Sore menjelang malam.
Sinar matahari yang masuk dari balik jendela apartemen mulai memudar. Nisa baru sampai di apartemen dan berjalan menuju dapur dengan niat menyiapkan makan malam.
Ia membuka pintu kulkas.
Matanya langsung menyapu setiap rak yang ada di dalamnya.
"..."
Kosong.
Hanya ada beberapa botol minuman dan satu rak berisi telur.
Nisa mengembuskan napas pelan sambil menutup pintu kulkas.
"Astaga... ternyata stok makanannya habis."
Ia sempat berpikir untuk memasak telur saja. Namun setelah melihat bumbu dapur yang juga mulai menipis, ia mengurungkan niatnya.
"Nggak bisa begini. Harus belanja."
Nisa pun berjalan menuju kamar.
Beberapa menit Nisa selesai mandi kemudian ia keluar dari kamar mandi dengan kaos berwarna putih dan rok jeans diatas lutut. Rambutnya masih sedikit lembap. Nisa mengeringkan rambut sebentar.
Setelah beberapa menit rambut sudah sedikit kering, Nisa mengambil tas kecil dan ponselnya, lalu berjalan menuju pintu apartemen.
Saat Nisa menuju pintu, tiba tiba pintu terbuka.
Agha baru saja pulang.
Pria itu masuk sambil melepas jam tangannya, lalu menatap Nisa yang sudah siap keluar.
"Mau ke mana?"
Nisa tersenyum kecil.
"Mau ke supermarket bawah. Stok makanan di kulkas habis."
Agha melirik sekilas ke arah dapur, lalu kembali menatap istrinya.
"Habis semua?"
"Iya. Tinggal telur."
Agha mengangguk pelan.
"Jangan ke bawah."
Nisa mengernyit.
"Kenapa?"
"Kita belanja bulanan."
"Di sini aja nggak cukup?"
Agha menggeleng.
"Supermarket bawah nggak lengkap."
"Lalu?"
"Kita ke supermarket yang lebih besar."
Nisa tersenyum.
"Oh... sekalian belanja banyak, ya?"
"Iya."
"Boleh."
Agha mengangguk singkat.
"Tunggu lima menit."
"Mas mau ganti baju dulu?"
"Oke."
Nisa kembali duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Tak lama kemudian, Agha keluar dari kamar dengan memakai kaos polos berwarna putih dan celana chino berwarna coklat.
"Yuk."
Nisa langsung berdiri.
"Ayo."
Mereka pun keluar dari apartemen bersama.
Untuk pertama kalinya sejak beberapa hari terakhir, mereka akan menghabiskan sore itu berdua di luar, bukan sebagai dosen dan mahasiswi, melainkan sebagai sepasang suami istri yang sedang berbelanja kebutuhan rumah tangga.
Mereka keluar dari apartemen menuju lift. Lift membawa mereka turun hingga ke area basement.
Suasana parkiran tidak terlalu ramai.
Agha berjalan lebih dulu menuju mobil, sementara Nisa mengikuti beberapa langkah di belakang.
Setelah membuka pintu, Agha masuk ke kursi pengemudi.
Nisa duduk di kursi penumpang.
Ia baru saja hendak meraih sabuk pengamannya ketika Agha tiba-tiba mencondongkan tubuh ke arahnya.
Nisa membeku.
"Ehh...?"
Tanpa menjawab, Agha meraih sabuk pengaman di sisi kursi penumpang.
Gerakannya tenang.
Wajah mereka kini hanya terpisah beberapa sentimeter.
Nisa bahkan bisa merasakan samar aroma parfum yang dikenakan Agha.
Deg.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Ia refleks menahan napas.
Tatapan Nisa tak sengaja bertemu dengan mata Agha.
Untuk beberapa detik, tak ada satu pun dari mereka yang berbicara.
Klik.
Suara pengait sabuk pengaman akhirnya terdengar.
Agha memastikan sabuk itu sudah terpasang dengan benar, lalu menarik kembali tubuhnya.
"Sudah."
Jawabannya singkat.
"I... iya."
Nisa menundukkan kepala, berharap Agha tidak menyadari pipinya yang mulai terasa hangat.
Sementara itu, Agha menyalakan mesin mobil seperti tidak terjadi apa-apa.
Mobil perlahan meninggalkan area basement menuju jalan raya.
Di dalam kabin, suasana kembali hening.
Agha fokus mengemudi.
Sesekali ia memperhatikan kondisi lalu lintas melalui kaca spion.
Sedangkan Nisa...
Ia mencoba mengalihkan perhatian dengan melihat pemandangan di luar jendela.
Namun, bayangan wajah Agha yang tadi berada begitu dekat dengannya terus terlintas di pikirannya.
Tanpa sadar, ia menyentuh pelan dadanya sendiri.
"Kenapa jantungku masih berdebar..."
“Aduuhh.. mikirin apa sih Nis”
Ia mengembuskan napas perlahan, berusaha menenangkan diri.
Sayangnya, semakin ia mencoba melupakannya...
Semakin jelas pula momen beberapa detik yang lalu terulang di kepalanya.
Sementara Agha tetap menyetir dengan wajah tenang. Dan sesekali melirik ke arah Nisa
Tidak ada yang tahu bahwa di balik ekspresi dinginnya, ia juga menyadari betapa dekat jarak mereka tadi.
Hanya saja, seperti biasa...
Agha memilih menyimpan semuanya dalam diam.
Mobil memasuki area parkir supermarket yang cukup ramai.
Agha mematikan mesin mobil, lalu turun lebih dulu. Ia berjalan memutar ke sisi penumpang dan membukakan pintu untuk Nisa.
"Terima kasih, Mas."
Agha hanya mengangguk singkat.
“Tumben.. “
Nisa terheran - heran dengan perilaku Agha barusan.
Mereka berjalan berdampingan memasuki supermarket. Udara dingin dari pendingin ruangan langsung menyambut kedatangan mereka.
Agha mengambil sebuah troli.
"Ayo."
"Iya, Mas."
Mereka memulai belanja dari bagian sayur dan buah.
Nisa mengambil daftar belanja yang sempat ia tulis sebelum berangkat.
"Mas, beli jamur ennoki yaa?."
"Hm."
"Sama brokoli yaa?"
"Ambil saja yang kamu mau beli buat stok dirumah."
Nisa memilih satu per satu sayuran dengan sangat teliti. Sesekali ia membandingkan ukuran tomat, memilih wortel yang paling segar
Agha yang berdiri di sampingnya tanpa sadar memperhatikan tingkah Nisa.
Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis.
Nisa benar-benar masih seperti gadis kecil yang ia ingat dulu.
Polos.
Sederhana.
Mudah merasa senang hanya karena hal-hal kecil.
Tanpa sadar, Agha terus memperhatikannya.
Saat Nisa sibuk memilih buah stroberi, gadis itu mengernyit kecil.
"Mas.”
"Hm?"
"Kalau stroberi yang manis pilih yang mana?"
Agha melangkah mendekat.
Ia mengambil satu kotak stroberi, lalu menunjukkannya.
"Lihat warnanya. Yang merah merata biasanya lebih matang."
Nisa mengangguk-angguk.
"Oh... begitu."
"Terus daunnya juga masih hijau."
"Wah, Mas tahu banyak yaa."
Agha hanya menjawab singkat.
"Sedikit."
Nisa tersenyum tulus.
Mereka melanjutkan belanja ke rak bahan makanan, kebutuhan dapur, s**u, telur, dan beberapa camilan.
Sesekali Nisa berhenti karena tertarik melihat barang-barang yang dipajang.
"Mas, lihat deh."
Nisa menunjukkan sebuah mug bergambar gajah.
"Lucu, ya."
Agha menoleh.
"Lumayan."
Nisa terkekeh kecil.
"Jawabannya selalu singkat."
Agha hanya berdehem pelan.
Padahal sebenarnya...
Ia ingin mengobrol lebih lama.
Ingin mendengar Nisa terus bercerita.
Ingin berjalan berdampingan sambil sesekali menggoda istrinya seperti pasangan suami istri pada umumnya.
Ia ingin mengambilkan barang yang terlalu tinggi.
Ingin mendorong troli sambil mendengarkan celoteh Nisa.
Ingin membuat perempuan itu merasa dimanja.
Namun...
Agha menahan semuanya.
Ia takut.
Takut jika perhatian yang terlalu banyak justru membuat Nisa merasa tidak nyaman.
Bagaimanapun, Nisa masih berfikiran kalau pernikahan mereka berawal dari sebuah perjodohan.
Agha tidak pernah tahu apakah Nisa benar-benar menerima dirinya sebagai seorang suami.
Atau hanya menjalani semua ini demi menghormati keputusan keluarga.
Pikiran itu kembali membawanya pada kejadian siang tadi.
Nisa.
Niko.
Percakapan mereka di taman.
Dan sejak kapan mereka kenal.
Meski dari kejauhan ia tidak mendengar apa yang mereka bicarakan, senyum ramah Niko kepada Nisa masih teringat jelas.
Agha mengenal Niko. Dia adalah mahasiswa yang cerdas, Berprestasi dan disukai banyak wanita.
Pria seperti itu tentu mudah menarik perhatian siapa pun.
Termasuk...
Istrinya sendiri yaitu Nisa
Jari Agha tanpa sadar menggenggam gagang troli sedikit lebih erat.
Untuk pertama kalinya sejak menikah, ia merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Takut.
Bukan takut kehilangan harga diri.
Bukan takut disalahpahami.
Melainkan takut kehilangan perempuan yang selama ini ia cintai.
Bagaimana kalau suatu hari nanti Nisa merasa lebih bahagia bersama laki-laki lain?
Bagaimana kalau Niko benar-benar menyukai Nisa?
Dan... bagaimana kalau suatu saat Nisa memilih meninggalkanku?
Pertanyaan-pertanyaan itu membuat dadanya terasa sesak.
Namun, ekspresinya tetap datar seperti biasa.
Tak seorang pun bisa membaca isi hatinya.
"Mas? Haloo.. Mas Agha?"
Suara Nisa membuyarkan lamunannya.
Agha segera menoleh.
"Iya? Kenapa?”
"Nggak jadi ambil minyak gorengnya?"
Agha baru menyadari mereka sudah berada di depan rak minyak goreng.
Ia mengangguk pelan.
"Ambil dua."
"Oke.. Jangan bengong terus Mas. Kenapa? Takut uangnya gacukup?”
Canda Nisa sambil memasukkan dua botol ke dalam troli.
Kemudian ia kembali tersenyum kecil ke arah Agha.
"Ayo, Mas."
Senyum sederhana itu kembali membuat hati Agha menghangat.
Troli belanja mereka akhirnya penuh.
Mulai dari sayuran segar, daging, buah-buahan, s**u, bumbu dapur, hingga berbagai kebutuhan rumah tangga lainnya telah tersusun rapi di dalam troli.
Nisa mendorong troli mengikuti Agha menuju area kasir.
Beberapa antrean tampak cukup ramai. Mereka memilih salah satu jalur yang tidak terlalu panjang.
Suasana di sekitar dipenuhi suara pemindai barcode dan percakapan para pelanggan.
Tak lama kemudian, giliran mereka tiba.
Agha mulai mengangkat satu per satu barang belanjaan dari troli ke atas meja kasir, sementara kasir memindai setiap barang dengan cekatan.
Nisa berdiri di samping Agha, sesekali membantu merapikan kantong belanja yang sudah selesai dipindai.
Setelah semua barang selesai dihitung, Agha mengeluarkan dompetnya lalu membayar seluruh tagihan.
Saat kasir sedang mencetak struk, seorang ibu paruh baya yang mengantre tepat di belakang mereka tersenyum melihat kebersamaan keduanya.
"Wah, beruntung banget ya, Mbak," ucapnya ramah kepada Nisa. "Punya pacar kayak Mas ini. Ganteng, terus kelihatannya perhatian juga."
Nisa langsung menoleh dengan wajah sedikit terkejut.
Belum sempat ia menjawab, Agha lebih dulu membuka suara.
"Bukan pacar, Bu."
Ibu itu tampak bingung.
Agha melanjutkan dengan nada tenang.
"Ini Istri saya."
Seketika mata ibu itu membulat.
"Oh, ya ampun... pantesan."
Beliau tertawa kecil sambil memandang mereka bergantian.
"Cocok sekali. Sama-sama cantik dan tampan. Serasi banget."
Pipi Nisa langsung memanas.
Ia menundukkan kepala sambil tersenyum malu.
"Terima kasih, Bu," jawabnya pelan.
Sementara itu, tanpa disadari, sudut bibir Agha terangkat membentuk senyum tipis.
Entah mengapa, mendengar orang lain mengatakan bahwa dirinya dan Nisa terlihat serasi membuat hatinya terasa jauh lebih ringan.
Agha mengambil kantong-kantong belanjaan dari kasir.
"Permisi, Bu."
"Iya, hati-hati di jalan, ya."
"Terima kasih."
Agha berjalan lebih dulu menuju pintu keluar sambil membawa sebagian besar kantong belanja. Nisa menyusul di sampingnya.
Saat mereka sudah cukup jauh dari area kasir, Nisa melirik wajah Agha dari samping.
Senyum tipis itu masih belum benar-benar hilang dari wajah suaminya.
Dalam hati Nisa tersenyum geli.
*Baru kali ini aku lihat Mas Agha kelihatan senang cuma karena dibilang serasi sama orang lain.*
Sementara Agha tetap berjalan tenang.
Meski wajahnya kembali datar seperti biasa, jauh di dalam hatinya, ucapan sederhana dari seorang ibu yang bahkan tidak mereka kenal itu masih terus terngiang.
*"Serasi."*
Satu kata sederhana yang entah mengapa terdengar begitu menyenangkan baginya.