“Oke, gue udah duduk, kopi gue udah datang, dan gue udah janji nggak bakal menjerit.” Nadia menyandarkan punggung ke kursi kayu kafe kecil di seberang kantor, menatap Gracia yang masih membuka resleting tas kameranya dengan gerakan lambat. “Jadi apa yang bikin lo setegang itu?”
“Jangan menjerit dulu. Lihat dulu.”
Gracia membuka laptop dan memutarnya menghadap Nadia. Layar menampilkan deretan foto kecil dengan nama berkas bertanggal. Dia mengklik satu, lalu satu lagi.
Pantai berbatu dan dermaga kayu muncul di layar. Langitnya abu-abu pucat. Seorang pria jangkung berdiri di ujung dermaga dengan mantel hitam, tangannya di saku. Nadia mengenali bahunya lebih dulu daripada wajahnya.
“Ini sebelum foto yang kamu lihat di mall,” kata Gracia. “Aku memotret pemandangan, nggak sengaja dia masuk bingkai. Aku nggak tahu siapa dia saat itu.”
Klik berikutnya. Wanita berambut panjang berlari kecil di dermaga itu, lalu berhenti dan memeluk pria tadi dari depan. Wajahnya menempel di dada Felix. Itu foto yang pernah membuat dunia Nadia miring di sebuah mall berminggu-minggu lalu. Perutnya seperti ditarik pelan, kebiasaan lama.
“Gue udah lihat yang ini,” kata Nadia.
“Yang ini bingkai ke-47.” Gracia menunjuk nomor di sudut layar. “Dua detik setelahnya ada bingkai ke-48. Aku lupa karena fokusnya buram. Semalam aku menyalakan ulang arsipnya karena penasaran.”
Klik.
Foto ke-48 memang buram, tetapi cukup jelas. Gladys masih dalam pelukan itu, tetapi bahunya gemetar, bukan seperti orang yang memeluk karena rindu, melainkan seperti orang yang berlindung. Felix menunduk padanya dengan wajah yang tidak Nadia kenal: keras, waspada, mata memandang ke sisi kanan jauh melewati kepala Gladys.
Gracia memperbesar bagian kanan layar. Di kejauhan, di ujung jalan setapak di tepi pantai, berdiri sosok pria dengan jaket gelap dan kepala sedikit miring. Dia tidak bergerak. Posturnya tegang seperti anjing yang menunggu aba-aba.
“Bingkai ke-49,” bisik Gracia.
Klik. Felix berdiri tegak. Kedua tangannya sudah melepaskan Gladys dan menahan bahunya dari jarak satu langkah. Gladys menunduk. Pria di kejauhan masih di sana.
Nadia menatap layar lama. “Itu Aron.”
“Aku nggak yakin awalnya. Tapi di acara perusahaan itu aku sempat memotret lobi dari lantai atas waktu keamanan menahan seorang pria.” Gracia membuka satu berkas lagi dan menyejajarkan dua gambar. “Rahang yang sama. Cara berdirinya sama.”
“Tanggalnya?”
“Hari ketiga Felix di sana, jam dua siang.”
Nadia mengangguk perlahan. Dia mengingat suara Felix di parkiran restoran pada hari yang berat itu. Bahwa dia bertemu Gladys saat dinas, bahwa Gladys lari dari suaminya, bahwa Felix tidak bisa membiarkannya. Semua yang dia dengar saat itu ternyata benar, dan foto-foto ini hanya memperlihatkan tubuh dari kisah yang sudah diceritakan.
Dia mengembuskan napas panjang sampai bahunya turun satu senti.
“Gue nggak kaget,” katanya.
“Serius?”
“Gue udah nanya Felix. Dia udah jelasin. Gue udah maafin dia, malah mintanya es krim sepuluh.” Nadia menutup wajah dengan kedua tangan, lalu mengintip dari sela jari. “Tapi lihat sendiri tuh beda. Gue pengin ngilang ke bawah meja. Dulu gue sempat mikir dia selingkuh, gue sampe bayangin ngelabrak dia di depan seluruh kantor.”
“Kamu nggak salah curiga. Fotonya memang kelihatan begitu.” Gracia menutup laptop pelan. “Aku yang motret, dan waktu kamu lihat foto itu, mukamu pucat banget. Aku merasa bersalah setengah mati. Karena itu aku nyimpan semuanya.”
Nadia menurunkan tangan. Dia menatap Gracia, wanita yang baru dia kenal sebulan lebih dan sudah repot membuka arsip demi orang asing.
“Makasih, Grace. Beneran.”
“Bukan apa-apa.”
“Itu apa-apa. Lo bisa aja diem.”
Gracia mengangkat bahu dan menyesap kopinya. Dari balik cangkir dia berkata, “Aku selalu merasa foto itu harus jujur. Kalau cuma satu bingkai dipakai, ceritanya bohong. Bingkai sebelum dan sesudahnya yang mengatakan kebenaran.”
***
Mereka memesan kue cokelat dan membagi dua. Gracia bercerita dia hanya di Jakarta beberapa bulan, mengerjakan foto lepas untuk beberapa merek dan pesta pernikahan, sebelum kembali ke New Zealand.
“Jakarta jalanannya ganas,” katanya sambil mengunyah. “Aku nyaris nyasar tiga kali. Untung Kakakku yang antar-jemput.”
“Kakak lo baik banget.”
“Dia cuma nggak percaya aku bisa pulang sendiri.” Gracia tertawa. “Tapi kalau dia tahu aku sedang duduk di sini bicara soal foto selingkuh bos orang, dia bakal ngambek, jadi tolong jangan bilang.”
“Janji.” Nadia menempelkan jari ke bibir. “Eh, lo nggak bilang ke Felix, kan?”
“Belum. Itu urusan kalian.”
“Nggak usah. Gue sendiri yang bilang. Besok.” Nadia berpikir sebentar. “Ah, jangan, gue bakal dibilang mata-mata. Tapi tetap gue bilang.”
Ponselnya bergetar di atas meja. Pesan Felix: Kamu pulang jam berapa? Nadia mengangkat alis dan mengetik: Kamu mau jemput tanpa nanya? Balasan datang cepat: Saya nanya. Itu sebabnya saya mengetik tanda tanya.
“Ngapain senyum-senyum?” tanya Gracia.
“Cowok gue lagi belajar nanya.” Nadia menaruh ponsel telungkup. “Kemajuan besar buat umat manusia.”
Dia mengaduk kopi dan merasakan sesuatu yang aneh: ringan. Selama berminggu-minggu satu foto itu duduk di sudut kepalanya seperti batu kecil di sepatu. Sekarang batu itu hilang, dan dadanya terasa lapang tanpa alasan yang jelas.
Pintu kafe berbunyi lonceng kecil. Lewat kaca depan, Nadia melihat seseorang berdiri di trotoar, melambai. Kemeja biru muda dan senyum yang terlalu rapi.
Evan.
Dia masuk, berjalan mendekati meja mereka. “Saya kebetulan lewat dan melihat kalian dari luar. Boleh bergabung?”
Gracia bergerak lebih cepat daripada kata-katanya. Tangannya sudah menutup laptop dan menahan tutup itu dengan telapak, seolah hanya sedang merapikan meja. Nadia mengerjap.
“Boleh, Mas. Duduk aja.”
“Terima kasih.” Evan menarik kursi, tersenyum pada Gracia. “Sedang bekerja, Mbak?”
“Cuma memilah portofolio.”
“Boleh saya lihat?”
“Belum selesai diedit,” kata Gracia ringan. “Aku malu menunjukkannya setengah jadi.”
“Tentu. Saya mengerti.”
Dia memanggil pelayan, memesan teh tanpa gula, lalu menoleh pada Nadia dan menanyakan kabar kontraknya.
“Sudah klausul ke berapa?”
“Tiga belas, Mas. Pak Lucas bilang aksenku masih mengerikan.”
“Beliau terlalu keras. Aksen kamu lucu.” Evan menyendok teh yang baru tiba, mengaduk pelan. “Kalau mau, malam ini saya bisa bantu. Kita bisa mengulang sampai klausul lima belas.”
“Makasih, Mas. Aku udah ada guru.”
“Pak Felix?” Evan tersenyum, dan nama itu terdengar seperti sesuatu yang dia tuang pelan-pelan. “Beruntung sekali kamu.”
“Hehe.” Nadia menggaruk tengkuk. Dia merasa kalimat itu harus dijawab tetapi tidak menemukan jawaban yang sopan, jadi dia meminum kopinya. Gracia menggeser kue cokelat ke tengah meja dan menawarkan sepotong pada Evan. Evan menolak halus.
Suaranya hangat, bibirnya tersenyum. Tetapi Gracia, yang duduk dengan tangan masih di atas laptop, memperhatikan matanya. Mata itu bergerak sekali dari wajah Nadia ke tangan Gracia, ke laptop, ke ruang kosong di sela keduanya. Mata itu tidak ikut tersenyum.