Kembalinya Helmi Abimanyu Sujendral, menjadi perbincangan topik hangat. Bahkan dikalangan karyawan yang terkagum-kagum melihatnya berada di sini dan mulai memimpin perusahaan. Tapi yang lebih penting, Helmi sedikit tak suka karena ia mengamati mereka seakan berusaha mencuri perhatiannya dan bertindak tak normal, contoh-contoh seperti itu akan terlihat layaknya penjilat. Mendengar status lanjang Helmi, tentu saja para kaum hawa ingin menjadi salah satu bagian kriterianya.
"Selamat pagi, Pak Helmi, Pak Dean."
Helmi melirik seorang wanita yang ia ketahui bernama Sandrina, dari name tagnya dia adalah sekretaris baru Helmi seperti yang diceritakan oleh Dean.
"Pagi Sandrina. Betah ya kerja di sini," sahut Dean yang berbeda dari Helmi dan lebih mudah berbasa-basi.
"Iya Pak, betah kok. Silakan masuk, Pak." Sandrina menjawab dengan sangat ramah dan senyum manisnya. Lantas ketika pintu lift terbuka, ia mempersilakan kedua atasannya masuk terlebih dahulu.
Hari ini agenda pertama adalah meeting dan ada Pak Abimanyu yang akan melepaskan tugasnya, lalu digantikan oleh Helmi karena selama Helmi pergi, Pak Abimanyu tidak jadi pensiun dan menggantikannya sementara.
Pintu lift terbuka, Helmi berjalan dengan penuh wibawa. Ia membuka lebar ruang utama yang akan menjadi meeting penting, di sana sudah ada beberapa karyawan inti dari berbagai divisi.
"Helmi, selamat datang dan selamat menjalankan bisnismu." Abimanyu menyalami Helmi dengan senyum lebarnya, ini secara formalitas saja sebelum ia dipersilakan duduk. Sementara Dean beserta Sandrina duduk dan bergabung dengan karyawan lainnya.
"Selamat pagi semuanya, akhirnya dengan kesempatan yang kedua ini, aku akan memutuskan untuk menetap di sini dan memimpin perusahaan ini kembali. Mungkin jika ada pertanyaan perihal perusahaan atau masalah apa pun yang akan kita hadapi, kalian bisa koordinasi dengan aku dulu dengan melewati prosedur seperti biasanya melewati atasan kalian dulu, selanjutnya bisa melewati aku. Terkhusus untuk karyawan lama pasti sudah tahu cara kerjaku, kan? Santai saja, tidak usah buru-buru, tidak usah terlihat perfect di depanku, ada atau tidaknya aku, kalian harus bersikap sama. Aku lihat banyak karyawan baru untuk bagian tertentu. Baik baru atau lama, kalian sama ok? Yang perusahaan ini butuhkan adalah kerjasama team." Helmi mulai berbicara dan membuka suaranya yang mendapatkan tepuk tangan dari setiap team yang ikut berkumpul di meja rapat tersebut.
"Baiklah, Helmi, sekarang kamu bisa menjalani kembali dan aku waktunya berlibur bersama sang istri," kata Abimanyu yang masih berdiri di sisi Helmi.
Helmi menengadahkan kepalanya ke arah sang Papa. "Silakan, Pa, terima kasih atas bantuanmu!" sungut Helmi yang kemudian melakukan bentuk rasa hormatnya sebelum Abimanyu juga berpamitan undur diri dari ruangan tersebut.
"Pimpinan rapat aku ambil alih, ya. Perusahaan kita ini bergerak di bidang jasa mengajak dan mencari para pemain muda yang baru mau mulai masuk ke investasi saham. Aku melihat data yang sebelumnya dipimpin oleh papaku, berdasarkan penglihatanku di Indonesia dengan luar negeri tingkat minatnya masih berbeda jauh. Maka dari itu, kita harus lebih berusaha menarik para pemuda pemudi dalam menyesejahterahkan perekonomian Indonesia." Helmi mulai berbicara panjang lebar. Auranya kembali lagi saat berbicara dengan rekan kerjanya.
"Sedikit cerita waktu aku lebih banyak mengisi workshop di luar negeri, aku bertemu dengan banyak orang dan setiap pertemuan aku selalu mendapatkan pertanyaan-pertanyaan yang sangat kritis, keingintahuan mereka membuatku lebih antusias untuk memberikan ilmu. Dan lagi, aku merilis buku baru, nanti aku akan kasih lihat karena bukunya ketinggalan di rumah. Aku mau sih nanti buku itu bisa dicetak dan masuk ke distribusi Indonesia karena aku menuliskan dalam bahasa Inggris dan masuk ke distribusi orang Eropa. Aku senang bisa berkunjung ke sana, mereka sangat ramah, dan mau menerima ilmu serta mengeluarkan ide-ide pemikiran yang tidak pernah bisa kusangka. Generasi muda di sana kreatif dan aktif. Mereka tahu kapan waktunya masuk, kapan waktu grafik bergerak naik dan turun. Dan satu lagi, aku mau membuat kelas tranding gratis khusus untuk pemuda pemudi di sekolah-sekolah SMA jurusan IPS. Ok, ini aku minta untuk sekretarisku yang mengurus, ya."
Helmi menyelesaikan rapat selama satu jam lebih setelah kepergian Abimanyu. Ia lebih banyak berbagi pengalaman waktu tinggal di Eropa. Ia menceritakan suka dukanya saat berkontribusi di sana. Hal tersebut menarik perhatian Sandrina, ia tak menyangka bahwa akan membawain bosnya yang tampan, tegas, berwawasan luas, berwibawa dan lagi sangat berhati mulia bagaimana ia menyalurkan ilmunya seperti aliran air. Helmi mampu memikat lawan bicaranya. Bukan cuma perempuan yang dibikin klepek-klepek, pria-pria lainnya pun sangat mungkin menjadikannya idola.
"Pak Helmi, tunggu!" panggil Sandrina yang mengejar Helmi ketika ia meninggalkan ruangan rapat.
Helmi menghentikan langkahnya saat mendengar namanya dipanggil oleh seseorang. Ia berbalik badan, sejenak melihat Sandrina mengatur napasnya sebelum membuka suara. "Ada apa Sandrina?" tanyanya sambil menatap serius wanita di hadapannya.
"Anu, Pak... boleh minta nomer hapenya Bapak, nggak? Kan, saya sekretaris Bapak nih, takutnya ada hal-"
"Kosong delapan satu lima...."
Mata Sandrina melotot, ia buru-buru mengambil bolpen dan mencatat nomer ponsel Helmi sebelum pria itu menghentikan ucapnya dan melengos pergi.
"Astaga, Pak Helmi..." Sandrina kelabakan dan melihat punggung Helmi yang sudah menghilang. Tak apa, yang penting ia sudah mendapatkannya. Nomer ponsel Helmi sudah ia catat.
"Sandrina?" Saat wanita itu masih tersenyum lebar karena merasa bahagia, ia terkejut bahunya dicolek.
"Eh, Pak Dean?" sahut Sandrina sambil menatap Dean yang ternyata baru saja keluar dari ruang rapat tadi.
"Kenapa kamu bengong di sini? Apakah tidak ada pekerjaan? Apakah Pak Helmi melakukan sesuatu yang membuatmu bingung?" tanya Dean yang membuat Sandrina menggeleng cepat.
"Nggak Pak, aku baik-baik saja dan aku mau kembali kerja ya, Pak. Selamat bekerja juga Pak Dean!" Sandrina berbalik, ia berjalan menuju ke ruangannya dan tak jauh dari ruangan Helmi berada.
Dean yang ditinggalkan hanya bisa mengembuskan napas panjang. "Perasaan gue belum bilang selamat bekerja Sandrina, napa dia seolah-olah balasin ucapan selamat kerja dari gue? Auh, ah yang penting Helmi nggak buat ulah sama cewek."
***
Pekerjaan Helmi di hari pertama sangat lancar, walaupun ia memiliki kesibukan karena harus mengurus data-data investor dari pemain lama yang telah mempercayai perusahaan ini, atau pemain baru yang baru memulai menanam sahamnya dan dikelola oleh perusahaan ini dalam jangka waktu tertentu akan segera mengadakan rapat umum dengan mereka. Maka ia memerlukan data diri mereka untuk memberitahu bahkan pimpinan akan diambil alih dari Pak Abimanyu beralih pada Helmi.
Kini ia akan bersiap-siap pulang, semua karyawan yang ada di sini juga sedang bersiap-siap pulang. Karena mereka membiasakan diri pulang setelah melihat bos mereka pulang.
Helmi hanya tersenyum singkat saat sesekali disapa oleh orang-orang di kelompok divisi masing-masing. Saat ia akan masuk ke dalam mobilnya, sosok Dean muncul mengejarnya ke parkiran dan menariknya agar tidak buru-buru pulang.
"Apa?" Helmi bertanya datar.
"Lo bagiin nomer hape siapa ke Sandrina anjir?" tanya Dean dengan ekspresi tak santai yang membuat alis Helmi terangkat heran.
"Nomer hape gue, masa nomer lo?"
"Nomer hape lawas lo, ya, njir?" Dean menyandarkan diri di mobil Helmi.
"Ah, masa?"
"Iya anjir, tadi waktu di telepon loh katanya yang angkat bilang gini, 'halo bisa dibantu? Mau pesan sparepart? Trus waktu Sandrina jawab ini bukan nomer Pak Helmi? Lah dijawab ini nomer Pak Hadi yang jualan sparepart. Trus sama Sandrina dimatiin deh, dia bilang salah sambung. Parah lo, itu pas gue cek nomer lama lo. Masa lo sengaja ngasih nomer lama lo sampai sekarang aktifnya dipegang sama Pak Hadi-Hadi itu."
Helmi tak berekspresi apa-apa. "Oh, gue lupa." Ia menanggapi datar dan singkat.
"Sengaja ya, kasihan tahu. Dia sampai nanya ke gue minta nomer lo yang asli."
"Lagian kan masih jam kantor bisa telepon pakai nomer kantor?"
"Ya, lo peka dikit napa kalau cewek begitu tandanya ada unsur ketertarikan sama lo," sahut Dean gemas.
"Oh."
"Dih, anjir lo dikasih tahu malah ah, oh, ah, oh doang."
"Minggirlah, gue mau pulang capek." Helmi tak banyak ambil pusing, ia menggeser Dean dan masuk ke dalam mobilnya, sementara Dean yang melihat tingkah Helmi tak jauh beda seperti saat di Eropa, hanya bisa mengembuskan napas panjang.
Kini mobil Helmi sudah melesat jauh meninggalkannya. Sedangkan Dean juga ikutan pulang kembali ke mobilnya.
Di perjalanan pulang, Helmi mengembuskan napas gusar beberapa kali. Namun ketika ia akan membelokkan mobilnya ke arah lain, seorang bapak-bapak tua menyeberang jalan dengan mendadak tanpa melihat sejenak apakah lampu merah atau sudah berubah menjadi hijau.
'Drrrttt!' Suara decitan mobil direm mendadak oleh Helmi.
Sontak saja Helmi turun dari mobil, ia menghampiri Bapak tersebut untuk melihat keadaannya. Hal yang mengejutkan, ia tak menyangka akan menjadi seperti ini. Ia tak percaya bahwa Bapak ini adalah seseorang yang ia kenal. Penampilan dengan kaus kumal dan sobek-sobek persis seperti seorang gelandangan.
"Pak Shandy Aga?"