"Rangga, kamu mau nunggu sampai kapan untuk menikah? Usia kamu sudah matang, Rangga. Kamu sukses, tampan pula. Tinggal pilih wanita seperti apa pun kamu mau," ujar Maya di sela-sela makan.
Rangga hanya diam, tak menanggapi apa pun yang dikatakan Mamanya. Dia terus menikmati sarapannya dengan tenang, seolah tak mendengar sama sekali.
"Rangga, kamu dengar Mama nggak sih?" Maya mulai kesal.
"Ma... sudah, ini masih pagi. Jangan bahas masalah itu dulu, nikmati sarapannya dahulu," Hendrawan menegur istrinya dengan lembut.
"Ck... kalau nggak begitu, anakmu ini nggak bakal nikah-nikah, Pa. Jangan bilang kamu belum move on dari Rachel?" Maya menebak.
Mendengar nama itu, Rangga menghentikan gerakan tangannya dan dengan sedikit kasar meletakkan sendok serta garpunya di piring. Ia mengusap mulutnya pelan.
"Aku sudah kenyang," ucap Rangga dingin sambil beranjak dari tempat duduknya dan pergi begitu saja.
"Rangga!" panggil Maya putus asa.
"Ma... sudah, Papa sudah bilang berkali-kali. Jangan sebut nama itu di depan Rangga," tegur Hendrawan tegas.
"Papa benar, Ma. Kakak bukan tidak bisa move on, tapi Kakak sudah tidak percaya lagi pada perempuan setelah apa yang Rachel lakukan," sahut Aditya dengan tenang.
Maya terdiam, hatinya sesak antara kesal pada putranya dan mantan tunangan putranya itu. Ia sudah lama mendambakan cucu dari Rangga, tapi harapan itu harus ia kubur dalam-dalam, entah sampai kapan.
Sementara itu, di perusahaan Adhitama...
Rangga terus memasang wajah dinginnya, meluapkan emosi pada karyawannya yang melakukan kesalahan sekecil apa pun. Mendengar nama Rachel keluar dari mulut Mamanya pagi itu, perasaannya langsung kacau. Bukan karena ia tak mampu move on, melainkan karena rasa benci yang dalam terhadap Rachel yang berhasil mengacaukan suasana hatinya.
Bagaimana wanita itu dulu bersikap manis padanya, berjanji akan menemaninya dari bawah, namun berakhir dengan pengkhianatan. Tak hanya itu, uang yang ia kumpulkan untuk menikahi Rachel juga ikut dibawa kabur. Hingga akhirnya, Rangga mendapat kabar bahwa Rachel tengah menjalin hubungan dengan sahabatnya sendiri, Reyhan.
Reyhan adalah sahabat Rangga sejak mereka sama-sama duduk di bangku kuliah. Sejak lahir, Reyhan memang berasal dari keluarga kaya raya, berbeda dengan Rangga yang harus berjuang keras hingga meraih kesuksesannya beberapa tahun terakhir.
Sejak dulu, Reyhan memang dekat dengan Rangga. Sikapnya yang mudah bergaul dan ceplas-ceplos membuatnya gampang mendapatkan teman baru. Namun, Reyhan adalah sahabat yang sulit melihat kebahagiaan orang lain. Dia selalu menginginkan apa yang dimiliki orang lain, termasuk kekasih Rangga, Rachel.
Dengan uangnya, Reyhan diam-diam merayu Rachel untuk menjalin hubungan di belakang Rangga, hingga akhirnya berujung pada pengkhianatan. Rachel pun membawa kabur uang tabungan Rangga yang akan digunakan untuk biaya pernikahan mereka nantinya. Hanya dengan alasan tak bahagia jika harus hidup bersama Rangga yang saat itu perusahaannya belum sehebat sekarang, Rachel memilih meninggalkan Rangga begitu saja. Tanpa memberikannya kesempatan untuk membuktikan keseriusan Rangga pada saat itu, tanpa melihat kembali bagaimana perjuangan Rangga waktu itu.
"Apa kalian sudah bosan bekerja di perusahaan ini? Hal sekecil ini saja kalian masih salah!" teriak Rangga sambil membanting ketiga laporan yang dipegangnya.
Ketiga karyawan itu hanya bisa menundukkan kepala, takut menghadapi amarahnya.
"Perbaiki sekarang juga, dan nanti sore harus sudah selesai!" perintah Rangga tanpa memberi kesempatan mereka untuk beralasan.
Tanpa berkata apa-apa, ketiganya segera mengambil laporan masing-masing dan bergegas meninggalkan ruang kerja Rangga.
"Sepertinya pagi ini suasana hati Pak Rangga sedang buruk," bisik salah satu dari mereka.
"Iya, benar. Rasanya menakutkan," sahut yang lain dengan suara pelan.
"Sudah, jangan sampai terdengar Pak Rangga. Bisa-bisa malah kita dipecat karena menggosipinya," kata teman mereka dengan cepat memperingatkan.
Bisikan itu terdengar oleh Raka yang baru saja hendak masuk ke ruang kerja Rangga. Tanpa ragu, Raka segera melangkah masuk untuk menyerahkan berkas yang harus ditandatangani sekaligus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Pak, ini beberapa berkas yang harus Anda tanda tangani," kata Raka sambil menyodorkan berkas-berkas yang dibawanya.
Rangga tidak menjawab, tapi aura di sekelilingnya jelas menunjukkan suasana hati yang sedang buruk.
"Pak, apakah ini ada hubungannya dengan..." Raka mulai bertanya, namun langsung terhenti saat mendapat tatapan tajam dari Rangga.
Raka segera mengangkat kedua tangannya membentuk huruf O, lalu menggerakkan tangannya di depan mulut seolah-olah ada resleting yang harus ditutup. Emosi Rangga yang mudah meluap sudah menjadi hal biasa bagi Raka. Sebagai asistennya, ia terbiasa dengan sikap itu dan tidak merasa takut seperti karyawan lain.
"Tapi, Pak, kalau Anda terus seperti ini, bukankah justru akan membuat mereka senang saat mengetahuinya?" ujar Raka sambil duduk di kursi di depan meja kerja Rangga.
Rangga menghentikan gerakan tangannya dan menatap Raka dengan tajam.
"Apa hubungannya dengan mereka?" tanya Rangga dingin.
"Aduh, Pak, apa Bapak masih belum sadar? Justru amarah Bapak seperti inilah yang mereka tunggu-tunggu. Mereka berhasil membuat Bapak terus merasa sakit hati atas apa yang mereka perbuat."
"Coba Bapak cari kekasih baru, atau setidaknya dekat dengan seorang wanita. Saya yakin, mereka akan penasaran dan kesal melihat Bapak bisa hidup normal dan bahagia," tambah Raka.
"Jadi maksudmu selama ini hidupku tidak normal?" tanya Rangga dengan nada kesal, suaranya penuh penolakan. Matanya menatap tajam ke arah Raka, seolah menantang untuk membantah.
"Iya, Pak... Ehh, tidak, Pak. Bukan begitu maksudnya..." elak Raka, hampir saja keceplosan.
"Perempuan itu di mana pun sama saja, di mata mereka cuma uang dan harta," ucap Rangga kembalu fokus ke berkas yang ada di depannya.
"Kalau begitu, manfaatkan saja itu," sahut Raka.
"Maksud kamu?" tanya Rangga penasaran.
"Bapak sewa saja seorang perempuan untuk berpura-pura menjadi kekasih Bapak. Selain mengelabui mereka berdua, juga untuk menyenangkan hati Mama Anda, Bu Maya, yang terus mendesak Bapak segera menikah. Gimana?" tawar Raka dengan penuh keyakinan.
Rangga terdiam, menimbang-nimbang ide asistennya itu. Ia mencoba mempertimbangkan apakah benar-benar perlu melakukan hal tersebut.
"Anda tenang saja, Pak. Saya sudah mendapatkan kandidat gadis yang bisa disewa jasanya. Anda bisa memanfaatkan pekerjaannya itu. Dan, gadis ini tak kalah cantik dari mantan Anda," bisik Raka di ujung kalimatnya.
"Kalau Anda berkenan, saya bisa langsung pesan jasanya dan mempertemukan Anda dengannya. Ini fotonya," kata Raka sambil mengeluarkan ponselnya, lalu menunjukkan foto Laras.
"Panggilannya Permata..." ucap Raka pelan.
Rangga menatap foto Laras. Dari segi fisik, gadis itu tak kalah menarik dibanding Rachel. Bahkan, ada aura berbeda yang terpancar dari Laras saat Rangga terus mengamatinya. Logika dan perasaannya pun saling berdebat melihat foto itu.
Secara logika, Rangga menolak ide Raka. Bagaimanapun, menurutnya ini hanya membuang-buang waktu. Baginya, semua perempuan sama saja hanya menginginkan uang. Namun, hatinya berkata lain. Mungkin memang sudah saatnya membuktikan bahwa di hatinya tak ada lagi nama Rachel, dan hidupnya bisa bahagia tanpa perempuan itu. Meskipun hubungan dengan perempuan lain hanyalah sandiwara semata, Rangga merasa ini bisa mengalihkan pikirannya dari pengkhianatan Rachel.
Ia menatap lama foto di layar ponsel itu, lalu menghela napas panjang, tangannya mengepal lembut di atas meja. Wajahnya masih datar, namun sorot matanya terlihat ragu—seolah ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini hanya permainan, tidak akan melibatkan perasaan sedikit pun.
"Baiklah, kita coba." Suaranya terdengar berat, seolah memaksakan keputusan itu keluar dari mulutnya.
Ia menatap tajam ke arah Raka, lalu menambahkan dengan nada dingin dan tegas, "Tapi ingat, kalau sampai ada hal yang tidak beres atau malah membuat masalah, aku potong bonus tahunanmu sepenuhnya."
Raka mengangguk senang, lalu keluar dari ruang kerja Rangga dan segera membuat janji dengan Laras. Ia ingin malam ini juga mempertemukan Laras dengan bosnya. Rangga sendiri bersandar di kursi kerjanya, menatap langit-langit ruangan dengan pandangan kosong. Ia sebenarnya belum sepenuhnya yakin dengan ide Raka.
Namun, ada rasa penasaran yang mendorongnya untuk mencobanya, meski di dalam hatinya masih percaya tidak ada wanita yang benar-benar tulus mencintainya. Baginya, uang bisa mengubah sikap seseorang dan itu terbukti pada Rachel.
Rachel yang pertama kali dikenalnya adalah gadis sederhana, penuh pengertian, dan selalu memberi semangat. Dia tak pernah meminta hal-hal yang bisa memberatkannya. Bahkan saat mereka berkencan, Rachel tak pernah menolak jika Rangga mengajaknya makan di pinggir jalan.
Namun, semuanya berubah seketika. Rachel yang dulu dikenalnya entah bagaimana menghilang. Sejak dekat dengan Reyhan, Rachel mulai sering membanding-bandingkan Rangga dan tak jarang merendahkannya, membuat Rangga merasa sakit hati dan kehilangan kepercayaan pada cinta.
Rangga menghela napasnya, tak ingin berlarut-larut memikirkannya. Ia pun mencoba kembali fokus bekerja.