Nisa sampai di Kampus dan berjalan menuju kantin sambil membawa buku catatannya. Sejak menjadi mahasiswi pindahan, ia mulai terbiasa dengan suasana kampus yang selalu ramai.
Dari kejauhan, Bunga melambaikan tangan.
"Nisa! Di sini!"
Nisa tersenyum kecil, lalu menghampiri meja yang sudah ditempati Bunga, Rafi, dan Nathalie.
"Halo." Sapa Nisa
"Selamat pagi... ," goda Rafi yang langsung membuat mereka tertawa.
Nisa duduk sambil meletakkan tasnya di kursi sebelah.
Mereka menghabiskan waktu bersama dengan mengobrol santai. Bunga banyak bercerita tentang dosen-dosen di kampus, sedangkan Nathalie sibuk menceritakan pengalaman lucunya saat presentasi minggu lalu.
Nisa hanya sesekali ikut tertawa.
Di tengah obrolan, Bunga tiba-tiba berdiri.
"Ayo!"
"Ke mana?" Nisa menoleh heran.
"Kelas Komunikasi Bisnis."
"Masih ada waktu, kan? Bukannya dimulai jam 10 yaa"
Bunga menggeleng cepat.
"Kalau kelas dosen yang satu itu, yang sering kita sebut Dosen Freezer. Datang lima menit sebelum kelas dimulai aja udah telat."
Nathalie ikut mengangguk.
"Bahkan ada yang datang setengah jam lebih awal."
Nisa terkekeh.
"Kenapa memangnya?"
Nathalie tersenyum lebar.
"Karena beliau dosen paling terkenal di Kampus ini."
"Masih muda."
"Kalem."
"Dingin."
"Cerdas."
"Berkharisma."
"Gagah."
"Dan..." Bunga menatap Nisa penuh arti.
"...punya wajah yang bikin banyak mahasiswi gagal fokus."
Nisa hanya menggeleng pelan.
"Kalian ini berlebihan."
"Bukan kami yang berlebihan."
Nathalie menunjuk ke arah luar kantin.
"Itu buktinya."
Nisa menoleh.
Beberapa mahasiswi tampak berlari kecil sambil memeluk buku.
"Buruan!"
"Nanti bangku depan habis!"
"Dosen Freezer sebentar lagi datang!"
"Yuk!"
Bunga menarik pelan lengan Nisa.
Mereka berempat pun berjalan cepat menuju gedung perkuliahan.
Lorong menuju ruang kelas sudah dipenuhi mahasiswa.
Saat pintu kelas dibuka, hampir semua bangku telah terisi.
"Cepat!"
Bunga lebih dulu masuk.
"Masih ada empat kursi!"
Mereka segera duduk di deretan keempat dari depan.
Nisa memperhatikan keadaan kelas.
Suasananya berbeda.
Banyak mahasiswi tampak lebih sibuk merapikan rambut dibanding membuka buku.
Bahkan ada yang membawa cermin kecil.
Banyak mahasiswi yang meletakkan beberapa hadiah, makanan dan minuman di meja dosen tersebut
"Aneh juga yaa..."
gumam Nisa pelan.
Nathalie tersenyum.
"Nanti kamu juga ngerti."
Belum sempat Nisa bertanya lagi, seluruh kelas mendadak sunyi.
Seorang mahasiswa yang tadi masih mengobrol langsung duduk tegak.
Beberapa mahasiswi bahkan buru-buru menyimpan ponsel mereka.
Suara langkah kaki terdengar mendekat.
Tap...
Tap...
Tap...
Seorang pria tinggi memasuki ruangan dengan langkah tenang.
Kemeja putih yang dikenakannya tergulung hingga siku.
Laptop berada di tangan kirinya.
Tatapannya dingin lurus ke depan.
Tanpa melihat siapa pun.
Nisa yang sedang membuka buku masih belum memperhatikan sosok dosen itu.
Hingga...
Bunga berbisik pelan.
"Itu dia."
Nisa spontan mengangkat kepala.
Saat pandangannya jatuh pada wajah pria di depan kelas...
Tangannya langsung membeku.
Pulpen yang dipegangnya terlepas dan menggelinding ke lantai.
Tok...
Suara pulpen itu terdengar begitu jelas di tengah kelas yang sunyi.
Nisa bahkan tidak sempat mengambilnya.
Matanya masih menatap lurus ke depan.
"Mas...?"
Pria yang berdiri di depan kelas itu...
Adalah Agha Samudra Atmadja
Suaminya.
Sementara Agha tetap berjalan menuju meja dosen tanpa menunjukkan ekspresi apa pun.
Ia meletakkan laptopnya, membuka map yang dibawanya, lalu mulai berbicara dengan suara tenang.
"Selamat siang."
"Selamat siang, Pak," jawab seluruh mahasiswa serempak.
Nisa masih belum bisa mengalihkan pandangannya.
Selama ini...
Agha selalu berangkat pagi dengan alasan bekerja. Namun, tidak pernah sekalipun mengatakan bahwa tempat kerjanya.. Adalah kampus yang sama dengannya.
Nisa pun mengangkat bukunya dan bersembunyi dibalik buku agar Agha tidak melihat dia. Tapi semua sia sia.
Di sampingnya, Bunga berbisik pelan.
“Kamu ngapain ngumpet dibalik buku?”
“Ahhh.. engga, tadi aku mau menguap jadi aku angkat bukunya heheh”
"Ooo, gimana?? Pak Agha keren, ya?"
“Namanya Prof. Agha Samudra Atmadja yang sering dipanggil Dosen Freezer”
Nisa hanya menelan ludah.
Sulit baginya menjawab.
Karena pria yang sedang dipuji habis-habisan oleh teman-temannya itu...
Bukan hanya dosen favorit kampus.
Melainkan suami yang tinggal satu rumah dengannya
Nisa masih belum bisa memercayai apa yang sedang terjadi saat ini.
Sejak Agha memasuki ruang kelas beberapa menit yang lalu, pikirannya seolah berhenti bekerja.
Pria yang berdiri tegap di depan papan tulis itu...
Adalah suaminya Agha Samudra Atmadja
Suami yang setiap pagi sarapan bersamanya.
Dan kini...
Berdiri di depan kelas sebagai dosennya.
Sementara Agha terlihat sama sekali tidak menunjukkan perubahan sikap.
Wajahnya tetap datar.
Suaranya tenang.
Setiap materi dijelaskan dengan runtut dan mudah dipahami.
Sesekali ia menuliskan poin-poin penting di papan tulis, kemudian kembali menghadap seluruh mahasiswa.
"Komunikasi bisnis bukan hanya tentang berbicara dengan baik," ucapnya tenang. "Tetapi juga memahami lawan bicara dan membangun kepercayaan."
Seluruh mahasiswa memperhatikan dengan serius.
Termasuk Nisa...
Atau setidaknya, ia berusaha terlihat serius.
Padahal sejak tadi pandangannya lebih sering kosong.
Buku catatannya masih bersih.
Pulpen di tangannya tak kunjung bergerak.
Pikirannya dipenuhi satu pertanyaan.
"Kenapa Mas Agha tidak pernah bilang kalau dia dosen di kampus ini?"
"Nisa."
Suara pelan Bunga membuatnya sedikit tersentak.
"Hm?"
"Kamu nggak nyatet?"
Nisa langsung melihat buku catatannya yang masih kosong.
"Oh... iya."
Ia buru-buru menuliskan beberapa poin yang sempat tertinggal. Sambil tangannya diangkat untuk menutup wajahnya agar Agha tidak melihatnya
Di depan kelas, Agha menutup spidol lalu menghadap seluruh mahasiswa.
"Baik."
"Siapa yang bisa menjelaskan kembali pengertian komunikasi bisnis berdasarkan materi yang baru saja saya jelaskan?"
Belum selesai kalimat itu diucapkan...
Hampir setengah isi kelas langsung mengangkat tangan.
"Boleh saya, Pak!"
"Saya, Pak!"
"Pak, saya!"
Bahkan beberapa mahasiswi mengangkat tangan setinggi mungkin sambil tersenyum penuh semangat.
Nisa sampai berkedip beberapa kali melihat pemandangan itu. Sambil menutupi wajahnya dengan telapak tangan.
Agha menunjuk salah seorang mahasiswi di barisan depan.
Mahasiswi itu berdiri dengan percaya diri. Sayangnya, jawaban yang diberikan kurang tepat.
"Kurang tepat."
Jawab Agha singkat.
"Silakan duduk."
Bukannya kecewa, mahasiswi itu justru tersenyum lebar saat kembali ke kursinya.
"Ya ampun... aku ditunjuk Pak Agha."
Bisiknya kepada teman di sebelahuat beberapa mahasiswa terkekeh pelan.
Agha sama sekali tidak menanggapi.
Ekspresinya tetap tenang.
Ia kembali melempar pertanyaan berikutnya.
Beberapa tangan kembali terangkat.
Bahkan jumlahnya lebih banyak daripada sebelumnya.
Nisa menatap pemandangan itu dengan heran.
"Jawabannya salah, tapi mereka tetap senang. Anehh..."
Bunga yang duduk di sebelahnya menahan tawa.
"Udah biasa ini mah."
"Hm?"
"Banyak yang sengaja angkat tangan."
"Padahal belum tentu bisa jawab?"
"Iya."
"Kenapa?"
Bunga mendekatkan wajahnya.
"Yang penting bisa ditunjuk Pak Agha."
Nisa hampir tersedak mendengarnya.
Untung saja ia berhasil menahan ekspresinya.
Di depan kelas...
Agha tetap melanjutkan perkuliahan tanpa menyadari percakapan kecil para mahasiswanya.
Atau mungkin...
Ia memang sudah terbiasa.
Beberapa menit kemudian, saat Agha sedang menulis materi di papan tulis, Bunga kembali berbisik.
"Eh Nis."
"Hm?"
"Gimana menurutmu Pak Agha? Atau yang sering di panggil Dosen Freezer haha"
Nisa membeku.
Ia melirik sekilas ke arah depan kelas.
Kemudian kembali menatap Bunga.
"Apa maksudnya?"
"Ya... menurutmu gimana?"
"Ganteng, kan?"
Nathalie ikut menyela sambil tersenyum jahil.
"Iya, terus dingin banget."
Rafi terkekeh pelan.
"Kalau menurutku, beliau dosen paling keren di kampus."
"Nah, kalau menurut kamu gimana, Nis?"
Kini tiga pasang mata menatap Nisa penuh rasa penasaran.
Nisa mendadak kehabisan kata-kata.
Bagaimana ia harus menjawab?
Pria yang sedang mereka bicarakan...
Adalah orang yang tidur di ranjang yang sama dengannya setiap malam.
Orang yang menyiapkan sarapan tadi pagi.
Dan orang yang setiap hari ia panggil dengan sebutan Mas.
Dalam hati, Nisa mengakui satu hal.
Mereka tidak salah.
Agha memang tampan.
Pintar.
Berwibawa.
Tapi kalau mereka tau dia itu aslinya semejengkelkan apa kalau dirumah. Pasti mereka bakal menyeaal menjadi penggemarnya.
Namun...
Semua itu tidak mungkin ia katakan.
Kalau sampai salah bicara, bisa-bisa rahasianya terbongkar.
"Hey Nisa? Ditanya malah bengong"
Suara Nathalie kembali membuyarkan lamunannya.
Nisa tersadar.
Ia tersenyum kecil, lalu mengangkat bahu pelan.
"Pak Agha... memang dosen yang hebat."
Hanya itu jawaban yang keluar.
Bunga langsung mengangguk semangat.
"Kan! Aku bilang juga apa."
"Nggak heran banyak yang suka," tambah Nathalie.
Rafi tersenyum kecil.
"Yang penting kita lulus mata kuliahnya."
Mereka bertiga kembali memperhatikan penjelasan dosen di depan kelas.
Sementara Nisa mengembuskan napas lega.
Untung saja...
Ia berhasil menjawab tanpa membuat siapa pun curiga.
Namun, sesekali matanya kembali melirik ke arah Agha dari sela sela jarinya.
Dan setiap kali itu terjadi, satu pikiran yang sama terus memenuhi kepalanya.
"Mulai sekarang... aku benar-benar harus berhati-hati di kampus”
Jam kuliah siang telah usai.
Nisa, Bunga, Nathalie, dan Rafi berjalan menuju taman yang berada di samping gedung fakultas. Taman itu cukup teduh, dipenuhi pepohonan dan beberapa bangku panjang yang sering menjadi tempat mahasiswa beristirahat.
Mereka memilih duduk di bawah pohon besar.
Bunga mengembuskan napas panjang.
"Akhirnya selesai juga."
"Iya, aku kira kelas Pak Agha bakal ngebosenin. Ternyata malah seru," sahut Rafi.
Nathalie mengangguk setuju.
"Pak Agha itu memang beda. Cara ngajarnya jelas, tegas, tapi nggak bikin takut."
Bunga tersenyum lebar.
"Aku kan udah bilang dari awal."
Lalu ia menoleh kepada Nisa.
"Gimana menurutmu, Nis?"
Nisa yang sedang membuka botol minumnya sedikit terdiam.
Ia harus berhati-hati.
Kalau sampai jawabannya terdengar terlalu mengenal Agha, teman-temannya pasti akan curiga.
“Menurutku... beliau memang dosen yang profesional."
"Hanya itu?" tanya Bunga sambil menaikkan alis.
"Iya." Nisa mengangguk kecil.
“Lalu apa lagi dong?”
Nathalie terkekeh.
"Kalau aku sih gagal fokus sama wajahnya."
"Ih, sama!" sahut Bunga cepat.
"Mana dingin lagi. Aduh, tipe banget."
Rafi hanya menggeleng sambil tertawa.
"Kalian ini datang buat kuliah atau buat lihat dosen?"
"Ya dua-duanya."
Mereka bertiga tertawa.
Nisa ikut tersenyum kecil. Walaupun didalam hatinya masih tidak percaya sama semua yang terjadi pagi ini
Kalau kalian tahu orang yang sedang kalian bicarakan itu setiap pagi sarapan bersamaku... aku gak bisa ngebayangin apa respon kalian..
Pikiran itu segera ia buang jauh-jauh.
Tidak.
Rahasia itu tidak boleh diketahui siapa pun.
Di tengah obrolan mereka, terdengar suara seseorang memanggil.
"Hai?"
Keempatnya menoleh.
Seorang pria tinggi mengenakan kemeja biru muda berjalan mendekat dengan senyum ramah.
Wajahnya langsung menarik perhatian beberapa mahasiswi yang sedang melintas.
"Itu bukannya Kak Niko yaa..."
"Iya, Kak Niko Pradipta."
"Dia ke sini?"
Bisik-bisik mulai terdengar.
Niko berhenti tepat di depan mereka.
"Kamu masih ingat aku." Tanya Niko ke Nisa
Nisa tersenyum sopan sambil bingung
"Ahh maaf yang mana ya?."
Bunga dan Nathalie saling berpandangan.
"Kalian saling kenal?"
Niko tersenyum kecil.
"Itu yang kemarin lusa kita ketemu di sebuah Mall."
"Waktu itu Mama kecapekan dan kesulitan mencari tempat duduk."
"Kamu langsung memberikan kursinya tanpa diminta."
Tatapan Niko beralih kepada Nisa.
Nisa tersenyum malu.
"Ooo yang itu hehe, itu hal yang kecil, kok Kak."
"Buatmu mungkin."
"Tapi buat Mama, itu sangat berkesan."
Niko mengingat jelas bagaimana ibunya terus memuji kebaikan gadis yang bahkan tidak mereka kenal saat itu.
Sejak pertemuan itulah, wajah Nisa sulit hilang dari ingatannya.
Bukan hanya karena parasnya yang cantik.
Melainkan karena sikapnya yang tulus.
Sedangkan Niko di kampus adalah mahasiswa favorit yang banyak disukai oleh mahasiswi
Banyak mahasiswi berusaha mendekatinya.
Ada yang sengaja mengajaknya makan.
Ada yang mengirim hadiah.
Bahkan ada yang terang-terangan menyatakan perasaan.
Namun, tak satu pun berhasil menarik perhatian Niko.
Justru gadis sederhana yang ditemuinya secara tidak sengaja itulah yang terus teringat dalam benaknya.
"Kamu kuliah di sini juga ternyata."
"Iya, Kak. Aku mahasiswa pindahan."
Pantas sebelumnya aku belum pernah lihat."
“Oiya aku belum tau nama kamu”
Niko mengulurkan tangan ke Nisa
“Aku Annisa Wijaya ka. Panggil aja Nisa”
“Salam kenal ya Nisa”
Niko dan Nisa saling berjabat tangan. Lalu Nisa mengenalkan temannya kepada Niko satu persatu
Lalu obrolan mereka berlangsung santai.
Niko sesekali bertanya tentang perkuliahan Nisa dan apakah ia sudah bisa beradaptasi.
Nisa menjawab dengan sopan.
Beberapa kali Bunga dan Nathalie saling melirik sambil tersenyum usil.
Tak jauh dari taman, di lantai dua gedung fakultas...
Seseorang berdiri di dekat jendela ruang dosen.
Tatapannya tanpa sengaja jatuh ke arah taman.
AGHA.
Ia baru saja selesai rapat singkat bersama beberapa dosen.
Dari balik jendela, ia melihat Nisa sedang berbicara dengan seorang pria.
Ekspresi Agha tetap datar.
Sulit ditebak.
Namun, pandangannya berhenti beberapa saat pada sosok Niko yang tersenyum hangat kepada Nisa.
Tanpa berkata apa-apa, Agha mengalihkan pandangannya.
Ia merapikan map di tangannya, lalu berjalan meninggalkan jendela.
Tak seorang pun menyadari bahwa dosen paling dingin di kampus itu baru saja melihat istrinya mengobrol dengan senior paling populer di fakultas.
Sementara di taman, Nisa sama sekali tidak tahu bahwa sejak tadi ada sepasang mata yang diam-diam memperhatikannya dari kejauhan.