"Kiara, will you marry me?" Evans tiba-tiba menyodorkan sebuah cincin dalam kotak beludru marun di hadapan Kiara dan berlutut.
Mereka masih ada di cafe milik Evans yang dikunjunginya tak jauh dari pantai dimana mereka sedang berlibur. Setelah acara penyambutan yang luar biasa tadi serta seseorang misterius yang tiba-tiba menghadiahkan buket bunga mawar pada Kiara, Evans tiba-tiba saja bangkit dari kursinya dan berlutut di hadapannya. Memang sangat jauh dari kata romantis, walaupun cukup membuat Kiara terhanyut.
Beberapa orang muncul di bagian depan cafe dengan memegangkan spanduk bertuliskan 'Please say yes'.
Kiara berbalik menatap Evans yang menunggu jawaban darinya. Perasaannya masih kurang begitu jelas menurutnya. Hanya saja, bayangan Evans akan menjadi milik gadis lain seperti apa kata sahabatnya membuatnya takut. Takut menyesal karena telah menyia-nyiakan seseorang yang tulus mencintainya.
Kiara menganggukkan kepalanya pertanda mengiyakan permintaan Evans. Dalam pikirannya, perasaan itu akan semakin kuat seiring kebersamaan mereka nantinya. Dan dalam hatinya, Evans tidak akan menikahinya secepat mungkin. Mungkin mereka akan bertunangan dulu, mengingat Kiara masih dalam perjalanan kuliahnya.
Evans bangkit dan memasangkan cincin berhiaskan berlian yang sangat indah di jemari Kiara dan mengecupnya dengan penuh perasaan. Lega di hatinya tak terungkapkan dengan kata-kata kala wanita yang dicintainya itu menerima lamarannya. Meski sempat dibuat sedikit takut oleh Kiara. Pasalnya gadis itu sempat terlihat seakan menolaknya. Namun pada akhirnya, dunia memang berpihak padanya.
Teriakan dari pengisi cafe yang terdiri dari pegawai hingga tamu yang meminta Evans untuk mencium tunangannya membuat Kiara tertunduk malu. Bagaimana mungkin dia, gadis polos melakukan hal itu di depan khalayak umum. Bagaimana jika ada anak dibawah umur di ruangan itu? Dia tidak ingin merusak jiwa anak kecil yang melihatnya.
Namun teriakan dari sekeliling mereka belum berhenti, seperti memaksa mereka untuk tetap melakukannya. Wajah putih Kiara semakin merona. Evans sangat menyadarinya, dan membuatnya semakin gemas dengan gadis mungil itu.
Jantung Kiara terasa akan copot saat Evans menangkup wajah Kiara dengan kedua tangan besarnya. Evans hanya memberikan kecupan di sudut bibirnya karena Evans menyadari apa yang dipikirkan oleh gadisnya itu.
Akan tetapi sorakan tidak berhenti, malah semakin riuh. Memaksa Evans untuk melanjutkan aksinya. Saat dilihatnya Kiara hanya meringis, dia meraup bibir mungil gadis itu sebelum disadarinya. Melumat dan mengecap rasa bibir itu. Masih sama seperti pertama kali Evans melakukannya. Manis.
Kiara menyembunyikan wajahnya yang sudah sangat memerah karena malu di d**a Evans. Dia tidak punya kekuatan lagi untuk menatap orang-orang yang ada di cafe dan menyaksikan ciuman panas mereka tadi. Oh, rasanya ingin menghilang saja, mungkin ditelan bumi akan lebih baik.
Evans menyadari kegugupan gadisnya itu, akhirnya membawa Kiara ke arah belakang cafe. Sama seperti cafe tempat Kiara bekerja, tempat ini juga dilengkapi kamar di lantai atas, tetapi hanya ada satu dan lebih luas, dilengkapi ruang kerja di dalam kamar.
Kiara mendudukkan dirinya di kasur. Menatap ke arah Evans yang mendekat setelah menaruh ponselnya di meja. Pria itu mengambil posisi di sebelah Kiara.
"Ada apa?" tany Evans.
"Aku hanya sedikit terpikir saja, kak. Hubungan kita kan masih sangat singkat. Kenapa kakak berpikir untuk melamarku secepat ini?" selidik Kiara. Benar saja dia sangat ingin tau jawaban pria itu.
"Hubungan kita memang masih sebentar, tapi tidak ada yang membuat kakak ragu untuk memilihmu. Kamu wanita yang selama ini kakak tunggu. Lama tidaknya hubungan pacaran tidak akan menentukan kehidupan kita selanjutnya. Dan kakak sudah memutuskan untuk memilihmu, itu artinya kakak tidak akan melepaskanmu. Dan kamu jangan sekali-kali berpikir untuk kabur dari kakak."
Jawaban yang cukup menyanjung Kiara. Hatinya menghangat saat mendengar jawaban itu. Tapi bibirnya mencelos begitu saja saat nada ancaman di akhir kalimat Evans.
Kiara yang belum pernah menjalin hubungan dengan siapapun sebelumnya tentu saja merasa terbang. Tidak salah dia telah lama menunggu. Pria yang tepat datang menghampirinya.
"Tapi kakak tidak akan menikahiku secepatnya, kan?"
Evans menatap Kiara tajam. Memangnya kenapa kalau mereka menikah secepatnya. Evans memang telah meniatkan itu sebelumnya. Mengingat usianya yang sebentar lagi menginjak dua puluh sembilan tahun, bukan saatnya lagi dia berperilaku seperti anak remaja yang hanya berpacaran. Dia ingin yang benar-benar serius.
"Memangnya kenapa? Kamu tidak berniat untuk kabur kan atau mencari seseorang yang lebih muda dan lebih kaya?"
Kiara mencebikkan bibirnya. Pria yang di sebelahnya ini sudah menjadi pilihannya. Tidak ada pikiran sedikitpun mencari yang lain di luar sana.
"Negatif banget sih, kak? Aku hanya nggak mau kuliahku tertunda. Aku harus menyelesaikannya lebih dulu."
"Tapi kan tidak apa menikah saat masih kuliah. Ada banyak kok yang seperti itu."
Kiara meringis. Memang benar sih seperti itu. Tapi kan...
"Ya sudah. Kalau kamu memang belum mau, tidak apa. Kakak akan menunggu sampai kamu siap. Tapi tidak menjamin kakak tidak akan melirik yang lain di luar sana," canda Evans.
Sebuah cubitan mendarat di perut berototnya. "Kalau mau melirik yang lain, kenapa harus melamar Kiara?" tanya Kiara kesal.
Evans meraih gadis itu dalam pelukannya. "Tidak akan, sayang. Kakak hanya akan melirik ke arahmu saja. Tapi melihat dengan jelas-jelas ke wanita lain."
Candaan Evans semakin membuat Kiara intens menyerangnya dengan cubitan maut andalannya.
"Oke, oke. Ampun, sayang. Tidak akan melirik juga melihat wanita lain. Dan kamu sepertinya makin pencemburu," kekeh Evans.
"Memangnya kakak tidak cemburu kalau aku melirik pria lain?"
"Coba saja kalau berani."
Kiara tersenyum lega. Dia merebahkan tubuhnya ke belakang. Kasur empuk itu menampung tubuhnya dengan lembut. "Ahh..." desahnya membuang nafas panjangnya.
Evans mengikuti gerak Kiara, berbaring di sebelahnya.
Kiara memutar wajahnya untuk melihat Evans. Keduanya saling menatap dalam diam.
Evans mendekatkan dirinya dan tangannya menjulur, memeluk tubuh mungil Kiara. Satu tangannya bahkan menyelinap ke bawah leher gadis itu dan menariknya dengan mudah dalam pelukannya.
Kiara hanya diam menuruti keinginan Evans. Menyurukkan wajahnya di d**a bidang Evans sesuai dengan tuntunan tangan pria itu di kepalanya tanpa ada penolakan. Baginya pelukan hangat ini juga cukup menenangkan. Diam-diam dia menikmati aroma tubuh Evans yang sangat maskulin. Menghirupnya dalam-dalam dan menyimpannya di dalam memorinya untuk bisa selalu diingatnya.
Ia sendiri mengulurkan tangannya untuk membalas pelukan pria itu. Ia mengaitkan tangannya di pinggang berotot itu. Cukup keras, batinnya. Ini pertama kali dia benar-benar merasakannya. Dan rasanya ingin sekali mengecek seluruh perut dan d**a penuh otot pria itu yang sudah pernah dilihatnya, apakah sama kerasnya dengan pinggangnya. Membayangkannya saja mampu membuatnya menelan ludah.
"Hm, rasanya ingin diam saja terus seperti ini," gumam Evans.
Kiara menganggukkan kepalanya menyetujui. Dia juga menginginkannya.
Kelopak mata Kiara terasa sangat berat ketika posisinya benar-benar nyaman. Tidak ada ketakutan sama sekali untuk memejamkan matanya sesaat dalam pelukan hangat itu.
***
Kiara terbangun dan merasakan dirinya masih ada dalam pelukan Evans, dengan posisi yang sama persis dengan sebelumnya. Wajahnya mendongak untuk melihat wajah pria itu. Kedua mata coklat terang itu masih tertutup. Evans masih tertidur.
Perlahan Kiara mengangkat tangannya untuk menyentuh wajah tampan di hadapannya. Ditelusurinya mulai dari dahi, hidung mancung, bibir penuh yang seksi hingga dagu yang dicukur bersih dari bulu-bulu. Sesekali Evans menggerakkan wajahnya terusik, tapi tidak terbangun.
Pikiran Kiara kemudian kembali pada d**a dan perut yang sudah beberapa kali dilihatnya selama tinggal di cafe. Ingin sekali merasakan apakah itu sekeras pinggangnya.
Ditatapnya kembali mata yang masih tertutup rapat itu. Memastikan kalau Evans memang masih terlelap. Dia memberanikan diri untuk niatannya. Perlahan di mulai menjulurkan tangannya dari bagian leher Evans, dengan sedikit menjauhkan dirinya untuk memberi celah bagi tangannya untuk bergerak.
Tangannya mulai menurun dengan perlahan menuju ke d**a Evans. Meski hanya dari luar kaos yang kenakan Evans, dia bisa merasakan kalau d**a itu lumayan keras juga.
Evans menggerakkan tubuhnya saat merasakan tubuhnya disentuh. Kiara dengan cepat menjauhkan tangannya sesaat. Setelah Evans kembali tenang, dia juga melanjutkan penjelajahan jarinya. Perlahan, perlahan dan semakin turun ke tulang rusuk hingga menyentuh perut. Bisa dirasakannya kotak-kotak di perut itu yang pernah dilihatnya.
Tidak puas hanya menyentuhnya, Kiara memberanikan diri mengusapnya dari luar kaos. Hal itu benar-benar mengangguk ketenangan Evans. Dengan cepat tangannya menangkap jemari yang telah membuatnya terusik itu. Bukan tidak suka. Hanya saja tindakan itu bisa membangunkan singa lapar. Bagaimanapun juga, Evans adalah pria normal yang akan bereaksi akan sentuhan-sentuhan sensitif seperti itu.
"Kakak!" pekik Kiara kaget saat tangannya ditangkap Evans. Rasanya dia seperti maling ayam yang ketahuan.
"Jangan lakukan itu sebelum kakak membawamu ke pendeta. Kamu akan membangunkan singa lapar, sayang."
Kalimat Evans sanggup membuat Kiara bungkam. Dia tidak menyangka kalau efeknya akan sebesar itu.
Membangunkan singa lapar?
Oh, astaga! Dia tidak pernah memikirkan itu sama sekali. Rasa penasarannya menutupi segala kemungkinan yang ada. Dia hanya ingin membuktikan bagaimana kerasnya otot itu. Tidak ada maksud lain.
"Atau kamu memang berniat untuk membangunkannya, tidak apa. Hanya saja kamu harus bertanggung jawab untuk menenangkannya kembali," lanjut Evans.
Kiara menarik tangannya paksa yang ada di genggaman Evans. Menyembunyikan wajahnya ke d**a bidang yang baru saja dia buktikan kekerasannya. Keras, tapi tetap nyaman saat bersandar, batinnya.
Evans hanya terkekeh melihat sikap Kiara yang mendadak menjadi gugup. Dia sengaja menggoda Kiara walau tidak akan benar-benar melakukannya. Melihat wajah Kiara yang merona sepertinya sangat menyenangkan baginya.
Evans melirik jam tangannya, sudah jam empat sore. Mereka harus segera kembali. Tidak ada yang memaksa, itu memang keinginan hatinya sendiri. Dia tidak bisa pergi begitu saja meninggalkan usahanya tanpa alasan yang jelas. Kiara merupakan alasan yang jelas, tapi liburan bukan.
"Kia, bangunlah. Jangan bersembunyi lagi. Kita harus pulang," bisik Evans.
Kiara menggeleng. Dia masih cukup malu melihat wajah pria itu.
"Tidak perlu malu seperti itu. Kakak akan melupakannya. Ayo!" ajaknya lagi.
Perlahan Kiara keluar dari persembunyiannya, melirik wajah Evans hati-hati. Saat dipastikannya pria itu tidak menggodanya lagi, dia memberanikan diri untuk lepas. Mendudukkan dirinya di tepi kasur sambil mengusap wajahnya.
Beberapa detik kemudian dia melangkah masuk ke kamar mandi. Penampilannya sepertinya sangat kacau. Jangan-jangan ada bekas ences dan belek di wajahnya.
Kiara menatap pantuln dirinya di cermin. Tidak separah yang dua bayangkan. Hanya rambut panjangnya saja yang berantakan.
"Kia, kenapa lama sekali? Kamu tidak apa-apa kan?" teriak Evans dari luar ruangan.
"Sebentar, kak," balas Kiara tak kalah kuat. Dia masih merapikan rambutnya dengan susah payah karena tanpa sisir. Beberapa kali merintih saat rambutnya tertarik jari sendiri.
Setelah dirasa cukup, dia memperhatikan kembali wajahnya di cermin. Menepuk kedua pipinya dengan telapak tangan hingga membuat rona merah disana.
Ia menemukan sosok Evans menunggunya dengan duduk di tepi kasur. Wajah pria itu sudah kembali segar. Sepertinya telah mencuci wajahnya karena bekas air masih membasahi rambut bagian depannya.
Evans bangkit saat melihat Kiara. "Sudah? Ayo!" Dia mengulurkan tangannya untuk menggandeng Kiara dan dibalas dengan senang hati oleh Kiara.
"Jangan lupa untuk terus mengirimkan laporannya untukku," perintah Evans pada seseorang yang name tag-nya bertuliskan Arman. Dia adalah kepercayaan Evans untuk mengawasi satu cafe ini dengan terus mengirimkan laporan hariannya pada Evans. Sejauh ini memang berjalan dengan baik.
Evan mengemudikan mobilnya dengan santai, tidak terburu-buru. Sembari menikmati angin sore dengan sengaja membuka kaca jendela mobilnya. Kondisi jalan juga tidak begitu ramai membuatnya tidak terpaku hanya pada jalanan. Sesekali dia melirik dan memperhatikan gadis yang terdiam di sampingnya. Masih tidak menyangka hari ini cepat datang dan cepat selesai. Hari dimana gadis yang kini duduk di sebelahnya menerima lamaran mendadak itu. Masih terasa seperti mimpi, mengingat gadis itu pernah menolaknya dan ada kesan memaksa saat dia meminta Kiara kedua kalinya untuk menjadi kekasihnya.
Kiara memutar pandangannya karena merasa diperhatikan. Dan benar saja, Evans sedang memandanginya.
"Kenapa kak?" tanya Kiara dengan senyuman tipis.
Evan menggeleng, kemudian kembali fokus menyetir.
"Hai." Seseorang yang duduk tenang di cafe menyapa keduanya saat baru saja memasuki cafe.
Panggilan itu mampu menghentikan langkah mereka dan Kiara melotot sekekita ketika mengetahui dosennya di kampus itu yang menyapa mereka.
"Sepertinya habis jalan berdua nih," goda Andre.
Evans menyembunyikan Kiara di balik punggungnya. "Bukan urusanmu," desisnya.
Kiara hanya mengernyit bingung dengan sikap Evans yang berubah jadi menyeramkan. Ini bukan Evans yang selama ini dia kenal. Apakah ada suatu masalah antara dua pria yang dikenalnya ini? Sesekali dia mengintip dari balik punggung lebar Evans.
"Tidak perlu naik darah seperti itu. Duduk dulu. Kali ini kita bersaing sehat saja. Aku tidak akan mengulang kesalahan yang sama."
Apa yang mereka bicarakan? Batin Kiara.
"Terima kasih, tapi kami masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Permisi."
Evans menarik tangan Kiara untuk meninggalkan meja itu secepatnya. Dia tidak membenci teman lamanya itu. Hanya saja bayangan pria itu akan merebut Kiara yang kini sudah menjadi miliknya, membuatnya gusar. Dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
Masalahnya kali ini memang sedikit berbeda dengan yang terjadi sepuluh tahun yang lalu. Dulu Giselle memang hanya dianggap sahabat oleh Evans meskipun gadis itu memang menyukainya. Dan kali ini, Kiara benar-benar sudah menjadi gadisnya. Tentu saja dia tidak akan membiarkan pria manapun merebutnya, termasuk Andre.
Saat keduanya memasuki kamar milik Kiara, Evans menatap gadis itu dalam. Bahkan membuat Kiara bergidik ngeri.
"Kenapa, kak?" tanya Kiara takut-takut.
"Kamu, menikahlah dengan kakak secepatnya," pinta Evans.
Kiara melongo tak percaya. Mulutnya bahkan menganga tanpa disadarinya.
"Kakak bilang, menikahlah dengan kakak secepatnya," ulang Evans.
"Iya, aku dengar, kak. Tapi tidak ada yang salah dengan kakak kan? Kenapa tiba-tiba meminta menikah secepatnya? Apa yang terjadi dengan kakak?"
"Kakak sangat takut kehilanganmu, Kia. Kakak takut kamu akan berpindah ke lain hati dan meninggalkan kakak sendiri. Cukup sekali kakak kehilangan orang-orang yang kakak cintai, jangan lagi. Please, menikahlah dengan kakak."
"Aku memang bersedia menikah dengan kakak, tapi tidak dalam waktu dekat. Aku kan sudah bilang juga tadi."
Evans mendesah panjang. "Tidak bisakah kamu mengubahnya sedikit saja? Bagaimana kalau di tengah jalan kamu tiba-tiba berubah pikiran dan meninggalkan kakak?"
Kiara mengulurkan kedua tangannya untuk meraih wajah tampan itu. "Aku tidak akan meninggalkan kakak. Aku juga takut kehilangan kakak. Kakak adalah malaikat penolongku, bagaimana mungkin aku bisa hidup tanpa kakak?"
Kedua tangannya menarik tengkut pria berpostur tinggi itu, menjinjitkan kakinya untuk menggapai wajah Evans dan memberikan ciuman di bibir penuh itu.
"Tapi tetap saja tidak menutup kemungkinan." Evans masih memikirkan masalah itu. Ciuman itu tidak terlalu meyakinkan dirinya. Apalagi Andre bilang tadi dia akan bersaing sehat. Bisa saja nanti setelah liburan ini Andre melakukan berbagai cara untuk menarik perhatian Kiara hingga jatuh ke pelukannya. Apalagi sosok Andre memang tidak bisa diabaikan. Siapa yang tidak suka dengan pria tampan sepertinya? Walau kenyataannya memang pikirannya kadang tidak sebaik penampilan luarnya.
"Kakak tidak akan berhenti sekalipun kamu menghadiahi kakak sejuta ciuman. Kakak akan tetap memintamu untuk menikah secepatnya," lanjut Evans.
Kiara terdiam. Bukan ragu akan pria ini, bukan tidak ingin segera mengesahkan hubungan mereka karena dia sendiri ragu bisa menahan dirinya saat berdekatan dengan Evans. Tapi masih terlalu cepat untuknya. Dia masih sangat muda. Baru dua puluh tahun. Masa depan masih panjang.
Memang sih, ada banyak di luar sana yang menikah di usia muda, dan baik-baik saja. Bahkan masih umur belasan sudah menjadi seorang ibu.
"Kakak tau menikah muda memang hal yang sulit. Tapi itulah yang harus kita perjuangkan nanti. Biarkan kita berjuang bersama."
"Biarkan aku berpikir, kak," pinta Kiara.
Sorot mata Evans meredup. Ketakutannya semakin menjadi. Jangan-jangan Kiara malah menolaknya karena terlalu mendesak keinginannya pada gadis itu. Dia tau mimpi Kiara masih panjang. Merubah taraf hidupnya dengan perjuangannya sendiri. Tidak ingin mendapat bantuan dari orang-orang yang dia rasa mengasihaninya.
Evans berbalik, meninggalkan Kiara sendirian di kamarnya. Dalam hati dia merutuki dirinya sendiri karena telah memaksakan kehendaknya. Baiklah, apapun keputusan Kiara nanti, dia akan menerimanya. Kalau memang bukan berjodoh, dia tidak akan memaksakannya. Yang penting dia bisa melihat gadisnya bahagia. Lagipula, ada seribu satu macam jalan ke Roma. Evans membaringkan tubuhnya di kasur miliknya. Dia mendesah panjang.
Sementara di sebelah, Kiara memikirkan tentang permintaan Evans. Sedikitpun dia tidak meragukan perasaan pria itu untuknya, dan dia tau kalau Evans akan melakukan apa saja untuknya. Tapi, benarkah harus secepat ini? Dan apa sebenarnya yang ditakutkan oleh Evans? Dia sudah bilang kalau dia tidak akan berpaling, tapi tidak cukup bagi pria itu.
Baiklah, semoga tidak salah pilih. Kiara memasuki ruangan di sebelah kamarnya secara perlahan setelah mengetuk pintu. Sosok Evans terlihat berbaring di kasur dengan wajah yang menunjukkan kalau dirinya memikirkan sesuatu yang berat.
Kiara mengikuti Evans, berbaring miring di sebelahnya. Menatap wajah gusar Evans. Tangannya memeluk perut pria yang masih diam tak bergeming itu. Diusapnya lembut hingga mengalihkan perhatian Evans padanya. "Kia akan menikah dengan kakak sesuai keinginan kakak," bisiknya.
"Eh?" Evans menatap tak percaya padanya. Mata coklatnya penuh selidik dalam manik hitam Kiara. Kiara menganggukkan kepalanya, meyakinkan Evans akan apa yang baru saja didengarnya. Sontak tubuh kekar itu memeluk tubuh Kiara erat, membuatnya kesusahan menarik nafas. Evans membawanya berguling-guling layaknya anak kecil yang baru saja mendapat hadiah yang paling dinantinya. Keduanya tertawa geli.