Malam itu apartemen terasa begitu sunyi.
Agha berada di ruang kerjanya dengan sebuah laptop yang masih menyala di atas meja. Sejak tadi ia berusaha menyelesaikan pekerjaannya, tetapi pikirannya sama sekali tidak bisa fokus.
Tangannya tanpa sadar meraih ponsel yang berada di samping laptop.
Layar masih kosong.
Tidak ada notifikasi baru.
Agha kembali meletakkan ponselnya, lalu melirik jam dinding.
Pukul tujuh malam.
Ia menghela napas pelan.
*Belum ada pesan juga...*
Entah sudah berapa kali ia mengecek ponselnya dalam lima belas menit terakhir. Setiap kali layar menyala, harapannya selalu sama.
Barangkali ada pesan dari Nisa.
Namun harapan itu selalu berakhir dengan layar yang tetap sepi.
Agha bersandar di kursinya sambil memijat pelipis.
"Huuhhh..."
Ia tersenyum tipis, merasa dirinya sendiri mulai bertingkah tidak seperti biasanya.
Padahal baru beberapa jam sejak Nisa pergi.
Namun rasa ingin memastikan keadaan istrinya membuatnya sulit berkonsentrasi.
Agha kembali melihat jam.
Masih pukul tujuh lewat beberapa menit.
"Aku terlalu berlebihan."
Meski berkata demikian, tangannya tetap mengambil ponsel.
Bukannya membuka ruang obrolan Nisa, ia justru mencari satu nama di daftar kontak.
**Arthur Wijaya.**
Arthur Wijaya adalah kakak kandung Nisa yang mengerti semua tentang Nisa. Selain itu, Arthur juga sudah lama mengenal Agha karena hubungan kedua keluarga mereka yang dekat dan akhirnya menjadi sahabat.
Tak lama kemudian, sambungan telepon tersambung.
"Halo."
"Thur."
"Ada apa Bro?"
"Sibuk?"
"Nggak terlalu. Kenapa?"
"Gue mau ketemu."
Arthur terdiam sesaat.
"Sekarang?"
"Iya kalau bisa."
"Boleh. Tempat biasa?"
"Iya."
"Oke, tiga puluh menit lagi."
Telepon pun berakhir.
Tiga puluh lima menit kemudian...
Agha tiba di sebuah cafe yang sudah sangat akrab bagi mereka.
Cafe itu bukan tempat mewah, tetapi cukup tenang untuk berbincang.
Sudah bertahun-tahun Agha dan Arthur beberapa kali bertemu di sana ketika ingin membahas urusan keluarga maupun pekerjaan.
Agha memilih duduk di sudut ruangan.
Tak lama kemudian, Arthur datang.
"Hey Broo, udah lama?
Agha hanya mengangguk.
Arthur menarik kursi di hadapannya.
"Maaf ya, tadi macet."
"Iya gapapa."
"Aneh."
"Apa?"
"Jarang banget lo ngajak ketemu mendadak begini hahaha, jadi curiga gue."
Alis Arthur naik keatas sambil tangan memegang dagu seperti menaruh curiga kepada Agha
Pelayan datang menghampiri, mencatat pesanan mereka, lalu pergi.
Arthur kembali menatap Agha.
"So?"
"what's wrong with you?"
“Karna jujur ini bener bener aneh”
Agha tidak langsung menjawab.
Ia menatap secangkir kopi yang baru saja diantarkan.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan.
Arthur mulai penasaran.
"Jangan bilang lo cuma mau ngajak gue ngopi."
Agha akhirnya mengangkat pandangan.
"Gue mau tanya sesuatu sama lo Thur."
"Tanya apa?"
"Mmmm.. ini tentang Nisa."
Arthur mengernyit.
"Hah? Tentang Nisa?"
"Iya."
"Kenapa emangnya?"
Agha menggenggam cangkir kopinya sebentar sebelum bertanya dengan nada setenang biasanya.
"Nisa..."
"Pernah punya pacar?"
Arthur langsung membeku.
"Hah?"
“Gimana.. gimana..”
Agha tetap menatapnya.
"Iya Nisa itu pernah punya pacar gak? Atau... pernah dekat sama cowok gitu?"
Arthur berkedip beberapa kali.
Ia sama sekali tidak menyangka pertanyaan itu akan keluar dari mulut Agha.
"Hahaha Buat apa lo nanya begitu?"
Agha tidak langsung menjawab.
Ia hanya menunggu jawaban.
Arthur akhirnya menghela napas pelan.
"Setau gue sih yaa, nisa emang dulu pernah deket sama cowok itu juga pas SMA yaa, setelahnya kayaknya sih... nggak pernah."
Agha terdiam.
Arthur melanjutkan,
"Kalo lu nanya ada gak yang suka sama Nisa? Itu jumlahnya lumayan banyak. Ya gimana dong, adek gue cantik gitu hahaha."
"Terus?"
"Cumaa Nisa selalu nolak cowok cowok itu dengan halus."
Agha mengangguk pelan.
“Ooo.. gituu..”
Namun, rasa penasarannya belum hilang.
"Kalau..."
Ia berhenti sejenak.
"Ciri-ciri cowok yang pernah dia suka lo tau ga?"
Arthur semakin bingung.
"Ini lo serius nih nanya begini?"
"Iya."
Arthur menyandarkan punggungnya ke kursi.
"Kok bisa lo nanya pertanyaan begini, Broo?"
Agha tetap diam.
Melihat sikap sahabatnya itu, Arthur mulai menyimpulkan sendiri. Dan berbicara didalam hati
"Mungkin Agha merasa canggung karena dijodohkan."
Selama ini Arthur memang mengira Agha menerima pernikahan itu hanya karena permintaan orang tua dan kakek mereka.
Ia tidak pernah tahu bahwa Agha telah mencintai Nisa yaitu adik kandungnya sejak masih kecil.
Karena itulah, pertanyaan-pertanyaan Agha terdengar seperti seseorang yang sedang berusaha mengenal perempuan yang baru dinikahinya.
Arthur tersenyum kecil.
"Gha."
"Hm?"
"Lo sama Nisa baru beberapa hari menikah."
"Udahlah Bro, gak usah terlalu dipikirin."
"Adek gue anaknya baik kok, gamungkin dia bakalan macem macem. Percaya deh sama gue Gha."
"Pelan-pelan aja saling kenal aja dulu."
Agha hanya mendengarkan.
Arthur kembali melanjutkan,
"Kalau soal tipe cowok yang dia suka..."
“Sejujurnya gue juga nggak pernah tau ya karna gue gapernah dengar dia cerita."
"Karna Nisa bukan tipe yang gampang jatuh cinta."
"Dia lebih sering fokus sama kuliah dan keluarganya."
Agha menundukkan pandangannya.
Entah mengapa, jawaban itu justru sedikit melegakan.
Setidaknya...
Belum ada laki-laki yang pernah mengisi hati Nisa.
Arthur menyeruput kopinya, lalu menatap Agha lagi.
"Gha."
"Hm."
"Walaupun pernikahan kalian berawal dari perjodohan..."
"Gue harap lo tetap memperlakukan adek gue dengan baik ya."
"Dia anak yang lembut."
"Jangan sampai dia merasa sendirian."
Agha mengangkat pandangannya.
Tatapannya tetap tenang.
"Iya."
Jawabannya singkat.
Namun, dalam hati Agha, ada kalimat yang tidak pernah ia ucapkan kepada siapa pun.
"Aku tidak pernah merasa terpaksa menikahi Nisa."
"Justru... menikahinya adalah hal yang paling lama aku impikan."
Tiba-tiba ponsel Arthur berdering.
Arthur melirik layar ponselnya lalu tersenyum kecil.
"Sebentar ya, Gha. Biasa klien."
Agha mengangguk singkat.
Arthur berdiri dan berjalan ke luar area cafe agar pembicaraannya lebih leluasa.
Sementara itu, Agha hanya duduk diam. Tanpa sadar, ia kembali membuka layar ponselnya.
Masih belum ada pesan dari Nisa.
Ia mengembuskan napas pelan, lalu mengunci kembali ponselnya.
Beberapa menit kemudian, Arthur kembali dan duduk di hadapan Agha.
"Gha."
Agha mengangkat pandangannya.
"Hm?"
"Kayaknya gue harus cabut dulu."
"Kenapa?"
"Klien gue baru aja sampai. Dia minta ketemu sekarang juga."
Agha mengangguk pelan.
"Ya udah. Hati-hati."
Arthur berdiri sambil merapikan jasnya.
"Maaf ya broo, ngobrolnya jadi nggak lama."
"Nggak masalah."
Arthur tersenyum tipis, lalu menepuk pelan bahu sahabatnya.
"Jangan terlalu dipikirin."
Agha hanya membalas dengan senyum tipis tanpa memberikan jawaban.
Arthur pun berbalik meninggalkan kafe.
Tak lama kemudian, sosoknya menghilang di balik pintu kaca.
Kini hanya Agha yang tersisa di meja itu.
Suasana kafe mulai terasa lebih sunyi.
Ia menyeruput sisa kopinya yang kini sudah tidak lagi hangat.
Kemudian, tanpa sadar, tangannya kembali meraih ponsel.
Layar menyala.
Tidak ada panggilan.
Tidak ada pesan baru.
Agha membuka ruang obrolannya dengan Nisa.
Pesan terakhir yang ia kirim beberapa jam lalu masih menjadi pesan paling akhir.
*Mas Agha: Iya. Hati-hati dan jangan pulang terlalu malam. Kalau ada apa-apa langsung kabarin Mas Agha.*
Belum ada balasan.
Agha mengembuskan napas pelan.
Jemarinya sempat berhenti di atas layar, seolah ingin mengetik sesuatu.
"Sudah selesai?"
"Lagi di mana?"
"Kapan pulang?"
“Udah makan?”
Namun satu per satu kalimat itu hanya berakhir di dalam pikirannya.
Ia mengurungkan niatnya.
Agha tidak ingin terlihat terlalu mengekang. Ia percaya Nisa bisa menjaga dirinya.
Meski begitu, rasa khawatir itu tetap tidak bisa ia usir.
Matanya kembali tertuju pada layar ponsel yang perlahan meredup.
Untuk malam itu, benda yang paling sering ia lihat bukanlah secangkir kopi di hadapannya, melainkan nama Annisa Wijaya yang memenuhi isi pikirannya.
Agha menghela napas pelan, lalu mengunci layar ponselnya.
Ia melirik cangkir kopi di hadapannya yang kini hanya menyisakan sedikit. Suasana cafe mulai semakin lenggang, beberapa pengunjung pun sudah beranjak pulang.
Agha mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat kepada salah seorang pelayan.
"Permisi."
"Baik, Pak. Ada yang bisa saya bantu?"
"Bill, tolong."
"Baik, Pak."
Tak lama kemudian, pelayan kembali membawa tagihan dan meletakkannya di atas meja.
Agha mengambil dompetnya, lalu membayar tagihan tersebut. Setelah menerima struk pembayaran, ia menganggukkan kepala sebagai ucapan terima kasih.
"Terima kasih, Pak. Hati-hati di jalan."
"Iya, terima kasih."
Agha berdiri dari kursinya, merapikan jas yang dikenakannya, lalu melangkah keluar dari kafe.
Udara malam menyambutnya begitu pintu kaca terbuka.
Ia berjalan menyusuri area parkir hingga berhenti di depan mobilnya.
Pintu mobil dibuka, lalu ia masuk ke balik kemudi.
Mesin mobil pun menyala.
Sesaat sebelum menjalankan mobilnya, Agha kembali melirik layar ponsel yang terletak di konsol tengah.
Masih belum ada pesan dari Nisa.
Agha hanya mengembuskan napas pelan, lalu meletakkan kembali ponselnya.
Tak lama kemudian, mobil hitam itu melaju meninggalkan area parkir cafe, membelah jalanan kota yang mulai lenggang