Suara alarm di atas nakas berbunyi pelan tepat pukul enam pagi.
Nisa mengerjapkan mata beberapa kali sebelum meraih ponselnya dan mematikan alarm.
Ia mengusap wajahnya perlahan.
Sesaat kemudian, pandangannya beralih ke sisi ranjang.
Agha masih tertidur.
Selimutnya masih menutupi sebagian tubuhnya, sementara napasnya terdengar teratur.
Nisa tersenyum tipis.
Sejak mereka menikah, ini adalah pertama kalinya ia bangun lebih dulu.
Ia turun dari tempat tidur setenang mungkin agar tidak membangunkan Agha.
Setelah merapikan selimutnya sendiri, ia mengambil pakaian rumah dan keluar kamar.
---
Begitu memasuki dapur, Nisa langsung membuka kulkas.
Matanya berbinar melihat isi kulkas yang kini penuh.
Sekarang, ia akhirnya bisa memasak.
"Wahhhh.. Masak apa ya..."
gumamnya sambil memandangi satu per satu bahan makanan.
Tak lama kemudian ia memutuskan membuat menu sederhana.
Sup ayam.
Telur dadar.
Nisa mulai mencuci sayuran.
Mengupas wortel.
Memotong ayam.
Sesekali ia membuka ponselnya untuk melihat resep.
"Biar nggak gagal."
Ia tersenyum kecil pada dirinya sendiri.
Tak lama kemudian suara minyak yang mulai mendesis memenuhi dapur.
Aroma bawang putih yang ditumis perlahan menyebar ke seluruh apartemen.
---
Di dalam kamar, Agha membuka mata.
Pria itu sedikit mengernyit.
Ada aroma masakan.
Ia melirik jam di atas nakas.
Enam lewat tiga puluh.
Biasanya pada jam segini ia sudah berada di dapur.
Agha bangkit dari tempat tidur.
Begitu keluar kamar, langkahnya langsung mengarah ke dapur.
Di sana, Nisa sedang berdiri di depan kompor sambil mengaduk sup sambil bernyanyi.
Agha berdiri beberapa langkah di belakangnya dan memperhatikab Nisa dari belakang sambil tersenyum.
"Ehemm."
Nisa menoleh dan tersenyum.
"Pagi, Mas."
"Kamu masak?"
"Iya."
Agha memperhatikan meja dapur.
Beberapa makanan sudah tertata di atas meja makan.
Dapur juga tetap bersih meski sedang digunakan.
"Aku bantu."
Nisa langsung menggeleng.
"Gausah Mas, tinggal sedikit lagi. Amaann."
Agha tidak menjawab.
Ia membuka salah satu panci.
Supnya hampir matang.
Kemudian membuka tudung saji.
Telur dadarnya juga sudah selesai.
Tanpa berkata apa-apa lagi, ia mengambil dua piring dari lemari.
Nisa yang melihat itu tersenyum kecil.
"Lah katanya mau bantu."
"Hm."
"Bantunya cuma ambil piring. Itumah bukan ngebantu namanya"
"Sudah selesai."
Jawaban datar itu membuat Nisa terkekeh pelan.
"Iya juga hehe."
Untuk pertama kalinya pagi itu, suasana dapur terasa sedikit lebih ringan.
Tak lama kemudian mereka duduk berhadapan di meja makan.
Nisa memperhatikan Agha yang sedang mencicipi sup buatannya.
Entah kenapa ia jadi ikut gugup.
"Enak ga? Ada yang kurang?"
Agha kembali mengambil satu sendok.
Kemudian menggeleng.
"Cukup."
"Cukup doang? Enak ga?"
"Enak."
Nisa langsung tersenyum lega.
"Nah gitu dong jawabnya."
Mereka kembali makan dalam diam.
Namun kali ini keheningan tidak terasa canggung.
Sesekali Nisa diam-diam memperhatikan Agha yang menghabiskan makanannya tanpa menyisakan sedikit pun.
Hal kecil itu membuatnya merasa dihargai.
Setelah selesai makan, Nisa spontan berdiri membawa piring.
Belum sempat melangkah, Agha sudah mengambil piring-piring itu dari tangannya.
"Biar aku."
"Ihh kenapa?."
"Kamu siap-siap."
"Aku yang beresin ini semua”
“Beneran nih?”
“Beneran”
“Okedeh.. “
"Kamu mandi aja sana."
"Siaap."
Nisa berjalan menuju kamar sambil sesekali menoleh ke belakang.
Agha merapikan meja makan lalu mencuci semua piring kotor
---
Beberapa saat kemudian, Nisa duduk di meja rias dengan menggunakan kemeja olive dan celana cutbray putih.
Rambutnya yang panjang dikeringkan perlahan sebelum dikuncir setengah.
Tak lama setelah itu, Agha masuk ke kamar.
Ia mengambil handuk lalu masuk kamar mandi tanpa banyak bicara.
Sekitar lima belas menit berlalu.
Pintu kamar mandi terbuka.
Agha keluar sambil mengeringkan rambut dengan handuk kecil.
Ia mengenakan handuk mandi yang melingkar rapi di pinggang sebelum berjalan menuju lemari.
Nisa refleks memalingkan wajah karna masih belum terbiasa melihat suaminya dalam keadaan seperti itu.
Agha berganti pakaian dengan cepat.
Kemeja putih berlengan panjang yang lengannya digulung setengah dan celana bahan abu-abu.
Tidak lupa memakai jam tangan kulit warna hitam.
Penampilannya berubah menjadi sosok pria yang dewasa dan berwibawa.
Saat keduanya sama-sama berdiri di depan cermin untuk bersiap, Agha mengambil kunci mobil.
"Aku anter ya?."
Nisa langsung menoleh.
"Gak usah Mas, duluan aja."
Agha mengernyit tipis.
"Kenapa?"
Nisa tersenyum canggung.
"Aku... masih mau beli sesuatu di minimarket depan."
Tatapan Agha tertuju padanya beberapa saat.
Ia tidak yakin itu alasan yang sebenarnya.
Namun ia tidak bertanya lebih jauh.
"Hm."
Pria itu membuka pintu kamar.
Sebelum keluar, ia berkata singkat,
"Hati hati”
"Iya, Mas."
Pintu apartemen tertutup.
Nisa mengembuskan napas panjang.
"Huhhh.. Untung saja”
“Bukan karena aku nggak mau diantar sama kamu Mas."
"Aku cuma belum siap kalau satu kampus heboh liat aku sama kamu dimobil yang sama"
Ia mengambil tas kuliahnya.
Mengunci pintu apartemen.
Lalu melangkah keluar beberapa menit setelah Agha pergi.
---
Sementara itu...
Mobil Agha telah lebih dulu meninggalkan area parkir apartemen.
Di sepanjang perjalanan menuju kampus, pikirannya kembali mengingat percakapan singkat tadi pagi.
Ga usah Mas, duluan aja.
Jawaban itu terus terngiang.
Agha menghela napas pelan.
Tangannya kembali fokus pada kemudi.
---
Sekitar lima belas menit kemudian...
Nisa tiba di gerbang universitas.
Suasana kampus sudah ramai.
Mahasiswa berlalu-lalang membawa buku, sebagian lagi duduk di taman sambil mengerjakan tugas.
Nisa tersenyum kecil.
Suasana seperti ini perlahan mulai terasa akrab baginya.
Baru beberapa langkah memasuki area fakultas, sebuah suara memanggil namanya.
"Nisa!"
Nisa menoleh.
Di bawah pohon ketapang dekat gedung perkuliahan, Bunga melambaikan tangan dengan semangat.
Di sampingnya sudah ada Nathalie dan Rafi.
Nisa segera menghampiri mereka.
"Hai semuaaa..."
"Haii..!" jawab mereka hampir bersamaan.
Bunga langsung merangkul lengan Nisa.
“ Semalem kenapa kamu buru - buru matiin telfonnya?”
“ Batraiku udah mau lowbat dan juga udah mulai ngantuk. Dari pada aku bangun kesiangan kan? “
Nathalie menatap Nisa curiga
“ Hmm.. beneran karna itu? Atau.. “
“Atau apa? “
Rafi menyela
“Atau kamu muak sama suara Bunga”
“Ihhh kok jadi akuuu..”
Mereka semua tertawa.
Nisa ikut tertawa kecil melihat tingkah dua sahabat itu.
Obrolan mereka mengalir begitu saja.
Mereka membahas tugas yang mulai menumpuk, dosen yang terkenal perfeksionis, hingga rencana organisasi kampus minggu depan.
Sesekali Rafi melontarkan candaan yang membuat Nathalie menggeleng sambil menahan tawa.
Di tengah obrolan, Bunga tiba-tiba menepuk dahinya.
"Astaga!"
Nathalie menoleh.
"Kenapa?"
Bunga membelalakkan mata.
"Kita ada kelas jam pertama!"
"Iya, terus?"
"Kalian lupa?"
"Lupa apa?"
Bunga menatap mereka satu per satu.
"Hari ini kelasnya Dosen Freezer!"
Mata Nathalie langsung membesar.
"YA AMPUN!"
Rafi mengusap wajahnya.
"Mulai lagi deh..."
Nisa mengernyit.
"Dosen Freezer?"
Ia berusaha tetap tersenyum.
"Oh..."
"Iya!"
Bunga sama sekali tidak menyadari perubahan ekspresi Nisa.
Bunga langsung menarik lengan Nisa.
"Ayo cepat!"
"Kita harus dapat tempat duduk depan!"
Langkah Nisa mendadak terasa berat.
Kelas...
Pak Agha...
Lagii...
Hari ini ia akan duduk lagi sebagai mahasiswi di kelas yang diajar oleh suaminya sendiri.
Jantungnya mulai berdebar tidak karuan.
Sementara Bunga terus berjalan sambil menarik tangannya menuju gedung perkuliahan.
Jantungnya berdegup semakin cepat setiap langkah yang membawanya mendekati ruang kuliah.
Sementara itu, Bunga, Nathalie, dan Rafi sama sekali tidak menyadari perubahan ekspresi di wajahnya. Mereka justru sibuk mempercepat langkah agar tidak terlambat.
"Ayo, Sa! Nanti keburu penuh!" seru Bunga sambil menarik pelan pergelangan tangan Nisa.
"I-iya..."
Jawaban Nisa terdengar pelan.
Sesampainya di depan ruang kelas, suasana sudah ramai seperti biasa. Mahasiswa memenuhi lorong, beberapa masih berdiri sambil mengobrol, sementara yang lain sudah duduk di dalam ruangan.
"Nah, untung belum mulai!" ucap Nathalie lega.
Mereka berempat segera masuk.
Benar saja.
Hampir semua bangku sudah terisi.
Bunga mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, lalu menunjuk deretan kursi di baris kedua.
"Di sana masih kosong!"
Tanpa menunggu jawaban, ia langsung berjalan lebih dulu.
Nisa hanya bisa mengikuti dengan langkah yang terasa berat.
Ia duduk di kursi paling pinggir.
Tangannya langsung meraih botol minum untuk menyembunyikan kegugupannya.
Bunga menoleh.
"Kenapa?"
"Nggak apa-apa."
"Kamu pucat."
"Mungkin karena buru-buru."
Bunga mengangguk tanpa curiga.
Sementara Nisa diam-diam menarik napas panjang.
Matanya beberapa kali melirik pintu kelas.
Belum ada dosen yang datang.
Masih sempat.
Kalau sekarang keluar dengan alasan ke toilet...
Mungkin tidak akan ada yang curiga.
Nisa menggenggam buku catatannya.
"Aku ke kamar mandi dulu ya..."
Baru saja ia hendak berdiri—
Bruk.
Suara pintu kelas terbuka.
Dalam sekejap, ruangan yang tadi masih ramai langsung berubah hening.
Semua mahasiswa spontan kembali ke tempat duduk masing-masing.
Nisa membeku.
Perlahan ia menoleh ke arah pintu.
Seorang pria tinggi melangkah masuk dengan kemeja putih yang dipadukan celana bahan abu-abu.
Tas kerja hitam tersampir di bahu kirinya.
Wajahnya tetap datar.
Tatapannya tenang.
Tidak terburu-buru.
Tidak pula menunjukkan senyum.
Agha Samudra Atmadja.
Suaminya.
Kini berdiri di depan kelas sebagai dosen.
Napas Nisa seakan tertahan.
Refleks ia menundukkan kepala.
"Selamat pagi, Pak."
Suara salam mahasiswa terdengar hampir bersamaan.
"Selamat pagi."
Jawaban Agha terdengar tenang.
Sama seperti saat berbicara di rumah.
Namun kini nadanya terdengar lebih tegas.
Lebih berwibawa.
Agha berjalan menuju meja dosen.
Ia meletakkan laptop, map, dan sebuah spidol di atas meja dengan gerakan yang rapi.
Setelah itu, ia menatap seluruh ruangan.
Tatapannya menyapu setiap baris mahasiswa.
Nisa menundukkan wajah lebih dalam.
Berharap...
Berharap Agha tidak melihatnya.
Namun harapan itu pupus ketika langkah pandang Agha berhenti sesaat pada baris kedua.
Tatapan mereka bertemu.
Hanya sepersekian detik.
Sangat singkat.
Namun cukup membuat jantung Nisa berdebar lebih keras.
Refleks Nisa memberikan senyum tipis yang nyaris tak terlihat.
Agha tidak membalas senyuman itu.
Ekspresinya tetap sama.
Dingin.
Tenang.
Seolah mereka benar-benar tidak saling mengenal.
Sesaat kemudian, tatapan itu bergeser ke mahasiswa lain.
Tidak ada perlakuan berbeda.
Tidak ada sapaan.
Tidak ada isyarat.
Nisa mengembuskan napas pelan.
Di satu sisi ia lega.
Di sisi lain...
Sikap profesional Agha justru membuatnya semakin gugup.
"Baik."
Suara Agha memenuhi ruangan.
"Hari ini kita melanjutkan materi minggu lalu."
Ia mulai menyalakan laptop dan proyektor.
Presentasi muncul di layar.
Perkuliahan dimulai.
Selama hampir dua jam, Agha menjelaskan materi dengan suara tenang dan jelas.
Cara mengajarnya terstruktur.
Sesekali ia memberikan contoh kasus dan mengajukan pertanyaan kepada mahasiswa.
Ruangan tetap hening.
Semua memperhatikan.
Kini Nisa mengerti mengapa banyak mahasiswa menyukai kelas ini.
Agha memang tidak banyak bercanda.
Namun setiap penjelasannya mudah dipahami.
Beberapa kali Nisa tanpa sadar mengangkat wajah.
Tatapannya bertemu lagi dengan Agha yang sedang menjelaskan materi di depan kelas.
Ia buru-buru kembali menulis di buku catatan.
"Fokus, Nisa..."
gumamnya dalam hati.
"Tenang Nisa, Tenang”
Di tengah penjelasan, Agha sesekali berjalan menyusuri lorong di antara bangku mahasiswa.
Setiap kali langkah pria itu mendekat, Nisa otomatis menahan napas dan menundukkan kepala.
Untungnya, Agha tidak berhenti di samping mejanya.
Ia tetap berjalan seperti biasa.
Memeriksa keadaan kelas.
Tidak lebih.
Tidak kurang.
Tidak ada seorang pun yang menyadari bahwa dosen dan salah satu mahasiswinya telah terikat dalam sebuah pernikahan.
Bel kuliah akhirnya berbunyi.
Agha menutup laptopnya.
"Baik, Cukup sampai di sini."
"Tugas akan saya unggah di sistem akademik."
"Selamat siang."
"Selamat siang, Pak."
Mahasiswa mulai merapikan buku masing-masing.
Agha mengambil tas kerjanya, lalu berjalan menuju pintu.
Saat hampir keluar kelas, entah mengapa ia menoleh sebentar ke arah belakang.
Tatapannya kembali bertemu dengan Nisa yang tanpa sadar sedang memandang ke arahnya.
Untuk sesaat...
Tidak ada kata.
Tidak ada senyum.
Hanya tatapan singkat yang dipenuhi pemahaman.
Agha lalu mengalihkan pandangan dan melangkah keluar kelas.
"Nisa!"
Tepukan pelan di bahunya membuat Nisa tersentak.
Ia menoleh.
Bunga sudah berdiri di sampingnya sambil merapikan tas.
"Ayo! Kita ke kantin dulu."
"Iya..."
Nisa segera bangkit.
Ia melirik sekilas ke arah pintu yang baru saja dilalui Agha.
Koridor di luar kelas sudah kembali ramai.
Sosok pria itu telah menghilang di balik kerumunan mahasiswa.
Namun debar di d**a Nisa belum juga mereda.
Hari itu ia baru menyadari satu hal.
Ternyata suaminya adalah orang yang sangat hebat tetapi kenapa dia mau dijodohkan dengan Nisa yang hanya seorang mahasiswa