Jam istirahat siang membuat kantin kampus jauh lebih ramai dari biasanya. Hampir setiap meja dipenuhi mahasiswa yang sedang menikmati makan siang atau sekadar berbincang.
Di salah satu sudut kantin, Nisa duduk bersama Bunga, Nathalie, Niko, dan Rafi. Mereka baru saja menyelesaikan kelas pagi dan kini mengobrol santai sambil menikmati makanan masing-masing.
Bunga tiba-tiba menghela napas panjang.
"Eh, aku heran deh."
"Kenapa?" tanya Nathalie sambil terkekeh.
"Pak Agha."
Mendengar nama itu disebut, tangan Nisa yang sedang menyendok nasi langsung berhenti.
"Kenapa memang?" tanya Nathalie penasaran.
"Beliau itu benar-benar paket lengkap. Ganteng, mapan, pintar, pembawaannya dewasa. Dosen favorit lagi."
Rafi mengangguk setuju.
"Banyak mahasiswi yang naksir."
"Nah itu." Bunga menyipitkan mata seolah sedang berpikir keras. "Tapi anehnya, aku belum pernah dengar beliau dekat sama perempuan."
Rafi ikut menimpali.
"Mungkin memang tipe yang fokus kerja."
"Atau..." Bunga menurunkan suaranya penuh rasa penasaran. "Jangan-jangan beliau sebenarnya sudah menikah?"
Deg!
Sendok di tangan Nisa terlepas dan jatuh mengenai piring hingga menimbulkan bunyi cukup keras.
Semua mata langsung menoleh kepadanya.
"Nis?" Nathalie terlihat heran.
Nisa buru-buru mengambil sendoknya.
"Hehe... licin."
Ia tertawa kecil, berusaha terlihat biasa saja.
Namun beberapa detik kemudian, Bunga kembali melanjutkan.
"Serius deh. Menurut kalian, Pak Agha sudah punya istri belum?"
Nisa yang baru saja meneguk air mineral langsung tersedak.
"Uhuk... uhuk..."
"Nisa!"
Nathalie segera mengusap punggungnya.
"Minumnya pelan-pelan."
"Iya, sampai merah begitu mukanya," kata Niko sambil menyodorkan tisu.
"Makasih..."
Nisa menerima tisu itu dengan senyum tipis, meski jantungnya terasa hampir meloncat keluar.
*Ya ampun... kenapa pembahasannya harus soal status Pak Agha?*
Bunga masih terus berbicara tanpa menyadari perubahan sikap Nisa.
"Kalau memang belum menikah, aku yakin banyak yang mau dikenalin."
"Jelas." Rafi tertawa. "Beliau itu definisi green flag."
"Iya, sih." Nathalie ikut mengangguk. "Sopan, tegas, nggak pernah macam-macam sama mahasiswi."
Mendengar pujian demi pujian untuk suaminya, ada rasa bangga yang perlahan tumbuh di hati Nisa.
Namun di saat yang sama, rasa cemas juga semakin besar.
Ia takut tanpa sengaja memberikan reaksi yang berbeda.
"Nis."
Suara Bunga membuat Nisa kembali fokus.
"Kalau menurutmu gimana?"
Nisa membeku.
"Gimana... apa?"
"Menurutmu Pak Agha sudah punya pasangan belum?"
Semua mata kini tertuju kepadanya.
Nisa menelan ludah pelan.
"A-aku mana tahu..."
"Lho, kan kamu mahasiswa beliau."
"Iya, tapi kan aku sama Pak Agha nggak deket mana aku tahu kehidupan pribadi Pak Agha."
Jawaban itu terdengar cukup meyakinkan hingga membuat Bunga mengangguk.
"Benar juga."
Rafi tersenyum jahil.
"Kalau suatu hari nanti Pak Agha tiba-tiba ngumumin kalau beliau sudah menikah, aku yakin setengah mahasiswi kampus bakal patah hati."
Semua tertawa.
Kecuali Nisa.
Ia hanya tersenyum tipis sambil menundukkan kepala agar tidak ada yang melihat sudut bibirnya yang hampir terangkat.
*Kalau kalian tahu... orang yang kalian kagumi itu tinggal serumah denganku, menyiapkan sarapan bersamaku, tidur seranjang denganku... mungkin kalian semua tidak akan bereaksi setenang ini.*
Nisa menarik napas perlahan.
Tawa di meja itu masih terus terdengar.
Bunga sedang menceritakan kejadian lucu saat mengikuti kelas pagi, membuat Nathalie dan Rafi tertawa terbahak-bahak. Bahkan Niko yang biasanya terlihat tenang ikut tersenyum lebar sambil sesekali menimpali cerita.
Nisa pun ikut tertawa bersama mereka.
Tanpa mereka sadari, dari lantai dua gedung fakultas yang menghadap langsung ke area kantin, sepasang mata tengah memperhatikan meja mereka.
Agha.
Pria itu baru saja selesai menghadiri rapat dosen. Langkahnya terhenti begitu pandangannya menangkap sosok Nisa yang sedang duduk bersama teman-temannya.
Awalnya senyum tipis sempat terukir di wajahnya.
Namun senyum itu perlahan memudar.
Tatapannya beralih kepada Niko.
Lelaki itu duduk tepat di samping Nisa. Jarak mereka tidak terlalu jauh. Sesekali Niko membungkukkan badan ketika berbicara sehingga terlihat sangat akrab.
Entah mengapa, pemandangan sederhana itu cukup membuat d**a Agha terasa sesak.
Ia tahu Niko hanyalah teman kuliah Nisa.
Ia juga tahu Nisa tidak melakukan kesalahan apa pun.
Tetapi melihat istrinya tertawa lepas bersama pria lain tetap menimbulkan rasa yang sulit dijelaskan.
Rasa cemburu.
Agha memasukkan kedua tangannya ke saku celana, namun pandangannya tidak pernah lepas dari meja itu.
Sementara di bawah, Nisa yang masih tertawa perlahan merasakan sesuatu.
Seolah ada seseorang yang sedang memperhatikannya.
Ia mengangkat kepala.
Matanya langsung bertemu dengan tatapan Agha.
Deg.
Jantung Nisa seakan berhenti berdetak.
Suaminya berdiri di lantai dua dengan wajah datar yang sangat ia kenal.
Tatapan itu tenang.
Namun justru ketenangan itulah yang membuat Nisa semakin panik.
*Aduh... ada Mas Aghaa...*
Nisa buru-buru mengalihkan pandangannya.
Ia hanya mampu menundukkan kepala sambil memainkan jemarinya yang mulai dingin.
"Nisa?"
Suara Niko membuatnya tersentak.
"Kamu kenapa?"
Nisa segera memaksakan senyum.
"Hah? Nggak... nggak apa-apa kok, Kak. Hehe..."
"Yakin? Mukamu tiba-tiba pucat."
"Iya... mungkin cuma sedikit capek."
Niko mengangguk pelan.
Ia kemudian meraih sebotol air mineral yang baru saja dipesannya.
"Nih, minum dulu. Dari tadi kamu kelihatan nggak fokus."
Nisa sempat ragu beberapa detik.
Namun karena tidak ingin membuat suasana menjadi canggung, ia akhirnya menerima gelas itu.
"Makasih ya, Kak."
Nisa meneguk minuman tersebut perlahan.
Di saat yang sama...
Tatapan Agha semakin dalam.
Ia melihat dengan jelas bagaimana Nisa menerima minuman yang diberikan Niko tanpa penolakan.
Rahangnya mengeras.
Tangannya mengepal pelan di dalam saku celana.
Untuk sesaat, Agha memejamkan mata, berusaha meredam gejolak yang memenuhi dadanya.
*Dia hanya sedang makan siang bersama teman-temannya.*
*Tapi... kenapa rasanya aku tidak suka melihat pria lain begitu dekat dengannya?*
Belum sempat Agha membuka matanya, sebuah tangan menepuk pelan bahunya.
"Pak Agha."
Agha segera membuka mata dan menoleh.
"Pak Arya."
Di hadapannya berdiri Pak Arya, dosen Ekonomi yang dikenal ramah sekaligus senior yang cukup dihormati di fakultas.
"Sedang melamun?" tanya Pak Arya sambil tersenyum tipis.
Agha menggeleng pelan.
"Tidak, Pak."
"Saya sudah mencari Anda ke ruang kerja, ternyata ada di sini."
Pak Arya mengangguk memahami.
"Ayo ke ruang dosen sebentar. Ada yang ingin saya sampaikan."
"Baik, Pak."
Tanpa bertanya lebih lanjut, Agha mengikuti langkah Pak Arya.
Sebelum benar-benar meninggalkan koridor, tanpa sadar ia kembali melirik ke arah kantin.
Tatapannya bertemu dengan mata Nisa untuk beberapa detik.
Tidak ada senyum.
Tidak ada isyarat.
Hanya sebuah tatapan yang berhasil membuat jantung Nisa kembali berdegup lebih cepat.
Kemudian Agha membalikkan badan dan berjalan mengikuti Pak Arya menuju ruang dosen.
---
Nisa memperhatikan punggung Agha yang semakin menjauh.
Saat sosok suaminya menghilang di balik pintu gedung fakultas, ia mengembuskan napas panjang tanpa sadar.
Rasa sesak di dadanya perlahan menghilang.
*huuhhh..*
Setidaknya Agha tidak lagi melihat ke arah meja mereka.
"Nis.. Nisa?"
Suara Nathalie membuat Nisa tersentak.
"Ehh Iya?"
"Kamu dari tadi bengong terus. Kenapa?"
Nisa tersenyum kecil sambil menggeleng.
"Nggak kenapa-kenapa."
"Terus mikirin apa?"
Nisa berpura-pura berpikir, lalu terkekeh pelan.
"Aku lagi mikir... nanti habis kuliah enaknya ke mana, ya? Rasanya pengen main dulu deh."
"Oh!"
Mata Nathalie langsung berbinar.
"Gimana kita karaoke aja!"
"Ide bagus!" sahut Rafi dengan semangat. "Udah lama juga kita nggak nongkrong bareng."
Bunga langsung menganggukkan kepala berkali-kali.
"Aku setuju! Kebetulan besok juga nggak ada kelas pagi."
Semua mata kini beralih kepada Nisa.
"Gimana, Nis?" tanya Nathalie
Nisa sempat terdiam beberapa detik.
Namun melihat teman-temannya begitu antusias, Nisa akhirnya mengangguk pelan.
"Hemm boleh itu."
"Asyik!" seru Bunga.
Rafi kemudian menoleh ke arah Niko yang masih menikmati minumannya.
"Kak Niko."
"Hm?"
"Ikut karaoke juga, dong."
Niko tersenyum kecil.
"Takutnya aku malah ganggu kalian."
"Loh, justru makin rame," jawab Rafi cepat.
"Iya, Kak," tambah Bunga. "Masa cuma kami berempat."
Nathalie ikut mengangguk.
"Anggap aja kumpul-kumpul biasa."
Niko menatap mereka satu per satu sebelum akhirnya menganggukkan kepala.
"Baiklah. Kalau memang kalian mengajak, aku ikut."
"Deal!"
Rafi langsung mengangkat gelas minumnya.
"Nanti habis kelas terakhir kita langsung berangkat."
"Setuju!" jawab mereka hampir bersamaan.
Tawa kembali memenuhi meja itu.
~~~
Kelas siang itu sudah dimulai. Dosen di depan sedang menjelaskan materi, sementara seluruh mahasiswa tampak fokus mencatat.
Namun tidak dengan Nisa.
Tatapannya sesekali tertuju pada layar laptop, tetapi pikirannya justru melayang ke hal lain.
*Apa aku kirim pesan ke Mas Agha ya?*
Jemarinya memainkan ponsel yang tersimpan di bawah meja.
*Kalau aku bilang nanti habis kuliah mau pergi sama teman-teman... apa Mas Agha akan membalas?*
Nisa mengembuskan napas pelan.
Sejujurnya, ia masih belum benar-benar memahami sifat suaminya. Agha memang dikenal dingin dan irit bicara. Bahkan saat mengobrol dengannya pun, terkadang jawaban Agha hanya singkat dan seperlunya.
Namun...
Beberapa hari terakhir, ada banyak perubahan yang mulai Nisa rasakan.
Agha mulai lebih sering memperhatikannya, mengingatkan hal-hal kecil, bahkan sikapnya kini tidak lagi secanggung saat awal pernikahan mereka.
Mengingat itu, sudut bibir Nisa tanpa sadar terangkat tipis.
*Bagaimanapun juga... Mas Agha sekarang adalah suamiku.*
*Nggak enak kalau aku pergi tanpa memberi kabar.*
Dengan mengumpulkan keberanian, Nisa membuka aplikasi pesan. Jemarinya sempat berhenti beberapa detik di atas layar, bingung harus memulai dengan kata-kata seperti apa.
Setelah menarik napas pelan, ia mulai mengetik.
> **Annisa Wijaya : Mas, nanti habis kuliah aku mau karaoke sama Bunga, Nathalie, Rafi, dan Kak Niko. ya.**
Nisa membaca kembali pesannya beberapa kali.
Tidak ada yang berlebihan.
Perlahan, ibu jarinya menekan tombol **kirim**.
Pesan itu pun terkirim.
Nisa menatap layar ponselnya beberapa saat, berharap ada balasan yang muncul.
Namun hingga beberapa menit berlalu, layar itu tetap sunyi.
Ia tersenyum kecil sambil mengunci ponselnya.
*Tidak apa-apa... setidaknya aku sudah memberi kabar.*
~~~
Di dalam mobil Agha baru saja masuk kedalam dan ingin menyalakan mobil tiba tiba layar ponselnya yang tergeletak di atas konsol tengah.
Sebuah notifikasi pesan masuk.
Perhatiannya langsung tertuju pada nama pengirim.
**Annisa Wijaya.**
Tanpa sadar, sudut bibir Agha terangkat membentuk senyum tipis.
Jarang sekali Nisa menghubunginya lebih dulu. Karena itu, melihat namanya muncul di layar ponsel saja sudah cukup membuat suasana hati Agha sedikit membaik.
Ia segera membuka pesan tersebut.
> **Annisa Wijaya : Mas, nanti habis kuliah aku mau karaoke sama Bunga, Nathalie, Rafi, dan Kak Niko. ya.**
Senyum di wajah Agha perlahan memudar ketika matanya berhenti pada satu nama.
**Kak Niko.**
Entah mengapa, nama itu kembali mengingatkannya pada pemandangan di kantin beberapa saat lalu.
Niko yang duduk begitu dekat dengan Nisa.
Niko yang menyodorkan sebotol air mineral.
Dan Nisa yang menerimanya.
Agha mengembuskan napas pelan.
Rasa cemburu itu kembali muncul, meski ia tahu tidak ada yang salah dengan pertemanan mereka.
Lagipula, Nisa pergi bersama teman teman yang lainnya, bukan hanya berdua dengan Niko.
Sebagai suami, tentu ada keinginan untuk mengatakan, *"Jangan usah ikut."*
Namun Agha mengurungkan niatnya.
Ia tidak ingin menjadi suami yang mengekang. Nisa juga berhak menghabiskan waktu bersama teman-temannya.
Setelah terdiam beberapa saat, Agha mulai mengetik balasan.
> **Mas Agha : Iya,. Hati-hati dan jangan pulang terlalu malam. Kalau ada apa apa langsung kabarin Mas Agha.**
Agha membaca kembali pesannya.
Singkat.
Namun cukup untuk menunjukkan bahwa ia mengizinkan sekaligus mengkhawatirkan istrinya.
Ia menekan tombol **kirim**, lalu meletakkan kembali ponselnya di atas meja.
Meski begitu, ada satu hal yang masih mengganggu pikirannya.
Nama **Niko**.
Agha hanya bisa berharap bahwa rasa cemburu yang muncul hari itu hanyalah perasaannya sendiri, dan tidak lebih dari itu.