Mobil melaju tenang membelah jalanan kota yang mulai dipenuhi lampu-lampu malam.
Di dalam kabin, suasana kembali dipenuhi keheningan.
Setelah hampir dua jam berbelanja kebutuhan apartemen, baik Agha maupun Nisa tampak sama-sama lelah. Namun, bukan rasa lelah yang membuat mereka diam.
Mereka hanya belum terbiasa satu sama lain.
Sesekali Nisa mencuri pandang ke arah Agha yang sedang fokus mengemudi.
Tangannya menggenggam kemudi dengan mantap.
Tatapannya lurus ke depan.
Ekspresinya tetap datar seperti biasanya.
Sejak keluar dari pusat perbelanjaan, pria itu hampir tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Nisa mengembuskan napas pelan.
Dalam hati ia bertanya-tanya.
Apa Mas Agha memang pendiam seperti ini, atau hanya karena masih canggung denganku?
Belum sempat menemukan jawabannya, mobil berhenti di lampu merah.
Tanpa sengaja, Agha menoleh ke arah kursi penumpang.
Tatapan mereka bertemu.
Nisa yang ketahuan sedang memandangnya langsung mengalihkan wajah ke luar jendela.
Pipinya menghangat.
Agha kembali memandang jalan tanpa mengatakan apa pun.
Beberapa detik kemudian, lampu berubah hijau.
Mobil kembali melaju.
Keheningan kembali mengambil alih.
Tiba-tiba...
**Kruuukk...**
Suara perut yang cukup pelan terdengar di dalam mobil.
Nisa langsung membeku.
Pelan-pelan ia menoleh ke arah Agha.
Pria itu masih fokus menyetir, tetapi sudut bibirnya tampak sedikit terangkat, seolah mendengar suara itu.
Nisa menutup wajahnya dengan satu tangan.
"Aduh..."
Malu sekali.
Agha melirik sekilas ke arahnya.
"Lapar?"
Nisa tersenyum canggung.
"Sedikit."
Agha mengangkat sebelah alis.
"Sedikit?"
Nisa tertawa kecil.
"Ya... lumayan."
"Kamu belum makan?"
Nisa menggeleng.
"Tadi niatnya mau masak. Tapi kan stok makanan habis, akhirnya langsung belanja."
Agha mengangguk pelan.
Beberapa detik kemudian, ia menyalakan lampu sein dan mengubah arah mobil.
Nisa memperhatikan jalan yang mereka lewati.
"Mas... kita bukan jalan pulang."
"Kita makan dulu."
"Nggak usah. Di rumah aja nanti."
Agha menggeleng.
"Kamu lapar."
"Aku masih bisa tahan kok."
"Enggak."
Jawaban Agha singkat, tetapi tegas.
"Kita makan."
Nisa hanya bisa tersenyum tipis.
Tak lama kemudian, mobil memasuki area sebuah restoran yang cukup ramai.
Agha memarkirkan mobil dengan rapi.
Nisa menoleh ke luar jendela.
"Mas sering makan di sini?"
Agha mengangguk.
"Iya sering."
"Hemmm."
Agha mematikan mesin mobil, lalu menoleh ke arah Nisa.
"Makan dulu."
Nisa tersenyum hangat.
"Iya."
Mereka pun turun dari mobil dan berjalan berdampingan menuju pintu restoran.
Meski Agha tidak banyak bicara, perhatian kecil yang ia tunjukkan malam itu kembali membuat Nisa menyadari satu hal.
Suaminya mungkin sulit mengungkapkan rasa peduli dengan kata-kata.
Tetapi setiap tindakannya selalu berhasil membuat Nisa merasa diperhatikan.
Begitu memasuki restoran, seorang pelayan menyambut mereka dengan ramah dan mengantar ke meja yang berada di dekat jendela.
Dari tempat itu, lampu-lampu kota tampak berkilauan menghiasi malam.
Nisa menarik kursinya lalu duduk. Sementara Agha duduk tepat di hadapannya.
Tak lama kemudian, seorang pelayan datang membawa dua buku menu.
"Silakan, Kak."
"Terima kasih," ucap Nisa sambil menerima menu.
Ia membuka halaman demi halaman dengan saksama.
Semuanya terlihat menggugah selera.
Justru karena terlalu banyak pilihan, Nisa malah semakin bingung.
"Hmm..."
Agha yang sejak tadi memperhatikan Nisa akhirnya bertanya.
"Belum tahu mau pesan apa?"
Nisa menggeleng pelan.
"Banyak yang kelihatannya enak."
Agha menutup buku menunya.
"Aku pilihkan?"
Nisa menatapnya beberapa detik.
"Boleh?"
"Iya."
Nisa langsung menyerahkan buku menu kepada Agha.
"Kalau gitu, Mas aja yang pilih."
Agha membaca menu sebentar, lalu mengangkat tangan memanggil pelayan.
"Sudah pilih, Kak?" tanya pelayan.
Agha mengangguk.
"Beef yakiniku satu, chicken katsu satu, nasi dua, sama dua minuman."
"Baik, Kak."
Pelayan mencatat pesanan mereka, lalu berpamitan.
Setelah pelayan pergi, Nisa menatap Agha dengan penasaran.
"Mas yakin aku suka?"
Agha mengangguk singkat.
"Harusnya."
"Kalau ternyata nggak?"
Agha menatapnya sebentar.
"Kalau nggak suka, nanti kita pesan lagi."
Jawaban itu membuat Nisa tersenyum kecil.
"Mas ternyata pede juga."
Agha hanya mengangkat sedikit sudut bibirnya.
"Nggak."
Keheningan kembali menyelimuti meja mereka.
Tak lama kemudian, pesanan mereka datang.
Aroma beef yakiniku yang masih mengepul langsung memenuhi meja. Nisa menatap hidangan di hadapannya dengan mata berbinar.
"Wah... kelihatannya enak." Matanya tertuju ke arah beef yakiniku itu
Agha hanya mengangguk pelan.
"Coba dulu."
Nisa mengambil sepotong daging, lalu mencicipinya.
Beberapa detik kemudian, matanya langsung berbinar.
"Enak banget." Sambil menggeleng gelengkan kepala
Agha memperhatikan reaksi Nisa tanpa berkata apa-apa.
Dalam hati, ia merasa sedikit lega.
Ternyata pilihannya tidak salah.
Mereka pun menikmati makan malam dalam suasana yang tenang. Sesekali Nisa tersenyum puas dan memejamkan mata setiap kali mencicipi makanannya, sementara Agha makan dengan tenang sambil sesekali melirik wajah istrinya.
Tak lama kemudian, makan malam mereka selesai.
Nisa menyandarkan punggungnya ke kursi sambil memandang ke luar jendela.
Tatapannya tiba-tiba berhenti pada dua anak kecil yang duduk di trotoar depan restoran.
Keduanya hanya memandang ke arah dalam restoran.
Sesekali mereka menelan ludah saat melihat para pengunjung menikmati makanan.
Nisa terdiam.
Wajahnya berubah sendu.
Ia mengangkat tangan memanggil pelayan.
"Mbak."
"Iya, Kak?"
"Tolong tambah tiga paket beef yakiniku sama tiga minuman. Dibungkus, ya."
"Baik, Kak."
Pelayan pun segera mencatat pesanan itu.
Agha menatap Nisa dengan heran.
"Kamu masih lapar?"
Nisa menggeleng.
"Nggak."
"Mau dibawa pulang?"
Nisa hanya tersenyum kecil.
Agha tidak bertanya lagi.
Beberapa menit kemudian, pesanan datang dalam kantong kertas.
Nisa langsung berdiri.
"Aku keluar sebentar, ya Mas."
Agha hanya mengangguk.
Dari balik jendela restoran, ia memperhatikan setiap langkah Nisa.
Nisa menghampiri kedua anak kecil itu, lalu berjongkok agar tinggi badannya sejajar dengan mereka.
Ia menyerahkan kantong makanan itu sambil tersenyum hangat.
"Ini buat kalian."
Kedua anak itu tampak terkejut.
"Buat kita, Kak?"
"Iya buat kalian."
Mereka menerima kantong makanan itu dengan kedua tangan.
"Terima kasih banyak Kak, tapi ini kelebihan"
“Tidak apa apa, kalian bawa pulang saja sisanya”
Wajah kedua anak itu langsung dipenuhi senyum bahagia.
Tanpa diduga, salah satu dari mereka memeluk Nisa erat.
Anak yang satunya ikut memeluknya.
Nisa tersenyum lembut.
Ia membalas pelukan mereka tanpa sedikit pun ragu.
Tangannya mengusap pelan kepala kedua anak itu.
Agha yang melihat dari dalam restoran terdiam.
Ia tidak menyangka Nisa akan melakukan hal seperti itu.
Bukan hanya memberi makanan.
Tetapi juga memberikan pelukan hangat kepada dua anak yang bahkan baru ditemuinya.
Seorang pelayan yang berdiri di dekat kasir ikut memperhatikan pemandangan itu.
Ia tersenyum lalu berkata pelan kepada Agha.
"Pacar Mas baik sekali hatinya."
Agha menoleh.
"Bukan pacar."
Pelayan itu tampak bingung.
"Dia istri saya."
Mata pelayan itu langsung membulat.
"Oh... maaf, Mas."
Agha mengangguk kecil.
"Nggak apa-apa."
Pelayan itu tersenyum canggung sebelum kembali melanjutkan pekerjaannya.
Sementara itu, tanpa sadar, Agha kembali menatap ke arah luar.
Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis.
Untuk kedua kalinya hari itu, ia merasa bangga memperkenalkan Nisa sebagai istrinya.
Beberapa saat kemudian, Nisa kembali masuk ke dalam restoran.
Ia duduk di kursinya sambil tersenyum kecil.
"Maaf ya, Mas. Tadi aku pesan tiga porsi lagi."
Agha menatapnya.
"Gapapa."
"Nanti itu biar aku sendiri aja yang bayar Mas."
Agha menggeleng pelan.
"Nggak usah."
"Tapi itu kan aku yang pesan."
"Biar sekalian Mas yang bayar."
Nisa menatap Agha beberapa detik.
Lalu senyum hangat perlahan terukir di wajahnya.
"Terima kasih, Mas."
Agha hanya mengangguk pelan.
Di dalam hatinya, ia kembali menyadari satu hal.
Semakin lama mengenal Nisa, semakin banyak sisi dirinya yang membuat Agha diam-diam jatuh hati.
Setelah suasana kembali tenang, Agha mengangkat tangannya pelan memanggil pelayan.
"Mbak."
Pelayan itu segera menghampiri meja mereka.
"Iya, Mas?"
"Minta bill, ya."
"Baik, Mas. Sebentar."
Tak lama kemudian, pelayan kembali membawa map berisi tagihan.
Agha membukanya sekilas, lalu mengeluarkan kartu debit dari dompetnya.
"Ini Mbak kartunya"
"Baik, Mas."
Pelayan membawa kartu tersebut ke mesin pembayaran. Beberapa saat kemudian, transaksi selesai.
"Terima kasih, Mas."
Agha menerima kembali kartu dan struk pembayaran, lalu memasukkannya ke dalam dompet.
"yuk."
Nisa mengangguk.
Mereka berdiri hampir bersamaan.
Agha mengambil kunci mobil, sementara Nisa membawa tas kecilnya.
Sebelum keluar, Nisa sempat menoleh ke arah jendela restoran.
Dua anak kecil yang tadi diberinya makanan masih duduk di sana sambil menikmati beef yakiniku dengan wajah penuh kebahagiaan.
Melihat itu, Nisa tersenyum puas.
Agha yang menyadari senyum tersebut ikut melirik ke arah yang sama.
Tanpa berkata apa pun, ia kembali membuka pintu restoran untuk Nisa.
"Terima kasih, Mas."
"Hm."
Mereka berjalan berdampingan menuju area parkir.
Udara malam terasa sejuk. Lampu-lampu kota menghiasi perjalanan mereka menuju mobil.
Agha membukakan pintu penumpang untuk Nisa.
Nisa tersenyum kecil sebelum masuk ke dalam mobil.
"Terima kasih."
Agha menutup pintu dengan pelan, lalu berjalan memutar menuju kursi kemudi.
Tak lama kemudian, mesin mobil menyala.
Mobil perlahan meninggalkan area restoran, membelah jalanan malam yang mulai lengang.
Di dalam mobil, suasana kembali hening.
Namun kali ini, keheningan itu terasa nyaman.
Sesekali Agha melirik Nisa yang sedang menikmati pemandangan kota dari balik jendela.
Entah mengapa, malam itu perjalanan pulang menuju apartemen terasa lebih hangat dari biasanya.