Pesta itu berlangsung cukup meriah walau tidak banyak undangan. Mereka menikmatinya dengan keadaan yang sangat intim. Keluarga dan beberapa kerabat saja yang diundang. Joanna sendiri juga tidak berada di tempat itu, menyaksikan ayahnya yang kembali terikat pernikahan. Kedua kakaknya sudah mencoba menghubunginya, tapi dia mematikan ponselnya, tidak ingin diganggu apalagi diingatkan akan pernikahan kedua ayahnya. Bukan tidak ingin ikut bahagia seperti ayahnya, tapi jika dengan wanita itu, sampai kapanpun dia tak akan pernah rela. Meski konsekuensinya adalah namanya tercoreng dari daftar ahli waris kekayaan ayahnya. Pengalaman Kiara baginya sudah cukup untuk menjadi alasan tidak menerima wanita itu. Apalagi pertama kali bertemu dengannya, tatapan wanita itu sudah menunjukkan peperangan baginya.
"Kau baik-baik aja, Jo?" tanya Kiara yang sedang mengunjungi sahabatnya itu.
Joanna mengangguk. "Lebih dari sekedar baik, Kia. Aku sangat baik."
"Kau bukan pembohong yang cukup baik, Jo. Wajahmu menunjukkan kesedihan. Apa yang aku ingin aku lakukan untukmu? Aku bersedia, Jo."
Joanna menggandeng tangan Kiara. "Aku baik-baik aja, Kia. Hanya sedikit butuh hiburan. Dan aku sedang merencanakan liburan sendiri ke pantai. Aku harap kau tidak menghalangiku pergi. Aku akan lebih baik saat kembali dari sana nanti. Percayalah, Kia. Aku bukan seorang Joanna yang lemah lagi."
"Baiklah. Memangnya kapan kau akan pergi? Mungkin aku bisa mengantarkanmu."
"Aku tidak apa-apa, Kia. Kau jangan menghabiskan waktumu untuk hal yang sia-sia seperti ini. Tidak lama lagi kita akan bayaran, kau butuh bekerja ekstra, Kia."
"Mungkin kau juga sudah lupa, aku sekarang hidup sendiri dan tidak perlu menghidupi tiga wanita sok putri itu lagi. Aku minta maaf telah membuatmu menjadi seperti ini, tidak bisa mencegah pernikahan itu terjadi. Aku minta maaf."
"Kau tidak perlu merasa bersalah, Kia. Kau sudah melakukan apa yang seharusnya kau lakukan. Itu sudah sangat cukup. Sekarang kembalilah ke cafe. Kak Evans mungkin akan mencarimu atau bahkan sudah mencarimu sekarang. Kau kabur begitu saja darinya. Aku akan pergi siang ini juga, mungkin beberapa hari ke depan akan menginap di sana. Jangan mencariku kemari."
"Baiklah, aku percaya padamu. Jika terjadi apa-apa atau butuh bantuan, hubungi aku. Jangan pernah menyembunyikan apapun dariku, Jo."
Joanna tersenyum dan mengangguk.
Kiara memeluk sahabatnya itu. "Aku pulang dulu. Ingat, hubungi aku jika ada apa-apa. Aku akan menyiksamu jika kau tidak melakukannya. Kau tau, aku sudah banyak belajar bagaimana caranya menyiksa orang lain," canda Kiara.
Kiara keluar dari penginapan itu. Beberapa hari ini Joanna memang tinggal di penginapan karena masih belum menemukan kosan yang tepat. Kiara ingin mengajaknya tinggal di cafe, tapi tidak enak dengan Evans yang sudah banyak mendapat kesulitan karena Kiara, apalagi harus membawa Joanna lagi. Joanna sendiri juga pasti akan menolak idenya itu mentah-mentah. Joanna bukan sosok yang suka menyusahkan orang lain. Apalagi dia sudah mengetahui kondisi Kiara selama ini. Kiara saja sudah kesulitan dengan hidupnya sendiri. Dia tidak akan semakin menyusahkan sahabatnya itu.
"Bagaimana keadaan temanmu? Apa dia baik-baik saja?" tanya Evans saat melihat Kiara muncul di pintu cafe.
Kiara mengangguk lemah. "Dia baik-baik saja, kak. Hanya katanya butuh hiburan, jadi dia ingin ke pantai selama beberapa hari ini. Aku sudah mengingatkannya untuk segera menghubungiku jika terjadi sesuatu, aku percaya padanya."
"Ya sudah jika memang begitu. Kamu sudah berjanji bukan untuk bekerja ekstra selama liburan ini?" seloroh Evans.
"Tenang saja, kak. Aku tidak akan melupakan janjiku. Apalagi aku sangat butuh uang dalam dua bulan ke depan. Tidak mungkin aku mangkir dengan mudahnya."
Evans tertawa kecil. "Kakak tau. Ya sudah, sebaiknya kamu sarapan dulu sebelum memulai pertempuran hai ini. Kakak tidak ingin melihatmu jatuh pingsan saat masih mengenakan seragammu. Itu akan memalukan. Orang-orang akan berpikir kalau kakak tidak memberikanmu makanan atau tidak mengijinkanmu istirahat sejenak hanya untuk makan. Dan kamu tau kakak membenci kondisi itu."
"Siap bos," seru Kiara dengan semangatnya. Dengan langkah seribu, dia menaiki anak tangga menuju ke kamarnya. Sejak tinggal di cafe, dia sudah menaruh seragamnya di kamar saja. Tidak perlu ke ruang ganti lagi.
"Kiara, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya suara berat yang ada di hadapan Kiara saat dia masih menuliskan pesanan orang itu. Tadi Kiara sama sekali tidak memperhatikan wajah orang di hadapannya. Profesionalitas kerja.
Kiara menoleh dengan cepat, meninggalkan buku pesanan yang ada di tangannya. suara berat itu sepertinya dia sangat kenal. "Pak Andre?" Kiara menundukkan kepala untuk sopan santun. Bagaimanapun dia adalah mahasiswa dari pria di hadapannya. "Hm, saya sedang bekerja, pak," balasnya dengan gugup saat mengingat kembali pertanyaan pria itu tadi.
Andre yang terkenal jenius itu menyadari pertanyaan bodohnya. Senyuman tipis tersungging di bibir sexy-nya. Sudah melihat Kiara mengenakan seragam pelayan, masih saja mengeluarkan pertanyaan itu. Tapi wajar saja karena dia sendiri tidak menyangka akan hal itu.
"Sudah berapa lama kamu bekerja di sini?" tanya Andre lagi. Ada rasa penasaran di dalam dirinya, ingin mengetahui lebih tentang gadis di depannya. Sejak pertama kali melihatnya, rasa itu sudah muncul. Penasaran.
"Sudah dua tahun lebih, pak. Maaf, pesanannya silahkan ditunggu sebentar." Kiara berlalu dari hadapan Andre. Dalam hatinya merutuki, kenapa dia bisa bertemu dengan pria dingin dan kejam itu di tempat kerjanya. Memang tidak ada larangan bagi pria itu untuk berada di tempat ini, dan itulah yang membuat Kiara kesal. Kenapa harus tempat ini yang dipilih pria itu untuk makan siangnya. Selama dua tahun ini, dia tidak pernah melihatnya di cafe. Ini pertama kalinya.
"Selamat menikmati," kata Kiara masih memamerkan senyumnya saat meletakkan pesanan Andre. Dengan cepat dia berbalik sebelum Andre akan menahannya lagi. Tapi pria itu lebih cepat dibandingkan langkah kakinya.
"Duduklah, ada yang ingin saya tanyakan padamu," perintah Andre.
"Maaf, pak. Tapi saya masih dalam jam kerja saya. Saya bisa dipecat jika tidak melakukan tugas saya dengan baik. Dan saya masih butuh pekerjaan ini untuk memenuhi biaya saya semester depan," tolak Kiara.
"Biar saya yang menyampaikan pada Evans kalau kamu sedang bicara dengan saya. Atau saya bisa memberikan pekerjaan lain yang mungkin lebih baik untukmu. Jadi dengarkan saja, dan jawab pertanyaan saya," perintah Andre seperti biasanya, tak terbantahkan.
Kiara duduk di hadapan Andre. "Bapak kenal dengan kak Evans?" tanyanya.
"Ya, dia teman saya, sudah sejak lama. Dan sebaiknya jangan panggil bapak, aku masih seumuran dengan Evans."
"Tapi bapak adalah dosen saya, beda dengan kak Evans."
"Dan kita sekarang ada di luar kampus, jadi tidak perlu terlalu formal. Panggilan itu membuatku merasa tua. Panggil kakak saja seperti yang kamu lakukan pada Evans. Tidak perlu kaku seperti itu."
"Lalu, apa yang ingin bapak tanyakan?" Kiara masih saja menggunakan kata itu. Lidahnya masih belum biasa seperti yang dia lakukan pada Evans. Kata 'bapak' sepertinya sudah melekat untuk pria tampan satu ini.
"Kamu ada hubungan apa dengan Evans? Dan bagaimana kamu bisa bekerja di tempat ini? Bukankah kamu masih kuliah dengan jadwal yang cukup penuh?"
Kiara menarik nafas, tapi tidak ingin menunjukkan kalau dia merasa tidak nyaman dengan pertanyaan itu. Hampir saja dia memutar bola matanya jika dia tidak ingat kalau pria dingin di hadapannya adalah dosennya. Hampir saja melupakan sopan santun yang sudah dijaganya sejak awal melihat pria itu ada di depannya.
Apa hubungannya dengannya jika aku bekerja di sini? Aku pikir hubungan kami hanya sebatas di kampus saja. Tidak ada kewajiban untuk mengetahui kehidupan pribadi masing-masing, batin Kiara.
"Saya dan kak Evans hanya memiliki hubungan kerja yang profesional. Kak Evans sebagai bos pemilik cafe ini dan saya hanya karyawan kecil di tempat ini, pak. Saya bekerja di sini saat tidak mempunyai jam kuliah. Saya sudah mengaturnya sedemikian rupa sehingga bisa memanfaatkan waktu kosong dengan baik. Oh ya, saya bekerja di tempat ini juga mengikuti prosedur yang ada. Kebetulan saya cukup baik dalam hal ini, makanya saya diterima bekerja di sini. Kalau boleh tau, informasi ini untuk apa ya, pak?" Kiara balik bertanya. Rasanya tidak adil jika dia menjawab pertanyaan itu tanpa tujuan apa-apa. Bahkan dia terlalu baik menjawab pertanyaan itu dengan mendetail seperti itu.
"Oh, terima kasih atas informasinya, dan saya harap kamu akan betah di sini."
"Saya sangat betah, pak. Buktinya sudah dua tahun saya ada di sini."
"Baiklah, terima kasih."
Kiara bangkit dari kursinya dan meninggalkan Andre yang menikmati makan siangnya sendirian. Ia masih ragu kalau pria yang adalah dosennya itu adalah teman lama Evans. Kalau memang teman, kenapa dia tidak mencari Evans dan sekedar menyapanya? Atau mungkin, kenapa baru pertama kali ini datang ke cafe itu? Sepertinya hubungan keduanya memburuk, jika memang hubungan teman itu pernah ada di antara mereka. Lupakan saja, bukan urusanku, batin Kiara.
"Dia bilang apa sama kamu?" tanya Evans mengagetkan Kiara dengan kehadirannya yang tiba-tiba. Dan ternyata dia melihat Kiara tadi saat duduk di depan pria itu usai mencekal tangan Kiara. Sepertinya ada pemaksaan.
"Kakak benar kenal dia? Kakak temannya?" tanya Kiara mengabaikan pertanyaan Evans. Masih tidak percaya kalau dua orang ini saling kenal.
"Iya, kakak memang kenal dengannya. Dulu. Tapi tidak berakhir dengan baik. Tidak seperti apa yang dia sampaikan padamu. Apa yang dia bilang sama kamu?" ulang Evans karena pertanyaan sebelumnya yang diabaikan Kiara.
Kiara mengalihkan pandangannya pada sosok yang menjadi dosennya itu. Pria itu masih menikmati makan siangnya di meja bernomor delapan itu. "Dia nanya hubungan kakak denganku, kemudian bagaimana aku bisa bekerja di sini padahal aku masih kuliah. Dia juga sebelumnya menanyakan sudah berapa lama aku bekerja di sini. Mengatakan kalau dia akan menjelaskan pada kakak karena aku beralasan masih jam kerja, dan dia berencana mempekerjakan aku jika saja aku dipecat oleh kakak," jelas Kiara.
"Memangnya apa yang terjadi dengan kalian, kak? Sejak awal aku memang curiga dengannya, mengaku teman tapi baru kali ini datang ke sini selama dua tahun aku bekerja di sini. Sangat tidak masuk akal." Kiara penasaran.
"Sudahlah, lupakan saja. Itu hanya urusan sesama pria. Lagipula sudah sangat lama. Sebaiknya kamu bekerja saja sekarang, jika memang masih ingin bekerja di sini, atau kamu memang berniat bekerja dengannya?" Walau isi pembicaraan itu terdengar sangat serius, nada yang dikeluarkan kak Evans tidak begitu serius. Dan Kiara sangat tau kalau dia sedang bercanda sekarang.
"Mungkin memang pekerjaan yang ditawarkannya lebih baik, tapi siapa yang mau bekerja dengan pria dingin yang kejam sepertinya?"
"Memangnya dia sekejam apa?" Rasa penasaran Evans muncul begitu saja.
"Bukannya kakak bilang aku harus bekerja?" seloroh Kiara.
Evans tertawa kecil. Lagi-lagi dia termakan omongan sendiri oleh Kiara. Dia menggelengkan kepalanya pelan, mengantarkan Kiara dengan pandangannya menemui tamu yang baru saja memasuki cafe. Pandangannya kemudian kembali pada sosok Andre, teman lamanya itu. Pria dingin yang kejam? batinnya. Teringat masa lalu, pria itu memang dingin, tapi dia tidak menyangka kalau teman lamanya itu masih mampu berbuat kejam seperti apa yang dikatakan Kiara. Mungkin saja Kiara yang melebih-lebihkan karena tidak menyukai cara mengajar Andre.
Saat itu mereka adalah mahasiswa di jurusan yang sama. Andre memang lebih tua setahun dibanding Evans karena Andre memang pernah berhenti sekolah selama setahun karena sakit. Tapi otak cerdasnya memang tidak ada yang mampu menandingi. Evans kadang sampai berpikir sendiri terbuat dari apa otak pria itu.
"Sebaiknya kau cari saja gadis lain, Andre. Aku tidak suka denganmu. Kau sudah tau itu sejak dulu. Berhentilah menyukaiku, kau sangat dingin dan tidak punya hati. Aku tidak akin kau benar-benar menyukaiku atau hanya sekedar untuk kepuasan dirimu sendiri," teriak Giselle pada Andre. Evans hanya mengamati dalam diam di balik tembok. Saat dia tidak sengaja melihat Andre menyeret temannya itu, terlihat sangat mencurigakan. Evans memutuskan untuk mengikuti mereka dan berhenti di balik tembok saat keduanya juga berhenti.
"Memangnya apa yang kau sukai dari Evans? Dia bahkan tidak layak untuk mendapatkanmu, Giselle. Lihat dirimu, kau terlalu sempurna untuk dirinya yang..." Andre tidak melanjutkan kata-katanya seolah Giselle sudah mengerti maksudnya.
Giselle menyentak tangannya dari genggaman Andre hingga terlepas. "Apa maksudmu?" teriak Giselle. Selama ini yang dia tau, kedua pria itu berteman baik. Tidak menyangka kalau ternyata Andre memiliki pikiran yang lain.
"Dia tidak pantas mendapatkanmu, Giselle. Kau telalu sempurna untuknya. Dan kau lihat aku, aku kurang apa lagi?"
Tangan Giselle melayang cepat di udara dan mendarat sempurna di pipi Andre. "Kau bahkan sangat hina, Andre. Jangan merasa kau seorang dewa hanya karena otak pintarmu yang selalu dipuja orang. Bagiku kau bukan siapa-siapa. Jangan pernah muncul lagi di hadapanku." Giselle meninggalkan Andre di sana.
Evans menyadari apa yang dimaksudkan dari percakapan itu tadi. Andre menyukai Giselle, sedangkan Giselle menyukainya. Dan Andre, ternyata pria itu tidak sebaik apa yang dia pikirkan. Penampilan luarnya cukup menipu.
Evans melangkah perlahan meninggalkan tempat itu. Duduk di salah satu kursi di kantin fakultasnya.
"Hai, Van. Kenapa bengong?" sapa Giselle menepuk pundak Evans.
Evans memaksakan senyumnya. Kenyataan kalau gadis ini menyukainya masih terngiang di telinganya dan sangat sulit menerimanya. Dia tidak penah berpikiran seperti itu pada Giselle. Dia hanya menganggap gadis cantik itu sebatas teman dan akan tetap seperti itu. Baginya tidak ada teman jadi demen.
"Kau dari mana? Bukannya tadi bilang nyampe dalam dua menit?"
Giselle tertawa kecil dan mengangguk-anggukkan kepalanya. "Ya, niat awalnya memang nyampe dalam dua menit, tapi ada sesuatu yang membuat macet,"
Evans ikut tertawa. Gadis ini cukup pintar menutupinya. "Apa ada sesuatu yang salah? Kau terlihat aneh hari ini," goda Evans ingin mendengar pengakuan Giselle.
Giselle melongo. "Eh? Nggak kok, nggak ada apa-apa," elaknya kemudian.
"Hm, Gis, aku tidak pernah punya niat untuk mengubah persahabatan kita menjadi cinta. Selamanya kau akan jadi sahabatku. Sejak awal berteman denganmu, tidak ada niat lain selain menjadi sahabatmu. Bukan berarti aku tidak menyukaimu. Hanya saja rasa suka itu sebatas sahabat. Aku harap kau juga demikian."
"Eh?" Lagi-lagi Giselle hanya melongo. Bagaimana Evans bisa tau tentang perasaan Giselle padanya?
"Aku juga tidak ingin menghalangi kau berhubungan dengan pria lain."
"Giselle, aku sudah bilang bukan, dia sama sekali tidak cocok untukmu. Lihat dia, dengan bangganya dia bilang tidak ingin menjadi pacarmu. Dia pikir dia siapa?" Andre tiba-tiba saja ada di antara mereka.
Giselle bangkit dari duduknya. "Memangnya kau pikir kau juga siapa?"
Persahabatan tiga insan itu rusak saat itu juga karena cinta. Evans masih sering menanyakan kabar Giselle walau gadis itu tidak pernah muncul lagi di antara mereka. Sedangkan Andre yang selalu satu kelas dengan Evans memilih untuk diam saja, demikian Evans padanya. Evans akhirnya cukup mengenali temannya yang satu itu. Di balik otak cerdasnya, tersimpan egois yang sangat besar.
Dua bulan setelahnya, Evans memilih untuk berhenti dari bangku kuliahnya, padahal dia masih baru memasuki tahun ketiga. Rusaknya persahabatan mereka bukan menjadi alasan di baliknya, tetapi karena memang Evans tidak menyukainya. Baginya, terlalu membuang-buang waktu. Dan lagi, restoran yang dibukanya saat pertama kali datang ke Jakarta kurang berkembang dengan baik. Mungkin kurang pantauan. Dia memilih untuk fokus pada usahanya saja sejak itu.
"Kak, ada pesan untuk kakak." Suara merdu milik Kiara menyentak Evans. Diberikannya selembar kertas yang ada di tangannya pada Evans.
Evans menerima kertas kecil itu. Membukanya dengan perlahan.
Evans? Benarkah itu kau?
Aku tidak menyangka jika cafe dengan nama yang sama denganmu ini adalah milikmu. Aku pikir kau sudah kembali ke Swiss.
Sudah sangat lama aku tidak melihatmu. Apa kau baik-baik saja? Sepertinya iya, melihat cafe milikmu ini berjalan dengan baik. Dan aku lihat di brosurnya, kau bahkan sudah memiliki beberapa cabang.
Aku senang mendengarnya.
Apa kau juga ingin tau bagaimana keadaanku sekarang?
Aku harap iya.
Aku minta maaf untuk masa lalu, aku hanya begitu terobsesi dengan Giselle. Kau juga tau kalau dia memang begitu menarik. Ah, aku jadi merindukannya. Aku harap dia juga baik-baik saja.
Sekali lagi aku minta maaf. Mulutku memang kadang terlalu lancang.
Selamat untuk cafe-mu. Aku akan sering berkunjung.
Oh iya, kau pasti kenal pelayan bernama Kiara Sanjaya. Aku juga kenal dengannya. Aku rasa aku jatuh cinta untuk kedua kalinya. Salam untuknya.
Andre.
Evans menghembuskan nafasnya kasar. Diliriknya meja dimana tadi Andre berada, pria itu sudah menghilang. Dan apa katanya tadi? Jatuh cinta pada Kiara? Siswanya?
Ini tidak bisa dibiarkan. Andre akan merebut Kiara darinya. Kenyataan kalau Kiara tidak menyukai pria itu sedikit menenangkannya. Tapi, bisa saja sekarang tidak suka, nanti tiba-tiba suka. Tidak ada yang tau.
Beruntung dua bulan ini Kiara libur dan akan bekerja setiap hari di cafe, jadi dia bisa mengawasi Kiara. Namun tetap saja, hati tidak bisa dipaksakan. Huh, kenapa Andre harus muncul lagi di kehidupannya.
"Kayak abis nerima surat cinta aja, kak," celutuk Kiara.
Evans tersenyum tipis. Itu surat bahkan menyatakan kalau Andre jatuh cinta pada Kiara. Ya, itu surat cinta yang salah tujuan. "Ya, memang surat cinta, tapi... tujuannya salah," balas Evans dengan seringai licik.
Kiara menarik nafas lega. "Huh, aku pikir kakak sudah tidak normal lagi. Syukurlah. Tapi kenapa pak Andre bilangnya untuk kakak kalau memang isinya bukan untuk kakak? Sepertinya ada yang salah dengan dosen galak itu," desis Kiara tajam. Ketampanan pria itu baginya tidak mampu menutupi sikap dinginnya.
"Mungkin saja, kalau siswanya sepertimu semua sudah bisa dipastikan dosennya akan mengalami trauma mengajar," ledek Evans.
"Enak saja. Jangan anggap remeh sama Kiara, kak. Kakak nggak lihat, aku bisa bekerja dengan baik di cafe. Sudah pasti aku bisa mengerjakan semuanya dengan baik. Dan asal kakak tau, aku calon istri idaman." Kiara tertawa sendiri akan pengakuannya. Dia sendiri juga tidak menyangka akan mengatakan hal gila itu pada pria yang sudah pernah ditolaknya.
"Jadi itu alasan kamu menolak pria yang bukan calon suami idaman ini."
Kiara jadi mematung. Tidak tau harus membalas apa lagi. Salah ternyata dia mengeluarkan kalimat itu tadi. Ujung-ujungnya akan mengungkit hal ini. Tapi bukannya Evans pernah bilang menarik kembali kata cintanya? Oh, kenyataan itu sangat pahit walau Kiara belum mengetahui pasti apa yang dirasakannya pada pria tampan yang selalu ada untuk membantunya.
Evans tertawa melihat reaksi Kiara yang tiba-tiba mematung. "Sudahlah, sebaiknya kau mandi saja sekarang. Tidak perlu bekerja malam lagi. Hari ini kau pasti sudah sangat lelah. Seharian kau sudah berada di ruangan ini. Istirahatkan tubuhmu sesaat."
Kiara mengangguk setuju. Pelanggan cafe hari ini cukup banyak dan membuatnya cukup lelah. Dia bukan robot dan dia butuh istirahat.
Berendam dalam air hangat setengah jam cukup membuatnya rileks kembali. Meregangkan otot-otot tubuhnya yang pegal. Hampir saja dia tertidur di dalam bathub jika saja ponselnya tidak berdering pertanda ada panggilan masuk. Dengan cepat mengguyur tubuhnya di bawah shower dan membalutkan handuk.
Joanna? Apakah ada sesuatu yang terjadi pada sahabatnya itu?
"Hallo, Jo," sapa Kiara.
"Hai, Kia. Kau baik-baik saja di sana? Tidak perlu menanyakanku, aku sangat baik di sini dan sangat menyenangkan. Aku pikir aku akan sedikit lebih lama di sini dibanding rencana awal. Tidak perlu mengkhawatirkan apapun, semuanya aman terkendali. Kau juga bisa ikut kesini jika butuh hiburan, Kia. I miss you."
Nada bicara Joanna memang terdengar baik-baik saja. Semoga saja memang dia baik di sana. "Oh, baiklah. Selamat liburan, Jo."
Telepon itu terputus saat Joanna mengucapkan hal yang sama dari seberang sana.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Evans saat melihat Kiara mendesah. Kiara berjingkat karena kaget dengan kehadiran Evans yang tiba-tiba di kamarnya, bahkan tanpa mendengar suara ketukan sebelumnya. Atau jangan bilang Evans sudah ada di sana sejak Kiara keluar dari kamar mandi. Ugh, memalukan sekali. Kiara hanya menggunakan handuk yang menutupi tubuh mungilnya.
Kedua tangan Kiara menjaga posisi handuk supaya tidak terjatuh di hadapan Evans. Degup jantungnya tidak bisa dikendalikannya. Perlahan melangkah mundur saat pria itu mendekatinya. "Kakak mau apa?" tanyanya sangat gugup.
"Kakak pernah bilang kalau kakak menarik pernyataan kakak saat ulang tahunmu, tapi kenyataannya kakak tidak bisa, Kia. Kakak terlalu mencintaimu. Kakak tidak ingin ada orang lain merebutmu. Je t'aime, Kiara."
"Apa maksud kakak?"
"I love you so much, Kiara. Be mine, please."