“Dokumen sudah diarsipkan di tiga tempat,” kata Lucas. “Tidak ada celah. Sra. Manriko puas, tim hukum puas, saya puas.”
Selewat jam kantor, lantai tiga hampir kosong. Lampu sisi barat sudah dimatikan, kursi-kursi didorong rapat ke meja, dan hanya ruangan Lucas yang masih menyala. Nadia berdiri di ambang pintunya sambil memeluk map biru, kakinya pegal, kepalanya ringan seperti balon yang kehilangan separuh udara. Tangan Evan yang bergetar siang tadi masih membayang di kepalanya, tetapi dia belum menemukan cara menjelaskannya pada siapa pun.
Lucas duduk di balik meja dengan sarung tangan karet sudah dilepas dan masker diturunkan ke dagu, sesuatu yang jarang Nadia lihat. Felix berdiri di depannya, kedua tangan di saku.
“Dan taruhan lo.”
“Taruhan.” Lucas menoleh ke pintu dan mendapati Nadia di sana. Dia menahan sesuatu di sudut mulutnya. “Masuk, jangan berdiri seperti petugas parkir.”
Nadia masuk dengan langkah kecil. Felix tidak menoleh kepadanya. Dia hanya menatap Lucas.
“Dia lulus ujian,” katanya.
“Gue yang nguji dia, bukan lo.”
“Gue tahu. Tapi lo nyuruh gue diam di jam kerja, jadi gue diam, dan sekarang gue bicara.” Felix menarik tangannya dari saku. “Dia menemukan klausul yang terbalik waktu gue, lo, dan seorang penerjemah pun nggak lihat. Dia membacakan klausul penutup tanpa cela. Dia fotokopi sampai tiga rangkap, dan itu menyelamatkan kontrak ini. Kalau itu belum cukup, gue nggak tahu apa yang cukup.”
Hening. Nadia merasa telinganya memanas dan tidak tahu harus menatap ke mana.
“Magangmu aman, Nadia,” kata Lucas akhirnya. “Taruhan selesai. Saya kalah.”
“Pak Lucas kalah?”
“Saya senang kalah pada waktu yang tepat.” Lucas meraih botol sanitizer, menatapnya sebentar, lalu meletakkannya lagi. “Pulang. Kamu tampak seperti hasil fotokopi dari fotokopi.”
“Terima kasih, Pak.”
“Jangan terima kasih. Datang besok tepat waktu.”
Felix mengangguk pada Lucas, berbalik, dan berjalan keluar. Di ambang pintu dia berhenti tanpa menoleh.
“Nadia. Ikut saya sebentar. Ada yang mau saya tunjukkan.”
“Sekarang? Besok kerja, Pak.”
“Satu jam.” Dia terdiam sebentar. “Dan di luar jam kerja, kamu boleh memanggil saya Felix.”
Nadia menoleh pada Lucas, yang sudah kembali menekuni layar dengan ekspresi pria yang tidak mendengar apa pun.
“Saya juga tidak mendengar apa pun,” gumam Lucas. “Pergi.”
***
Lift itu kosong. Dinding cerminnya memantulkan dua orang yang berdiri berjauhan dengan wajah sama-sama terlalu serius. Angka di layar bergerak turun. Lantai dua. Lantai satu.
“Nadia.”
“Hm?”
Felix menatap pantulan Nadia di cermin, bukan wajah aslinya. “Aku ingin mencium kamu.” Suaranya rendah, hati-hati. “Boleh?”
Jantung Nadia berhenti sebentar, lalu berdetak dua kali lipat. Dia menoleh, menatap wajah yang selama dua hari ini hanya boleh dia lihat dari seberang meja.
“Kamu nanya?”
“Saya bertanya dulu. Itu kesepakatan kita.”
“Boleh,” bisik Nadia. “Cepet. Soalnya ini lift.”
Felix menunduk, dan bibirnya menyentuh bibir Nadia hanya sesaat, ringan dan hangat, seperti salam. Tangan Nadia mencengkeram ujung jasnya. Hanya dua detik. Cukup lama untuk membuat lututnya lemas dan tidak cukup lama untuk membuatnya yakin dia tidak bermimpi.
Ting!
Pintu lift terbuka di lantai dasar.
Anggit berdiri di sana dengan tas ransel di bahu, kunci mobil di jari, dan sebungkus gorengan di tangan yang lain. Mulutnya terbuka. Gorengan di tangannya jatuh satu, menggelinding ke lantai marmer, berhenti di sepatu Felix.
Tak ada yang bernapas.
“Gue,” kata Anggit akhirnya, “nggak lihat apa-apa.”
“Bagus,” kata Felix.
“Gue buta. Gue katarak. Gue baru nyampe.” Anggit menyodorkan gorengan itu seperti persembahan. “Pak Bos mau tahu goreng?”
“Anggit.”
“Iya, Pak.”
“Tutup mulut.”
“Sudah, Pak.” Anggit mengatupkan bibir dengan dua jari. Sepersekian detik kemudian, dia membukanya lagi. “Tapi kalau boleh tahu, Pak Bos tadi nanya dulu apa langsung?”
“ANGGIT.” Nadia menariknya pergi dari pintu lift dengan wajah merah menyala.
“Nanya dulu, ya?” gumam Anggit sambil terkekeh saat berjalan ke pintu keluar. “Gila, besok gue bilang sama Anet. Pacarannya Pak Bos pakai konfirmasi.”
“Jangan bilang siapa-siapa!”
“Gue bilang Anet doang! Anet bukan siapa-siapa, dia Anet!”
Felix memejamkan mata. Nadia menyembunyikan wajah di telapak tangan, dan di antara jemarinya dia mendengar dengus tawa yang ditahan, dari Felix.
***
“Jadi kejutannya apa?” tanya Nadia di dalam mobil, dengan tangan masih menempel di pipi yang panas. “Kamu mau nunjukin ruangan rahasia? Bunker anti-Anggit?”
“Es krim.”
“Hah?”
“Sepuluh.” Felix menyalip sebuah truk tanpa mengalihkan mata dari jalan. “Kamu minta sepuluh waktu memaafkan saya di mansion. Saya pikir kamu bercanda, jadi saya tidak membelinya. Kemarin saya beli. Sepuluh rasa berbeda, dan Mamah mengira saya mau buka toko.”
Nadia menoleh pelan. “Kamu inget itu?”
“Cukup lama untuk merasa bersalah.” Sudut bibir Felix naik tipis. “Kamu boleh menghabiskan semuanya. Saya tidak akan menghitung kalori, tidak akan menyuruh berhenti, dan tidak akan bilang ‘cukup’.”
“Janji?”
“Saya bilang tidak akan menghitung. Saya tidak bilang tidak akan menatap.”
Nadia tertawa sampai terbatuk. “Kamu manis. Kamu tahu itu?”
“Jangan bilang siapa-siapa.”
“Aku bilang Anggit doang.”
“Nadia.”
“Becanda.”
Mobil hitam itu berhenti di depan gerbang mansion Caralos setengah jam kemudian. Nadia, yang masih tersenyum karena sepuluh rasa es krim, berhenti begitu mesin dimatikan.
Pintu pagar kecil di samping gerbang besar terbuka separuh.
Pos satpam di sampingnya kosong, lampunya menyala tetapi kursinya terdorong ke belakang, seperti ditinggalkan mendadak. Halaman gelap. Lampu taman yang biasa berpendar di sepanjang jalan setapak padam semuanya. Dari seluruh bangunan besar itu, hanya satu jendela di lantai satu yang memancarkan cahaya redup.
“Felix.”
“Saya lihat.” Suara Felix berubah. Datar, tajam, seperti ketika dia menegur anak buah yang berbohong. “Tunggu di mobil.”
“Nggak.”
“Nadia.”
“Itu rumah ibumu.” Nadia sudah membuka pintu. “Aku ikut.”
Felix menatapnya satu detik, lalu mengangguk pendek. Dia menekan nomor di ponselnya sambil berjalan, mendekatkannya ke telinga, dan menurunkannya lagi ketika yang terdengar hanya nada sambung yang tidak dijawab.
“Gladys?” tanya Nadia pelan.
“Tidak aktif. Dua kali.”
Mereka berjalan melewati halaman yang sunyi, sepatu berdecit pada kerikil, dan pintu depan terbuka sedikit tanpa dikunci. Dari dalam tidak terdengar suara televisi, tidak terdengar dentingan piring, tidak terdengar langkah pelayan. Rumah sebesar itu tidak pernah sehening ini.
Di ruang tamu, di bawah satu lampu meja yang redup, Gisel duduk sendirian di sofa. Jaket bulunya terpasang miring. Wajahnya tanpa riasan dan pucat seperti kertas. Di pangkuannya ada secarik kertas yang diremas, dan tangan kirinya gemetar tanpa henti.
“Mah.” Felix berlutut di depannya. “Ada apa? Mana Gladys?”
Gisel mengangkat wajah. Matanya mencari wajah putranya, lalu wajah Nadia, lalu kembali pada putranya.
“Aron datang,” bisiknya. “Ke gerbang. Satu jam yang lalu.”
“Dan?”
“Gladys pergi bersamanya.”