Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden, menerangi kamar yang masih dipenuhi keheningan.
Nisa perlahan membuka matanya. Sambil mengangkat kedua tangannya.
Beberapa detik ia hanya menatap langit-langit kamar, berusaha mengumpulkan kesadaran.
Semalam ia bahkan tidak ingat kapan akhirnya bisa sampai ke tempat tidur. Yang ia ingat, ia sedang membaca buku di ruang kerja Agha.
"Perasaan semalam aku tidur diruang kerja Mas Agha deh, kok sekarang bisa ada dikamar"
Pikiran itu membuat dahinya sedikit berkerut.
Perlahan, Nisa memiringkan tubuhnya.
Dan seketika napasnya tertahan.
Deg..
Di hadapannya, hanya berjarak beberapa puluh sentimeter, Agha masih tertidur pulas.
Wajah pria itu terlihat jauh lebih tenang dibanding biasanya. Tidak ada tatapan dingin yang selalu membuat orang segan mendekat. Hanya raut wajah yang damai dengan napas yang teratur.
Tanpa sadar, mata Nisa memperhatikan setiap detail wajah suaminya.
Alisnya tegas.
Bulu matanya lentik.
Rahangnya tampak kokoh.
Dan hidungnya...
"Mancung banget..." gumam Nisa sangat pelan.
“Tapi sayang, ngomongnya sedikit, bisa dihitung pake jari berapa kata yang diucap sama Mas Agha setiap hari.” Gerutu Nisa pelan
Nisa memperhatikan lagi wajah Agha dan tanpa berpikir panjang, telunjuknya bergerak mendekat.
Pelan...
Sangat pelan.
Ujung jarinya menyentuh batang hidung Agha.
Benar-benar mancung.
Nisa tersenyum kecil, merasa penasaran seperti anak kecil yang baru menemukan sesuatu yang menarik.
Namun, baru beberapa detik kemudian...
Agha bergerak.
Alis pria itu sedikit berkerut, seolah mulai terbangun.
Mata Nisa langsung membulat.
"Ehhh !"
Dengan panik, ia menarik kembali tangannya.
Tanpa menunggu lebih lama, Nisa segera turun dari tempat tidur, mengambil handuk dan pakaian yang sudah disiapkan semalam, lalu hampir berlari masuk ke kamar mandi.
Brak.
Pintu kamar mandi tertutup.
Nisa menyandarkan punggungnya pada pintu.
Jantungnya berdetak begitu cepat.
"Haduuhhh.. Untung Mas Agha belum bangun..."
Ia mengembuskan napas panjang sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Kalau sampai Agha tahu apa yang baru saja ia lakukan, entah harus bagaimana ia menjelaskannya kepada Agha.
Sekitar dua puluh menit kemudian, Nisa keluar dari kamar mandi.
Rambutnya yang masih setengah basah dibiarkan tergerai di bahu.
Ia berjalan menuju meja rias dan mulai mengeringkan rambutnya sebelum menyisirnya perlahan.
Di atas tempat tidur, Agha mulai membuka mata.
Tanpa banyak bicara, pria itu langsung duduk, melihat handphone dinakas samping kasur lalu meraih handuk yang tergantung di kursi dan berjalan menuju kamar mandi.
Nisa hanya melirik sekilas melalui pantulan cermin.
Tak lama kemudian, suara air terdengar dari balik pintu kamar mandi.
Nisa kembali sibuk menyisir rambutnya.
Beberapa belas menit berlalu.
Pintu kamar mandi kembali terbuka.
Agha keluar dengan jubah mandi dan sebuah handuk kecil berada di atas kepalanya, sementara kedua tangannya mengusap rambut yang masih basah.
Tanpa sadar, Nisa kembali menatapnya diam diam melalui cermin.
Gerakan sederhana itu justru membuat wajah Agha terlihat berbeda.
Santai.
Tenang.
Dan... tampan.
Deg..
Jantung Nisa kembali berdetak lebih cepat.
Ia buru-buru mengalihkan pandangannya ke cermin.
"Fokus, Nisa... ayo fokus."
Tangannya kembali menggerakkan sisir.
Namun, karena pikirannya tidak lagi tenang, sisir itu justru tersangkut di ujung rambutnya.
"Adduuhhh..."
Nisa meringis pelan.
Agha yang sedang mengeringkan rambut menghentikan gerakannya sesaat.
Tatapannya beralih ke arah Nisa.
"Ada apa?"
"Hah.. Nggak... nggak apa-apa hehehe."
Nisa segera melepaskan sisir dari rambutnya sambil menundukkan kepala.
Pipinya terasa menghangat.
Ia berharap Agha tidak menyadari bahwa sejak tadi dirinya sama sekali tidak bisa berkonsentrasi.
Sementara itu, Agha hanya memandangnya beberapa detik sambil tersenyum sedikit.
Tanpa mengatakan apa pun, ia kembali melanjutkan mengeringkan rambutnya.
Bagi Agha, pagi itu berjalan seperti biasanya.
Namun bagi Nisa...
Pagi itu terasa jauh lebih berdebar daripada pagi-pagi sebelumnya..
Setelah beberapa menit. Agha merapikan jam tangan di pergelangan kirinya, lalu mengambil dompet dan ponsel yang terletak di atas nakas.
Seperti biasa, semua dilakukan dengan tenang.
Tanpa tergesa.
Tanpa banyak suara.
Nisa masih duduk di depan meja rias.
Matanya sesekali mencuri pandang ke arah Agha melalui pantulan cermin.
Begitu sadar tatapan mereka hampir bertemu, ia buru-buru mengalihkan pandangan.
Suasana kamar kembali hening.
Keheningan itu membuat Nisa semakin gelisah.
Kenapa sih... dia nggak ngomong apa-apa?
Padahal mereka baru beberapa hari menjadi suami istri.
Harusnya...
Paling tidak ada obrolan kecil.
Tentang tidur semalam.
Tentang hari ini.
Atau sekadar mengucapkan selamat pagi.
Namun Agha tetap sama.
Diam.
Nisa menggigit bibir bawahnya pelan.
Dalam hati ia mulai menggerutu.
Kalau begini terus, nanti yang ngomong cuma aku.
Sementara itu, Agha diam-diam melirik Nisa yang sedang menggerutu sendiri.
Agha sebenarnya ingin mengatakan sesuatu kepada Nisa. Hanya Agha tidak bisa melakukannya.
Tidurnya nyenyak?
Kalimat sederhana itu berulang kali muncul di kepalanya.
Namun saat melihat Nisa melalui cermin, semua kata yang sudah ia susun mendadak menghilang.
Yang tersisa hanya keheningan.
Agha akhirnya menarik napas pelan.
"Kamu pakai shampo apa?"
Pertanyaan itu keluar begitu saja.
Nisa yang sedang menyisir rambut langsung menoleh.
"Hah?"
"Harum."
Hanya satu kata tambahan.
“Hah?”
Lalu Agha kembali mengenakan jam tangannya.
Nisa berkedip beberapa kali.
"Oh... iya."
"Itu..."
Ia sempat ingin melanjutkan percakapan.
Namun Agha sudah lebih dulu berjalan keluar kamar.
Pintu tertutup pelan.
Nisa hanya bisa memandang pintu itu.
"Itu aja?"
“Lah gimana sih? Orang mau dijawab malah main jalan aja. Aneh dasar aneh”
Ia mendesah panjang sambil menggeleng gelengkan kepala.
"Udah susah-susah ngomong..."
"...eh, cuma bilang harum."
“Apa coba itu.. ihhh nyebelin”
Di sisi lain.
Agha yang sudah berdiri di luar kamar menghentikan langkahnya.
Ia mengusap tengkuknya pelan.
Harusnya tadi aku tanya kuliahnya juga.
Atau bilang kalau sarapannya sudah siap.
Kenapa malah ngomong soal sampo...
Pria itu mengembuskan napas pelan dan sedikit ada penyesalan
Kemampuan berbicara di depan ratusan mahasiswa bukan masalah baginya.
Namun entah mengapa...
Berbicara santai dengan satu orang wanita yang kini menjadi istrinya justru terasa jauh lebih sulit.
Apa karna Agha sudah memiliki perasaan kepada Nisa dari lama, makanya Agha sangat gerogi dan hati - hati saat berbicara kepada Nisa.
Beberapa menit kemudian, Nisa keluar dari kamar.
Saat melewati meja makan, ia melihat sarapan sudah tersedia.
Roti panggang.
Telur.
Buah.
Dan segelas s**u hangat.
Agha sedang berdiri di dekat pintu masuk mengenakan sepatu.
“Wahhh.. wahh..”
"Mas..."
Agha menoleh.
"Sarapan ini..."
"Untukmu."
“Buat aku? Wahhh..”
Nisa melihat makanan semua sampai air liurnya ingin menetes.
Tetapi Nisa bingung kenapa cuma ada satu porsi diatas meja.
"Lho, Mas gak makan?"
"Nanti."
"Loh, kenapa?"
"Ada rapat."
“Sarapan dulu kali”
“Tidak usah”
“Berdua aja kalau repot bikin lagi”
“Tidak perlu”
Jawabannya kembali pendek - pendek.
Nisa mengembuskan napas pelan.
"Hm?"
“Mas Aghaa.. Mas Agha..”
"Kalau ngobrol sama aku... bisa lebih dari tiga kata gak sih?"
Agha terdiam.
Tatapannya tertuju pada Nisa selama beberapa detik.
Ia benar-benar mencoba menyusun kalimat.
Namun seperti biasanya...
Yang keluar hanya satu jawaban.
"...nanti akan kucoba."
Lalu ia membuka pintu apartemen.
Nisa mematung.
Sesaat kemudian ia menghela napas sambil menggeleng pelan.
“Dihh..”
"Ya ampun..."
“Aku ini istrimu loh mas..”
“Anterin kek ke Kampus”
“Atau apa kek”
“Isshh asli.. ini mah dinginnya bukan kayak kulkas 2 pintu, tapi 4 pintu”
Ocehan Nisa kesal kepada Agha.
Di balik pintu yang mulai tertutup, sudut bibir Agha nyaris terangkat.
Agha tersenyum melihat tingkah laku istrinya. Bagi Nisa itu menjengkelkan tetapi buat Agha itu sangan lucu
Agha sangat senang saat melihat Nisa marah marah kesal kepada Agha. Karna menurut Agha itu sangat imut.
Tetapi setelah Agha pikir pikir mungkin. Apa yang dikatakan Nisa memang benar.
Dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar berpikir bahwa mungkin dirinya harus belajar menjadi suami yang lebih pandai berbicara kepada istrinya.
Berbicara yang bukan hanya 2 atau 3 kata. Tetapi harus lebih banyak kata
Agha berjalan di lorong apartement sambil tersenyum mengingat tingkah laku istrinya.
Lift pun terbuka. Agha memasuki lift dan turun ke basement.
Sedangkan Nisa masih berada di meja makan sambil mengomel karna melihat tingkah laku suaminya itu,
Setelah selesai makan. Nisa pun bersiap untuk berangkat ke Kampus. Karna sudah ditunggu oleh teman teman barunya.
Dan dari sini Nisa pun mengerti bahwa menjadi pasangan suami istri itu tidak berarti langsung memahami satu sama lain. Karena hubungan yang baik dibangun sedikit demi sedikit melalui kesabaran dan proses untuk kedepannya.