidurmu nyenyak?" sapa Evans saat Kiara masuk ke dapur. Kiara melirik jam tangannya. Tidak salah, ini masih jam enam pagi dan Evans sudah ada di dapur?
"Memangnya ada masalah kalau kakak ada di sini jam enam pagi?" tanya Evans melihat sikap Kiara.
Kiara menggeleng. "Nggak sih kak, tapi nggak biasanya kakak sepagi ini ke dapur. Biasanya juga aku duluan." Kiara memilih duduk di salah satu kursi setelah mengambilkan air mineral dari kulkas, tanpa berniat membantu Evans. "Kakak masak apa?" tanyanya sambil memainkan gelasnya.
"Tidak terlalu istimewa, hanya omelette dan kakak juga tidak yakin akan seenak masakanmu biasanya."
Kiara mendengus. "Bagaimana mungkin masakan kakak tidak enak, tapi kakak membuka cafe? Kan tidak lucu? Sudah pasti masakan kakak jauh lebih enak dibandingkan aku yang biasanya hanya memasak masakan rumahan saja."
"Kakak buka cafe kan bukan kakak yang memasak. Kakak membayar mahal para koki handal itu. Lagian kakak buka cafe juga karena tidak bisa berpikir melakukan apa-apa lagi untuk kelangsungan hidup. Kamu tau, kakak hanya sebentar duduk di bangku kuliah sepertimu, jadi siapa yang mau mempekerjakan kakak? Palingan hanya jadi kuli bangunan, dan kakak akan dipecat di hari pertama karena tidak becus sama sekali. Kalau seperti ini kan, tidak ada yang berhak memecat kakak," jelas Evans sambil terus fokus pada masakannya.
"Setidaknya selera kakak akan makanan masih bagus. Bisa memberikan komentar bagus terhadap rasa masakan walaupun tidak terlalu jago membuatnya. Mengenali bahan masakan saja sudah cukup bagus. Dan buktinya, kakak juga pernah kan menciptakan resep baru," balas Kiara tak ingin kalah. Bagaimana mungkin seseorang membuka cafe tanpa mengerti tentang masakan.
"Ya, terserah kamu lah." Evans meletakkan hasilnya di dalam dua piring yang sudah diberi tomat dan mentimun, menaruh saus di atasnya dan meletakkannya di meja. Satu di antaranya di taruh di hadapan Kiara. "Cobalah, tapi jangan menyemburkannya ke wajah kakak jika tidak enak," perintahnya.
Kiara menatap bosnya itu dengan tatapan sengit. "Memangnya aku sejahat itu apa?" katanya. Tangannya kemudian bergerak memotong kecil omelette dan melahapnya. Meneliti rasa di dalam mulutnya. Kemudian mengangkat kedua tangannya yang mengacungkan jempol. "Ini keren, kak. Mantep banget," pujinya tulus. Rasa masakan itu memang enak, dan entah kenapa sesuai dengan selera Kiara. Sedikit asin dan ditambah pedas dari saus cabe di atasnya. Dia suka.
"Jangan terlalu berlebihan. Kalau memang tidak enak, kakak akan buatkan sandwich saja untukmu."
Kiara menggeleng. "Aku tidak berlebihan kak, ini memang enak dan sesuai dengan seleraku. Kakak jago masak, dan kakak tau kan kalau cowok yang bisa memasak itu seksi dan pasti menjadi calon suami idaman." Kiara tidak sadar atau keceplosan, kalimatnya tadi membuat Evans menatapnya dalam.
Kiara menghentikan aksi makannya saat menyadari tatapan Evans yang intens padanya. "Ada yang salah, kak?" tanyanya.
Evans tersenyum dan menggeleng. Dia tau pasti kalau Kiara tidak sadar akan ucapannya. "Habiskan saja makananmu. Jangan membuang-buang makanan, di luar sana ada banyak orang yang tidak bisa makan," jawabnya. Dia juga ikut melahap hasil masakannya, apakah benar seperti apa yang dikatakan Kiara tadi.
"Kak, minggu depan bisa cuti nggak dua minggu?"
"Dua minggu? Memangnya kau mau kemana cuti selama itu? Kau mau liburan lagi atau mau apa?" tanya Evans bingung. Tentu saja bingung, kenapa Kiara berubah jadi seperti ini, mudah sekali meminta cuti. Bukan marah, hanya saja Kiara seperti bukan Kiara yang selama ini.
"Bukan mau kemana-mana, kak. Aku tetap di sini. Minggu depan kami ujian semester. Hanya ingin lebih fokus saja, ini sudah semester empat," jelas Kiara.
Evans tersenyum lega, kiara tidak berubah seperti yang dia tuduh. Memang harusnya Kiara juga lebih fokus pada kuliahnya. Tapi, kalau tidak bekerja tidak ada dana juga untuknya kuliah.
Evans jadi menyayangkan dirinya yang tidak memanfaatkan harta orang tuanya dulu untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi. Tapi dia juga tidak sepenuhnya salah, dia membutuhkan kasih sayang juga dari kedua orang tuanya. Bukan hanya uang, uang dan uang seperti yang dia dapatkan. Membayar orang lain untuk merawatnya. Ah, dia merindukan bik Hanna yang merawatnya sejak kecil.
"Aku janji kak, nanti saat liburan aku akan sepanjang hari bekerja, menggantikan dua minggu itu. Liburannya cukup panjang, jadi aku pikir cukup untuk menggantikannya kak," bujuk Kiara lagi.
Evans terdiam melihat aksi Kiara ini. Sedemikian bersemangatnya gadis ini membiayai hidupnya sendiri.
"Tapi kalau kakak nggak ijinin juga nggak apa-apa deh. Aku juga nggak maksa kok. Hanya coba saja tadi," kata Kiara lemas karena tidak ada jawaban juga dari Evans. Mempersiapkan dirinya untuk dibanting saat ujian nanti.
"Memangnya kakak melarang? Kau cuti saja dulu. Kakak mengerti kalau kau juga harus memperjuangkannya. Bekerja kembali saat ujianmu sudah selesai."
Kiara tersenyum sumringah. "Beneran kak?" tanyanya memastikan. Evans mengangguk. Bosnya memang bos paling baik di dunia. Cari dimana-mana sepertinya tidak akan menemukan bos sebaik ini. The one and only, Evans Rodriguez.
Bekerja pagi ini sepertinya Kiara bersemangat sekali. Suasana cafe baginya sudah kembali seperti semula, menyenangkan. Berlari kesana kemari melayani pelanggan cafe, tanpa ada merasa lelah. Padahal nanti siang dia harus ke kampus. Semua temannya bahkan Evans juga melihatnya sambil menggelengkan kepala.
"Sepertinya ada sesuatu yang membuatmu begitu senang." Salah seorang dari temannya menanyakan Kiara. Kiara hanya membalasnya dengan senyuman manisnya.
Hari-hari berjalan sangat cepat, tak meninggalkan bekas. Ujian semester sudah dilewati Kiara bersama teman kampusnya. Dia sudah memberikan yang dia mampu.
"Bagaimana ujianmu hari ini?" tanya Evans.
Ini adalah hari terakhir ujian Kiara. "Biasa aja, kak," balasnya dengan senyum tipis.
"Ya sudah, istirahat saja dulu. Oh iya, udah makan siang belum?"
"Sebentar lagi, kak. Mau istirahat aja dulu." Kiara meninggalkan Evans bersama teman karyawan lainnya di bawah. Ia ingin istirahat dulu, ujian tadi cukup menguras tenaganya setelah semalam dia juga menghabiskan waktu dengan belajar.
Setelah mengganti setelan kuliahnya dengan pakaian rumahan, kaos dengan celana pendek, Kiara merebahkan tubuh lelahnya di kasur. Ujian sepertinya lebih menguras tenaganya dibandingkan berada di cafe, mengenakan seragamnya.
"Kia, bangun!" Evans mengguncang tubuh Kiara. Ini sudah jam tujuh malam, dan Kiara masih tertidur di kamarnya, bahkan melewatkan makan siangnya. Apakah dia selelah itu?
Kiara menggeliat. Membuka matanya perlahan. "Hm..."
"Ini sudah jam tujuh malam, Kia. Kamu bahkan belum makan siang."
Kiara terduduk dengan wajah masih mengantuk. Entahlah, sepertinya dia memang cukup lelah. Apa mungkin ada hal lain yang membuatnya seperti ini?
"Kamu tumben sekali seperti ini. Ujianmu ada masalah?" tanya Evans.
Kiara menggeleng, kemudian merangkak turun dari kasurnya. Menuju kamar mandi yang ada di sudut ruangan itu. Evans hanya memandanginya.
Usai mandi, Kiara baru sadar kalau dirinya bahkan tidak membawa handuk ke kamar mandi. Membuka pintu kamar mandi dan mengintip apakah Evans masih ada di kamarnya. Ternyata pria itu masih duduk dengan tenangnya di sana. Ah, bagaimana ini? Kak Evans ngapain masih di sini sih? batin Kiara.
"Kak," cicit Kiara.
Evans menoleh dan menemukan hanya sebagian wajah Kiara yang menyembul dari balik pintu kamar mandi. Evans bisa menebak kalau gadis itu kelupaan membawa handuknya. Evans berdiri dan mengambilkan bathrobe yang digantung di lemari Kiara. Menyerahkannya pada Kiara.
Dengan wajah memerah, Kiara menerimanya dan segera menutup pintu kamar mandi.
"Apa ada yang ingin kakak bicarakan sampai menunggu aku selesai mandi?" tanya Kiara mencoba normal saja, walau masih merasa malu atas ketelodorannya tadi. Tangannya merapatkan bathrobe yang dia gunakan. Akan lebih malu kalau ada sesuatu yang mengintip dari pakaian itu.
"Kamu ada masalah apa sebenarnya? Wajahmu menunjukkan kalau kamu bukan hanya lelah ujian saja. Apa ada sesuatu yang serius?" tanya Evans. Mata coklatnya menunjukkan kalau dia sedang serius.
"Tidak ada apa-apa, kak. Tidak ada masalah. Aku hanya lelah karena ujian dua minggu ini saja," bohong Kiara. Beberapa hari belakangan ini memang ada sesuatu yang mengganjal hatinya. Dia hanya mencoba melupakannya dan fokus dengan ujian yang sedang dijalaninya.
"Kamu nggak bisa bohongin kakak, Kia. Kakak udah sangat kenal dengan kamu. Ada apa sebenarnya? Mungkin kakak bisa membantu. Kalaupun tidak, setidaknya kamu merasa lega telah berbagi. Kamu tau kan kalau dengan berbagi, beban pikiran kita bisa berkurang," bujuk Evans.
Kiara menarik nafas dalam. Susah membohongi pria satu ini, tetapi tidak ingin juga memberitahukannya. Diliriknya mata Evans, mencari tau ekspresi pria itu.
"Atau kamu nggak percaya sama kakak?"
Kiara menggeleng cepat. "Bukan, kak. Aku percaya sama kakak. Sangat."
"Lalu kenapa?"
Lagi-lagi Kiara menarik nafas. "Sebenarnya, bukan hanya masalahku saja, kak. Tapi, tante Salsa memutuskan menikah dengan papa Joanna. Dia nggak berhasil ngebatalin pernikahan itu."
"Hai, Jo. Kenapa murung begitu? Om udah ngambil keputusannya?"
Joanna memeluk sahabatnya. Kiara yang dipeluk hanya bisa memberikan elusan lembut di punggung Joanna. Dari wajah Joanna sebelumnya, sepertinya Kiara sudah bisa menebak apa yang terjadi. Tapi, apa dengan cerita hidup Kiara, papa Joanna masih ingin menikahi wanita itu?
Kiara melepas pelukannya setelah merasa Joanna lebih tenang. Ternyata gadis itu mengeluarkan air matanya dalam diam. Kiara menghapus air mata sahabatnya itu. Mengelus bahu Joanna lagi.
"Kalau memang belum siap cerita, tidak apa kok. Tapi jangan terlalu dibawa pikiran dulu sekarang, kita lagi masa-masa ujian ini."
"Papaku sama sekali nggak membatalkan pernikahan itu, Kia. Awalnya papa memang udah nelpon tante Salsa malam itu. Tapi entah apa yang dilakuin tante Salsa, esok harinya papa bilang kalau dia akan tetap menikah dengan tante Salsa."
Joanna menghapus air mata yang kembali mengaliri pipinya. Tidak ingin menjadi tontonan di kampus. Terlebih mengetahui masalah keluarganya.
"Kayaknya aku mau pindah aja, Kia. Aku nggak mau tinggal seatap dengan mereka. Aku belum siap menerima mereka. Tapi nanti saja, setelah ujian ini."
"Tapi mau tinggal dimana, Jo? Lagipula kau masih tergantung sama om. Terus apa yang kau mau lakuin?"
"Nggak usah khawatirin aku, Kia. Aku baik-baik aja. Mungkin akan pakai tabungan dulu jika papa tidak memberikannya. Tidak perlu terlalu memikirkan masalah uang dan tempat tinggal."
"Tapi mau sampai kapan, Jo? Tidak mungkin kau menghabiskan tabungan hanya untuk seperti itu."
"Tidak masalah jika papa bisa mempertimbangkannya."
Kiara memeluk sahabatnya itu. "Yang sabar ya, Jo." Ada perasaan tidak rela dalam dirinya jika sahabatnya itu akan mengalami hal yang sama dengannya.