Tok... Tok... Tok...
"Pak..." sapa Raka sambil masuk ke dalam ruang kerja Rangga.
"Ada apa?" sahut Rangga tanpa menoleh, tetap fokus pada pekerjaannya.
"Saya sudah membuat janji dengan Permata..." ucap Raka memberikan informasi.
"Kamu yakin?" tanya Rangga sambil menoleh ke arah Raka. Nada suaranya terdengar ragu, meski tatapan matanya tetap serius.
"Saya yakin, Pak. Saya sudah menyelidiki perempuan ini. Meski pekerjaannya seperti itu, dia bukan tipe yang materialistis," jawab Raka.
"Maksudnya pekerjaan seperti itu?" tanya Rangga, merasa heran dengan ucapan asistennya.
"Dia menerima jasa melayani pria, Pak," bisik Raka.
"Gila kamu, Raka! Kamu malah memberi rekomendasi wanita penghibur malam begini!" Rangga langsung kesal seketika.
Rangga menatap Raka dengan tatapan tak percaya, lalu dengan sedikit kasar menutup berkas yang belum selesai diperiksanya. Kadang Rangga heran dengan cara berpikir asistennya yang memang sering sulit dimengerti. Namun, meski begitu, hingga saat ini belum pernah ada satu pun ide Raka yang gagal.
"Pak, tolong tenang dulu..." Raka berusaha meredam amarah Rangga.
"Tenang bagaimana? Perempuan seperti itu jelas tak beda jauh dengan yang lain. Kamu tadi bilang dia berbeda?" Rangga masih tidak percaya.
Bagi Rangga, asistennya itu terkesan konyol. Sudah jelas pekerjaan wanita itu adalah menghibur para pria, jadi sudah bisa ditebak bagaimana sikapnya. Apalagi Rangga sangat membenci wanita seperti itu. Namun, Raka malah menyarankan untuk menyewa jasa perempuan panggilan semacam itu. Sama saja, dia harus kembali berurusan dengan wanita yang paling tak ingin ia temui, bukan dengan sosok yang lebih baik dari masa lalunya yang kelam.
"Pak, saya sudah menyelidiki Permata selama dua bulan terakhir. Sebenarnya, informasi yang saya dapatkan awalnya sangat sulit saya terima, tapi Anda harus membuktikannya sendiri agar tahu kebenarannya," ucap Raka dengan penuh keyakinan.
"Maksudnya?" tanya Rangga dengan nada kesal.
"Anda percaya dia mungkin satu-satunya wanita malam yang masih terjaga kesuciannya?" sahut Raka.
Rangga mengerutkan dahi, merasa pernyataan itu sangat aneh. Mana mungkin wanita seperti itu masih menjaga kesucian? Itu mustahil.
"Tidak mungkin, mana ada..? Di zaman sekarang, soal kesucian bisa dibuat melalui operasi. Kamu benar-benar percaya? Jangan mengada-ada, Raka!" jawab Rangga, penuh keraguan.
"Sudahlah. Batalkan ide gilamu itu," tolak Rangga sambil berusaha kembali fokus pada pekerjaannya.
"Pak, mari kita buktikan dulu informasi yang saya dapatkan ini. Dia adalah perempuan yang menjadi primadona di tempatnya bekerja. Soal uang, jelas pemasukannya jauh lebih besar dibanding teman-temannya, karena pelanggannya rata-rata petinggi dan pengusaha sukses di negeri ini. Tapi anehnya, dia tak pernah berfoya-foya. Pengeluarannya hanya untuk keperluan sehari-hari dan pekerjaan, benar-benar profesional. Anda yakin tidak penasaran?" goda Raka.
"Kalau begitu, kamu saja yang datang ke sana dan sewa jasanya," tolak Rangga, sudah kehilangan minat.
"Pak, kalau informasi ini benar, Anda bisa menemukan cara memintanya untuk bekerja sama dengan Anda. Dia termasuk perempuan yang sangat sulit ditemui," bisik Raka lagi.
"Maksudmu apa? Memintanya? Perempuan seperti itu, asal uangnya tebal, pasti mau," jawab Rangga dengan acuh tak acuh.
"Pak, sahabatnya sendiri yang bercerita kepada saya. Katanya, dia hanya melayani satu pria dalam satu malam. Dan Anda tahu, dia selalu menggunakan obat tidur untuk menidurkan pelanggannya, supaya dia tak perlu..." sahut Raka sambil mengangkat satu tangan dan menunjukkan dua jarinya, lalu menggerakkannya sebagai kode.
"Sahabatnya?" tanya Rangga, menghentikan aktivitasnya.
"Hehehe, saya sengaja mendekati sahabatnya, Sari yang bekerja di kasir minimarket depan perusahaan kita, Pak. Untuk mendapatkan informasi tentang si Permata ini," jawab Raka sambil menggaruk kepalanya.
Rangga hanya bisa menghela napas mendengarnya, lalu kembali memikirkan semua yang dikatakan Raka.
"Memang ada perempuan seperti itu?" batinnya sambil melirik lagi ke arah Raka karena sama sekali tak percaya.
"Pak, begini rencana saya. Malam ini Anda datang ke hotel ini..." Raka menunjukkan alamat di layar ponselnya kepada Rangga.
"Anda buktikan sendiri bagaimana pelayanan si Permata ini. Tapi ingat, jangan sampai Anda meminum minuman yang diberikan olehnya, lalu berpura-puralah tidur. Lihat saja apa yang akan terjadi. Jika informasi ini benar, Anda bisa menggunakan kesempatan itu untuk memintanya bekerja sama dengan Anda. Sari juga bilang, si Permata sebenarnya sudah lama ingin meninggalkan tempat itu, tapi tak berani. Mungkin Anda bisa menawarkan bantuan untuknya," kata Raka.
Mendengar itu, Rangga terdiam sejenak. Matanya tetap tertuju pada Raka, sementara pikirannya bekerja keras untuk mengambil keputusan. Akhirnya, dengan berat hati, Rangga terpaksa menyetujui ide gila dari asistennya.
"Ingat, ya. Kalau semua informasi yang kamu sampaikan salah dan malah menjerumuskanku, selama setahun kamu tidak akan menerima gaji sepeser pun," ancam Rangga tegas.
Raka terdiam sejenak, tapi kali ini dia yakin informasi yang didapatnya tidak akan salah. Entah kenapa, Raka merasa Sari berkata jujur padanya.
"Oke, baiklah..." jawab Raka sambil mengangguk, meski resikonya cukup berat, ia harus kehilangan gaji besarnya selama setahun.
"Sudah, keluar sana. Nanti malam kamu yang antar, dan tunggu sampai aku keluar," perintah Rangga dengan nada tegas.
"Baik, Pak," balas Raka singkat.
Setelah Raka pergi, Rangga menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Ia menghela napas panjang, pikirannya masih terus berkutat pada hal itu. Rasanya aneh, apakah benar ada perempuan seperti itu? Mustahil, tapi justru hal itulah yang membuatnya semakin penasaran. Meski Rangga mengakui, perempuan itu memang tampak cantik.
Di malam hari, sesuai jam perjanjian, Raka dan Rangga tiba di Hotel Mega. Raka sengaja memesan kamar VVIP dan diam-diam memasang kamera pengawas jika suatu saat dibutuhkan.
"Pak, Anda tunggu saja sebentar lagi. Saya akan menunggu di kamar sebelah," ucap Raka.
"Hemm..." angguk Rangga dingin.
"Pak, kalau bisa sebentar saja hilangkan sikap dingin Anda. Wajah Anda cukup mengerikan jika begini..." bisik Raka sambil menggoda.
"Kamu..." Rangga merasa kesal.
"Tunggu dulu, Pak. Agar Permata tidak mencurigai Anda. Bersandiwaralah sebentar, Pak..." ucap Raka memohon.
"Kenapa kamu malah terasa sedang memerintahku..." Rangga merasa kesal dengan sikap asistennya.
"Bukan begitu, Pak. Permata ini perempuan yang cukup waspada dan teliti," Raka mencoba memperingatkan.
"Ya sudah, sana keluar dulu," usir Rangga yang mulai merasa seolah-olah dirinya sedang dijebak oleh asistennya sendiri.
"Oh ya, Pak. Pakaian ganti sudah saya siapkan di dalam lemari," goda Raka lagi.
Rangga hanya diam, tapi tatapan matanya cukup tajam. Membuat Raka hanya bisa meringis lalu meninggalkan kamar tersebut.
Setelah Raka pergi, Rangga memutuskan untuk membersihkan dirinya. Tubuhnya terasa lengket karena seharian berada di kantor. Sejenak, Rangga merendam tubuhnya di dalam bak mandi. Menikmati air hangat dan aroma sabun yang cukup menenangkan.
Tak lama kemudian, Rangga mendengar suara pintu terbuka dan derap langkah kaki. Ia langsung memakai handuk kimono dan membiarkan rambutnya masih basah. Saat keluar dari kamar mandi, bertepatan dengan Laras yang baru saja akan mengetuk pintu.
Keduanya sempat terkejut dan terdiam sesaat. Tatapan mata mereka saling bertemu. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba muncul di d**a Laras saat melihat secara langsung rupa pelanggannya malam ini.
Jantungnya berdebar kencang, terlebih saat melihat d**a bidang Rangga yang terbuka. Ia merasa bingung dengan dirinya sendiri, baru kali ini ia merasakan hal seperti itu.
"Ayo, Laras... Ingat, semua pria yang datang padamu itu sama saja. Mereka hanya membutuhkan jasamu," bisik Laras dalam hati, mencoba menenangkan diri.
Sementara itu, Rangga memperhatikan penampilan Laras dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ia merasa heran, Laras berpakaian sopan dan tertutup, sangat berbeda dengan bayangannya tentang wanita pekerja malam. Hal itu cukup membuatnya terkesan, namun sepersekian detik kemudian ia segera menyadarkan dirinya kembali.
"Ehem..." Rangga berdeham, membuat Laras tersadar dari lamunannya.
"Ahhh, maaf. Saya tidak bermaksud lancang masuk. Apakah benar Anda Pak Rangga?" tanya Laras.
"Ya..." angguk Rangga singkat.
Rangga berjalan melewati Laras, lalu memilih duduk di sofa. Ia menyilangkan kaki dan meraih ponselnya.
"Sepertinya saya belum pernah melihat Anda sebelumnya," ucap Laras memecah keheningan.
Sebenarnya ada rasa aneh yang Laras rasakan dengan pelanggannya malam ini. Sikapnya sangsat jauh berbeda dengan pelananggan lainnya yang cukup agresif ketika bertemu dengannya. Tapi, pria di depannya ini justru terlihat cukup dingin dan cuek.
"Ya, karena baru kali ini saya menyewa jasa perempuan," jawab Rangga jujur.
Rangga menatap Laras dengan tajam setelah menjawabnya. Mendapat tatapan seperti itu, Laras merasa gugup. Selama ini, tidak ada pria yang menatapnya seperti itu, biasanya tatapan mereka penuh nafsu, tapi kali ini terasa berbeda, membuatnya merasa tidak nyaman sekaligus semakin penasaran.
"Aahh, baiklah. Saya mengerti. Saya tidak akan mengecewakan Anda malam ini," ucap Laras, berusaha menguasai dirinya sendiri.
"Yakin? Kalau begitu, buktikanlah," tantang Rangga yang terus menatapnya.
Mendengar kata-kata itu, entah mengapa hati Laras terasa sedikit perih. Meski ia sadar ini adalah pekerjaannya, nada bicara itu terasa menyakitkan.
"Baiklah, beri saya sedikit waktu untuk mandi," pinta Laras.
"Baiklah..." angguk Rangga.
Laras masuk ke dalam kamar mandi, sementara Rangga menunggunya dengan tenang. Namun, di dalam benaknya, banyak hal yang masih ia pikirkan, terutama tentang wanita yang saat ini bersamanya.