Keluar dari mobil, Reeta dan Shandy disambut oleh para penjaga rumah keluarga Abimanyu. Tidak mungkin ia melupakan siapa pemilik rumah ini, Reeta memandang sendu sambil di dorong masuk ke dalam.
"Pulang!" ucapan Reeta yang terdengar menyentak, menghentikan pergerakan Shandy mendorong kursi rodanya.
"Reeta, kita sudah sampai sini. Kau harus mau menjadi istri Helmi," kata Shandy seraya membungkuk dan sedikit berbisik di dekat telinga Reeta.
Kedua tangan Reeta mengepal, ia menatap tajam interior rumah mewah ini sampai pada akhirnya menemukan sosok yang telah lama tak pernah ia jumpai semenjak kecelakaan itu terjadi.
Pria yang memakai pakaian formal itu mendekati Shandy tanpa melirik ke arah Reeta. Dari sudut mata Reeta, ia menyaksikan pria itu sedang menyodorkan sebuah cek yang entah berapa nominalnya, kemudian suara desisan pelan ia bisikkan di dekat telinga Shandy. "Pergi dan tinggalkan dia di sini."
Shandy tampak berbinar-binar memandang cek dalam genggamannya, ia mengangguk antusias dan tak lupa mengembalikan surat perjanjian yang telah ia tanda tangani tersebut. Sebelum berbalik badan lalu pergi, ia membungkuk mendekatkan bibirnya pada telinga Reeta. "Nak," ucap Shandy sambil menepuk bahu Reeta pelan. "Berbahagialah di sini, kau sangat beruntung mendapatkannya."
Shandy segera berlalu pergi karena tatapan tajam Helmi sedang mengintimidasinya. Baru beberapa langkah pria paruh baya itu pergi, suara keras dari kursi roda Reeta mengejutkan keduanya.
"Aku mau pulang!" pekik Reeta sambil mengentakkan kakinya pada pijakan di bawahnya. Kemudian ia menggunakan kedua tangan untuk membawa dirinya berputar arah meninggalkan tempat tersebut.
Helmi sama sekali tidak berniat menahan, ia ingin melihat bagaimana reaksi Shandy ketika anaknya hendak menyusul dirinya keluar dari rumah mewahnya.
"Reeta!" teriak Shandy seraya menghalangi jalan Reeta sambil merentangkan kedua tangan seusai ia memasukkan cek ke dalam saku celananya.
"Papa kenapa jual Reeta ke dia?!" kata Reeta dengan suara yang cukup lantang.
Mendengar ucapan anaknya, Shandy melotot. Ia menghampiri Reeta hingga terjadi sebuah tragedi yang tak pernah Helmi duga.
'Plak!'
"Kamu kalau bicara jangan asal, Reeta!" kata Shandy seraya menatap Reeta dengan pandangan tajam. "Sekarang kamu kembali. Helmi tidak membelimu, uang yang Papa terima ini untuk kesembuhan mamamu yang butuh pengobatan. Kamu tahu kalau papamu ini sudah bangkrut dan nggak punya apa-apa? Justru kamu bersyukur karena Papa menawarkanmu untuk menikah dengan Helmi," tukas Shandy yang penuh penekanan hingga Reeta tidak bisa membendung perasaan sedihnya. Rasanya begitu sesak, ia paham situasinya bukan seperti ucapan Shandy barusan.
Melihat tak ada perlawanan lagi dari Reeta, Shandy pun beranjak dari sana. Ia benar-benar meninggalkan Reeta yang merasakan bekas tamparan cukup keras dari telapak tangan papanya sendiri. Tangan kanan Reeta terangkat ke udara, ia sentuh pipi kanannya sendiri.
Sementara Helmi yang berdiri di belakang Reeta tak jauh, menyaksikan drama kecil tersebut tanpa ekspresi sebelum ia memutuskan untuk pergi meninggalkan lantai satu. Membiarkan sejenak Reeta yang akan berpikir panjang sambil menyuruh asisten rumahnya untuk menjaga wanita tersebut.
Perasaan Reeta benar-benar campur aduk. Ia merasa tak memiliki harapan, karena terlalu banyak perasaan kecewa yang membuatnya sengsara. Ia merasa tak lagi memiliki tujuan, karena terlalu lelah memikirkan kegagalan setiap kali melakukan sesuatu yang tak sesuai dengan ekspektasinya.
Air mata Reeta terus mengalir sampai tiba waktunya pintu rumah ini ditutup oleh seseorang yang Reeta tebak adalah asisten di sini. Wanita gemuk yang berisi itu berjalan melewatinya begitu saja setelah ia menutup pintu depan. Reeta sesenggukkan, dadanya terasa amat sesak. Namun di saat seperti ini, sebuah getaran membuat ia membuka sedikit bajunya karena ponsel ini adalah salah satu benda yang Reeta miliki. Di mana Reeta akan menggunakannya untuk menjadikan teman berkomunikasi.
Pesan masuk membuat Reeta mengusap air mata dengan punggung tangannya. 'Pesan misterius itu lagi?' batin Reeta seraya mengerjapkan kedua matanya beberpa kali sambil berupaya untuk membaca isi pesannya dalam hati.
Bagaimana kau harus hidup?
Walaupun kau pernah merasa kehilangan, pernah merasa kecewa, dan hal-hal yang terjadi di masa yang sudah kau lewati, kau masih tetap kuat dan bisa bertahan untuk lebih bahagia di kemudian hari.
Begitulah isi pesannya yang Reeta baca. Tapi lagi-lagi muncul sebuah pertanyaan dalam benak Reeta. "Siapa kau sebenarnya?" gumam Reeta.
***
Ditemani musik Nadin Amizah yang Bertaut, Helmi sedang menghadap layar komputernya yang terdapat di dalam kamar ini. Sesekali ia menyeduh kopinya saat merasa butuh ketenangan. Helmi bertanya-tanya, bagaimana keadaan Reeta saat ini setelah ia memberikan waktu wanita itu sendiri sambil memikirkan langkah ke depannya setelah ia masuk ke dalam rumah ini. Antara percaya atau tidak kepada Shandy, Helmi pun tak peduli jika wanita itu dipaksa dan dibodohi oleh orang tuanya sendiri. Sehingga seperti menyerahkan diri kepada seseorang yang mau menerimanya.
Helaan napasnya berkali-kali terbuang dengan cukup panjang. Ponselnya menyahuti isi pikirannya. Sontak saja Helmi segera menerima panggilan tersebut dengan setengah alis bertautan heran.
"Ya? Halo?" sapa Helmi tanpa ekspresi dan datar.
"Tuan, wanita itu tertidur dalam posisi duduk di kursi rodanya."
"Biarkan saja," sahut Helmi. "Yang penting kau sudah mengunci dan menutup semua pintu rumah ini, kan?" Helmi kembali menambahkan sedikit dari kecemasannya.
"Sudah Tuan."
'Klik.' Helmi memutus sepihak sambungan telepon tersebut karena ia sendiri penasaran untuk segera turun ke bawah dan melihat secara langsung apa yang tengah terjadi.
Keesokan harinya, Helmi sedang panik saat tak dapat menemukan sosok Reeta di sini. Ia sempat mencari mengelilingi rumahnya, begitu kedua kakinya berhenti melangkah, Helmi dapat menghela napas lega karena ia menemukan Reeta sedang berada di taman rumahnya yang asri, duduk di kursi rodanya sambil memandang ke arah yang entah apa, karena ia memunggungi Helmi.
Tidak ingin mengganggu Reeta, Helmi mencari ketua asistennya.
"Bi, dia udah makan? Udah mandi?" tanya Helmi tak santai, namun tetap menjaga intonasi suaranya agar tidak terdengar sampai ke arah taman.
"Belum Tuan, Non Reeta sama sekali tidak berbicara. Dia terdiam seperti orang bisu saat Bibi bertanya." Bibi memberikan jawaban sambil menundukkan kepalanya.
Berdecak kesal, Helmi menarik kursi di sisinya dan duduk menghadap meja pantry sambil melaksanakan sarapan pagi yang telah dibuatkan oleh Bibi.
"Kalau gitu nanti Bibi ambil kertas yang sudah aku tulis di kamar. Aku letakkan di atas meja kerjaku, berikan padanya dan suruh ia membaca dengan baik," tutur Helmi sebelum ia memulai sarapan paginya dengan tenang, kemudian sang Bibi mengangguk singkat dan berlalu pergi meninggalkannya.
"Helmi, kau gila membawa gadis itu tinggal di rumahmu?!"
Helmi mendongak, suara yang baru saja datang tiba-tiba sudah menyapa sarapan paginya dengan cukup buruk karena dinaikkan dalam satu oktaf. Dean duduk di hadapannya, ia memandang Helmi meminta penjelasan.
Tak ada waktu banyak untuk menjelaskan tujuannya pada Dean selain menghabiskan sejenak makanannya. Ia hanya memberikan pergerakan mata serta jari telunjuknya yang mewakili suaranya sebagai jawaban seperti berkata, "aku sedang makan."