“Sekali lagi, Nggit. Este contrato rige desde hoy.”
“Eh-steh kon-trah-to ri-ge,” Anggit menirukan dengan mulut dimonyongkan, lalu mengerjap. “Itu bahasa Spanyol atau lo lagi nyebut jajanan?”
“Bahasa Spanyol.”
“Bagus, berarti jajanan.” Lift berbunyi Ting! di lantai tiga. Anggit menahan pintu dengan satu tangan dan menatap Nadia dengan serius yang jarang dia pakai. “Dengerin gue. Lo sudah ngelewatin Evan, ngelewatin les Spanyol, ngelewatin klausul terbalik. Satu kontrak doang. Lo kuat.”
“Doain gue nggak keselek huruf r.”
“Amin. Sana.”
Nadia tertawa gugup, menepuk lengan Anggit, dan melangkah keluar dari lift.
Pukul delapan lewat lima puluh, Lucas berdiri di ujung meja rapat sambil menata pulpen.
Bukan satu pulpen. Enam, berjajar dalam kantong plastik bening, masing-masing dilap alkohol dan dikemas ulang. Di sebelahnya, sebotol sanitizer berukuran ember kecil.
“Pak,” kata Nadia pelan dari kursinya, “itu buat tanda tangan, atau buat operasi?”
“Dua-duanya.” Lucas menggeser satu pulpen sedikit lebih lurus. “Tangan tamu yang bersalaman dengan lima orang sebelum menyentuh kertas membawa dua puluh ribu bakteri.”
“Pak Lucas pernah hitung?”
“Saya baca.” Dia menatap Nadia dari atas masker. “Dan kamu tahu bahwa kamu berkeringat?”
“Saya gugup.”
“Gugup itu penguapan. Lap dahimu.”
Nadia mengelap dahi dengan tisu. Di seberang meja, Evan merapikan folder berisi dua versi final dengan telaten, tanpa menoleh. Rere duduk di pojok dengan tablet. Dua puluh dua halaman bahasa Indonesia dan dua puluh dua halaman bahasa Spanyol sudah diletakkan berdampingan, dijilid, dan diberi klip merah.
Pukul sembilan lewat lima, pintu terbuka.
Manriko masuk lebih dulu dengan topi merah menyala dan gaun hijau tua, kipasnya mengembang seperti ekor merak. Sekretarisnya menyusul, lalu Felix, dengan setelan abu-abu dan wajah yang tidak memberi satu petunjuk pun tentang apa pun. Matanya meluncur ke Nadia dan segera pergi, seolah melirik jam dinding.
Salam, kipas, dua ciuman udara untuk semua orang, dan Lucas yang kali ini menyiapkan pipinya lebih dulu dengan wajah pasrah. Setelah itu Manriko duduk, menarik napas, dan menunjuk Nadia dengan kipas.
“Antes de firmar, que lea la cláusula final.” (Sebelum tanda tangan, dia bacakan klausul penutup.)
Sekretaris menerjemahkan dengan suara pelan. Nadia menegakkan punggung. Rere mengetuk tablet satu kali, tanda dia menahan napas bersamanya.
Halaman dua puluh dua. Nadia membuka map Spanyol, meletakkan telunjuk di baris terakhir, dan berhenti sebentar untuk mengingat satu kata: napas dulu, baru bicara.
“Este contrato rige desde hoy.” (Kontrak ini berlaku mulai hari ini.) Huruf ‘r’ itu keluar bulat dan bersih, tanpa bunyi motor tua. “Firmado en Yakarta, ante testigos.” (Ditandatangani di Jakarta, disaksikan.)
Hening.
Manriko mengangkat kipas ke depan wajah, menurunkannya, lalu bertepuk tangan keras sampai gelas di meja bergetar.
“¡Perfecto!” serunya. “¡Con ‘r’ y todo!” (Sempurna! Lengkap dengan huruf ‘r’!)
Di samping Nadia, Lucas mengembuskan napas panjang, lalu diam-diam menurunkan maskernya sedetik untuk menghirup udara bebas dan memasangnya lagi sebelum ada yang melihat.
“Pak, tadi Bapak buka masker.”
“Saya sedang lega. Itu bukan pelanggaran, itu fisiologi.”
***
Tanda tangan dilakukan satu per satu. Lucas menawarkan pulpen steril pada Manriko dengan dua tangan, seperti menyerahkan keris pusaka.
Manriko menatap pulpen itu. Dia menatap Lucas. Lalu dari tasnya dia mengeluarkan pena bulu berhias manik-manik dan menandatangani halaman terakhir dengan coretan lebar yang hampir melewati pinggir kertas.
“Gracias,” katanya ramah pada Lucas, tanpa menyentuh pulpen itu.
Lucas menerima pulpennya kembali. Dia memandangnya sebentar, lalu menyimpannya dalam kantong plastik dan mengelap kantong itu.
Felix menandatangani berikutnya dengan satu coretan tegas. Terakhir giliran Nadia, yang oleh Lucas dicatat sebagai penanggung jawab dokumen. Nadia mengambil salah satu pulpen steril itu. Tangannya sedikit bergetar, dan dia menuliskan namanya, Nadia Nazila Bramantyo, dengan huruf yang tidak cantik tapi terbaca jelas.
Klik. Map ditutup.
“Selesai,” kata Rere pelan, nyaris tidak percaya.
“Re.” Nadia menarik map dari tasnya dan menyodorkan dua rangkap fotokopi yang masih hangat dari mesin pagi tadi. “Satu buat arsip kamu. Satu buat Bu Wati, kalau dia minta.”
“Saya belum memberi tahu Mbak ada kebijakan arsip ganda.”
“Aku nggak nunggu kebijakan. Aku nunggu bencana.”
Rere menerima kedua map itu seperti menerima medali. “Saya akan menyimpannya di dua tempat berbeda.”
“Tiga tempat,” gumam Lucas dari belakang mereka. “Satu lagi di awan.”
Lucas bangkit dari kursinya. Dia memandang tumpukan kertas itu, lalu memandang Nadia, lama sekali, dan Nadia sempat takut dia akan menemukan satu typo lagi.
“Bagus,” katanya. “Bagus.”
Nadia membeku. Di seluruh hidupnya, dua kata itu hanya pernah dia dengar dari Felix saat marah, dengan nada seperti petir yang menahan diri.
“Pak,” bisiknya hati-hati. “Itu kayak Pak Felix kalau mau ngamuk.”
“Saya sedang memuji.” Lucas membetulkan maskernya. “Nadanya beda.”
“Nadanya sama persis.”
“Terima saja pujiannya, Nadia.”
Di ujung meja, bahu Felix bergetar satu kali. Dia menunduk pada dokumen dan berpura-pura membaca daftar lampiran.
***
Manriko berdiri dan melepas kipas bulu dari pergelangannya. Bukan kipas besar yang selalu dia bawa, tetapi yang kecil dan putih, dihias bulu di sepanjang tepinya. Dia meletakkannya di telapak tangan Nadia.
“Para la chica del lobby.” (Untuk gadis dari lobi.) Sekretarisnya menambahkan, “Beliau bilang, kipas ini ikut beliau ke tiga negara. Tolong dijaga.”
Mata Nadia memanas begitu tiba-tiba sampai dia harus berkedip. “Gracias, Señora. Muchas gracias.” (Terima kasih banyak.)
“De nada.” (Sama-sama.) Manriko mengusap pipinya sekali, lembut, seperti nenek kepada cucu. “¿Dónde aprendiste?” (Di mana kamu belajar?)
“Con un maestro severo.” (Dengan guru yang galak.) Nadia menahan tawa. “Muy severo.” (Galak sekali.)
“¿Don Félix?”
Nadia tidak menjawab. Tetapi pipinya menjawab, dan Manriko terkekeh sampai pundaknya terguncang. Dia mengedipkan satu mata pada Felix. “Cuídala.” (Jaga dia.)
“Dia bilang apa?” bisik Lucas.
“Beliau bilang jaga saya, Pak.”
“Itu tugas kami semua,” kata Lucas, dan sebelum Nadia sempat merasa hangat, dia menambahkan, “Termasuk memastikan kamu cuci tangan.”
Felix hanya menunduk setengah inci. Itu pun sudah cukup untuk membuat telinganya menyala lagi, dan Nadia buru-buru menunduk menatap kipas.
Para tamu dan staf berbaris untuk bersalaman. Manriko bersalaman dengan semua orang. Sekretarisnya mengangguk pada Rere. Lalu giliran Evan, yang bergerak ke samping Felix untuk menjabat tangan Manriko, kemudian menjabat tangan Felix sebagai penerjemah proyek.
“Terima kasih atas terjemahannya,” kata Felix datar. “Lucas bilang kerja kamu rapi.”
“Sudah kewajiban saya, Pak.” Evan menyambut tangan itu tanpa mengubah nada suaranya sedikit pun.
Nadia, yang berdiri empat langkah dari mereka dengan kipas di tangan, melihatnya.
Tangan kanan Evan, yang menggenggam tangan Felix, bergetar. Bukan getar orang kedinginan. Jari-jarinya mengencang lalu melonggar lalu mengencang lagi, dan pangkal ibu jarinya putih menahan sesuatu. Rahangnya tidak bergerak. Hanya tangan itu. Seolah seluruh kemarahannya terkumpul di sana, di bawah senyum yang tidak pernah goyah.
Evan melepas jabatan itu, menyembunyikan tangannya di saku, dan menoleh ke arah Nadia seakan dia tahu persis siapa yang sedang melihat.
Dia mengangguk sopan.
Nadia balas mengangguk, sedikit terlambat.