Mendengar ceritanya, Helmi sadar selama ini di dalam lubuk hatinya masih menyimpan sebuah luka, mungkin semua orang tak bisa melihatnya. Lantaran di luar amat tak terbaca, memandang kecewa layaknya pemandangan yang kini sedang ia amati dalam perasaan gusar. Rintik-rintik berdatangan bagaikan menyambut rasa kecewa itu secara perlahan. Menempias atap rumah dan tanah lapang di bawah sana. Bunyi guntur menggelegak perlahan, bagaikan gemuruh ombak mengempas karang.
"Kau pria yang baik hati Helmi, Bapak tahu itu. Kepergianmu membawa banyak perubahan dalam kehidupanmu, seharusnya Reeta bisa melihatnya."
Pria di balik punggung Helmi dipersilakan masuk ke dalam rumah mewahnya ini. Mereka tak berbincang di ruang tamu, melainkan ke kamarnya langsung karena Helmi orang yang benar-benar tak mau diganggu privasinya. Helmi juga bisa menebak bahwa obrolan mereka akan seberat ini.
"Pulanglah, aku akan menyuruh sopir untuk mengantarkanmu. Sudah cukup sampai di sini, jika kau mau makan ambil di dapur rumahku, bawa semaumu. Walaupun Putri anda memiliki perilaku buruk kepadaku di masa lalu, aku tidak bisa memberikan keputusan begitu saja mengenai tawaran yang kau berikan itu." Helmi mengutarakan dengan tegas, kemudian ia berbalik badan sambil merogoh kantungnya untuk mengambil beberapa lembar kertas uang seratus ribuan dan ia berikan kepada Pak Shandy. Ia buka tangannya dengan paksa. "Aku tahu, kau pasti membutuhkannya. Aku tidak pernah membenci, dan aku tidak akan memaki, karena aku tahu bagaimana rasanya berada di bawah ketika kehadiranmu yang apa adanya justru ditertawakan seperti ada apanya."
Lantas Helmi berjalan ke meja yang berada di kamar ini, terdapat sebuah telepon genggam di atasnya, menempelkan benda tersebut pada daun telinga hingga sambungannya dijawab oleh salah satu pekerja di rumah ini.
"Tolong antarkan tamu spesial saya pulang."
Tanpa mendengarkan balasannya karena hal tersebut sudah seperti perintah yang harus dijalankan, sehingga Helmi telah mengakhiri sambungannya dan meletakkan kembali telepon genggam tersebut ke tempatnya.
Tak lama dari itu pintunya sudah diketuk, Helmi memerintahkan mereka masuk. Sementara Pak Shandy menatap Helmi dengan tajam dan serius sembari dijemput oleh orang-orang Helmi yang akan membawanya pergi dari sini.
"Helmi, kau harus memikirkannya dengan baik!" Pak Shandy berteriak setelah ia berjalan dengan setengah ditarik oleh orang-orang Helmi.
Berdiri di tempatnya, Helmi tampak membuang napas kasar. Ia berkata tegas sebelum Pak Shandy benar-benar menghilang lebih jauh dari kamarnya ini. "Aku yang akan mencarimu saat waktunya telah tiba, Pak Shandy yang terhormat."
'Brak!'
Pintu kamar Helmi ditutup dengan cukup keras setelah mereka menghilang, Helmi yang belum sempat mengganti pakaiannya hanya bisa mengembuskan napas panjang. Ia berjalan sambil mengempaskan diri di sofa. Kedua tangan mengendurkan dasi sekaligus melepaskannya dan dilempar asal ke atas ranjang di hadapan Helmi beberapa langkah ini.
Rekaman suara Pak Shandy yang terdengar memilukan seperti audio book itu kembali ia putar ulang dalam benaknya.
"Kau tak kasihan istriku sedang sakit keras di saat usahaku bangkrut. Aku membutuhkan biaya untuk menyembuhkannya, Nak Helmi. Mungkin Reeta bisa menjadi gantinya jika kau masih mencintainya. Reeta mungkin tidak sesempurna dulu. Dia cacat semenjak kecelakaan itu menimpanya. Tetapi aku yakin, kali ini pasti dia akan membalas perasaan cintamu. Dia pasti menyesal karena perbuatan buruk di sama lalunya."
Helmi hanya memandang datar, tak memberikan tanggapan dengan cepat, bahkan tak menunjukkan ekspresi simpati atas curahannya.
"Aku ingin Reeta bisa menikah dan memilik seseorang yang akan menggantikan aku untuk menjaganya. Tetapi kondisi Reeta seperti ini sangat susah untuk mencari pasangan. Jika kau masih mencintainya, aku memberikan restu untuk kau mendekati anakku Helmi," tutur Pak Shandy.
"Kau menjualnya padaku. Karena kau membutuhkan uang. It's okay, aku akan memikirkan penawaranmu."
Wajah Pak Shandy berubah menjadi berbinar-binar, ia memandang Helmi penuh harap. "Terserah kau ingin menanggapinya seperti aku menjual anakku padamu. Bagaimana jika kalian benar-benar menikah?"
"Tidak bisa." Helmi segera menjawab cepat.
Kernyitan samar timbul pada kening Pak Shandy. "Bukan kah kau mencintainya?"
"Memangnya menikah semudah itu? Semudah aku mencintainya?" Helmi mengintimidasi lawan bicaranya.
Mereka terlibat adu pandang dalam beberapa sekon, hingga pada akhirnya Pak Shandy memutus pandangan mereka lebih dulu. "Baiklah. Apa mau kamu? Aku minta tolong padamu."
Pada bagian tersebut, Helmi tak lagi memberikan jawaban, ia menggantungkan jawabannya dan menyimpannya di dalam hati. Kemudian, Helmi memutuskan untuk menyuruh Pak Shandy pergi dari rumahnya, ia tak lagi membutuhkan pria itu di sini.
***
Sejak tadi Dean mengumpat karena mendengar keputusan Helmi yang menurutnya akan menambah masalah dalam hidupnya. Walaupun bukan Dean yang akan menjalaninya, tetap saja Dean memikirkan bagaimana respon Pak Abimanyu jika tahu hal ini. Dean pasti akan kerepotan lagi, lantaran tanpa sepengetahuan Helmi yang sesungguhnya telah membuat keluarga Reeta sengsara adalah ulah papanya sendiri.
"Pikirin baik-baik dulu bro!" Dean bersikeras membujuk Helmi yang kini sedang terburu-buru untuk pergi mencari Shandy dengan berkas-berkas ditangannya. "Gue anterin lo deh," kata Dean lagi yang terus mengekor di belakang Helmi seperti anak ayam.
"Kerjaan lo banyak," sahut Helmi sampai ia masuk ke dalam mobil dan membanting pintunya cukup keras.
'Brak!'
"ANJ!" pekik Dean seraya mengelus dadanya shock.
Dalam hitungan detik, mobil tersebut telah melaju dengan sangat kencang. Meninggalkan basemen ini dan meninggalkan Dean dengan muka pasrahnya yang kemudian mengacak rambut frustasi.
"Ini Pak Abimanyu baru balik ke Indonesia lagi bulan depan, lo nggak tahu apa semarah apa beliau kalau ternyata lo malah bantu orang yang udah dia jatuhin? Astaga, gue yang kena semprot bisa-bisa Helmi! Apa sih rencana lo sebenarnya? Kenapa lo balik ngejar dia lagi?!" gerutu Dean seraya membuang napas kasar sebelum ia kembali ke dalam kantornya.
Helmi akan berpikir berkali-kali jika ia masih merasa ragu untuk mengambil keputusan, namun berpikir sepanjang malam kemarin saja, sudah membuat Helmi menemukan tindakannya di pagi hari. Kini ia menemukan informasi dari orang suruhannya, bahwa Shandy berada di jalanan Ibu Kota. Mobil mewah Helmi terpaksa harus ia parkirkan di area kafe terdekat. Ia lebih baik blusukan di balik gang-gang sempit, karena maraknya gelandangan di tempat tersebut tidak ingin membuat kedatangan Helmi terlalu mencolok. Seperti saat ini, sebelum helmi turun melepaskan sejenak kemeja serta dasi yang mengikat agar tergantikan oleh dalaman kaos polos hitam, lalu mengganti pula sepatu kerja dengan sepatu convers hitam miliknya. Sehingga penampilan pria itu lebih terlihat casual.
"Siapa dia? Apakah dia orang yang akan menggusur tempat ini?"
"Usir saja!"
"Lebih baik kita tanya dan cegah dia masuk ke kawasan kita lebih jauh."
Sahutan demi sahutan dapat Helmi dengar walaupun mereka merendahkan suaranya dan berbisik-bisik. Sebagai bentuk kesopanan, Helmi pada akhirnya yang mengalah. Ia lebih dulu menghampiri mereka. "Selamat siang, mohon maaf Bapak, Ibu, jika kedatangan saya di sini mengganggu, saya hanya ingin mencari seseorang bernama Shandy Aga. Apakah beliau benar ada di sekitar sini untuk mencari nafkah sehari-hari? Saya adalah salah satu temannya yang ingin membantunya."
Mereka semua terlihat bingung dan saling pandang. Senyum Helmi merekah karena ia ingin memperlihatkan keseriusannya pada mereka. Terlihat ketiga orang tersebut saling merangkul dan sedang berdiskusi singkat. Helmi menghargai mereka, menunggu mereka, dan tetap menampilkan ekspresi hangat di hadapan mereka.
"Sepertinya dia orang baik."
"Shandy yang anaknya pakai kursi roda bukan, sih?"
"Iya, bagaimana menurut kalian?"
'Ekhem!'
Dehaman Helmi yang sengaja sambil pura-pura memalingkan wajah melihat ke sekitarnya berhasil membuat rumpihan mereka berakhir.
"Pak Shandy!"
Helmi menoleh, salah satu dari mereka melambaikan tangan ke arah belakangnya yang ternyata sangat kebetulan pria paruh baya itu ingin berjalan melewati mereka dengan menggendong karung cukup besar berisi beberapa plastik bekas yang bisa dikilokan dan menjadi uang receh.
"Pak Shandy ada yang nyariin nih!" sahut yang lain menambahkan.
Topi putihnya yang sudah kotor itu ia lepas, memperlihatkan raut wajahnya yang cukup lelah. Sebelum Helmi menghampiri Shandy, ia menatap ketiga orang tersebut, memberikan senyum sekilas sambil menyodorkan amplop kepada mereka tipis-tipis.
"Wah, terima kasih!" ucap mereka tampak senang dan berlalu pergi karena Helmi juga tidak ada urusan lagi bersama mereka.
Semua hal itu disaksikan oleh Shandy, ia tersenyum hangat menanggapi itikad baik Helmi. "Kau datang juga mencariku Nak Helmi," ucap Shandy.
Di tangan Helmi memegang berkas penting dalam sebuah amplop, ia sodorkan pada Shandy. "Kau baca dengan baik. Jika setuju, aku tunggu malam ini di rumahku, Pak."
Lantas Helmi pergi meninggalkan Shandy yang tengah penasaran akan isi amplopnya. Buru-buru Shandy mencari tempat duduk, ia turunkan karung rongsokan tersebut dan mulai membuka kertas yang terlipat di dalamnya.
Syarat dan ketentuan perjanjian dalam penyerahan Putri Shandy Aga kepada Helmi Abimanyu Sujendral :
1. Helmi akan memenuhi dan menunjang hidup Shandy sampai istrinya sembuh.
2. Helmi berhak membawa Reeta karena Shandy yang meminta, maka dari itu Shandy tidak boleh lagi mencampuri urusan Reeta karena putrinya tersebut telah menjadi milik Helmi sepenuhnya.
3. Apa pun keputusan Helmi, jika Shandy Aga menerima tawaran ini dengan menandatangani serta menerima bantuan dari Helmi, maka Shandy serta putrinya tidak dapat mengganggu gugat kemauan Helmi karena jika mereka melanggar, Helmi tak segan-segan membawanya ke jalur hukum.
Shandy menarik napas panjang sambil beralih menatap ke depan dengan senyum sumringah. Ia melipat kembali kertas tersebut dan memasukkannya ke dalam amplop.
***
Reeta memandangi pintu rumahnya yang dibuka, ia duduk di kursi roda dengan pandangan kosong. Punggungnya membungkuk, rambut panjang yang menjuntai sedikit berantakan dan tak terawat seperti dulu. Sejenak ia ingin tertawa atas jentaka yang ia telan. Dan perasaan lelah itu hanya ingin ia sembunyikan pada dunia, sampai pada akhirnya ia tak pernah mau keluar dan menjadi sosok wanita penyendiri.
"Reeta, kali ini kau harus mendengarkan perintah Papa!"
Reeta hanya meliriknya sekilas, pandangannya terlampau dingin.
"Sebentar lagi akan ada mobil datang menjemput kita, kau harus ikut Papa!"
Reeta tak menanggapi ucapan papanya, ia duduk bagaikan boneka hidup.
"Pa, kenapa nggak aku aja sih? Lagian Reeta nggak akan mau sama cowok itu. Aku bisa kok bahagiain pria itu. Dia pasti makin keren, Reeta bodoh karena dulu menyia-nyiakannya." Keira yang selalu menjadi kebanggaan Shandy menyela, ia sudah mempersiapkan diri.
Menatap putri tirinya, Shandy tersenyum ramah. "Kei, lebih baik kau menjaga mamamu saja, ok? Dia tak akan mau bersamamu, dia hanya menginginkan Reeta, Kei."
"Tapi kan Keira juga mau tinggal di rumah mewah lagi, Keira mau punya suami, mau nikah, mau dimanja sama sosok yang bisa mencintai juga menjaga Keira, Pa!"
Mendengar perdebatan keduanya, ekspresi menyebalkan Reeta yang sedikit menyunggingkan senyuman itu mendapat lirikan dari Keira hingga mobil pesanan Shandy telah tiba. Sekali lagi Shandy berkata pada sang putri tirinya. "Kau akan mendapatkan yang lebih baik, Kei. Suatu saat nanti, masuklah. Mamamu membutuhkanmu." Lalu kedua tangan Shandy mendorong kursi roda Reeta yang tak memberikan perlawanan sampai wanita itu diangkat ke dalam mobil bersama Shandy dan dibantu oleh sopirnya.
"Alamat sudah sesuai aplikasi ya, Pak."
"Iya Pak, jalan." Shandy mengangguk, ia menatap Reeta sekilas, juga Keira yang berada di ambang pintu sebelum sang driver mulai melajukan mobilnya meninggalkan rumah kontrakan mereka yang berada di dekat jalanan sepi.