Pintu apartemen terbuka pelan.
Nisa melangkah masuk sambil melepas sepatu putihnya. Hari itu cukup melelahkan. Selain harus beradaptasi dengan lingkungan baru, ia juga masih berusaha mengingat nama teman-teman sekelasnya.
Ia meletakkan tas di atas sofa, lalu mengembuskan napas lega.
"Akhirnya sampai juga."
Apartemen terasa tenang.
Nisa tidak terlalu memikirkannya. Agha sering pulang lebih dulu, tetapi terkadang pekerjaannya membuatnya datang lebih malam.
Ia berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air putih.
“Kemana ya Mas Agha? Apa belum pulang?”
“Yasudahlah biarin aja”
Nisa meletakkan gelas diatas meja makan lalu berjalan ke arah kamar untuk mandi.
Tidak lama Agha masuk ke rumah dengan membawa bahan bahan makanan yang dia beli di supermarket lantai dasar apartement. Karna stok bahan masakan belum dibeli. Lalu Agha mulai memasak di dapur untuk makan malam bersama Nisa
Setengah jam berlalu..
Nisa keluar dari kamar dengan rambut yang masih lembap.
Begitu memasuki ruang makan, ia mendapati Agha sedang meletakkan dua mangkuk sup di atas meja.
Pria itu mendengar suara langkah kaki, tetapi tidak langsung menoleh.
"Makan."
Hanya satu kata.
Nisa mengembuskan napas pelan.
"Iya."
Ia menarik kursi dan duduk di hadapan Agha.
Suasana kembali hening.
Yang terdengar hanya bunyi sendok beradu pelan dengan mangkuk.
Nisa sesekali melirik pria di depannya.
Sejak mereka menikah, Agha memang selalu seperti ini.
Tenang.
Datar.
Dingin.
Sulit ditebak.
Sementara di sisi lain...
Agha sebenarnya beberapa kali ingin membuka percakapan.
Bagaimana hari pertamanya?
Apa dia sudah punya teman?
Apa ada yang membuatnya tidak nyaman di kampus?
Kalimat-kalimat itu sudah tersusun di kepalanya.
Namun setiap kali ia hendak mengucapkannya, entah mengapa tenggorokannya terasa kelu.
Akhirnya ia memilih diam.
Bagi Agha, diam terasa lebih mudah daripada mengatakan sesuatu yang mungkin terdengar canggung.
"Mas."
Suara Nisa membuat lamunannya buyar.
"Hm."
"Hari ini aku ketemu teman baru loh."
Agha mengangguk pelan.
"Bagus."
Sudah.
Hanya itu.
Nisa kembali menunggu.
Berharap ada pertanyaan lanjutan.
Tidak ada.
Ia mulai mengaduk supnya pelan.
"Terus..."
Agha mengangkat pandangan.
"Mereka baik."
"Hm."
Lagi.
Jawaban itu lagi.
Nisa mulai mengerucutkan bibir.
Dalam hati ia menggerutu.
Kenapa sih susah banget diajak ngobrol?
Di sisi lain, Agha sadar.
Ia tahu jawabannya terlalu singkat.
Ia juga tahu Nisa sedang menunggunya mengatakan sesuatu.
Tetapi semakin ia memikirkan kalimat yang tepat...
Semakin sulit mulutnya terbuka.
Sebenarnya Agha sangat gerogi saat bersama dengan Nisa.
Beberapa detik berlalu.
Akhirnya Agha berkata pelan,
"...syukurlah."
Hanya dua suku kata tambahan.
Namun bagi Agha, itu sudah cukup sulit untuk diucapkan.
Sayangnya...
Di telinga Nisa, jawaban itu tetap terdengar datar.
"Mas."
"Hm."
Nisa menggerutu pelan
“Ha.. hem.. ha.. hem.. aja terus dari tadi”
Nisa melihat kearah Agha.
"Mas emang, Mas Agha itu nggak suka ngobrol ya?"
Sendok di tangan Agha berhenti sesaat.
Pertanyaan itu membuatnya terdiam.
Ia ingin menjawab,
Bukan. Aku hanya tidak tahu harus memulai dari mana.
Namun yang keluar justru...
"...tidak."
Nisa menghela napas panjang.
"Bahkan jawab pertanyaan aja pendek."
Agha menundukkan pandangan.
Ada sedikit rasa bersalah yang muncul.
Ia sadar.
Nisa sedang berusaha mengajak mengobrol.
Sedangkan dirinya justru terlihat seperti malas untuk merespon.
Setelah makan selesai, Nisa mengangkat piringnya.
"Aku cuci ya."
Belum sempat melangkah, piring itu sudah berpindah ke tangan Agha.
"Biar aku aja"
"Enggak ahh aku aja.."
"Aku aja."
Lagi-lagi pendek.
Lagi-lagi datar.
Nisa akhirnya menyerah.
"Iya deh iya, Mas Agha aja."
Ia berjalan ke ruang tamu sambil menghela napas.
"Nyebelin."
“Yaudah aku santai aja di depan TV”
Ucapannya lirih, tetapi cukup terdengar oleh Agha.
Pria itu terdiam beberapa saat.
Tangannya masih mencuci piring.
Sudut bibirnya tersenyum tipis melihat tingkah Nisa yang masih seperti anak kecil lagi ngambek
Agha melirik sekilas ke arah ruang tamu.
Nisa sedang memeluk bantal sofa sambil menonton televisi, meski jelas pikirannya tidak sedang fokus.
Agha kembali menatap wastafel.
Sebenarnya ia ingin duduk di samping Nisa.
Menanyakan bagaimana kegiatan kuliahnya.
Mendengarkan cerita-ceritanya.
Namun setiap kali ingin memulai percakapan, ia selalu merasa kikuk karna tidak terbiasa berinteraksi dekat dengan perempuan.
Seolah semua kata yang sudah tersusun rapi di kepala menghilang begitu saja saat berhadapan dengan istrinya.
Akhirnya...
Seperti biasa.
Ia memilih menunjukkan perhatian dengan cara yang menurutnya paling mudah.
Setelah dapur selesai dirapikan, ia mengambil sebuah mangga dari kulkas.
Mengupasnya perlahan.
Memotongnya menjadi beberapa bagian kecil.
Lalu meletakkannya di meja ruang tamu.
Tanpa berkata apa-apa.
Ia hanya berkata singkat,
"Ini makan."
Kemudian berjalan menuju ruang kerja.
Nisa memandangi sepiring Mangga itu.
Lalu menoleh ke arah pintu ruang kerja yang baru saja tertutup.
"Dih asli nyebelin banget..."
gumamnya pelan.
"Kalau ngomong sama aku cuma satu dua kata."
Ia mengambil satu potong mangga.
"...tapi kenapa selalu ingat hal-hal kecil begini?"
“Ahh biarin aja deh. Yang penting makan mangga dulu”
Tanpa disadari, di balik pintu ruang kerja, Agha menyandarkan punggungnya pada kursi.
Ia mengembuskan napas pelan.
"Besok..."
gumamnya pelan pada dirinya sendiri.
"...aku harus lebih banyak bicara."
Sayangnya, ia juga tahu.
Besok, kemungkinan besar ia akan kembali mengucapkan satu atau dua kata saja.
Malam mulai larut.
Saat ingin masuk ke kamar, pandangannya tertuju pada ruang kerja yang berada di samping ruang makan.
Lampunya masih menyala.
Pintu ruang kerja dibiarkan terbuka.
Dari dalam, terdengar suara jemari yang mengetik di atas keyboard tanpa henti.
Nisa mengintip pelan.
“Lah belom selesai juga”
Agha duduk di balik meja kerjanya dengan tatapan lurus ke layar laptop. Beberapa map dan dokumen tersusun rapi di sisi meja. Sesekali ia membuka salah satu berkas, membacanya sekilas, lalu kembali mengetik.
Ekspresinya tetap datar.
Seolah hanya ada pekerjaan di hadapannya.
Nisa menatap beberapa detik sebelum berbalik menuju dapur.
“Tadi Mas Agha udah kupasin mangga. Sekarang aku bikinin kopi aja deh gantian”
Ia membuka lemari kecil, mengambil cangkir berwarna hitam, lalu mulai menyeduh kopi.
Aroma kopi hangat perlahan memenuhi dapur.
Setelah selesai, Nisa membawa cangkir itu menuju ruang kerja.
Tok... tok...
Ia mengetuk pintu dengan pelan.
"Mas."
Tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop, Agha menjawab singkat,
"Masuk."
Nisa melangkah masuk.
Ia meletakkan secangkir kopi di sudut meja, tepat di samping laptop Agha.
“Aku bikinin kopi ni."
“Mau ditaro mana Mas?”
Agha menghentikan ketikannya sesaat.
Tatapannya beralih pada cangkir kopi itu.
Kemudian kembali kepada Nisa.
"Hm."
“Taruh disini aja”
Agha menunjuk ujung meja kerjanya
Hanya itu jawabannya.
Nisa sudah terbiasa.
Ia tidak berharap lebih.
“Baiklah”
Saat hendak keluar, matanya justru tertarik pada rak buku besar yang memenuhi satu sisi ruangan.
Berbagai buku tersusun rapi berdasarkan ukuran dan warna.
Sebagian besar masih tampak baru.
Nisa melangkah mendekat tanpa menyentuhnya.
Ia membaca judul-judul buku itu satu per satu dengan penuh rasa ingin tahu.
Melihat hal itu, Agha akhirnya membuka suara.
"Mau baca?"
Nisa menoleh.
"Mauu, boleh Mas?"
Agha mengangguk pelan.
Senyum kecil menghiasi wajah Nisa.
“Aseeekk..”
Ia memilih sebuah buku tentang Coding dari rak bagian tengah, lalu duduk di sofa yang berada di sudut ruang kerja.
Ruangan kembali hening.
Agha kembali tenggelam dalam pekerjaannya.
Sementara Nisa mulai larut dalam lembar demi lembar buku yang dibacanya.
Tak ada percakapan.
Hanya suara ketikan keyboard dan sesekali suara lembaran buku yang dibalik.
Sekitar tiga puluh menit berlalu.
Mata Nisa mulai terasa berat.
Ia mencoba bertahan membaca satu halaman lagi.
Namun, rasa kantuk yang datang sejak sore tak lagi bisa dilawan.
Kepalanya perlahan bersandar pada sandaran sofa.
Buku yang tadi berada di tangannya kini terjatuh pelan ke pangkuannya.
Tak lama kemudian, napasnya berubah teratur.
Nisa tertidur.
Agha baru menyadari keheningan yang berbeda ketika suara lembaran buku tak lagi terdengar.
Tangannya berhenti mengetik.
Ia mengangkat kepala dan menoleh ke arah sofa.
Nisa tertidur pulas dengan buku yang masih terbuka di atas pangkuannya.
Beberapa saat Agha hanya memandang tanpa berkata apa-apa.
Kemudian ia menyimpan hasil pekerjaannya, menutup laptop, dan mulai merapikan dokumen-dokumen yang berserakan di atas meja.
Satu per satu map disusun kembali.
Pulpen dikembalikan ke tempatnya.
Laptop dimasukkan ke dalam tas kerja.
Setelah memastikan meja kerjanya rapi, Agha berdiri.
Langkahnya pelan menghampiri sofa.
Ia membungkukkan badan, mengambil buku dari pangkuan Nisa, lalu menutupnya perlahan agar tidak menimbulkan suara.
Tatapannya sempat berhenti pada sampul buku itu.
Kemudian ia mengembalikannya ke rak tempat semula.
Saat kembali ke sofa, Agha melihat beberapa helai rambut Nisa menutupi wajahnya.
Tanpa banyak berpikir, ia menyingkirkannya perlahan.
Ekspresinya tetap sama.
Dingin.
Sulit ditebak.
Namun, gerakannya begitu hati-hati agar tidak membangunkan Nisa.
Agha mengembuskan napas pelan.
"Lucu..."
gumamnya lirih.
Ia menyelipkan satu tangan di bawah lutut Nisa dan tangan lainnya menopang punggungnya.
Dengan gerakan perlahan, Agha mengangkat tubuh istrinya ke dalam gendongan.
Nisa sedikit bergerak karena perubahan posisi, tetapi tidak terbangun.
Kepalanya justru bersandar di d**a Agha.
Pria itu melangkah keluar dari ruang kerja menuju kamar mereka.
Pintu kamar dibuka perlahan menggunakan satu tangan.
Sesampainya di sisi ranjang, Agha menurunkan tubuh Nisa dengan hati-hati.
Ia membenarkan posisi kepala Nisa di atas bantal, lalu menarik selimut hingga menutupi tubuh istrinya.
Nisa masih tertidur lelap.
Agha menatap wajahnya selama beberapa detik.
Tak ada senyum.
Tak ada kata-kata.
Ia hanya memastikan Nisa tidur dengan nyaman.
Setelah lampu utama kamar dimatikan dan hanya menyisakan lampu tidur yang redup, Agha berjalan menuju sisi ranjangnya sendiri.
Malam kembali dipenuhi keheningan.
Keheningan yang, tanpa disadari, perlahan menjadi saksi tumbuhnya perhatian di antara dua orang yang masih belajar mengenal satu sama lain.