“Presión,” kata Anggit, membacakan layar laptop dengan aksen yang membuat pensil di tangan Nadia patah dua. “Presión itu tekanan. Pressure. Kenapa kontrak golf butuh kata tekanan?”
“Tekanan angin pada bola, Nggit.”
“Itu bukan istilah kontrak.”
“Itu istilah kontrak golf.” Nadia menunjuk catatan Evan. “Coba baca di bawahnya.”
Hari Jumat sudah jatuh ke malam, dan lantai tiga tinggal diisi mereka bertiga. Tiga hari sejak kafe itu, tiga hari Nadia berkutat dengan klausul empat belas sampai tujuh belas, satu kali menceritakan pertemuan dengan Gracia pada Felix, dan satu kali nyaris dimarahi Lucas karena menaruh map di kursi.
Evan duduk dua meja dari mereka, mengetik tenang, dan Nadia sengaja duduk dekat Anggit.
Kejadian Rabu malam di dapur mansion masih jelas di kepala Nadia.
“Aku ketemu Gracia kemarin,” katanya sambil memotong wortel yang sama sekali bukan tugasnya. “Dia nunjukin foto New Zealand itu, bingkai sebelum sama sesudahnya. Aku udah tahu ceritanya dari kamu, tapi lihat sendiri tetap beda.”
Felix berhenti mengaduk sup. “Kamu mau saya marah, atau mau saya berterima kasih?”
“Aku mau kamu nggak diam.”
“Terima kasih sudah memberi tahu saya.” Dia kembali mengaduk. Sepuluh menit lewat tanpa satu kata pun, sampai Nadia menyerah dan bertanya apakah supnya sudah matang.
“Sudah,” kata Felix. “Dari tadi.” Entah kenapa, itu terdengar lebih mirip maaf daripada kalimat panjang mana pun.
Di meja panjang ruang divisi, Evan akhirnya bangkit dari mejanya dan membawa kursinya ke ujung meja tempat Nadia dan Anggit bekerja, kemejanya digulung. Lucas memerintahkannya menyerahkan daftar istilah kontrak ke tim sebelum akhir pekan, jadi malam itu dia memeriksa glosarium yang mereka susun bertiga, dan Nadia menerimanya sebagai tugas kantor, bukan tawaran pribadi. Dia memegang pulpen seperti orang yang sudah terbiasa duduk berjam-jam tanpa mengeluh.
“Klausul pembagian pendapatan,” katanya. “Ingresos compartidos. Kata ini sering ditukar jadi pendapatan bersih di terjemahan ceroboh, padahal artinya pendapatan kotor sebelum biaya. Kita tulis catatan kaki.”
“Catatan kaki,” ulang Nadia, mencatat. “Mas Evan, serius, kok bisa hafal semua?”
“Kebiasaan.” Evan tersenyum. “Saya lebih suka menyelesaikan sesuatu sampai habis.”
Anggit melirik jam dan menutup laptopnya. “Udah jam setengah sembilan. Anet nunggu di rumah, dia janji bikinin gue sayur lodeh. Kalau gue telat, dia pasti ngambek dua hari.”
“Pergi, Nggit.”
“Lo yakin nggak apa-apa?”
“Ada Mas Evan.” Nadia melambaikan tangan. “Lagian tinggal sedikit.”
Anggit menatap Nadia, lalu menatap Evan, lalu mengangkat bahu dan mengambil tasnya. “Jangan pulang sendirian, ya. Hujan mau turun.”
Pintu menutup. Evan melanjutkan pekerjaannya tanpa menoleh, dan Nadia merasa ruangan jadi sedikit lebih sepi dari seharusnya.
Sepuluh menit kemudian Evan berdiri, menghilang ke pantri, dan kembali membawa dua cangkir. Dia menaruh satu di depan Nadia tanpa suara.
“Teh tawar hangat,” katanya. “Kamu tidak suka gula, kan?”
Nadia mengangkat cangkir itu dan berhenti dengan bibir hampir menyentuh pinggirannya. Dia tidak pernah bilang itu pada Evan. Sepanjang ingatannya, dia hanya pernah mengatakannya sekali, kepada Felix, di dapur apartemennya.
“Mas tahu dari mana?”
“Saya lihat kamu setiap pagi di pantri. Kamu selalu menolak gula.” Evan mengedikkan bahu, lalu kembali menunduk ke kertasnya. “Saya memperhatikan hal-hal kecil. Maaf kalau terlalu aneh.”
“Nggak aneh,” kata Nadia. Dia meminum teh itu karena tidak enak menolak, tetapi tidak merasakan apa-apa kecuali sejuk yang merambat di tengkuknya.
***
Pukul sepuluh kurang, ketika glosarium akhirnya selesai dan Evan menjepit semua lembar dengan klip, hujan sudah turun deras di jendela. Nadia memeriksa ponsel. Pesan Felix masuk empat puluh menit lalu: Makan malam dengan relasi selesai jam sembilan lewat. Mau saya jemput? Nadia mengetik: Nggak usah, aku naik taksi, istirahat aja. Tiga detik kemudian muncul: Baik. Kabari kalau sudah sampai.
Aplikasi taksi menampilkan tulisan tidak ada pengemudi tersedia. Nadia sempat menelepon Felix, tetapi tidak diangkat; pria itu pasti masih di jalan pulang dari makan malam relasi, ponselnya terkubur di saku jas.
“Aku tunggu aja di lobi,” gumam Nadia.
“Saya antar pakai mobil,” kata Evan di belakangnya. “Searah, kan? Saya tinggal tidak jauh dari apartemenmu.”
“Makasih, Mas. Aku nggak enak.” Nadia menggeleng. “Aku nunggu taksi aja.”
“Taksi tidak akan datang sampai hujan reda.”
“Nggak apa-apa.”
“Kalau begitu saya ikut menunggu.”
“Mas...”
“Saya tidak akan membiarkan kamu menunggu sendirian di lobi gedung kosong jam segini.” Suara Evan ramah. “Kalau tidak mau mobil, saya bawa payung. Jalan kaki lima belas menit. Hujannya mulai reda kok.”
Nadia memandang jendela. Hujan baru saja menyentuh kaca dengan irama lebih lambat. Dia mengutuk dirinya sendiri karena tidak membawa payung, lalu mengutuk dirinya lagi karena menganggap kemurahan hati Evan sebagai ancaman. Bukankah Evan sudah menerima penolakannya di pantri? Bukankah dia sopan, tertib, tidak memaksa?
“Oke,” katanya akhirnya. “Jalan kaki. Tapi cuma sampai lobi.”
“Tentu.”
Mereka berjalan di bawah payung hitam besar yang dipegang Evan dengan gagang menjauh dari tubuh Nadia, sehingga bahunya sendiri basah sementara bahu Nadia kering. Trotoar sepi, lampu jalan berpendar kekuningan di genangan air. Evan berjalan setengah langkah di belakang, menjaga jarak sopan.
“Pak Lucas cepat sekali menaikkan targetmu,” kata Evan di tengah jalan. “Saya kira kamu akan menyerah minggu lalu.”
“Aku juga.” Nadia terkekeh. “Tapi Manriko tertawa. Itu cukup buat bikin aku nggak mau kalah.”
“Itu sifat yang bagus.”
“Sifat keras kepala.”
“Sama saja.” Evan menunjuk tikungan di depan mereka dengan dagu. “Kamu biasanya lewat warung nasi uduk di situ kalau pulang jalan kaki, kan? Yang penjualnya selalu menyimpan sambal terpisah buat kamu.”
Langkah Nadia melambat. “Mas tahu dari mana?”
“Saya tinggal dekat sini. Saya sering melihat.” Evan tersenyum. “Jangan khawatir. Saya bukan penguntit. Hanya tetangga yang kebetulan peka.”
Nadia tertawa pendek supaya suasana tidak berubah. Tetapi tangannya yang memegang tali tas menjadi lebih erat.
Mereka berhenti di depan lobi apartemen. Satpam di balik kaca mengangguk dan membuka pintu dengan tombol otomatis. Nadia melangkah masuk ke teras berkanopi, menggoyang rambut yang basah di ujungnya. “Makasih ya, Mas. Beneran. Mas Evan boleh pulang sekarang.”
“Sebentar.”
Nada suara itu berubah. Tidak keras, tetapi sudah kehilangan keramahan yang biasa. Nadia menoleh.
Evan menutup payung dan berdiri di bawah kanopi dengan jarak dua langkah darinya. Air menetes dari ujung payung ke ubin. Wajahnya tenang. Terlalu tenang.
“Saya tidak mau menunggu lebih lama, Nad. Saya menyukaimu. Bukan sebagai rekan kerja.”
Nadia terdiam sepersekian detik. Lalu dia menegakkan badan.
“Mas, aku udah bilang di pantri. Aku nggak bisa.”
“Itu soal makan siang. Ini soal yang lain.”
“Jawabannya sama.” Nadia menatap matanya, tanpa gentar, meski jantungnya berdetak seperti orang berlari. “Aku punya pacar. Namanya Felix. Seluruh kantor lihat fotonya. Mas juga tahu.”
“Saya tahu.” Evan tersenyum tipis. “Dia bukan pria yang pantas untukmu.”
“Itu bukan urusan Mas.”
“Dia menyembunyikanmu dua tahun. Dia membiarkan kamu masuk kantor tiap hari seperti orang asing. Saya tidak akan pernah melakukan itu.”
“Dan aku nggak minta Mas melakukan apa pun.” Nadia mengangkat dagu. “Aku nggak punya perasaan apa-apa sama Mas. Terima kasih sudah baik, aku hargai. Tapi tolong berhenti sampai di sini. Sungguh.”
Hening. Satpam di balik kaca menunduk pura-pura membaca koran. Hujan di luar kanopi turun sedikit demi sedikit.
Evan menatap Nadia cukup lama, dan Nadia mengira dia akan marah. Namun dia justru mengangguk pelan, hampir hormat, lalu membuka payung kembali.
“Saya bisa menunggu.”
“Mas...”
“Selamat malam, Nad.”
Dia berbalik dan berjalan ke dalam hujan tanpa menoleh sekali pun. Langkahnya tenang, payung hitam mengecil di ujung jalan sampai tertelan gelap.
Nadia berdiri di tempat. Lengannya merinding dari pergelangan sampai bahu. Dia memandang trotoar kosong itu cukup lama, lalu bergegas masuk ke lobi, menekan tombol lift dua kali, dan menahan napas sampai pintunya terbuka.
Di dalam lift, tangannya gemetar saat mengetik pesan pada Felix.
Aku perlu cerita. Besok pagi?