Desa Lauterbrunne yang ada di Switzerland beberapa bulan ini menjadi tempat persinggahan Helmi untuk melakukan self healing kepada dirinya sendiri. Melihat penampakkannya dengan padang rumput luas di bawah kaki gunung Alpen dan puluhan air terjun yang mengelilingi desa inilah sumber keindahan yang rupawan sehingga dapat memberikan kedamaian dan ketenangan untuk Helmi.
'Klenting... Klenting... Klenting....'
Suara ramai tersebut berasal dari sapi-sapi yang sedang mengelilingi desa setiap paginya. Dengan seorang pria paruh baya juga ikut berlarian sebagai pemandu para sapi. Sepanjang mata memandang, bebatuan tinggi yang diselimuti pepohonan dan rumput hijau akan menyejukkan mata, mendinginkan pikirannya, dan memperbaiki suasana hatinya. Dilengkapi dengan kabut dan salju putih di atap-atap rumahnya.
"Sampai kapan lo mau pindah-pindah? Seriusan balik ke Jakarta lah, lo udah cukup lari dan lari Hel, kalau lo mau self healing waktu lo udah cukup. Lo punya kehidupan, jangan bikin Abimanyu kesel lagi, nanti lo yang ada disuruh nikah." Deandra yang mengekori ke mana pun Helmi pergi, tak pernah berhenti untuk membujuk Helmi agar mau kembali, karena ia sudah diberikan tanggung jawab untuk menjaga Helmi semenjak kematian Krisna, semuanya berubah.
Helmi mengembuskan napas panjang, ia berdiri di sisi jendela sambil sesekali menghirup udara segar khas pegunungan yang tak akan bisa ia dapatkan dalam hiruk pikuk metropolitan. Jika harus kembali, rasanya berat meninggalkan tempat seindah ini. Tempat kesepuluh yang Helmi pijaki dan ia masih betah sendiri, tak seperti dulu sosok Helmi yang kini dikenal lebih kharismatik, tak banyak berbicara, dan menjadi sorotan publik karena dari saudara dan sepupunya hanya Helmi yang memutuskan untuk tidak menjalin hubungan.
Dean yang berdiri di belakang pria itu menggeleng samar, raut wajahnya tetap sama, ia lelah saat tak mendapatkan sedikit pun tanggapan dari Helmi. Sehingga batinnya yang berbicara. 'Ngomong sama Helmi nggak ada habisnya, dan tetap aja gue dicuekin. Dah lah, gue mending main sama domba-domba di luar sana.'
Dean akan beranjak pergi dan kini sudah memutar tubuhnya.
"Dean, pesenin tiket ke Jakarta. Gue mau siap-siap dulu."
"APA LO BILANG?" Dean terperanjat kaget, ia kembali memutarkan badannya, tetapi Helmi sudah berlalu pergi ke arah lain dan meninggalkannya.
'Kurang ajar Helmi, ngagetin gue aja.' Dean membuang napas kesal, ia masih menatap kepergian Helmi dan tidak percaya bahwa sahabatnya yang menjadi rekan kerjanya ini telah mengambil keputusan yang tepat.
Pada akhirnya Dean segera bersiap-siap, jika Helmi sudah mengambil keputusan A, maka ia yakin keputusan tersebut tidak akan berubah menjadi B.
***
Jakarta, Indonesia. Tak heran jika ada beberapa wartawan yang berusaha menerobos bandara untuk menunggu kedatangan CEO yang selama ini hanya bekerja di luar negeri dan kembali ke tanah airnya setelah tiga tahun terakhir.
'Cekrik, Cekrik!'
"Mas Helmi, Mas Helmi, bisa minta waktunya sebentar apa yang memutuskan anda kembali lagi? Apa benar anda sedang melakukan self healing dan kini anda sudah menemukan jawaban dari kejadian yang membuat anda merasa bersalah di masa lalu?"
"Apa benar anda akan mengambil alih perusahaan dari Pak Abimanyu?"
Dean menatap Helmi yang terus menundukkan kepalanya. "Minggir, minggir dulu ya, wawancaranya kapan-kapan aja kalau kita udah buka konferensi pers terbuka, okey?" kata Dean yang mengumumkan di muka publik sebelum ia ikut masuk ke dalam mobil yang sudah disiapkan oleh orang-orang suruhannya.
Dari dalam mobil Helmi hanya bisa membuang napas berkali-kali, ia merasa benar-benar nervous, sesak berada dalam kerumunan karena tak akan menyangka ada wartawan sebanyak itu yang akan mengabadikan momennya dan melemparkan bertubi-tubi pertanyaan sulit untuk Helmi membuka suaranya.
"Pak, ini ke kantor langsung atau kembali ke rumah?" tanya sopirnya yang menatap Dean serta Helmi secara bergantian.
"Ke rumah aja, pasti di kantor juga banyak wartawan tuh," sahut Dean, dan Helmi tak mengatakan apa-apa lagi karena sudah terwakilkan oleh Dean.
"Gue mulai kerja besok aja, tapi gue mau bawa mobil sendiri," ucap Helmi seraya menatap layar tabnya dan menggulir layar ke atas.
"Bawa mobil sendiri? Lo yakin? Nggak butuh gue?" celetuk Dean sambil menatap Helmi yang duduk di kursi bagian belakang.
Helmi mengangguk singkat, tak lagi berbicara dan pernyataan tersebut adalah respons yang sederhana bahwa ia memutuskan untuk kembali, benar-benar kembali.
"Oke deh, nanti gue cek dulu ke bengkel mobil lo, biar besok tinggal lo pakai enak deh," sungut Dean yang setelah itu tak ada percakapan lagi.
Sopir yang menjemput mereka fokus mengemudikan mobilnya dan tak mau ikut campur, Dean juga sibuk dengan ponsel, sementara Helmi melihat perkembangan saham perusahaannya yang akan kembali ia jaga.
Sebelum turun dari mobil ketika mereka sudah tiba di kediaman rumah keluarga Abimanyu, ada hal yang ingin Dean sampaikan dan menahan sejenak pergerakan tangan Helmi yang akan membuka pintu mobilnya. "Oiya Hel, satu lagi yang harus lo tahu berhubung lo mau balik kerja nih, sekretaris lo yang lama dipecat dan sekarang sekretaris lo ganti cewek. Namanya Sandrina, gue harap lo bisa baik ke dia aja sih. Takutnya lo masih phobia cewek trus lo usir deh dia, Pak Abi bisa ngamuk."
Helmi memutar bola matanya jengah mendengar kabar tersebut, ia pun hanya menggerutu sambil melanjutkan langkahnya keluar dari mobil. "Kebiasaan!"
Helmi berjalan masuk ke dalam rumah, seluruh pekerja di sini menyambut kedatangannya dengan berbaris di dekat pintu seperti menyambut orang penting yang sudah lama meninggalkan rumah.
"Ngapain pada baris? Bubar!" kata Helmi dengan suara lantang dan sedikit keras, pasalnya ia tak suka diperlakukan layaknya putra yang dipuja dan disegani berlebihan.
Dean yang membuntuti dari belakang menepuk jidatnya, ia ikut menghampiri mereka dan menyuruh mereka bubar. "Lain kali nggak usah begini ya, Bi. Ini Helmi, bukan Krisna." Dean berbisik pada salah satu kapten asisten rumah ini.
"Baik Den, karena ini perintah dari Tuan Abimanyu, jadi saya menyuruh mereka melakukannya." Bibi itu mengangguk paham, Dean jadi tak enak hati.
"Ya udah Bi, nggak usah tegang. Santai aja." Dean tersenyum sekilas sebelum ia menghampiri Helmi.
"Gila lo nggak usah sok sangar gitu lah!" tukas Dean sambil memukul pelan bahu Helmi yang kini duduk di sofa ruang tengah.
"Gue ke atas," balas Helmi yang beranjak kembali dari duduknya.
"Anjir, baru juga gue lihat lo duduk." Dean melongo karena ditinggalkan oleh Helmi ke atas kamarnya.
Sebenarnya memang tak menyalahkan Helmi, rumah saja sepi. Yang menyambut bukan Abimanyu serta Raqeela, kedua orang tua Helmi yang mengabarkan masih dalam perjalanan menuju ke rumah.
Dean menghela napas kasar, melihat Helmi belum bisa berdamai dengan keadaan rasanya akan tetap sama saat ia menemani pria itu ke mana-mana. Ada banyak wanita di luar sana yang berusaha mendekati Helmi, tapi justru pria itu menarik Dean sebagai gantinya. Entah sampai kapan Helmi akan terus bersikap dingin seperti ini, Dean sampai kehilangan ide dan ia memutuskan untuk berhenti melakukannya.
"Dia udah dapat balasan yang setimpal Hel, harusnya lo mau tahu, harusnya lo mau dengerin dulu." Dean berkata sambil menatap ke lantai atas yang pintunya sudah menutup.