Kedua insan itu masih saling diam setelah pernyataan itu lagi. Kiara melapis handuk yang melilit di tubuhnya dengan bathrobe karena tak sedetikpun Evans meninggalkannya sendirian di kamar walau sekedar memakai pakaiannya. Keduanya kini terduduk di kasur dan masih saling diam.
Kiara sibuk dengan pikirannya sendiri, demikian juga dengan Evans dan pikirannya sendiri. Tidak ada yang membuka mulut. Keheningan menyelimuti mereka dan terasa bergitu mencekam. Keadaan begitu canggung. Terlebih keadaan Kiara yang masih dengan handuknya. Berkali-kali tangannya bergerak merapatkan bathrobe. Memastikan seluruh tubuhnya tertutup dengan baik. Tidak ingin hal dalam mimpinya -saat dia baru saja tinggal di cafe- benar-benar terjadi, walau dalam hati terdalamnya ada sedikit rasa ingin mengetahui bagaimana rasanya itu –hal yang dikatakan nikmat itu. Tapi otaknya masih bekerja dengan baik.
"Kak..."
"Kia..."
Keduanya membuka suara bersamaan dan saling menatap. Keduanya kemudian bersamaan tertawa. "Ada apa?" tanya Evans.
"Tidak ada. Apa yang ingin kakak bilang tadi? Dan sampai kapan kakak akan membiarkanku seperti ini? Tidak mengijinkanku untuk mengenakan pakaianku lebih dulu. Kakak tidak berniat membuatku sakit kan?"
Evans menatap Kiara. "Kalau kamu menolak kakak kali ini, bisa jadi."
Keduanya tertawa. "Jadi bagaimana? Kamu masih menolak kakak kali ini?"
Kiara menundukkann kepalanya. Tidak ingin menyesal saat nanti Evans tidak ada lagi untuknya, namun masih tidak yakin dengan pilihan lainnya. "Aku hanya tidak ingin kakak ikut menerima apa yang harusnya aku terima sendiri. Aku tidak ingin kakak ikut menderita karena jalan hidupku yang seperti ini. Kakak berhak mendapatkan yang lebih baik."
"Tapi yang terbaik untuk kakak adalah kamu, Kiara. Kakak tidak peduli bagaimana kehidupanmu dulu. Justru kakak ingin sekali menjadi orang yang bertanggung jawab atas kamu. Kakak yang akan melindungimu, Kia."
"Bukan bermaksud memaksamu, karena kakak juga tidak ingin kamu menerima kakak hanya karena terpaksa atau sekedar balas budi. Kakak benar-benar serius, Kia," lanjut Evans.
Kiara menatap Evans dengan tatapan memuja. Ya, dia memang memuja pria berwajah dewa dan berhati malaikat itu. Siapa yang tidak tertarik dengan pria sepertinya. "Ya, aku juga mencintai kakak."
"Benarkah?" Evans tersenyum sumringah.
Kiara mengangguk malu-malu.
Tanpa memikirkan apa-apa, Evans bergerak cepat memeluk tubuh mungil Kiara yang mematung. Menyurukkan hidungnya di lekukan leher Kiara, menghirup aroma tubuh Kiara yang masih sangat terasa wangi sabun beraroma mawar. Telapak tangannya menepuk-nepuk pundak Kiara perlahan. Entahlah, perasaannya saat ini tidak bisa diuraikan dengan kata-kata. Hal yang sudah sangat lama tidak dirasakannya. Terakhir kali, mungkin sudah sepuluh tahun yang lalu.
Kiara yang gugup sama sekali tidak membalas pelukan itu, selain karena takut handuknya terlepas. Degup jantungnya yang tidak normal mungkin akan bisa membuat handuk itu lepas dengan mudahnya.
Evans menjadi salah tingkah saat melepas pelukannya. Oh, sial. Kenapa aku malah menahan Kiara yang masih mengenakan handuk? rutuknya dalam hati. "Kamu berpakaianlah. Maaf, kakak tidak bermaksud sama sekali membuatmu seperti ini." Evans bangkit dan meninggalkan Kiara di kamar setelah memberikan kecupan di kening Kiara. Dalam hati berjanji akan kembali dalam lima menit.
Tak ingin membuang waktu, Kiara langsung mengenakan pakaiannya. Sambil berjaga kalau saja pria itu muncul dengan tiba-tiba di kamarnya -lagi. Kaos longgar berwarna putih polos, yang ia beli beberapa hari yang lalu menjadi pilihannya dipadukan dengan celana santai di atas lutut.
Dari lantai bawah, terdengar sangat ramai. Sepertinya cafe sedang penuh pelanggan mengingat ini sudah jam makan malam. Ingin sekali Kiara ikut bergabung dengan temannya di sana, tapi tubuhnya benar-benar tidak sanggup lagi. Dia memilih duduk di sofa yang ada di depan kamar mereka, menonton aksi si anak kecil berbahasa Rusia yang selalu mengenakan kerudung ungu, yang hidup dengan seekor beruang di hutan.
Sesekali tangan Kiara bergerak ke kakinya tanpa sadar, mengusap betisnya yang terasa pegal.
"Makan malam dulu," kata Evans yang mampu membuat Kiara berjingkat kaget, padahal suara itu sangat lembut. Ah, dia sepertinya menghayal. Menghayal jadi seperti Masha, huh? Hidup tanpa beban, tertawa senang setiap hari dengan segala tingkah konyolnya.
Evans meletakkan nampan berisi ayam dan tempe bacem, nasi serta jus jeruk. Memposisikan dirinya di sebelah Kiara sebelum gadis itu memberikan penolakan.
"Harusnya kakak panggil aja tadi aku ke bawah," tolak Kiara merasa tidak nyaman. Seharusnya dirinyalah yang mengambilkan makanan untuk Evans, bukan malah sebaliknya seperti ini. Bos yang terlalu baik. Eh, pacar -aja deh.
"Tidak dengan kakimu yang masih pegal. Sudahlah, lagipula makanannya sudah ada di sini. Kita makan saja," perintah Evans.
Tidak ada sanggahan lagi dari Kiara, dia juga memang sudah lapar. Memperanjang perdebatan tidak akan menghasilkan apa-apa selain dirinya yang semakin kehabisan tenaga.
Keduanya makan dalam diam. Terlalu serius atau terlalu lapar, mungkin.
Seseorang meneriakkan nama Kiara dari tangga, tidak berani naik hingga ke lantai dua. Kiara masih merilekskan kakinya dibantu sang pacar baru yang memijatnya. Evans menghentikan aksinya dan melihat siapa yang memanggil Kiara. Ternyata Rose, salah satu karyawan.
"Ada apa?" tanya Evans.
"Maaf, kak. Ada seseorang yang mencari Kiara. Katanya penting," jelas gadis berparas cantik yang masih dalam balutan seragamnya itu.
Evans mengangguk, kemudian mengernyit bingung saat gadis itu sudah berpaling. Siapa yang mencari Kiara? Mungkinkah Andre? batinnya. Dia melirik ke arah cafe, tidak menemukan sosok teman lamanya itu. Ada sedikit kewaspadaan dalam hati Evans. Jika sampai mencari Kiara ke cafe, mungkin benar-benar penting.
"Siapa kak?" tanya Kiara.
Evans menggeleng. "Tidak tau, tapi sebaiknya kamu berhati-hati. Kakak merasa ada yang tidak baik. Kamu bisa jalan kan?" Wajah Evans diselimuti rasa khawatir.
Kiara mengangguk. Gadis itu memang selalu punya tenaga simpanan untuk digunakan di saat penting seperti ini. Terlebih, kedua kakinya sudah membaik setelah mendapat perlakuan manis dari Evans.
Langkah Kiara diikuti oleh Evans. Ia ingin memastikan apa yang sebenarnya terjadi. Sang kekasih berdiri di samping meja yang ditempati oleh seorang wanita paruh baya bersama dua wanita yang dia pikir sebaya dengan Kiara, gadisnya. Sepertinya Evans pernah melihatnya, entah kapan dan dimana. Mencoba menguping, apa yang sedang mereka bicarakan.
"Kau pikir kau sudah sangat pintar untuk melarikan diri dari kami. Pergi meninggalkan rumah begitu saja. Kau juga mencoba menggagalkan rencana pernikahanku kan? Dan lihat dirimu saat ini, kau akan terkutuk selamanya di tempat ini." Wanita itu tertawa sinis sementara Kiara hanya diam memandanginya penuh dendam. Dari wajahnya terlihat kalau dia berusaha meredam emosinya.
"Kau pasti tidak akan percaya kalau aku akhirnya tetap jadi menikah dengannya. Ah, hidup ini memang sangat indah." Wanita itu tampak senang.
"Oh ya. Kalau kau butuh pekerjaan yang lebih baik, mungkin bisa jadi pembantu kami seperti sebelumnya." Perkataannya diangguki dua wanita di hadapannya.
"Dan jangan pikir kau akan hidup dengan tenang sekarang. Kau tunggu saja, kami akan datang menghancurkan hidupmu. Berani sekali kau membuat kami merasakan hidup yang tidak enak," kata Luna penuh dendam. Entah apa yang mereka maksud sebagai kesalahan Kiara. Kiara pergi dari rumah itu karena perintah si nyonya, dan Kiara pun tidak pernah meminta mereka untuk datang dalam kehidupannya.
Kiara memutar bola matanya malas. Sebenarnya dia sudah sangat ingin meninggalkan tempat itu, tapi sudah bisa dipastikan kalau tiga orang yang dihadapinya sekarang akan membuat keributan yang melibatkan nama Kiara. Dia memutuskan untuk mendengar saja ocehan ketiganya hingga selesai selama tidak menyakiti dirinya, lalu membiarkan mereka kembali ke alamnya dengan aman dan damai. Seperti itu akan jauh lebih baik.
Kiara menutup mata dan menarik nafasnya dalam-dalam saat ketiganya baru saja meninggalkan cafe.
"Kamu baik-baik aja?" tanya Evans.
Kiara mengangguk. Hanya sekedar ancaman seperti itu, sama sekali bukan masalah baginya. Tapi mulai saat ini dia akan lebih berhati-hati dengan ketiga wanita itu. Mereka tidak punya hati sama sekali dan pasti akan tega saja melakukan hal yang melanggar hukum demi kepuasan mereka sendiri. Kiara sudah tahu betul akan hal itu.
"Jadi mereka yang sudah buat hidup kamu seperti ini? Perlu aku balaskan?"
"Jangan, kak. Kakak tidak perlu mengotori tangan kakak dengan hal seperti itu. Mereka bukan masalah apa-apa untukku. Aku akan baik-baik saja," sanggah Kiara. "Lagipula, kakak tidak akan tau apa yang akan mereka lakukan nanti, bisa-bisa membahayakan hidup kakak. Akan lebih baik juga kalau mereka tidak mengetahui hubungan kita. Dengan apa yang mereka miliki dari papanya Joanna sekarang ini, segalanya pasti mudah untuk mereka. Menjadikan segala sesuatu bisa dibeli."
"Baiklah kalau memang itu mau kamu. Tapi jangan sekali-kali menyembunyikan apapun dari kakak, terlebih kalau butuh bantuan. Kakak siap bantu kamu kapanpun. Kamu mengerti kan?"
"Baru aja diterima, udah mengatur Kiara," desis Kiara dengan wajah cemberutnya. Bukan tidak menerima perlakuan itu, hanya saja menurutnya terlalu berlebihan. Kiara bukan gadis manja sama sekali. Dia terlihat seperti manja hanya karena paksaan Evans –yang terlalu posesif- saja.
"Kakak terlalu sayang sama kamu, Kia. Kakak tidak ingin kamu terluka sedikit saja. Tidak bisa kah kakak berusaha menjaga kamu, milik kakak?" bujuk Evans.
Tubuh Kiara menegang seketika mendengar perkataan Evans yang sangat blak-blakan dan tidak tau tempat. Matanya langsung meneliti keadaan sekitar untuk memastikan tidak ada orang lain yang mendengar pembicaraan itu. Mereka masih ada di cafe, untungnya bukan di tengah para tamu. Mereka ada di pojok ruangan, tapi tetap saja bisa terjangkau oleh orang lain, apalagi para pelayan yang berlalu lalang. Kiara masih ingin menyembunyikan hubungan mereka, tidak ingin disebut penggoda sang bos.
"Kakak bisa tau tempat nggak," sungutnya.
Evans tertawa ringan. "Memangnya kenapa? Ini di cafe," balasnya enteng.
Kiara mendengus kesal. Kedua kaki jenjangnya membawanya ke lantai dua, meninggalkan hiruk pikuk yang memenuhi cafe. Menonton sepertinya ide yang baik. Tapi jam segini, kebanyakan channel tv akan menayangkan sinetron, yang ceritanya sangat tidak masuk akal. Di jaman sekarang ini masih ada makhluk jadi-jadian? Yang benar saja.
Kiara memilih untuk browsing saja menggunakan ponsel pintar hadiah ulang tahunnya kemarin. Atau membuka akun jejaring sosial yang dibuatnya atas desakan Joanna. Membaringkan tubuhnya di kasur empuk dan mulai berselancar.
Sebuah gerakan di sebelahnya membuat Kiara menolehkan kepala. Evans muncul di sampingnya dan mengikuti posisi Kiara. Mengamati apa yang sedang dilakukan gadis itu. Dan tanpa sungkan meletakkan kepalanya di bahu Kiara.
"Apa yang kakak lakukan?"
"Bersandar di bahumu dan mengamati apa yang kamu lakukan dengan ponselmu."
Kiara mendengus. Tentu saja dia tau Evans sedang melakukan hal itu. Jawaban yang dia harapkan bukan itu, tapi jawaban itu memang benar juga. Dia sendiri yang kurang tepat memberikan pertanyaannya.
Kepala Evans bergerak semakin menyuruk ke lekukan leher Kiara. Menghirup aroma gadis itu. Sebaik apapun sikap Evans setiap harinya, pria dewasa yang normal itu tetap saja pada jati dirinya. Memiliki fantasinya sendiri. Terlebih saat isi kaos longgar yang dikenakan Kiara terlihat olehnya. Tidak munafik, dia ingin mencumbu gadisnya itu saat ini. Hanya saja mencoba melawan keinginan hatinya.
"Kak..." Kiara bergerak gelisah karena hembusan hangat dari bibir Evans terasa menggelitiknya.
Evans menjauhkan wajahnya. "Maaf. Kamu terlalu wangi dan menggoda," bisiknya.
Kiara tersenyum tipis. Menjauhkan pandangan dari ponselnya dan menatap kekasih barunya –pacar pertamanya.
Tatapan mata hitam ini yang paling Evans sukai. Mata bulat yang terlihat begitu jernih dan tulus. Tidak ada kepura-puraan di mata itu.
Evans menyeringai.
"Kakak kenapa?" tanya Kiara. Dia bergidik ngeri melihat tatapan intens Evans padanya.
"Kamu cantik."
"Aku tau. Aku tanya kakak kenapa," balas Kiara mencoba datar.
Tidak ada balasan untuk pertanyaan Kiara selain senyuman yang terlihat aneh baginya. Kiara segera bangkit. "Sepertinya lebih baik kalau aku bantu di bawah." Kiara meraih seragamnya yang tergantung dan meninggalkan Evans sendirian di sana. Kondisi seperti itu sangat tidak baik untuknya. Ada banyak hal yang menghantui pikirannya, terlebih sikap Evans yang terlihat aneh. Tidak ada salahnya kan kalau berjaga-jaga.
Setelah mengganti pakaiannya di ruang ganti, Kiara bergabung dengan beberapa teman yang masih sibuk. Turut serta menerima pesanan para pelanggan.
Evans ikut turun setelah sepuluh menit berdiam di kamar Kiara. Memikirkan dirinya yang entah bagaimana bisa jatuh begitu dalam pada pesona gadis polos yang sangat diragukannya saat pertama kali melihatnya. Tapi sekarang malah terlalu memujanya. Membuang jauh-jauh pikiran kalau gadis itu menggunakan ajaran terlarang. Dirinya masih sadar betul dengan apa yang terjadi padanya.
Evans mengamati kekasihnya itu dari sudut ruangan. Ia memilih duduk di dekat panggung kecil yang memang sedang tidak terisi itu. Dari sana dia bisa mengamati seluruh ruangan dengan leluasa. Senyum tersungging di bibir penuhnya.
Gadisnya itu terlihat sangat energik. Tidak terlihat raut lelah ataupun memikirkan hal lain. Padahal belum lama tiga orang yang pernah menyiksanya meninggalkan cafe. Bahkan kadang Evans merasa memanas dalam hatinya saat pujaan hatinya itu menebarkan senyum pada pelanggan, yang ia sendiri meminta setiap pelayan melakukan hal itu.
"Eh?"
Kiara kaget saat menyadari Evans ada di sana dan mengamati dirinya. Evans hanya membalasnya dengan senyuman tipis.
Jam sepuluh malam, kondisi cafe mulai sepi. Sebentar lagi juga akan ditutup. Tersisa dua orang pelayan dan seorang juru masak selain pasangan baru itu.
Evans menarik tangan Kiara menuju lantai dua, meninggalkan dua karyawan itu yang akan menyelesaikan pekerjaan merapikan cafe sebelum benar-benar ditutup.
***
Kiara terbangun dan merasakan beban berat di bagian perutnya. Sedikit berat tapi nyatanya sangat hangat dan nyaman. Sangat ingin memejamkan matanya kembali saat kemudian tersadar. Kiara memutar wajahnya dengan cepat dan menemukan wajah kekasihnya yang sangat dekat dengannya.
"Aaakkhh!" Kiara berteriak kaget dan berhasil membangunkan Evans tanpa sengaja.
Evans menarik tangannya yang memeluk tubuh Kiara dan mengucek matanya. Ia melenguh pelan saat melihat samar wajah Kiara yang membelalak tepat di hadapannya. "Ada apa?" Suaranya terdengar serak. Dan bukannya kaget, dia sangat santai menghadapi Kiara. Tentu saja tidak kaget. Dia masih dalam keadaan sangat sadar saat memasuki kamar itu.
"Kakak kenapa ada di sini?" tanya Kiara.
"Hm, semalam kakak nggak bisa tidur. Jadinya pindah kesini, dan akhirnya berhasil tidur. Tidak perlu panik, kakak hanya memelukmu saja, tidak berbuat lebih. Kakak masih waras sekalipun sangat ingin," jelasnya.
Spontan Kiara menjauhkan dirinya dari Evans dan menarik bed cover untuk menutupi tubuh bagian depannya.
Evans terkekeh. Ia kemudian bangkit memamerkan tubuhnya yang topless. Dia sering tidur dengan kondisi itu.
Kiara menarik nafasnya cepat-cepat. Sesuatu yang aneh dalam dirinya memintanya untuk menikmati pemandangan indah itu walau hanya sekejap. Faktanya Evans sudah meninggalkannya sendirian di kamar hanya dalam beberapa detik. Pria itu memasuki ruangan kecil yang ada di sudut ruangan.
Kiara menenangkan dirinya untuk tidak berbuat bodoh. Tubuh yang sangat menggoda itu sudah dipastikan mampu membuatnya juga gadis lainnya seakan terbius ingin menikmati dan merasakannya.
Kiara menggelengkan kepalanya keras. Membuang jauh pemikiran bodoh itu walau statusnya kini setingkat lebih tinggi dari sebelumnya. Tapi baginya belum saatnya untuk melangkah sejauh itu. Masih ada batasan di antara mereka yang harus diikuti. Perasaannya sedikit lebih tenang saat menyadari ia masih mengenakan pakaian dan masih sama dengan yang ia pakai semalam. Berarti masih aman, seperti kata Evans.
"Bagaimana kalau kita kencan hari ini?"
"Eh?" Kiara menoleh dengan cepat. Memaksa matanya untuk menatap wajah pria itu, bukan d**a atau bagian tubuh lainnya.
"Kakak ingin kencan denganmu, tanpa ada orang lain yang mengganggu. Hanya kita berdua."
"Aku harus kerja, kak. Aku nggak bisa iingkar janji."
Evans mendekati Kiara dan duduk di sebelahnya. Kedua tangannya terulur untuk memeluk tubuh mungil itu dan memberikan kecupan di kening Kiara. "Bukannya kakak ingin mengaturmu sesuka kakak, yang kakak tau bukan dirimu sama sekali. Hanya saja, terus-terusan bekerja tidak baik untuk tubuhmu. Kamu butuh istirahat. Semalam kamu sudah bekerja lagi hingga cafe benar-benar tutup. Apa masih tidak cukup?"
Kiara meringis mendengar penuturan Evans. Selama ini dia terus-terusan bekerja tidak masalah. Semuanya berjalan lancar.
"Udah, nggak perlu kebanyakan mikir. Sekarang kamu siap-siap aja," perintahnya.
Pria itu berlalu begitu saja dari hadapan Kiara membuat semua bantahan Kiara terpendam. Dia bangkit dan tujuan pertamanya saat ini adalah kamar mandi.
Kiara melihat pantulan dirinya di cermin, cukup sederhana. Kaos putih dengan ukuran yang sangat pas dipadu jeans biru donker. Rambut panjangnya digerai begitu saja, hal yang jarang dia lakukan. Biasanya dia menguncir atau menggelung rambutnya hingga memamerkan leher jenjangnya. Apalagi karena tuntutan di cafe harus rapi.
Saat melangkah keluar dari kamar, dia melihat Evans di sofa di depan kamarnya dengan sarapan sudah tersaji di meja.
"Sini, sarapan dulu," perintah Evans.
Kiara duduk di sebelah pria itu. Keduanya sarapan dalam diam.
Mereka keluar saat beberapa orang pegawai baru saja tiba di cafe. Evans menitipkan cafenya pada seorang yang sangat dipercayanya disana.
"Kita mau kemana, kak?" tanya Kiara dalam perjalanan. Pria di sebelahnya menyetir dengan serius. Pandangannya tertuju hanya pada jalanan di depan. Tidak sedetikpun menatap Kiara.
Tidak ada balasan, Kiara memalingkan wajahnya ke samping. Tangannya menurunkan kaca jendela mobil. Dia menyandarkan dagunya beralaskan tangan di sana. Merasakan angin menerpa wajahnya. Rasanya cukup menyenangkan. Seakan semua bebannya hanyut terbawa angin. Dulu dia juga senang melakukan hal seperti ini saat bepergian dengan sang ayah. Atau sekedar mengulurkan tangannya keluar.
Mobil nissan juke putih yang dikendarai Evans berhenti di parkiran pantai. Kiara benar-benar tidak menyangka kalau pria itu akan membawanya ke tempat ini. Tempat dimana dia pernah mengalami hal memalukan. Semoga saja tidak bertemu ibu itu, batinnya.
"Mau sampai kapan melamun?" Suara Evans menyentak Kiara. Kekasihnya itu sudah berdiri di hadapannya dan menunggu Kiara keluar dari mobil.
Kiara buru-buru turun. Evans menggandeng tangannya tanpa canggung. Membawanya ke bibir pantai. Angin pantai yang cukup kencang menghamburkan rambut panjang sepinggang Kiara, membuatnya berantakan. Kiara bahkan kewalahan menanganinya.
Setelah beberapa jam berkeliling, Evans mengajak gadis itu ke sebuah cafe untuk makan siang. Sepertinya kemanapun mereka pergi, tidak akan lepas dari yang namanya cafe.
Kiara memperhatikan keseluruhan cafe itu. Sangat tidak asing baginya. Matanya kemudian mencari-cari nama tempat itu. Terpampang dengan jelas di pandangannya apa yang sedang dicarinya. Dia meringis menyadari hal itu dan melirik Evans. "Tidak bosan apa kak makan di cafe kakak terus?" tanya Kiara.